Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik

Malesung | Tanah di Mana Cerita Besar Bermula

  • ilustrasi

    Di Balik Surat Para Bobato: Intrik, Pembunuhan, dan Skandal VOC di Manado 1693

    • calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Pada 16 Desember 1693 di negeri Tomon, dua puluh lima kepala negeri atas di pedalaman Manado membubuhkan nama di bawah sepucuk surat berbahasa Melayu. Surat itu ditujukan kepada Cornelis van der Duijn, gubernur Kompeni VOC di Ternate, dan isinya hanya satu permintaan yakni jangan pindahkan opperhoofd (kepala pos Kompeni) yang kini memerintah di Manado.¹ Dalam […]

  • Totolan: Dari Hutan dan Mata Air hingga Berdirinya SD GMIM Totolan

    Totolan: Dari Hutan dan Mata Air hingga Berdirinya SD GMIM Totolan

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Desa Totolan, yang kini berada di Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menyimpan perjalanan sejarah yang panjang. Jauh sebelum desa ini tercatat secara resmi dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah Totolan diyakini telah menjadi tempat persinggahan dan permukiman kelompok masyarakat Minahasa yang mencari tanah subur untuk membangun kehidupan. Menurut penuturan masyarakat yang diwariskan […]

  • Pertemuan Raja Manado dan Presiden VOC Maximiliaen de Jongh di atas kapal di perairan Amoura pada 1668.(ilustrasi)

    Raja Manado yang Takut Naik Kapal: Perundingan Damai Amoura 1668

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Pada pertengahan tahun 1668, di depan muara sungai Amoura (Amurang), seorang raja melangkah ke pantai. Ia terus berjalan ke arah laut sampai air setinggi leher, lalu dibantu naik ke perahu. Di tengah air, antara pantai yang dijaga ratusan orang bersenjata dan kapal Kompeni yang berlabuh, ia akan bertemu Presiden VOC dari Ternate bernama Maximiliaen de […]

  • Kapal dagang Belanda jenis fluit berlayar di perairan Teluk Amurang pada abad ke-17.(ilustrasi)

    Raja Loloda dan Kompeni VOC: Perpecahan Manado 1666–1667

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Pada 3 Desember 1666 fluit kecil Zandloper meninggalkan Manado menuju Ternate dengan muatan 43 last padi. Kapal itu membawa kabar bahwa keadaan di sana masih tercatat “redelijk”, cukup baik.¹ Beberapa minggu kemudian, raja Manado bersama sebagian besar rakyatnya meninggalkan benteng Kompeni di Manado dan bertahan di Amoura (Amurang). Kepada orang Belanda ia berseru bahwa ia […]

  • Keluhan Hukum Tua Distrik Toulour mengenai Collecteloon dan Pendapatan Adat

    Keluhan Hukum Tua Distrik Toulour mengenai Collecteloon dan Pendapatan Adat

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Surat kabar Keng Hwa Poo edisi 18 Juli 1936 memuat tulisan tentang keadaan hukum tua, yang dalam sumber ditulis Hoekoemtoea, di Distrik Toulour dalam rubrik “Dari Tondano”. Tulisan berjudul “Nasibnja toean² Hoekoemtoea didistrict Toulour” itu disertai permohonan agar persoalannya diperhatikan oleh pihak berwenang. Koresponden yang tidak mencantumkan nama menjelaskan bahwa ia menulis karena keluhan para […]

  • Gubernur VOC Simon Cos, di hadapan barikade kayu Kompeni di Amoura, November 1656 (ilustrasi)

    Dari Persahabatan ke Benteng Kayu: Awal Hubungan Manado dan VOC 1653–1656

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Pada awal 1656, beberapa utusan dari Manado tiba di benteng Kompeni VOC di Malayu, Ternate. Mereka dan juru bahasa Craen Leendertsz membawa kabar yang langsung menarik perhatian Gubernur Simon Cos, di negeri Kali tumbuh pohon cengkih yang sudah berbuah.¹ Bagi Kompeni yang sedang memusnahkan cengkih di luar Ambon demi monopolinya, kabar itu cukup memberi alasan […]

Artikel Terbaru

» Lihat Semua
ilustrasi

Di Balik Surat Para Bobato: Intrik, Pembunuhan, dan Skandal VOC di Manado 1693

  • calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
  • visibility 24
  • 0Komentar

Pada 16 Desember 1693 di negeri Tomon, dua puluh lima kepala negeri atas di pedalaman Manado membubuhkan nama di bawah sepucuk surat berbahasa Melayu. Surat itu ditujukan kepada Cornelis van der Duijn, gubernur Kompeni VOC di Ternate, dan isinya hanya satu permintaan yakni jangan pindahkan opperhoofd (kepala pos Kompeni) yang kini memerintah di Manado.¹ Dalam […]

Totolan: Dari Hutan dan Mata Air hingga Berdirinya SD GMIM Totolan

Totolan: Dari Hutan dan Mata Air hingga Berdirinya SD GMIM Totolan

  • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
  • visibility 21
  • 0Komentar

Desa Totolan, yang kini berada di Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menyimpan perjalanan sejarah yang panjang. Jauh sebelum desa ini tercatat secara resmi dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah Totolan diyakini telah menjadi tempat persinggahan dan permukiman kelompok masyarakat Minahasa yang mencari tanah subur untuk membangun kehidupan. Menurut penuturan masyarakat yang diwariskan […]

Pertemuan Raja Manado dan Presiden VOC Maximiliaen de Jongh di atas kapal di perairan Amoura pada 1668.(ilustrasi)

Raja Manado yang Takut Naik Kapal: Perundingan Damai Amoura 1668

  • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
  • visibility 24
  • 0Komentar

Pada pertengahan tahun 1668, di depan muara sungai Amoura (Amurang), seorang raja melangkah ke pantai. Ia terus berjalan ke arah laut sampai air setinggi leher, lalu dibantu naik ke perahu. Di tengah air, antara pantai yang dijaga ratusan orang bersenjata dan kapal Kompeni yang berlabuh, ia akan bertemu Presiden VOC dari Ternate bernama Maximiliaen de […]

Kapal dagang Belanda jenis fluit berlayar di perairan Teluk Amurang pada abad ke-17.(ilustrasi)

Raja Loloda dan Kompeni VOC: Perpecahan Manado 1666–1667

  • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
  • visibility 30
  • 0Komentar

Pada 3 Desember 1666 fluit kecil Zandloper meninggalkan Manado menuju Ternate dengan muatan 43 last padi. Kapal itu membawa kabar bahwa keadaan di sana masih tercatat “redelijk”, cukup baik.¹ Beberapa minggu kemudian, raja Manado bersama sebagian besar rakyatnya meninggalkan benteng Kompeni di Manado dan bertahan di Amoura (Amurang). Kepada orang Belanda ia berseru bahwa ia […]

Keluhan Hukum Tua Distrik Toulour mengenai Collecteloon dan Pendapatan Adat

Keluhan Hukum Tua Distrik Toulour mengenai Collecteloon dan Pendapatan Adat

  • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
  • visibility 34
  • 0Komentar

Surat kabar Keng Hwa Poo edisi 18 Juli 1936 memuat tulisan tentang keadaan hukum tua, yang dalam sumber ditulis Hoekoemtoea, di Distrik Toulour dalam rubrik “Dari Tondano”. Tulisan berjudul “Nasibnja toean² Hoekoemtoea didistrict Toulour” itu disertai permohonan agar persoalannya diperhatikan oleh pihak berwenang. Koresponden yang tidak mencantumkan nama menjelaskan bahwa ia menulis karena keluhan para […]

Gubernur VOC Simon Cos, di hadapan barikade kayu Kompeni di Amoura, November 1656 (ilustrasi)

Dari Persahabatan ke Benteng Kayu: Awal Hubungan Manado dan VOC 1653–1656

  • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
  • visibility 25
  • 0Komentar

Pada awal 1656, beberapa utusan dari Manado tiba di benteng Kompeni VOC di Malayu, Ternate. Mereka dan juru bahasa Craen Leendertsz membawa kabar yang langsung menarik perhatian Gubernur Simon Cos, di negeri Kali tumbuh pohon cengkih yang sudah berbuah.¹ Bagi Kompeni yang sedang memusnahkan cengkih di luar Ambon demi monopolinya, kabar itu cukup memberi alasan […]

Sidang di Loji Kompeni dalam Benteng Amsterdam, Manado, sekitar 1727.(ilustrasi)

Hendrik Polii dalam Arsip VOC: Konflik Jabatan dan Tata Pemerintahan Negeri Baru 1726–1729

  • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
  • visibility 28
  • 0Komentar

Pada malam 2 Desember 1727, seorang luitenant berjalan berkeliling Negeri Baru di dekat Benteng Amsterdam Manado, sambil berseru “Hendrik Polij kini hukum mayor kalian, dan empat hukum yang lama tidak perlu dipercaya lagi”. Siang harinya, keempat hukum itu diberhentikan begitu saja oleh residen Kompeni VOC karena menolak menebang balok kayu. Polij yang sejak pagi menunggu […]

Gambar ini merupakan ilustrasi historis bergaya peta kolonial, bukan reproduksi peta asli dari arsip VOC.

Sebelum Ada Residen Manado: Jejak Para Pejabat VOC di Tanah Minahasa

  • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
  • visibility 48
  • 0Komentar

Selama tujuh puluh tahun pertamanya, pos Kompeni VOC di Manado tidak pernah dipimpin seorang “residen” dalam pengertian yang kita kenal sekarang. Yang ada adalah kepala sebuah benteng kecil di bawah Gubernur VOC Ternate. Gelarnya berganti-ganti mengikuti siapa yang tersedia, yaitu sersan, vaandrig, opperhoofd, resident, atau gezaghebber. Dari 1656 sampai 1732, sedikitnya dua puluh lima orang […]

Artikel Rekomendasi

1.200 Orang Datang ke Gereja Tondano: Perjamuan Kudus dan 18 Kali Pelayanan Hessel Rooker

1.200 Orang Datang ke Gereja Tondano: Perjamuan Kudus dan 18 Kali Pelayanan Hessel Rooker

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 64
  • 0Komentar

Masa pelayanan Hessel Rooker di Tondano, gereja bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya ibadah, tetapi juga menjadi ruang yang memperlihatkan besarnya perkembangan jemaat Kristen di wilayah tersebut. Buku Leven en bedrijf van Hessel Rooker, zendeling leeraar, later hulpprediker te Tondano in de Minahassa karya F. D. J. Moorrees (1918) mencatat angka-angka yang luar biasa mengenai kehidupan […]

De kampung Watulaney in Minahasa 1904 (Arsip Utrecht 1904)

Jejak Wanua di Kaki Pegunungan Lembean: Sejarah Desa Watulaney dalam Arsip Kolonial Abad ke-19

  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 144
  • 0Komentar

Di kaki Pegunungan Lembean, di antara jalur tua yang menghubungkan pedalaman Danau Tondano dengan pesisir timur Minahasa, berdirilah sebuah wanua tua bernama Watulaney. Kini desa itu masuk wilayah Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa. Namun jauh sebelum batas administratif modern terbentuk, Watulaney telah hidup sebagai komunitas tradisional masyarakat Tondano yang memiliki struktur adat, ruang sakral, serta […]

Omtrent de Alfoerse taal – Vergelijkende Woordenlijst

Omtrent de Alfoerse taal – Vergelijkende Woordenlijst

  • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
  • visibility 62
  • 0Komentar

Buku “Omtrent de Alfoerse taal – Vergelijkende Woordenlijst”. Tentang Bahasa Alfuru – Daftar Istilah Perbandingan kata-kata bahasa: Belanda – Tombulu – Toumpakewa – Tonsea – Tondano – Bentengan – Tonsawang – Ponosakan – Bolaang-Mongondow. DOWNLOAD – GDRIVE – PDF – 30MB Diupload oleh Roderick C Wahr

Willem Cornput: Raja Kaidipang yang Muncul dalam Arsip VOC

Willem Cornput: Raja Kaidipang yang Muncul dalam Arsip VOC

  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • visibility 66
  • 0Komentar

Pada 2 Juli 1727, di kasteel Orange di Ternate, sebuah akta pendek ditandatangani. Isinya bukan penaklukan, bukan penyerahan wilayah dan bukan pula perjanjian dagang. Isinya perdamaian antara seorang raja dan para kepala negeri yang berada di bawahnya, yang sudah beberapa waktu berselisih. Raja itu bernama Willem Cornput, raja Kaidipang. Para kepala itu berasal dari negeri […]

Auditorium Unima

Sejarah Universitas Negeri Manado (UNIMA) Pencetak Guru Profesional di Indonesia Timur

  • calendar_month Senin, 27 Jan 2025
  • visibility 170
  • 0Komentar

Universitas Negeri Manado (UNIMA) adalah salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia Timur. Berlokasi di Tondano, Sulawesi Utara, UNIMA telah melahirkan banyak alumni yang sukses di berbagai bidang. Namun, tahukah Anda bagaimana perjalanan panjang UNIMA hingga menjadi seperti sekarang ini? Mari kita telusuri sejarahnya yang dimulai dari tahun 1955. Berawal dari PTPG Tondano Cikal […]

Philip Roeland Sigar (Ilustrasi Ai)

Jejak Pelarian Lintas Batas dan Catatan Kolonial: Kisah Philip Roeland Sigar dari Langowan

  • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
  • visibility 264
  • 0Komentar

Sejarah Minahasa abad ke-19 tidak hanya dipenuhi kisah kepahlawanan atau perlawanan bersenjata. Arsip kolonial juga merekam dinamika kaum elite bumiputera yang bergerak melintasi batas birokrasi dan teritorial imperium Eropa. Salah satu figur dengan jejak paling memikat sekaligus kontroversial pada masa itu ialah Philip Roeland Sigar dari Langowan. Berasal dari klan terpandang Minahasa, Philip Roeland Sigar […]

Eduard Douwes Dekker (museummultatuli.id)

Minahasa 1850 dan Lahirnya Kritik Kolonial Douwes Dekker

  • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
  • visibility 173
  • 0Komentar

Di Minahasa pada pertengahan abad ke-19, kolonialisme tidak tampil sebagai kekerasan terbuka. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: laporan administratif, target produksi, dan struktur pemerintahan yang tampak rapi. Di dalam sistem itulah Eduard Douwes Dekker bekerja, sebagai sekretaris residen di Manado, sekitar 1849 hingga 1852. Namun justru dari dalam sistem itu pula, ia mulai […]

Alex Kawilarang, Pendiri Kopassus TNI

Alex Kawilarang, Pendiri Kopassus TNI

  • calendar_month Minggu, 2 Apr 2023
  • visibility 336
  • 0Komentar

Nama Alex Kawilarang begitu melegenda di tanah leluhurnya, Sulawesi Utara. Prestasi dan perjuangannya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia begitu besar. Memimpin Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) dengan jabatan Panglima Besar, dianggap sebagian kalangan sebagai aksi pemberontakan. Namun bagi para pelaku sejarah yang turut berjuang bersamanya, Alex Kawilarang dianggap sebagai pemimpin hebat karena melawan ketidakadilan pemerintah pusat. […]

Pulau Bentenan Kabupaten Minahasa Tenggara

Pulau Bentenan: Gerbang Awal Migrasi Leluhur Pasan dan Ratahan

  • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
  • visibility 123
  • 0Komentar

Di antara beragam komunitas yang membentuk mozaik kebudayaan Minahasa, Pasan dan Ratahan menempati posisi yang istimewa. Keduanya memang telah lama menjadi bagian dari Tanah Malesung, tetapi jejak asal-usulnya memperlihatkan kisah yang berbeda dibandingkan kelompok-kelompok Minahasa lainnya. Jika sebagian besar subetnis Minahasa mengaitkan identitas leluhurnya dengan tradisi Watu Pinawetengan sebagai simbol pembagian wilayah dan kekerabatan, masyarakat […]

Seorang komandan garnisun Spanyol bertemu seorang ukung Minahasa pada awal abad 17 (ilustrasi)

Undangan yang Tak Pernah Tuntas: Manado dan Kegagalan Spanyol di Minahasa

  • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
  • visibility 132
  • 0Komentar

Antara 1606 dan 1637, raja-raja di Sulawesi Utara mengirim permintaan kepada orang Spanyol setidaknya lima kali. Mereka meminta dua hal, dan hampir selalu bersamaan: imam dan serdadu. Ini membalik cara kisah Spanyol di Minahasa biasanya diceritakan. Bukan armada Iberia yang datang menawarkan salib dan meriam kepada penduduk yang pasif, melainkan penguasa lokal yang berulang kali […]

expand_less