Jejak Keluarga Kawilarang dari Perang Jawa hingga Republik
- calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
- visibility 171
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mayor Alexander Herman Hermanus Kawilarang (A. Kojongian)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di antara riak besar sejarah kolonial Hindia Belanda, terdapat kisah keluarga-keluarga yang lintasan hidupnya membentang jauh melampaui satu zaman. Keluarga Kawilarang adalah salah satunya.
Dari Perang Jawa pada abad ke-19 hingga pembentukan Tentara Nasional Indonesia pada abad ke-20, garis keturunan ini menghadirkan ironi, kesinambungan, sekaligus dinamika sejarah Indonesia.
Salah satu figur sentral dalam lintasan itu adalah Alexander Herman Hermanus Kawilarang, seorang perwira bumiputra yang mencapai pangkat Mayor di tubuh Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), sebuah capaian yang langka bagi pribumi pada awal abad ke-20.
Namun, jejak militernya tidak muncul dari ruang hampa. Ia berdiri di atas tradisi panjang pengabdian keluarga yang telah dimulai lebih dari seabad sebelumnya.
Akar Sejarah: Perang Jawa dan Serdadu Minahasa
Sejarah kemiliteran keluarga Kawilarang dapat ditelusuri hingga Perang Jawa (1825–1830), perang besar yang dipimpin Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda.
Dalam situasi terdesak menghadapi perlawanan luas di Jawa, pemerintah kolonial meminta bantuan dari Minahasa, wilayah yang sejak awal abad ke-19 telah berada dalam orbit kekuasaan Belanda.¹
Dari Minahasa, dibentuk Pasukan Tulungan, sering pula disebut Serdadu Manado, yang terdiri atas para kepala walak dan prajurit lokal. Salah satu perwira dalam pasukan ini adalah Johanis “Umpel” Kawilarang, leluhur langsung keluarga Kawilarang.
Dalam struktur Pasukan Tulungan, Johanis “Umpel” Kawilarang berpangkat Kapitein (Kapten), berada di bawah komando panglima pasukan, Groot Majoor Hermanus Willem Dotulong.
Dalam tradisi lisan dan catatan sejarah lokal Minahasa, Kapten Umpel dikenang sebagai prajurit yang sangat berani dan kerap dianggap “sakti” di medan pertempuran Perang Jawa.²
Selepas perang, pemerintah Hindia Belanda menganugerahkan kepadanya gelar kehormatan Majoor dan mengangkatnya sebagai Kepala Distrik Toulimambot.
Dari titik inilah, tradisi militer dan birokrasi elite keluarga Kawilarang mulai mengakar kuat di Minahasa.
Silsilah Militer yang Berkesinambungan
Keterlibatan Johanis “Umpel” Kawilarang dalam Perang Jawa menjadi fondasi awal terbentuknya tradisi kemiliteran dan administrasi kolonial dalam keluarga Kawilarang. Garis keturunan ini berlanjut lintas generasi.
Anak Johanis “Umpel”, Alexander Johanis Kawilarang, menjabat sebagai Kepala Distrik Tondano–Toulimambot dengan gelar Majoor.
Generasi berikutnya, Jan Alexander Kawilarang, menjabat sebagai Hukum Besar atau Kepala Distrik Tondano–Touliang.
Posisi-posisi tersebut menegaskan status keluarga Kawilarang sebagai bagian dari elite pribumi terdidik dan dipercaya oleh pemerintah kolonial.³
Garis tersebut kemudian bermuara pada Mayor A.H.H. Kawilarang, cicit Johanis “Umpel”, yang lahir di Remboken, Minahasa, dan mengenyam pendidikan Barat sejak usia dini. Seperti leluhurnya, ia memilih jalur militer sebagai ruang pengabdian dan mobilitas sosial.
Menjadi Perwira Bumiputra KNIL
Alexander Herman Hermanus Kawilarang menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), sebelum melanjutkan pendidikan militer di Cursus tot Opleiding van Inlandsche Officieren (COI) di Meester Cornelis, kini Jatinegara, Jakarta. Ia lulus sekitar tahun 1911, pada masa ketika perwira pribumi di KNIL masih sangat terbatas jumlahnya.⁴
Dalam struktur tentara kolonial yang sarat hierarki rasial, Kawilarang meniti karier secara konsisten hingga mencapai pangkat Mayor (Infanteri) KNIL.
Di kalangan perwira bumiputra, ia dikenal sebagai figur senior, bahkan lebih dahulu mapan dibandingkan Oerip Soemohardjo, yang kelak menjadi salah satu perintis Tentara Nasional Indonesia.⁵
Pendudukan Jepang dan Runtuhnya Dunia Lama
Invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1942 meruntuhkan dunia yang telah membentuk hidup Mayor Kawilarang selama puluhan tahun. KNIL dibubarkan, para perwira ditawan, dan perwira bumiputra, terutama dari Minahasa dan Ambon menjadi sasaran kecurigaan karena dianggap memiliki loyalitas kuat terhadap Belanda.
Mayor Kawilarang ditangkap oleh Kempeitai sekitar tahun 1943 dan menjalani masa penahanan sebagai tawanan perang di bawah rezim pendudukan Jepang.⁶
Junyo Maru: Akhir Sebuah Pengabdian
Nasib tragis Mayor Kawilarang mencapai puncaknya pada September 1944. Ia dipaksa bersama ribuan tawanan perang Sekutu dan romusha naik ke kapal kargo Jepang Junyo Maru, yang berangkat dari Tanjung Priok menuju Sumatra Barat untuk proyek rel kereta api Pakan Baroe.⁷
Pada 18 September 1944, di perairan Mukomuko, Bengkulu, kapal itu ditorpedo oleh kapal selam Inggris HMS Tradewind, yang mengira Junyo Maru sebagai kapal logistik militer Jepang. Kapal tersebut tenggelam dalam hitungan menit.
Lebih dari 5.600 orang tewas, menjadikannya salah satu tragedi maritim terburuk sepanjang Perang Dunia II.⁸
Tragedi ini juga mencerminkan pelanggaran serius hukum perang. Junyo Maru tidak diberi tanda Palang Merah Internasional meskipun mengangkut ribuan tawanan perang, sehingga awak kapal selam Inggris tidak pernah mengetahui bahwa sasaran yang mereka torpedo adalah kapal berisi manusia-manusia tak bersenjata.⁹
Mayor A.H.H. Kawilarang termasuk di antara korban. Jenazahnya tenggelam di laut dan tidak pernah ditemukan.
Dari Kolonial ke Republik: Sebuah Ironi Sejarah
Warisan Mayor Kawilarang tidak berhenti di laut Sumatra. Nilai disiplin, ketegasan, dan tradisi militer keluarga itu diteruskan oleh putranya, Alexander Evert Kawilarang.
Ironi sejarah pun terbentang jelas: leluhurnya, Johanis “Umpel” Kawilarang, bertempur membela Belanda melawan Diponegoro; dirinya mengabdi pada militer kolonial hingga gugur sebagai tawanan Jepang; sementara generasi berikutnya, A.E. Kawilarang, menggunakan ilmu dan tradisi militer keluarganya untuk memimpin pasukan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan menghadapi kembalinya Belanda.¹⁰
Dalam lintasan itulah keluarga Kawilarang merepresentasikan dinamika sejarah Indonesia tentang loyalitas, perubahan zaman, dan bagaimana warisan kolonial bertransformasi menjadi bagian dari negara merdeka.
Catatan Kaki
- Ricklefs, M.C., A History of Modern Indonesia since c.1200.
- Catatan sejarah lokal Minahasa dan tradisi lisan Pasukan Tulungan.
- Arsip pemerintahan distrik Minahasa abad ke-19.
- Arsip Stamboek KNIL, Nationaal Archief, Den Haag.
- Endro Tri Sudarwono, “Mayor KNIL Oerip Soemohardjo dan Sejarah Kebijakan Awal Pembentukan TNI,” Jurnal Istoria, 2020.
- Catatan Penahanan Kempeitai Hindia Belanda, 1943.
- Henk Hovinga, The Sumatra Railroad: Final Destination Pakan Baroe, 1943–1945.
- Oorlogsgravenstichting, Slachtofferregister Zyunyo Maru.
- Henk Hovinga, The Sumatra Railroad, hlm. 92–97.
- Ramadhan K.H., A.E. Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988.
- Penulis: Moderator Malesung
