Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Bangka sebagai Tempat Labuh Armada Jepang dalam Operasi Menado 1942

Bangka sebagai Tempat Labuh Armada Jepang dalam Operasi Menado 1942

  • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam operasi Jepang untuk merebut Menado pada Januari 1942, Bangka disebut sebagai tempat labuh yang harus dipertahankan dan dijaga. Kapal-kapal yang selesai membongkar muatan direncanakan berpindah ke sana, sementara satuan pangkalan membangun pertahanan pada jalur masuknya. Kegiatan tersebut dicatat dalam The Operations of the Navy in the Dutch East Indies and the Bay of Bengal, karya War History Office, diterjemahkan Willem Remmelink dan diterbitkan Leiden University Press pada 2018. Bagian “The Capture of Menado” memuat rencana penggunaan Bangka, kedatangan kapal, penyapuan ranjau, dan pengumpulan satuan untuk operasi berikutnya.

Pada 5 Januari 1942, Laksamana Muda Tanaka Raizō, komandan 2d Escort Unit, mengeluarkan perintah operasi di Teluk Magnaga. Menurut uraian pada halaman 150, perintah itu menjelaskan garis besar perebutan Menado sekaligus memerintahkan persiapan perebutan Ambon. Operasi Menado berada di bawah Eastern Attack Unit yang dipimpin Laksamana Muda Takagi. Buku menyebut bahwa Takagi menyerahkan hampir seluruh rincian pelaksanaan perebutan kepada Tanaka.

Dalam pembagian tugas, 2d Escort Unit ditugaskan mengawal langsung konvoi, merebut Menado, serta menguasai dan menyiapkan lapangan terbang. Adapun 1st Base Unit, dengan Nagara sebagai kapal komando, harus bekerja sama dengan satuan pengawal itu. Tugas lainnya ialah mempertahankan tempat labuh Bangka dan melindungi jalur pelayaran Jepang. Sementara itu, 2d Air Unit mendapat tugas melindungi satuan pengawal terhadap kapal selam dan mendukung pendaratan.

Rencana yang dimuat pada halaman 151 membagi konvoi menjadi dua kelompok berdasarkan kecepatan kapal. Keduanya akan meninggalkan Davao pada waktu berbeda agar tiba di tempat labuh secara bersamaan. Setelah pasukan dan muatan diturunkan, kapal-kapal diperintahkan berpindah satu demi satu ke kawasan tempat labuh Bangka yang dipertahankan. Dalam uraian tersebut, Bangka ditempatkan dalam konteks wilayah ujung utara Sulawesi.

Kelompok pendaratan dibagi antara Menado dan Kema. Untuk Menado, rencana mencantumkan kapal angkut seperti Nankai-maru, Kinai-maru, Shōka-maru, Kōshin-maru, Chōwa-maru, dan Amagisan-maru. Kelompok Kema mencakup Hokuriku-maru dan Katsuragi-maru. Pengawalan masing-masing kelompok melibatkan kapal perusak, penyapu ranjau, dan kapal lainnya. Tabel pembagian ini merupakan rencana penempatan kapal, sedangkan uraian berikutnya dalam buku menjelaskan pelaksanaannya.

Pengamanan tempat labuh diatur sebelum pendaratan. Pada halaman 152, War History Office mencatat bahwa penempatan kapal untuk menjaga Menado ditentukan oleh komandan Divisi Kapal Perusak ke-15, sedangkan pengamanan Kema ditentukan oleh komandan Divisi Kapal Perusak ke-16. Satuan penyapu ranjau direncanakan mulai menyapu tempat labuh Bangka sekitar pukul 10.00 pada 11 Januari, kemudian mengambil bagian dalam tugas pertahanan 1st Base Force.

Rencana 1st Base Unit juga menentukan kapal-kapal yang akan menuju Bangka. Nagara dan Chikushi dijadwalkan berangkat dari Davao pada pagi 9 Januari dan mencapai Bangka setelah memberikan dukungan langsung kepada kelompok kedua konvoi. Shirataka, Aotaka, dan Kimishima-maru, bersama sebagian 1st Base Force serta 1st Survey Unit, direncanakan berangkat pada 10 Januari dan tiba pada dini hari 12 Januari untuk menjaga tempat labuh.

Dalam rencana udara pada halaman 153, 2d Air Unit akan terlebih dahulu berlabuh sementara di sebelah barat Kepulauan Sangihe dan memberikan perlindungan kepada konvoi. Pada 11 Januari, kapal-kapal pembawa pesawat amfibi dijadwalkan memasuki Bangka. Dari sana, pesawatnya akan menjaga Menado, Kema, dan Bangka terhadap pesawat serta kapal selam lawan, sekaligus mendukung pertempuran darat.

Pada 6 Januari, konvoi dan 2d Escort Unit sudah berkumpul di Teluk Magnaga. Pertemuan strategi terakhir di kapal Ashigara menghasilkan penundaan satu hari sehingga keberangkatan berlangsung pada 9 Januari. Dalam catatan editorial pada halaman 152, tanggal keberangkatan yang tercantum dalam rencana 5 Januari dikoreksi: tanggal itu seharusnya 8 Januari, karena penundaan menjadi 9 Januari baru diputuskan keesokan harinya.

Pada 9 Januari, konvoi meninggalkan Magnaga. Sekitar pukul 18.30, ketika kelompok pendaratan Kema mencapai perairan di utara Pulau Bangka, tiga pesawat amfibi tipe PBY datang menyerang dan menjatuhkan bom. Menurut catatan yang dimuat dalam buku, serangan tersebut tidak menimbulkan kerusakan. Pada pagi yang sama, Chitose dan Mizuho dari 2d Air Unit, di bawah Laksamana Muda Fujita Ruitarō, masing-masing berangkat dari Teluk Malalag dan Selat Pakiputan.

Laksamana Muda Kubo Kyūji, komandan 1st Base Unit, juga bergerak ke arah Menado dengan Nagara setelah meninggalkan Malalag pada 9 Januari. Pada 10 Januari, Shirataka, Aotaka, dan Kimishima-maru berangkat dari Malalag menuju Bangka. Hari itu, Itsukushima meninggalkan Davao untuk membangun penghalang ranjau di pintu masuk timur tempat labuh Bangka. Catatan editorial halaman 159 mengoreksi satuan kapal tersebut menjadi 2d Base Unit.

Sementara itu, kapal-kapal pembawa pesawat amfibi berlabuh di barat Sangihe pada pukul 09.00 tanggal 10 Januari. Pesawatnya mengawal konvoi terhadap kapal selam, mengintai wilayah utara Sulawesi, dan memeriksa jalur pelayaran. Setelah matahari terbenam, 11th Seaplane Tender Division meninggalkan tempat labuh sementara itu dan berlayar ke selatan menuju Menado.

Pendaratan di Menado berlangsung pukul 04.00 pada 11 Januari, sedangkan pendaratan di Kema berlangsung pukul 04.20. Pada pukul 05.40, satuan kapal pembawa pesawat amfibi memasuki Bangka. Menurut uraian pada halaman 163, sejak pukul 06.30 hingga 19.00 satuan itu melakukan kegiatan udara untuk mengawal konvoi, menjaga tempat labuh Bangka, mencari pasukan lawan, dan mendukung pertempuran darat.

Pada hari tersebut, Divisi Penyapu Ranjau ke-21 mulai membersihkan tempat labuh Bangka. Pembersihan kawasan yang disebut tempat labuh A selesai menjelang petang, tanpa menemukan ranjau dalam penyapuan itu. Buku memberi keterangan bahwa lokasi tempat labuh A tidak diketahui. Karena itu, penyebutan tersebut tidak disertai penetapan lokasi yang lebih rinci.

Pengawalan Bangka juga berkaitan dengan insiden penembakan pesawat sendiri pada 11 Januari. Pada halaman 163, buku menyebut bahwa pesawat observasi Type–0 dari Mizuho, yang sedang menjalankan pengawalan langsung tempat labuh Bangka, menembak jatuh satu pesawat angkut 1001 Unit. Pesawat angkut itu membawa penerjun menuju lapangan terbang Langoan. Buku mencatat perbedaan penjelasan antara satuan pesawat amfibi dan satuan udara yang mengoperasikan pesawat angkut.

Pada 12 Januari, Tanaka menilai bahwa perebutan Menado sebagian besar telah selesai. Ia kemudian mengeluarkan perintah mengenai pengisian perbekalan, pengamanan tempat labuh, dan persiapan operasi Kendari serta Ambon. Menurut uraian pada halaman 171, Jintsū direncanakan meninggalkan Menado pada 15 Januari menuju Davao, sedangkan pengamanan laut daerah Menado berada di bawah komandan Divisi Kapal Perusak ke-15 sampai satuan perebut Kendari dibentuk.

Sejak dini hari 12 Januari, satuan pangkalan mulai membangun pertahanan Bangka. Itsukushima menutup pintu masuk timur dengan ranjau. Shirataka dan Aotaka memasang jaring antikapal selam pada pintu masuk utara, sementara bagian barat pintu masuk utara juga ditutup dengan ranjau. Pekerjaan pertahanan itu disebut selesai menjelang petang 12 Januari. Kapal yang selesai menurunkan muatan, kapal perbekalan, dan satuan untuk operasi berikutnya kemudian berkumpul berturut-turut di Bangka.

Pada 13 Januari, Kubo memberitahukan satuan yang akan mengikuti perebutan Kendari agar berkumpul di Bangka paling lambat 17 Januari dan berangkat pada 18 Januari. Keterangan ini merupakan jadwal yang diperintahkan, bukan catatan bahwa keberangkatan benar-benar berlangsung pada 18 Januari. Selanjutnya, terdapat perubahan jadwal perebutan sasaran operasi. Pada 15 Januari, Laksamana Madya Takahashi memerintahkan penundaan perebutan Kendari dari 21 menjadi 24 Januari dan Ambon dari 25 menjadi 29 Januari. Buku mengaitkannya dengan keterlambatan satuan pembangunan serta operasi pencarian kapal selam di Laut Maluku.

Pencarian tersebut berawal dari laporan pengintaian 14 Januari mengenai sekitar 30 kapal selam. Divisi Kapal Perusak ke-15 dan ke-16 serta Divisi Penyapu Ranjau ke-21 melakukan penyisiran pada 15–16 Januari. Setelah penyisiran oleh kelompok kapal tersebut dihentikan pada 16 Januari, Divisi Kapal Perusak ke-16 dan Divisi Penyapu Ranjau ke-21 kembali menuju Bangka. Nagara, yang memberikan dukungan dari perairan timur Menado, juga memasuki Bangka pada petang 16 Januari.

Pencarian lebih lanjut tidak menghasilkan bukti pendukung. Menurut uraian halaman 170, setelah kejadian salah identifikasi paus pada 18 Januari dan pengamatan lain, pihak Jepang menyimpulkan bahwa sebagian besar objek yang sebelumnya dilaporkan sebagai kapal selam adalah paus. Pencarian dihentikan pada 19 Januari. Pada 20 Januari, Sasebo Combined Special Landing Force kembali naik ke kapal angkut dan berkumpul di tempat labuh Bangka setelah menyelesaikan penyisiran serta persiapan di Menado.

Referensi

War History Office. 2018. The Operations of the Navy in the Dutch East Indies and the Bay of Bengal. Diterjemahkan oleh Willem Remmelink. Leiden: Leiden University Press. “The Capture of Menado”

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Danau Linow dan Jejak Gunung Api

    Danau Linow dan Jejak Gunung Api

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Catatan N. Graafland tentang Lahendong Danau Linow di dekat Lahendong telah lama menjadi salah satu bagian menarik dari bentang alam Minahasa. Dalam catatan N. Graafland, danau ini tidak hanya digambarkan sebagai sebuah perairan yang berada di antara gunung-gunung, tetapi sebagai suatu tempat yang berkaitan erat dengan kekuatan gunung api. Graafland memasukkan danau Linow ke dalam […]

  • Walian Minahasa (Ilustrasi)

    Ketika Alam Menjadi Kalender: Jejak Pengetahuan Waktu Orang Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Di tengah ketiadaan kalender tertulis seperti yang dikenal dalam tradisi Barat, masyarakat Minahasa pada masa pra-kolonial justru mengembangkan cara tersendiri dalam memahami waktu. Bukan angka dan tanggal yang menjadi acuan, melainkan alam langit, hutan, dan tanda-tanda ekologis yang menjadi penunjuk ritme kehidupan. Catatan para misionaris dan pejabat Hindia Belanda pada abad ke-19 menunjukkan bahwa masyarakat […]

  • Mayjen Hein Victor Worang, Pahlawan dari Sulawesi Utara yang Berjasa

    Mayjen Hein Victor Worang, Pahlawan dari Sulawesi Utara yang Berjasa

    • calendar_month Sabtu, 30 Mar 2024
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Hein Victor Worang, yang akrab disapa “Kembie”, lahir di Tontalete, Tonsea, Minahasa Utara, pada 12 Maret 1919. Ia dikenal sebagai tokoh militer dan politik Indonesia yang memiliki peran besar dalam perjuangan dan pembangunan daerah Sulawesi Utara. Worang mencatat sejarah sebagai putra Sulawesi Utara pertama yang meraih pangkat Jenderal TNI AD bintang satu pada Januari 1965 […]

  • Manguni (Otus Manadensis)

    Manguni: Dari Burung Pertanda ke Simbol Identitas Minahasa

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Di langit malam Minahasa, ada satu suara yang sejak lama tidak sekadar didengar melainkan ditafsirkan. Suara itu milik Manguni. Bagi sebagian orang luar, ia hanyalah burung hantu, satwa nokturnal yang hidup di pepohonan Sulawesi Utara. Namun bagi masyarakat Minahasa, Manguni adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah jejak ingatan, perantara makna, dan kini—sebuah simbol […]

  • Orang Tiongkok saat melakukan barter dengan masyarakat di Kema sebelum kedatangan bangsa Eropa (ilustrasi)

    Sebelum Eropa Datang, Pesisir Utara Sulawesi Sudah Menjadi Urat Nadi Jalur Rempah Asia

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Sejarah Nusantara kerap dimulai dari jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, atau dari pelayaran Spanyol ke Maluku beberapa tahun kemudian. Dalam kisah itu, kawasan timur Indonesia seolah baru masuk panggung sejarah ketika kapal Eropa tiba membawa peta, kompas, dan ambisi menguasai rempah. Sumber-sumber maritim Tiongkok memberi gambaran lain. Jauh sebelum Portugis tiba, sudah ada […]

  • Jatuhnya Tondano–Tomohon 1958: Saat CIA Mencatat Kekalahan Permesta di Minahasa

    Jatuhnya Tondano–Tomohon 1958: Saat CIA Mencatat Kekalahan Permesta di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Di ruang-ruang analisis di Langley, markas besar CIA, peta Sulawesi Utara pada pertengahan 1958 tidak dilihat sebagai lanskap kepulauan tropis. Ia dibaca seperti papan catur. Setelah Operasi Merdeka pendaratan amfibi TNI yang berhasil menguasai garis pantai para analis Amerika mengalihkan perhatian ke satu benteng terakhir: Dataran Tinggi Minahasa. Di dataran tinggi inilah terletak poros Tondano–Tomohon, […]

expand_less