Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Di Balik Kuasa Dotulong: Jejak Awal Kritik Multatuli di Minahasa

Di Balik Kuasa Dotulong: Jejak Awal Kritik Multatuli di Minahasa

  • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
  • visibility 170
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah kerap menghadirkan ironi: kritik terhadap kekuasaan justru lahir dari dalam sistem itu sendiri.

Di Minahasa, pertengahan abad ke-19, ironi tersebut menemukan momentumnya dalam perjumpaan dua figur yang berbeda dunia, Hermanus Willem Dotulong dan Eduard Douwes Dekker.

Yang satu adalah penguasa lokal dengan legitimasi tradisional sekaligus militer; yang lain, seorang birokrat muda Belanda yang kelak dikenal dunia sebagai Multatuli, penulis Max Havelaar.

Jauh sebelum Lebak menjadi simbol perlawanan moralnya, benih kritik Dekker telah tumbuh di tanah Minahasa.

 

Kuasa Tradisional dalam Bingkai Kolonial

 

Pada kurun 1848–1851, Eduard Douwes Dekker menjabat sebagai Sekretaris Karesidenan Manado di bawah Residen A.L.N. Scherius.

Di wilayah Sonder, kekuasaan berada di tangan H.W. Dotulong seorang Opperhoofd atau Hukum Besar yang bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan figur sentral dalam struktur sosial Minahasa.

Status Dotulong tidak biasa. Ia adalah veteran Perang Jawa (1825–1830), memimpin pasukan bantuan Minahasa, dan memperoleh gelar kehormatan Groot-Majoor Titulair.[1]

Dalam logika kolonial, loyalitas seperti ini bernilai strategis.

Namun, seperti banyak kisah kekuasaan, legitimasi sering kali berjalan beriringan dengan penyimpangan.

 

Dari Kewajiban Adat ke Eksploitasi

 

Dalam praktiknya, kekuasaan Dotulong mencakup hak untuk mengerahkan tenaga kerja rakyat, dikenal sebagai herendiensten atau wachtvolk.

Awalnya, kerja paksa ini berfungsi untuk kepentingan kolektif: pembangunan fasilitas umum atau kewajiban adat.

Tetapi laporan pemerintah Karesidenan menunjukkan adanya pergeseran. Tenaga rakyat tidak lagi sepenuhnya digunakan untuk kepentingan bersama, melainkan untuk proyek-proyek pribadi.

Masyarakat Sonder dipaksa bekerja di ladang milik sang pemimpin, memotong rumput, hingga menjalankan berbagai pekerjaan domestik yang menguntungkan elite lokal.[2]

Di titik inilah, struktur kolonial dan feodalisme lokal saling menguatkan, bukan saling mengawasi.

 

Catatan dari Seorang Sekretaris

 

Douwes Dekker bukanlah pengamat pasif. Dalam notebook-nya tahun 1849, ia mencatat dengan rinci penghasilan, hak istimewa, dan praktik kekuasaan para Hukum Besar di Minahasa.[3]

Catatan tersebut bukan sekadar dokumentasi, melainkan dasar bagi kritik administratif. Bersama Residen Scherius, Dekker mendorong teguran terhadap Dotulong.

Bagi mereka, eksploitasi tenaga kerja bukan hanya persoalan moral, tetapi juga ancaman terhadap stabilitas ekonomi lokal, karena rakyat kehilangan waktu untuk mengurus tanahnya sendiri.

Apa yang terjadi di Sonder menunjukkan pola yang kelak menjadi tema utama Max Havelaar: rakyat kecil terjepit di antara pejabat kolonial dan elite lokal.

 

Mesin yang Dilarang

 

Ketegangan antara kekuasaan lokal dan pemerintah kolonial mencapai puncaknya dalam sebuah keputusan yang tampak teknis: pelarangan pembelian mesin penggiling padi.

Dotulong berniat membeli rice-husking mill dari Eropa, sebuah teknologi baru penggilingan padi pada masa itu. Namun, Residen Scherius justru melarangnya.

Alasannya bukan teknologi, melainkan kekuasaan.

Pemerintah kolonial khawatir mesin tersebut akan menjadi alat monopoli. Dengan kontrol penuh, Dotulong bisa memaksa rakyat menggiling padi di fasilitas miliknya dan menarik biaya tinggi.

Alih-alih modernisasi, mesin itu berpotensi memperkuat eksploitasi dalam bentuk baru.[4]

Keputusan ini mencerminkan kecemasan kolonial terhadap konsentrasi kekuasaan ekonomi di tangan elite lokal, sebuah kecemasan yang ironis, mengingat sistem kolonial itu sendiri bersifat eksploitatif.

 

Loyalitas Lebih Penting dari Keadilan

 

Meski kritik telah disampaikan, hasil akhirnya menunjukkan batas-batas keberanian administratif.

Berbeda dengan kasus di Lebak, di mana Dekker berkonfrontasi dengan bupati setempat, di Sonder tidak terjadi perubahan signifikan. Dotulong tetap berkuasa.

Alasannya sederhana: pragmatisme kolonial.

Peran pasukan Minahasa dalam Perang Jawa, termasuk kontribusi strategis dalam operasi militer Belanda, membuat Dotulong menjadi aset politik yang terlalu berharga untuk diganggu.[5]

Popularitasnya di kalangan rakyat semakin memperkuat posisinya.

Alih-alih reformasi, yang terjadi adalah kompromi, teguran administratif tanpa konsekuensi struktural.

 

Jejak Awal Multatuli

 

Peristiwa di Sonder mungkin tidak setenar Lebak, tetapi ia menyimpan arti penting dalam perjalanan intelektual Douwes Dekker.

Di sinilah ia menyaksikan secara langsung bagaimana kekuasaan bekerja: bukan hanya melalui penjajahan formal, tetapi juga melalui kolaborasi dengan elite lokal.

Kritiknya terhadap ketidakadilan tidak lahir tiba-tiba di Banten, melainkan telah ditempa dalam pengalaman birokrasi sebelumnya.

Sonder, dengan demikian, adalah bayang-bayang awal dari Max Havelaar, sebuah panggung kecil yang memperlihatkan drama besar kolonialisme: kekuasaan, loyalitas, dan rakyat yang menjadi korban di antaranya.

 

Catatan Kaki

 

[1] M.J.C. Schouten, Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society: Minahasa, 1677–1983 (Leiden: KITLV Press, 1998).
[2] M.J.C. Schouten, “Minahasa around 1850: Plans for reform during Eduard Douwes Dekker’s term as secretary of the Residency of Manado,” Archipel 87 (2014): 159–182.
[3] Catatan harian (notebook) Eduard Douwes Dekker tahun 1849, dalam Schouten (2014).
[4] Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) / Nationaal Archief, Memorie van Overgave Karesidenan Manado (1849–1851); dibahas dalam Schouten (1998).
[5] Laporan militer Java-Oorlog mengenai peran hulptroepen Minahasa dalam strategi benteng stelsel Jenderal De Kock.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Ronny Pasla: Kiper Legendaris Indonesia yang Pernah Menahan Tendangan Penalti Pele

    Ronny Pasla: Kiper Legendaris Indonesia yang Pernah Menahan Tendangan Penalti Pele

    • calendar_month Rabu, 7 Agt 2024
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Ronny Pasla, lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 18 November 1947, adalah salah satu kiper legendaris Indonesia yang namanya dikenang hingga kini.   Ia lahir dari pasangan Frans Felix Pasla dan Magdalena Sorongan, keduanya berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjalanan karier sepak bola Ronny dimulai saat ia bergabung dengan klub-klub lokal di Indonesia, yang kemudian […]

  • Sejarah Desa Lelema Minahasa

    Sejarah Desa Lelema Minahasa

    • calendar_month Selasa, 10 Des 2024
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Desa Lelema memiliki sejarah panjang dan menarik yang penuh dengan perjuangan dan dinamika perpindahan lokasi pemukiman. Pada mulanya, desa ini berada di sebuah wilayah bernama Lekler, yang terletak sekitar 2 kilometer di sebelah timur lokasi Desa Lelema yang ada saat ini. Lokasi tersebut sekarang dikenal dengan nama Masaka dan berada di sekitar Jalan Trans Sulawesi. […]

  • Nawo Oki / Ratu Oki (ilustrasi)

    Sejarah Perang Tonsawang: Taktik Ratu Oki dan Gugurnya Panglima Monde di Bukit Kali

    • calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Dalam lanskap historiografi abad ke-17 di jazirah utara Celebes, perlawanan masyarakat Minahasa terhadap ekspansi kolonial Spanyol menjadi salah satu episode paling menentukan dalam sejarah kawasan. Di antara berbagai palagan besar yang tercatat dalam memori kolektif masyarakat pedalaman, Perang Tombatu tahun 1644 menempati posisi penting sebagai simbol pertahanan kedaulatan lokal terhadap penetrasi kekuatan asing. Konflik ini […]

  • Mayor Hermanus Willem Dotulong saat pengawalan penangkapan pangeran Diponegoro (Ilustrasi)

    Ketika Diponegoro Mengakui Keperwiraan Mayor Dotulong

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Perang Jawa (1825–1830) sering dikenang sebagai salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah kolonial di Nusantara. Perang ini bukan sekadar perlawanan bersenjata terhadap kekuasaan kolonial Belanda, tetapi juga sebuah pergulatan panjang antara taktik militer, keyakinan politik, dan harga diri para pemimpin lokal. Di tengah kerasnya peperangan itu, tersimpan sebuah kisah yang memperlihatkan dimensi lain dari […]

  • Kombes (Purn.) Drs. Ferry Silap Telew Mailensun

    Menyalakan Obor Kebudayaan: Refleksi Dinamika Zaman dalam Kepingan Petuah Taar Silap Ne Opo Dalam Endapan Tonaas Ferry Silap Telew Mailensun

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Warisan luhur adat tanah Minahasa kini terpancar sangat kuat melalui pemikiran mendalam seorang tokoh adat bernama Tonaas Ferry Silap Telew Mailensun yang sekarang telah genap berusia 84 tahun. Purnawirawan polisi berpangkat kolonel ini mendedikasikan sisa usianya demi menggali kembali petuah-petuah tua leluhur yang mulai memudar akibat zaman. Di tengah derasnya arus modernisasi global, ia berdiri […]

  • Pengeran Diponegoro tiba di pelabuhan Manado 12 Juni 1830 (Ilustrasi)

    Melayari Takdir ke Tanah Malesung, Pengasingan Pangeran Diponegoro dalam Jurnal Letnan Knoerle (1830)

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Pada pagi lembap di pelabuhan Batavia, 4 Mei 1830, sebuah kapal perang Belanda bersiap meninggalkan Jawa menuju timur Nusantara. Di geladak korvet Pollux itu berdiri seorang bangsawan Jawa yang baru saja kehilangan segalanya: tanah, pengikut, dan peperangan yang ia yakini suci. Dialah Pangeran Diponegoro. Perang Jawa telah berakhir. Penangkapannya di Magelang pada Maret 1830 menutup […]

expand_less