Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Anak piara oleh zendeling di Ratahan dan Amurang

Anak piara oleh zendeling di Ratahan dan Amurang

  • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
  • visibility 86
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Polemik mengenai tindakan para zendeling di Minahasa telah muncul dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indië sebelum empat surat dari Ratahan dan Amurang diterbitkan tahun 1870. Menurut pengantar redaksi, sebuah tulisan anonim dalam bagian Varia edisi Februari 1869 menjadi awal perdebatan. Dua tulisan lain dimuat dalam edisi April 1870: satu membela tindakan para zendeling terhadap tuduhan terdahulu, sedangkan satu lagi memberikan penjelasan baru atas tuduhan tersebut. Pertukaran tulisan itu kemudian dilanjutkan melalui surat antara J. N. Wiersma dan seorang kontrolir di Minahasa an F. S. A. de Clercq.

Surat pertama ditulis J. N. Wiersma di Ratahan tanggal 6 Agustus 1870. Wiersma menghubungi orang yang dikenalnya sebagai “seorang Kontrolir di Minahasa” agar perdebatan tersebut dapat diselesaikan. Ia mengusulkan agar keduanya saling menjawab melalui surat, kemudian menyerahkan seluruh korespondensi kepada redaksi. Pokok yang dibahas adalah sistem anak-piara.

Wiersma menolak keterangan bahwa anak-piaranya telah menarik kayu untuk sebuah gudang yang dibelinya di Belang. Menurut keterangannya, kayu itu sebagian besar berupa kayu besi dan diangkut menggunakan pedati yang ditarik sapi, sedangkan beberapa anak hanya menggiring sapi tersebut. Ia juga membantah pernyataan mengenai makanan anak-piara. Wiersma menyatakan bahwa selama sembilan bulan dalam setahun mereka memakan nasi dan bahwa jagung hanya diberikan dalam keadaan tertentu.

Masalah lain berhubungan dengan pembayaran hatsil dan pekerjaan anak-piara. Wiersma menyatakan bahwa ia tidak pernah memberhentikan seorang anak-piara karena anak tersebut telah mencapai usia untuk membayar hatsil. Ia juga mengenal zendeling yang membayar hatsil bagi tujuh atau delapan anak-piara. Menurut Wiersma, adanya beberapa contoh penyalahgunaan tidak cukup untuk menyatakan bahwa seluruh sistem anak-piara tidak baik.

Wiersma kemudian membahas pekerjaan yang dilakukan para murid. Ia menyatakan bahwa setiap anak-piara menghabiskan biaya sekitar tiga gulden sebulan. Sebagai perbandingan, ia mempekerjakan pekerja upahan dengan bayaran empat gulden sebulan dan makan siang. Ia juga menceritakan seorang murid yang ingin menjadi pembuat sepatu. Seorang zendeling menempatkan murid itu pada pembuat sepatu pribumi dan berjanji membayar 50 gulden setelah pelatihannya selesai. Murid tersebut tinggal dan makan di rumah pembuat sepatu, membuat sepatu untuk gurunya, serta pergi ke Manado mengambil kulit atau mengantarkan sepatu tanpa menerima upah.

Kontrolir menjawab dari Amurang tanggal 16 Agustus 1870 dan menandatangani suratnya sebagai F. S. A. de Clercq. Ia menerima penjelasan bahwa sapi digunakan dalam pengangkutan kayu dari Belang, tetapi tetap mempertahankan pendapatnya mengenai sistem anak-piara. De Clercq menyatakan bahwa sistem tersebut dapat membuka jalan bagi penyalahgunaan dan dapat menimbulkan anggapan di kalangan penduduk bahwa pihak tertentu memperoleh keuntungan dari mereka.

De Clercq juga kembali membahas rumah seorang zendeling bernama Ulfers. Ia mempertahankan keterangannya mengenai penggunaan para murid dalam pekerjaan rumah tersebut dan menyatakan sulit mempercayai perhitungan biaya anak-piara yang disampaikan Wiersma. Ketika Wiersma mengatakan bahwa pekerja upahan justru lebih murah, De Clercq memintanya melanjutkan penggunaan pekerja upahan. Ia juga menegaskan bahwa pernyataannya mengenai kesulitan memperoleh pekerja bukan berasal dari kepentingan pribadi, sebab menurutnya pekerja upahan mudah diperoleh di tempat tugasnya.

Surat De Clercq tidak hanya membicarakan anak-piara. Ia tetap mempertahankan keberatannya terhadap keterlibatan beberapa zendeling dalam perdagangan kecil, tetapi tidak menyebutkan nama mereka. Ia juga membahas pemberian kepada orang miskin serta tindakan para zendeling ketika seorang pastor Katolik melakukan perjalanan pelayanan di Minahasa. Menurut De Clercq, tidak ada paksaan di Kema dan beberapa kepala distrik berpindah secara sukarela ke agama Katolik. Semua pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan De Clercq dalam polemik, bukan sebagai keputusan redaksi.

Wiersma menjawab dari Ratahan tanggal 24 Agustus 1870. Ia menyatakan bahwa banyak keterangan De Clercq dianggapnya tidak benar atau disajikan secara keliru. Mengenai rumah Ulfers, Wiersma mengaku telah memperoleh informasi bahwa pembangunannya dilakukan melalui kontrak dengan penduduk. Menurut informasi tersebut, anak-piara Ulfers tidak digunakan untuk menebang dan menarik kayu, tetapi digunakan untuk membuat perabot. Wiersma juga mengakui kemungkinan adanya beberapa zendeling yang terlalu banyak terlibat dalam perdagangan kecil.

Jawaban terakhir ditulis De Clercq di Amurang tanggal 2 September 1870. Ia memulai surat dengan menyatakan bahwa para zendeling secara umum patut dihargai karena usaha mereka menyebarkan agama Kristen dan apa yang disebutnya peradaban. Namun, menurut De Clercq, tindakan beberapa zendeling telah menimbulkan dugaan adanya tujuan lain dan karena itu dapat dibicarakan di ruang publik. Ia tetap tidak menerima bahwa pernyataan-pernyataan terdahulunya telah terbukti keliru.

Mengenai rumah Ulfers, De Clercq menyatakan telah mendengar adanya kontrak dengan beberapa orang selama pembangunan. Meskipun demikian, ia hanya mengubah pernyataannya menjadi bahwa rumah tersebut “hampir” tidak mengeluarkan biaya, karena menurutnya bagian pekerjaan orang-orang dalam kontrak itu sangat kecil dibandingkan pekerjaan para murid. Surat tersebut ditutup dengan pengakuan bahwa pendapatnya tetap berbeda dari pendapat Wiersma.

Redaksi menerbitkan keempat surat itu secara utuh dan menyatakan bahwa penerbitannya menjadi akhir pembahasan dalam jurnal tersebut, kecuali muncul tulisan pihak ketiga yang memberikan keterangan baru. Setelah mengikuti polemik, redaksi menilai tuduhan terhadap para zendeling telah dibesar-besarkan. Redaksi juga menyatakan bahwa para zendeling sungguh-sungguh mengusahakan kebaikan, bahwa Minahasa mempunyai kewajiban besar kepada mereka, dan bahwa kekeliruan mereka patut dinilai dengan mempertimbangkan kesulitan tugas serta kedudukan mereka.

Catatan:

Anak piara adalah murid yang tinggal bersama zendeling

Pembayaran hatsil, yaitu pajak kepala yang dikenakan kepada laki-laki pribumi setelah mencapai usia tertentu, serta pekerjaan anak-piara (murid). Pajak kepala sebesar lima gulden.

J. N. Wiersma (Jan Nannes Wiersma) adalah seorang pendeta dan misionaris asal Belanda dari Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) yang melayani di wilayah Ratahan, Minahasa, Sulawesi Utara pada abad ke-19.

F. S. A. de Clercq (Frederik Sigismund Alexander de Clercq) adalah pejabat kolonial yang pernah menjabat sebagai Kontrolir (Controleur) di Amurang, wilayah Keresidenan Manado

Referensi:

De Clercq, F. S. A. Surat-surat dari Amurang, 16 Agustus dan 2 September 1870. Dalam “Briefwisseling over de zendelingen in de Minahasa.” Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Derde serie, tahun ke-4, bagian kedua. Zalt-Bommel: Joh. Noman en Zoon, 1870, hlm. 422–425 dan 427–428.

Redaksi Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. “Briefwisseling over de zendelingen in de Minahasa.” Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Derde serie, tahun ke-4, bagian kedua. Zalt-Bommel: Joh. Noman en Zoon, 1870, hlm. 417–428.

Wiersma, J. N. Surat-surat dari Ratahan, 6 dan 24 Agustus 1870. Dalam “Briefwisseling over de zendelingen in de Minahasa.” Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Derde serie, tahun ke-4, bagian kedua. Zalt-Bommel: Joh. Noman en Zoon, 1870, hlm. 418–422 dan 426–427.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Ds. B. A. Supit: Pimpinan Sinode Pertama GPIB dari Minahasa

    Ds. B. A. Supit: Pimpinan Sinode Pertama GPIB dari Minahasa

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Pembentukan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) pada 31 Oktober 1948 tidak dapat dilepaskan dari peran Ds. B. A. Supit, seorang pendeta asal Minahasa yang kemudian dipercaya sebagai Pimpinan Sinode GPIB pertama (wakil ketua).     Jauh sebelum GPIB resmi berdiri, Ds. Supit telah menjadi utusan Sinode GMIM dalam Moderament Protestantse Kerk in Nederlandsch-Indië […]

  • Sumual, Somba, dabln Suharto (1957)

    Daniel Julius Somba: Panglima Permesta dan Dinamika Politik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Pada suatu siang di Manado, Februari 1958, ribuan orang berkumpul di Lapangan Sario. Di tengah kerumunan itu berdiri seorang perwira Angkatan Darat berpangkat letnan kolonel. Namanya Daniel Julius Somba. Di hadapan massa, Somba membacakan pernyataan yang menandai perubahan besar dalam sejarah Indonesia Timur: pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat di Jakarta dan dukungan terhadap Pemerintahan Revolusioner […]

  • RS GMIM Siloam Sonder (2025-goalkes.com)

    Melawan Wabah dan Tradisi: Lahirnya Pelayanan Medis Modern Pertama di Tanah Malesung

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Di sebuah wilayah perbukitan di Sonder, Minahasa, awal abad ke-20 menghadirkan babak baru yang tak sederhana: perjumpaan antara dunia lama dan dunia yang tengah berubah. Sekitar awal abad ke-20, pelayanan zending di Minahasa tidak hanya berfokus pada pemberitaan Injil, tetapi juga berkembang menjadi pelayanan pendidikan dan kesehatan. Dalam sebuah majalah berbahasa Belanda Het Penningsken edisi […]

  • Hutan Minahasa: Pepohonan, Jalan Berkuda, dan Kayu yang Terbuang di Minahasa

    Hutan Minahasa: Pepohonan, Jalan Berkuda, dan Kayu yang Terbuang di Minahasa

    • calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Dalam Neêrlands-Oost-Indië, jilid II, terbitan 1860, S. A. Buddingh menuturkan perjalanan melintasi Minahasa dengan menunggang kuda. Ia melewati perkampungan, kebun, sungai, pegunungan, serta jalan yang dinaungi pepohonan. Catatannya memuat pengalaman menghadapi hujan, lereng licin, dan hutan lebat. Dalam sumber lain, Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahassa, N. Graafland membicarakan tumbuhan hutan dan pemanfaatan kayu. Ia […]

  • Benteng Amurang: Jejak VOC di Gerbang Selatan Minahasa

    Benteng Amurang: Jejak VOC di Gerbang Selatan Minahasa

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Di tepi Teluk Amurang, sebelah barat muara sungai Ranowangko, berdiri sisa sebuah tembok tua. Denahnya menyerupai huruf D, satu sisi lurus sepanjang kira-kira 30 meter, satu sisi melengkung menghadap laut, tingginya hampir tiga meter, dengan enam lekukan tempat meriam. Pada temboknya tertulis angka 1512.[1] Orang menyebutnya Benteng Portugis. Nama itu sudah lama melekat. Tetapi ketika […]

  • Sumpah Suci Robert Wolter Mongisidi dan Emmy Saelan: Merah Putih di Atas Janji Pernikahan

    Sumpah Suci Robert Wolter Mongisidi dan Emmy Saelan: Merah Putih di Atas Janji Pernikahan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis dengan darah dan senjata, tetapi juga dengan cinta yang dikorbankan. Di tengah kekejaman kolonialisme Belanda di Sulawesi Selatan, terpatri sebuah kisah asmara yang memilih diam, berpisah, dan gugur demi satu tujuan: kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka adalah Robert Wolter Mongisidi, komandan gerilya muda asal Minahasa, dan Emmy Saelan, srikandi Makassar […]

expand_less