Hutan Minahasa: Pepohonan, Jalan Berkuda, dan Kayu yang Terbuang di Minahasa
- calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pemandangan Hutan di Manado, Minahasa - Walter Kauderns, Oktober 1917 wereldmuseum
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam Neêrlands-Oost-Indië, jilid II, terbitan 1860, S. A. Buddingh menuturkan perjalanan melintasi Minahasa dengan menunggang kuda. Ia melewati perkampungan, kebun, sungai, pegunungan, serta jalan yang dinaungi pepohonan. Catatannya memuat pengalaman menghadapi hujan, lereng licin, dan hutan lebat. Dalam sumber lain, Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahassa, N. Graafland membicarakan tumbuhan hutan dan pemanfaatan kayu. Ia juga menjelaskan pemborosan bahan serta menganjurkan penanaman dan pemeliharaan pohon.
Pada halaman 36 bagian “Menado”, Buddingh menulis bahwa selama tinggal di Manado ia terus mengalami demam. Ia juga menderita keadaan sama sekali tidak dapat tidur. Penggunaan laudanum dan morfin yang diresepkan dokter Mogk disebut tidak memberikan pertolongan. Meskipun merasa lemah dan kehabisan tenaga, pada 20 Juni ia tetap menunggang kuda menuju Tomohon. Tahun keberangkatan tidak disebutkan langsung dalam kalimat tersebut.
Buddingh ditemani guru misionaris Graafland, yang untuk sementara sedang berada di Manado. Guru misionaris Linemann, yang menjalankan tugas sebagai pendeta di Manado, mengantarnya sampai Lotta. Sekitar satu jam setelah meninggalkan kota, medan mulai berbukit. Dari punggung bukit terlihat Teluk Manado dan enam pulau di sekitarnya. Setibanya di Lotta, Linemann berpamitan, sedangkan Buddingh dan Graafland mengganti kuda.
Keduanya kemudian beristirahat sekitar setengah jam di penginapan yang disebut lodjie. Menurut Buddingh, penginapan di Minahasa dibuat dari papan dan memiliki empat hingga enam kamar luas. Papan-papannya disatukan dengan alur, dihaluskan, dan kadang dicat. Kamar serta galerinya dilengkapi berbagai perabot, termasuk meja, kursi, tempat tidur, dan cermin. Buddingh juga menjelaskan penggunaan lodjie untuk pertemuan serta urusan administrasi wilayah, distrik, dan desa.
Dari Lotta, perjalanan dilanjutkan melalui kawasan pegunungan dan Kakaskassen menuju Tomohon. Buddingh menyebut perjalanan berkuda itu berlangsung lebih dari empat jam. Pemandangan di sepanjang jalur berganti antara kebun kakao, perkebunan pala, dan perkampungan. Sesudahnya terlihat gunung, hutan, sungai, dataran, dusun, serta sawah. Matahari menerangi bentang alam tersebut, sementara gunung dan pepohonan membentuk bayangan di berbagai bagian jalan.
Di Tomohon, Buddingh diterima oleh mayor setempat di sebuah rumah papan. Dalam penuturannya mengenai permukiman, ia menyebut rumah penduduk umumnya dibuat dari papan dan berdiri di atas tiang. Di sekitar rumah dan desa terlihat tanaman jagung, pagar berbunga, serta beberapa pohon aren dan sagu. Ia juga mencatat penggunaan bambu yang dibelah untuk menyalurkan air dari dinding gunung berbatu menuju pancuran.
Dalam uraian mengenai satwa Minahasa, Buddingh menyebut burung pergam atau pombo, burung hantu, kepodang, dan berbagai burung lainnya. Pombo digambarkannya mempunyai beberapa macam warna, termasuk putih dan ungu kebiruan. Suaranya disebut dalam dan terdengar melankolis. Selain memberikan gambaran tentang burung, ia menuturkan praktik penangkapannya oleh penduduk. Suara pombo kembali muncul dalam bagian perjalanan melalui hutan di sekitar Amurang.
Setelah mengunjungi sejumlah tempat di pedalaman, Buddingh bergerak menuju Amurang. Dalam berkas terjemahan perjalanannya, ia menyebut persinggahan di Ton-bassian-atas (Tombasian Atas) dan Woewoek (Wuwuk). Perjalanan diteruskan melalui Pinamorongan, Ritej, Palej, dan Ranoméa. Hujan terus turun, membuat udara pegunungan terasa dingin dan kembali mengganggu kesehatannya. Jalan yang naik-turun semakin rusak akibat hujan. Kuda-kuda beberapa kali kelelahan, tetapi perjalanan tetap dilanjutkan hingga Amurang.
Di Amurang, Buddingh bertemu guru misionaris Van Capellen. Tidak lama kemudian, Ulfers datang menjemputnya untuk berangkat menuju tempat tinggalnya. Ulfers merupakan kenalan lama Buddingh. Ia bersama istrinya pernah tinggal beberapa hari di rumah Buddingh ketika pertama kali tiba di Jawa. Sebelumnya, saat mendengar Buddingh sakit di Langowan, Ulfers juga telah menempuh perjalanan berkuda untuk menemuinya. Perjalanan pergi-pulang itu disebut memerlukan 28 jam dalam dua hari.
Dua hari setelah tiba di Amurang, Buddingh berangkat bersama Ulfers menuju desa yang dalam berkas terjemahan ditulis sebagai Koelemelemboeaai. Mereka melewati Towassen, Pondoh, dan Wakan, mengikuti ejaan dalam salinan tersebut. Perjalanan yang disebut memerlukan sekitar empat jam itu melalui hutan lebat, semak belukar, serta pegunungan curam. Di sepanjang jalur terdapat jurang dalam dan lereng terjal yang menyulitkan perjalanan.
Hujan deras dan kelembapan menjadikan tanah sangat licin. Buddingh menuturkan bahwa kuda-kuda gunung yang mereka tunggangi menempatkan kaki dengan hati-hati ketika menyusuri lereng. Rombongan akhirnya tiba sekitar pukul satu siang. Desa tujuan mereka disebut berada tidak jauh dari perbatasan Bolaang Mongondow. Ulfers menempati rumah sederhana dan sedang membangun rumah papan baru yang lebih rapi.
Dari lokasi rumah baru Ulfers terlihat deretan bukit hijau dan lembah dalam. Namun, kabut yang sering menyelimuti kawasan itu membatasi pemandangan. Ketika kembali menuju Amurang, cuaca berubah cerah. Buddingh menggambarkan matahari yang menyinari puncak pohon dan gunung. Bayangan terbentang di lembah serta sepanjang tikungan jalan, sementara bunga gunung berwarna ungu tumbuh di tepi jalur.
Dari dalam hutan terdengar suara burung pombo atau pergam. Burung-burung lain bergerak di cabang pepohonan yang masih basah oleh embun. Buddingh juga menuturkan kemunculan satwa dari sela pepohonan yang memperhatikan orang dan kuda yang lewat. Dalam suasana tersebut, perjalanan pulang dirasakannya lebih singkat. Ia mencatat bahwa rombongan telah tiba kembali di Amurang pada pukul setengah dua belas.
Keesokan harinya, Buddingh melanjutkan perjalanan melalui perbukitan dan sejumlah desa menuju Tanawangko. Dari sana, ia berjalan bersama Bossért dan Ulfers menuju tempat-tempat yang ditulis sebagai Tombariri, Mokupa dan Tateli. Jalurnya sepi, tetapi rindang oleh pepohonan sehingga sinar matahari hampir tidak terasa. Perjalanan menuju Lawa dan Malatajan kemudian melalui bagian yang tertutup tajuk hijau serta bagian terbuka. Setelah melewati Negrie-bahroe (negeri baru), ia kembali ke Manado.
Dalam pembahasan tersendiri di Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahassa, Graafland menyebut tumbuhan yang melimpah di gunung, lembah, tempat tinggi, dan pantai. Ia membedakan tanaman yang tumbuh di hutan dari tanaman yang ditanam manusia. Menurutnya, hutan menyediakan berbagai kayu yang kuat dan berguna untuk rumah, jembatan, serta keperluan lainnya. Namun, ia juga mencatat bahwa banyak hutan telah ditebang.
Graafland menyatakan bahwa kayu kemudian ditemukan di tempat-tempat jauh dan di pegunungan. Ia menulis, “Maka haros kajuw itu diindahkan lebeh deri pada dihulu kala.” Dalam bahasa Indonesia modern, kayu harus lebih diperhatikan daripada dahulu. Sesudah pernyataan tersebut, ia menjelaskan kebiasaan menebang pohon dalam jumlah cukup untuk membangun rumah, tetapi membiarkan kayunya terkena hujan dan panas hingga rusak.
Ketika kayu itu tidak lagi dapat digunakan, orang kembali menebang pohon lain. Menurut penuturan Graafland, dengan cara tersebut banyak kayu yang baik dan berguna terbuang tanpa dimanfaatkan. Ia kemudian menganjurkan penanaman beberapa jenis pohon kayu yang baik di hutan pegunungan agar dapat berguna pada kemudian hari. Ia juga menyerukan penjagaan dan pemeliharaan kayu-kayuan di hutan.
Graafland memperingatkan bahwa jika pohon-pohon tersebut tidak dijaga dan dipelihara, penduduk Minahasa dapat mengalami kesulitan memperoleh bahan untuk membangun rumah pada masa mendatang. Uraian itu diikuti daftar berbagai kayu menurut kegunaannya. Pada kelompok bahan rumah, ia mencantumkan antara lain wolo, maumbi, bintangor, pulutan, dan malesung. Sebutan tersebut mengikuti nama yang digunakan dalam teks Graafland.
Dalam pembahasan pembuatan papan, Graafland mengkritik cara membelah batang yang menghasilkan sedikit papan dan membuang banyak kayu. Ia menyarankan agar orang membawa perkakas untuk menggergaji kayu di hutan. Menurut penjelasannya, penggunaan gergaji memungkinkan lebih banyak papan diperoleh dari satu pohon. Ia menyatakan bahwa kebiasaan tersebut dapat menghemat kayu, pekerjaan, tenaga, dan waktu.
Untuk bahan papan, Graafland menyebut antara lain gofasa, kananga, dan nantu. Pada pekerjaan besar yang memerlukan bahan kuat, ia mencatat kayu besi dan wasian. Untuk perabot rumah, terdapat nama lingguwa, kayu hitam, ipil, kayu besi, dan kamuni. Menurutnya, kayu-kayu halus belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ia menganjurkan orang mempelajari penggergajian yang halus agar satu potong kayu memberikan lebih banyak kegunaan.
Sesudah pembahasan kayu, Graafland melanjutkan uraian mengenai tumbuhan lain, termasuk rotan besar dan kecil serta berbagai bambu yang dipelihara manusia. Di antaranya disebut bulu Jawa, bulu batu, bulu air, bulu pagar, dan bulu kuning. Ia juga mengajukan pertanyaan kepada pembaca mengenai kegunaan berbagai bambu tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam pengantarnya, kitab itu ditujukan kepada orang tua dan muda di Minahasa yang ingin menambah pengetahuan mengenai tanah mereka sendiri.
Referensi
Buddingh, S. A. 1860. Neêrlands-Oost-Indië. Reizen … gedaan gedurende het tijdvak van 1852–1857. Tweede Deel. Rotterdam: M. Wijt & Zonen.
Graafland, N. Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahassa. Rotterdam: M. Wajt dan Anakh 1867 No. 32
- Penulis: Engel Yong
