Pulau Saringani dan Raja Kendahe: Akta Penyerahan Tanah kepada VOC Tahun 1688
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- visibility 59
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ini adalah sebuah penyerahan tanah Mindanao oleh raja Sangihe dan pilar Kompeni yang terus dirobohkan
Di tengah memori serah jabatan Gubernur Ternate Jacob van Schoonderwoert kepada penggantinya Hendrik Breton, di antara uraian tentang perahu-perahu Mindanao yang terus berlayar ke pesisir Sulawesi dan uraian tentang Kepulauan Sangir, terselip satu paragraf pendek berjudul SARINGANIJ.
Isinya sebuah klaim hukum tentang pulau itu, kata sang gubernur, adalah pulau yang atasnya Kompeni mempunyai hak, berdasarkan sebuah manifest tahun 1688 yang tersimpan di sekretariat Ternate dan sebagai penandanya berdiri sebuah pilar berlambang Kompeni di Negeri Maloerang.[^1]
Paragraf itu sampai batas tertentu adalah sebuah teka-teki yang menunjuk pada dokumen lain. Dokumen itu ternyata ada, sudah terbit dan isinya jauh lebih luas daripada yang disiratkan Schoonderwoert.
Dokumen memori 1766
Berkas yang dipakai di sini adalah memori serah jabatan (memorie van overgave) Gubernur Maluku/Ternate Jacob van Schoonderwoert untuk penggantinya Hendrik Breton. Pindaian yang diperiksa berasal dari arsip VOC di Nationaal Archief, Den Haag, nomor toegang 1.04.02, inventaris 3217 yaitu salinan yang dikirim ke Batavia dan diteruskan dalam seri overgekomen brieven en papieren. Di dalam jilid itu teks memori berhalaman 834–837, paragraf Saringani ada pada pindaian 488 dari 898.[^1]
Perbedaan alamat arsip perlu dicatat terbuka. Memori Schoonderwoert juga dikenal berada dalam Koleksi Aanwinsten Eerste Afdeling (1.11.01.01, inventaris 2936), dan daftar Philip Post menyebut salinan memori Ternate 1766 dan 1767 berada di ANRI Jakarta.[^2]
Sekurang-kurangnya tiga jalur penyimpanan kemungkinan memuat teks yang sama, yang dikutip di sini adalah jilid 1.04.02 inventaris 3217. Penanggalan memori pada 1766 dan urutan Schoonderwoert–Breton juga terkuatkan oleh daftar yang sama.[^2]
Seluruh pindaian yang dipakai halaman 486, 487, 488, dan 489 sudah diperiksa pada resolusi penuh, sehingga pembacaan di bawah tidak lagi bergantung pada foto berperbesaran rendah.
Perlu dicatat bahwa halaman-halamannya tidak berurutan rapi dalam jilid, pindaian 489 memperlihatkan halaman 835 dengan sebuah lembar terlipat bernomor 837 menutupi bagian atasnya.
Teks Memori Dan Terjemahannya
Paragraf Saringani didahului oleh penutup uraian tentang perahu-perahu Mindanao, yang mengandung satu keterangan ekonomi berharga:
[…] merke, dat my continueele vaart dezer landaart naar de goutgevende Comptoiren niet veel goets voorspellende, het te wenschen zij dat zij aan mijn versoek voldoen, en de kust van Celebes voortaan niet meer bezaeken, daar UEd: het succes van zal dienen af te wagten.
Terjemahan: pelayaran terus-menerus bangsa itu ke pos-pos dagang penghasil emas tidak menjanjikan banyak kebaikan. (Yang dimaksud hampir pasti Gorontalo dan Limboto) dan kalimat itu menjelaskan mengapa lalu lintas perahu Mindanao ke pesisir Sulawesi cukup penting untuk diwariskan kepada gubernur berikutnya.
Lalu paragrafnya sendiri, transkripsi diplomatik dari pindaian 488:
“SARINGANIJ Zo even genoemt is een Eilant daar de Comp: regt op heeft, als zijnde daarvan by zeker, ter Secretarij berustend manifest, in het jaar 1688 door den koning van Candhaar Datoe Boeissang opdragt gedaan, waarom op de Negorij Maloerang een merkpilaar met Comp: wapen opgerigt is, die de Magindanaus Commissiant Johannes Noges in anno 1758 vernieuwt heeft, en waaromtrent UEd: indagtig dient te wesen om wanneer zomtijts een vaartuig derwaarts g’expedieert wordt, d’ Stuurlieden te bevelen naar gem: pilaar te zien, vermits de Magindanauwers dezelven in a°: 1744 al eerst om verre geworpen, en ‘t welke zy mogelyk nu met de Saringaniers te samen, op de Sangerse reijsjes zo vele insolentieën gepleegt, met weder gedaan zullen hebben, ten einde zulx maar bevindende […]”
Terjemahan:
“SARINGANI. Yang baru saja disebut itu adalah sebuah pulau yang atasnya Kompeni mempunyai hak, sebagaimana ternyata dari sebuah manifest tertentu yang tersimpan di sekretariat, ketika pada tahun 1688 penyerahannya dilakukan oleh Raja Candahaar, Datu Boeissang; karena itulah di Negeri Maloerang didirikan sebuah pilar penanda berlambang Kompeni, yang telah diperbarui oleh Komisaris Magindanao Johannes Noges pada tahun 1758. Mengenai hal ini Tuan hendaknya ingat, bahwa apabila sewaktu-waktu sebuah perahu dikirim ke sana, para juru mudi diperintahkan memeriksa pilar tersebut, sebab orang Magindanao sudah pernah merobohkannya pada tahun 1744, dan mungkin sekarang telah melakukannya lagi bersama-sama orang Saringani — yang telah melakukan begitu banyak keonaran dalam pelayaran-pelayaran ke Sangir — agar bila hal itu didapati […]”
Akta 10 September 1688: Dokumennya Ada, Dan Lebih Luas
Dokumen yang dirujuk Schoonderwoert bukan akta yang hilang. Ia terbit lengkap dalam Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum jilid III sebagai dokumen DX, “Molukken–Mindanao“, 10 September 1688, hlm. 470–471, dengan sumber yang disebut penyunting: Overgecomen brieven 1690, buku kelima, folio 324 dan seterusnya; juga dalam berkas 1691, buku kesembilan belas, no. 19, tanpa foliasi.[^3]
Isinya melampaui apa yang disiratkan memori 1766. Judul aktanya menyatakan bahwa raja Candahaar, untuk dirinya dan keturunannya, melepaskan dan menyerahkan kepada Kompeni seluruh hak, milik, dan tuntutannya atas pesisir selatan Pulau Mindanao, teluk Bontuan, Sarangane, dan seterusnya, beserta segala yang melekat padanya.
Dalam badan teks, si penanda tangan memperkenalkan diri: “Ik, Datoe Boeisan, koning van Candahaar“, menyebut kebaikan yang ia terima dari Kompeni dan khususnya dari Gubernur Molukko Joan Henrik Thim, serta menyebut bahwa kerajaan dan negerinya kini aman dari serangan musuh di bawah perlindungan Kompeni.
Ia lalu menyerahkan hak dan miliknya atas tanah-tanah Mangidanao serta teluk Boetuan dan Saranganie, menyatakan melepaskannya sama sekali, tanpa dirinya maupun keturunannya menuntut apa pun lagi.[^3]
Yang penting untuk sejarah Nusa Utara adalah tempat dan para penanda tangannya.
Akta itu tidak dibuat di Sangihe dan tidak di Mindanao, melainkan di Pulau Ternate, di Kasteel Orangie, 10 September 1688. Penanda tangannya empat orang:
- Datoe Boeisan, raja Candahaar;
- Hendrik Manabon, capteyn-laout kerajaan itu;
- Kitchiel Simanciala, putra raja dan calon pengganti takhta;
- Senghadie Tobo.
Di sampingnya tercap segel raja dalam lak merah.[^3]
Daftar itu sendiri sudah berbicara. Jabatan kapitan laut dan gelar Kaicili (tertulis “Kitchiel“) adalah perbendaharaan jabatan Ternate, dipakai oleh istana Kendahe pada 1688. Nama Manabon juga bergema ke depan, pada 15 April 1729 seorang pangeran Kristen Kendahe bernama Andries Manaboung dipilih sebagai penguasa, tercatat dalam kontrak 3 Mei 1729.[^6]
Satu keluarga yang sama tampak bertahan di puncak Kendahe selama empat dasawarsa atau lebih, sebuah jalur silsilah yang bersandar pada dokumen, bukan pada tradisi lisan.
Penyebutan “manifest” oleh Schoonderwoert pada 1766 karena itu perlu dibaca sebagai penyebutan salinan yang dipegang sekretariat Ternate atas akta yang sama, bukan sebagai dokumen jenis lain.
Mengapa 1688: Sebuah Kapal Inggris Di Teluk Itu
Penyunting Corpus memberi latar yang menerangkan seluruh perkara. Di sisi selatan Mindanao terletak teluk Bontuan dan di dalamnya pulau kecil Sarangani, raja Kandhar disebutnya penguasa terkemuka Kepulauan Sangir, yang memegang hak kedaulatan atas Sarangani dan sebagian tanah di teluk itu.
Pada 1687 kawasan itu dikunjungi sebuah kapal perompak/kaper Inggris yang di antara awaknya terdapat William Dampier dan Dampier mengusulkan kepada Kompeni Inggris agar mendirikan kantor dagang di sana.[^4]
Setahun kemudian akta itu ditandatangani di Ternate. Betapa besar arti yang diberikan pihak Maluku pada perjanjian itu terbaca dari sepucuk surat Ternate ke Batavia bertanggal 29 Juni 1689 yang dikutip penyunting: Gubernur Thim, dikatakan di situ bahwa ia membawa keuntungan yang lebih besar lagi bagi Kompeni dengan membujuk raja Candahaar — melalui keramahan dan jamuan — agar menyerahkan pesisir selatan Mindanao, yang disebut miliknya sendiri dan ia ahli warisnya, sehingga Kompeni sewaktu-waktu dapat berpijak di sana; sebuah perkara besar, sebab “wy tot nog toe zoo Noordlijk gene landen eygen gehadt hebben” — sampai saat itu Kompeni belum pernah memiliki tanah sejauh itu ke utara.[^4]
Dua hal layak dicatat dari kutipan itu dan keduanya berasal dari mulut pihak Kompeni sendiri. Pertama, cara memperolehnya dinyatakan terbuka, bujukan dan jamuan di Ternate, bukan perundingan di negeri yang diserahkan. Kedua, motifnya defensif dan berhadapan dengan Inggris, Kompeni sedang menutup pintu yang baru saja ditunjuk Dampier.
Pilar Di Maloerang dan Letaknya Yang Masih Dicari
Pilar penanda itu adalah wujud fisik dari akta 1688 dan riwayatnya adalah riwayat sebuah klaim yang tak pernah benar-benar berpijak. Menurut memori 1766: didirikan di Negeri Maloerang; dirobohkan orang Magindanao pada 1744, diperbarui oleh Komisaris Magindanao Johannes Noges pada 1758 dan pada 1766 sang gubernur sendiri sudah menduga tiang itu kemungkinan telah dirobohkan lagi tanpa ia ketahui.
Instruksinya kepada Breton sepadan dengan itu. Tidak ada permintaan ekspedisi, garnisun atau pembaruan kontrak. Hanya apabila kebetulan ada perahu dikirim ke arah sana, suruh para juru mudi melihat apakah pilar itu masih berdiri. Lima puluh enam tahun setelah akta ditandatangani, seluruh kehadiran Kompeni di tanah yang “diserahkan” itu adalah satu tiang yang diperiksa secara kebetulan.
Akta 1688 memberi petunjuk baru untuk mencari Maloerang. Karena yang diserahkan bukan hanya pulaunya melainkan juga teluk Bontuan dan pesisir selatan Mindanao, “Negorij Maloerang” tidak harus dicari di Pulau Sarangani atau Balut, ia bisa berada di daratan sekeliling Teluk Sarangani. Ini memperlebar, bukan mempersempit wilayah pencarian, tetapi ke arah yang benar.
Mengapa Saringani Diperebutkan
Klaim di atas kertas itu berbenturan dengan klaim lain yang jauh lebih nyata. Sepanjang abad ke-17 Saringani adalah pusat perdagangan lilin lebah dan dalam rumusan Ruurdje Laarhoven, lumbung sekaligus gudang dagang Sultan Maguindanao.
Sejak tahun 1660-an kesultanan itu memberlakukan monopoli lilin di sana, orang luar dilarang berdagang, hanya orang Cina yang dikenal sultan dan orang Saringani sendiri yang boleh memperdagangkan lilin dalam jumlah terbatas dan pelanggaran tanpa izin sultan diancam hukuman pancung. Monopoli itu masih berlaku pada tahun 1699.[^9]
Jadi ketika raja Kendahe menandatangani akta di Kasteel Orangie pada 1688, monopoli Maguindanao atas pulau yang sama sudah berjalan sekitar dua puluh tahun. Dua klaim berdiri berdampingan dari dua arah yakni satu di atas lak merah di Ternate, satu di atas praktik dagang dan ancaman hukuman mati.
Tidak ada tanda bahwa pihak Maguindanao pernah mengakui yang pertama. Perobohan pilar pada tahun 1744 dan mungkin lagi sesudah tahun 1758 dengan demikian bukan tindakan sembarang, melainkan penolakan atas klaim yang dari sudut pandang mereka memang tidak pernah berlaku.
Lingkaran Yang Menutup: Saringani Dalam Berita 1764–1766
Klaim 1688 lahir dari kekhawatiran akan Inggris. Tujuh puluh enam tahun kemudian kekhawatiran yang sama kembali dan kali ini kabarnya justru datang melalui Saringani.
Halaman 834 memori memuat rantai penyampaian yang lengkap:
“Wyders is van deze natie niets nader vernomen dan dat de President meermelt by zijn Secreet Schryvens van den 18e December 1765 g’communiceert heeft, dat hem door Chiaus Koning Ismael Jacobsz verhaalt was, hoe het Koningje van Candhaar op zijn te rug reis naar zijn land /dat geweest is in anno 1764/ naar Saringanij ver[d]wijlende, aldaar gehoort had dat er drie Engelschen Scheepen te Xullok lagen […]”
Terjemahan: raja muda Candahaar singgah di Saringani dalam perjalanan pulang pada 1764, dan di sana mendengar tentang tiga kapal Inggris di Xullok (Jolo/Sulu); ia menceritakannya kepada Raja Siau, Ismael Jacobsz; Raja Siau menyampaikannya kepada Presiden Manado; Presiden meneruskannya lewat surat rahasia 18 Desember 1765; kabar itu diperkuat oleh laporan Kapiten Klerk Dirk Goedbloed bertarikh 1 dan 12 April, dan dimasukkan ke dalam resolusi 28 Mei.[^1]
Rantai itu sendiri adalah temuannya. Kabar tentang kapal Inggris di Sulu sampai ke meja Gubernur Ternate bukan lewat kapal atau mata-mata Kompeni, melainkan lewat dua raja pribumi Nusa Utara yang bercerita satu sama lain dan raja Kendahe pada 1764, seperti pendahulunya pada 1688, masih menjadikan Saringani tempat persinggahan dalam pelayaran pulangnya. Nama “Ismael Jacobsz” juga layak dicatat: marga Jacob sudah muncul pada Daniël Jacob, raja Siau penanda tangan kontrak 1729.[^6]
Latar kapal-kapal Inggris itu diketahui dari sumber lain. Inggris menduduki Manila pada 1762 dalam Perang Tujuh Tahun, dan pada 1763–1764 memulihkan Sultan Muhammad Alimuddin I ke takhta Sulu setelah masa tahanannya di Manila sejak 1748.[^10]
Persis hal itulah yang muncul pada pindaian 486: Residen Manado menerima dua pucuk surat, keduanya bertanggal 20 Februari anno passato — angka tanggalnya dapat pula dibaca 28 — ditulis oleh Koning Mhamet Alimoeddin yang memberitahukan bahwa ia kini telah dipulihkan ke kerajaannya setelah “penjara enam belas tahun” dari Manila. Residen juga melaporkan bahwa orang Inggris dua tahun sebelumnya mengantar kembali hadiah-hadiah mereka ke negerinya dengan enam kapal. Schoonderwoert menambahkan bahwa surat-surat itu dapat ditemukan dalam buku surat Manado (het Manados briefboek).[^1]
Itu datum tersendiri untuk sejarah Manado: pada pertengahan 1760-an arsip pos VOC di Manado memuat salinan surat Sultan Sulu. Perahu-perahu Mindanao juga tercatat datang membawa surat, pada tahun 1764 tiga perahu dengan surat untuk raja-raja Limboto dan satu ke Manado, pada tahun 1765 dua perahu lagi ke residensi yang sama.[^1]
Dari Halaman Yang Sama: Empat Kerajaan Sangir Dan Tabukan 1758
Karena paragraf Saringani berada di ambang bagian tentang Kepulauan Sangir, halaman berikutnya memuat keterangan yang berguna tersendiri untuk sejarah Nusa Utara.
Memori itu membuka bagiannya dengan menyebut bahwa yang terpenting dari Kepulauan Sangir adalah pulau yang darinya seluruh gugusan itu mengambil nama dan yang dengan tepat disebut Groot Sanger. Lalu:
“Dit Eilant wort geregeert door vier Koningjes, die ieder het gezag over een apart district voeren, dog om geringe beuzelingen dikwils met elkanderen in onmin leven, ‘t geen dan telkens door tusschenkoming dezer regeringe geremedieert moet worden […]”
Terjemahan: Sangir Besar diperintah empat raja kecil, masing-masing memegang kuasa atas satu distrik tersendiri, tetapi karena perkara-perkara sepele kerap bermusuhan satu sama lain — dan setiap kali persengketaan itu harus dipulihkan lewat perantaraan pemerintahan Ternate. Schoonderwoert menambahkan bahwa hal ini sudah diuraikan panjang lebar dalam memori peninggalan Tuan-tuan Gubernur van Blokland dan van Mijlendonk — dua nama yang cocok dengan daftar memori serah jabatan Ternate: Gerard van Brandwijk van Blokland (1749) dan Jan Elias van Mijlendonk (1756).[^2]
Jadi keterangan tentang tatanan empat kerajaan Sangihe adalah keterangan yang diwariskan berantai dari satu gubernur ke gubernur berikutnya, bukan pengamatan baru pada 1766.
Yang pertama dan terkuat dari keempatnya, kata memori itu adalah Tabukan. Atasnya, pada 18 Mei 1758, menggantikan mendiang raja Philip Macca-Ampo yang disebut krankzinnig (hilang akal), dinaikkan ke martabat itu disertai pembaruan kontrak-kontrak Pangeran David Johannes Philip, yang kemudian berkirim kabar melalui suratnya tertanggal 16 Maart 1760.[^1]
Halaman berikutnya lagi memperlihatkan bahwa perantaraan Ternate itu tidak selalu berjalan, sebuah pertemuan gabungan para raja pernah direncanakan tetapi tidak terlaksana, sebab raja Tabukan tidak muncul, sehingga utusan Candhaar terpaksa pulang dengan urusan tak terselesaikan.[^1]
Kendahe dan Tabukan adalah dua kerajaan yang sama yang muncul di sepanjang artikel ini dan masih bersengketa pada 1760-an.
Nama “Macca-Ampo” bergema dengan Francesco Maccampo, raja Tabukan yang menandatangani kontrak 3 November 1677 dengan Gubernur Robertus Padtbrugge.[^7]
Seperti halnya Manabon/Manaboung di Kendahe, kesinambungan nama itu bukan bukti silsilah dengan sendirinya, tetapi memberi titik pegang yang dapat diperiksa terhadap daftar-daftar raja yang beredar tanpa sumber.
Catatan kaki
[^1]: Nationaal Archief, Den Haag, Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), nomor toegang 1.04.02, inventaris 3217: “Memorie door den afgaande Gouverneur van Ternaten Jacob van Schoonderwoert … nagelaten voor den aanstaanden Gouverneur Hendrik Breton” (1766), dalam seri overgekomen brieven en papieren. Halaman 834 pada pindaian 487; halaman sebelumnya pada pindaian 486; paragraf Saringani pada pindaian 488; bagian Kepulauan Sangir pada pindaian 489, yang memperlihatkan halaman 835 dengan lembar terlipat bernomor 837 di atasnya. Naskah yang sama juga dikenal dalam Collectie Aanwinsten Eerste Afdeling, 1.11.01.01, inventaris 2936. Transkripsi dan terjemahan oleh penulis; seluruh pindaian diperiksa pada resolusi penuh.
[^2]: Philip Post, Constructing Colonial Legitimacy in the Moluccas, 1750–1870 (disertasi, Universiteit Leiden, dipertahankan 23 Oktober 2025), pada daftar memori serah jabatan Ternate yang diperiksanya: 1766 Jacob van Schoonderwoert, 1767 Hendrik Breton (keduanya disebut berada di ANRI). Naskah lengkap: https://hdl.handle.net/1887/4279515.
[^3]: J. E. Heeres & F. W. Stapel (ed.), Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, jilid III (1676–1691), dokumen DX, “Molukken–Mindanao”, 10 September 1688, hlm. 470–471. Sumber yang disebut penyunting: Overgecomen brieven 1690, buku kelima, folio 324 dst.; juga Overgecomen brieven 1691, buku kesembilan belas, no. 19, tanpa foliasi. Penyunting mengoreksi bentuk “Bouton” dalam judul akta menjadi Bontuan.
[^4]: Keterangan pengantar penyunting pada Corpus Diplomaticum, jilid III, hlm. 470: teluk Bontuan dan pulau Sarangani; raja Kandhar sebagai penguasa terkemuka Kepulauan Sangir yang memegang hak kedaulatan atas Sarangani dan sebagian tanah teluk; kunjungan kapal kaper Inggris pada 1687 dengan William Dampier di antara awaknya; serta kutipan surat Ternate ke Batavia 29 Juni 1689 (dinyatakan belum diterbitkan). Penyunting merujuk pula Pieter van Dam, Beschryvinge van de Oostindische Compagnie, II, I, hlm. 47–49, dan Rapport over ‘s Compagnies regt, hlm. 34.
[^5]: Untuk pelayaran Dampier di perairan Mindanao, sumber utamanya adalah William Dampier, A New Voyage Round the World (London: James Knapton, 1697). Tarikh “1687” di atas adalah keterangan penyunting Corpus; penanggalan Dampier sendiri perlu diperiksa langsung pada bab Mindanao dalam bukunya.
[^6]: Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, jilid V, dokumen DCCLXVI (21 Maret 1729), hlm. 50–52, dan DCCLXVII (3 Mei 1729), hlm. 52–55: susunan kerajaan-kerajaan Sangihe, penanda tangan Daniël Jacob raja Chiauw dan Jacob Marten Lasarus raja Manganitoe, serta pemilihan pangeran Kendahe Andries Manaboung pada 15 April 1729.
[^7]: Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, jilid III, hlm. 83 dst.: kontrak 3 November 1677 antara Gubernur Robertus Padtbrugge dan Francesco Maccampo, raja Taboecan, ditandatangani orang Kendahe pada 7 Desember 1677.
[^8]: Shinzo Hayase, Mitsuo Non & Alex J. Ulaen, Silsilas/Tarsilas (Genealogies) and Historical Narratives in Sarangani Bay and Davao Gulf Regions, South Mindanao, Philippines, and Sangihe-Talaud, North Sulawesi, Indonesia (Kyoto: Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University, 1999). Halaman spesifik perlu ditunjuk bila karya ini dipakai untuk menopang klaim tertentu tentang hubungan kependudukan Sangihe–Sarangani.
[^9]: Ruurdje Laarhoven, “Surat dari Sultan Maguindanao Kuda (1699–1702) perihal kegiatan perdagangan para nakhoda Cina serta kebutuhan mendapat dukungan militer, 16 November 1699”, dalam Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari arsip VOC di Jakarta, dokumen 16 (Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2014), bagian “Monopoli perdagangan malam dan para pedagang Cina”. Lihat pula Ruurdje Laarhoven, Triumph in Moro Diplomacy: The Maguindanao Sultanate in the 17th Century (Quezon City: New Day Publishers, 1989).
[^10]: Untuk masa tahanan Sultan Muhammad Alimuddin I di Manila sejak 1748 dan pemulihannya ke takhta Sulu dengan bantuan Inggris pada 1763–1764, lihat Cesar Adib Majul, Muslims in the Philippines (Quezon City: University of the Philippines Press, 1973), pada bagian mengenai Alimuddin I dan hubungan Sulu–Inggris. Halaman persisnya perlu ditunjuk sesuai edisi yang dipakai.
- Penulis: Moderator Malesung
