Soepit, Paat dan Lonto: Tiga Penguasa Minahasa di Bawah Bayang-Bayang VOC 1719–1724
- calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
- visibility 51
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi pertemuan Soepit, Paat, dan Lonto dengan pejabat VOC di Loji Manado, sekitar 1719, di tengah tarik-menarik kekuasaan antara pemimpin Minahasa dan Kompeni Belanda.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Selasa pagi pada 1 Agustus 1719, seorang vaandrager (pembawa panji) bernama Koeago tiba di loji Kompeni di Manado.
Ia datang “uijt de Negerij Tomoon” (dari negeri Tomon). Di tangannya dia membawa “de rotting van den hoofhoeckum majoor Paat” (tongkat rotan hukum mayor Paat), yang berarti “tot een teken dat door deselve afgezonden was” (sebagai tanda bahwa Paat-lah yang mengutusnya).[1] Rotan itu adalah tongkat jabatan. Para kepala negeri menerimanya dari Kompeni ketika diangkat, dan mengembalikannya berarti melepas jabatan. Karena tongkat itu mewakili pemiliknya, orang yang membawanya dipercaya sebagai utusan sang kepala negeri.
Kabar yang dibawanya menyangkut rekan Paat, yaitu hukum mayor Soepit. Di pegunungan beredar cerita bahwa Kompeni hendak mencabut tongkat Soepit dan menyerahkannya kepada orang lain.
Arsip tidak mencatat pencopotan itu. Yang tercatat adalah kabar tentangnya, bagaimana kabar itu muncul dan bagaimana Kompeni menanggapinya.
Untuk memahami kabar itu kita perlu mundur tiga minggu, ke rapat besar di loji tempat Soepit berhadapan dengan dua orang yang meninggalkan negerinya.
Kisah ini bersandar pada tiga kelompok arsip VOC di Nationaal Archief Den Haag, Belanda.
Pertama, jurnal dua komisaris dari Ternate, Kapten Casper Voges dan Frans Reaal, selama di Manado pada Juli–Agustus 1719, beserta surat-surat lampirannya.
Kedua, jurnal loji Manado bulan Agustus 1720. Ketiga, surat teguran Gubernur Ternate kepada Soepit bulan Mei 1724. Dua kelompok pertama tersalin di inv. 8088 dan inv. 1960.
Yang ketiga ada di inv. 8093 dan inv. 2012. Komisi 1719 juga memeriksa keluhan para kepala negeri terhadap residen Jacob van Gijn. Kisah itu ditulis dalam artikel tersendiri,
Tiga hukum mayor
Soepit bukan nama baru pada 1719. Empat puluh tahun sebelumnya, kontrak 10 Januari 1679 di Manado dibubuhi tanda oleh para perantara, di antaranya ada dua kapten, “Pacat Soepit en Pedro Ranty”.[2]
Jurnal loji bulan Mei 1683 sudah mencatat Soepit dan Paat berdampingan. Ada “de Capt.n Paat van Tomon” (Kapten Paat dari Tomon) dan ada Kapten Soupit, wakil negeri Tomariri. Kapten Soupit pada waktu itu menolak menyerahkan seorang budak yang lari ke negerinya. Budak itu dulu dijual oleh “den Songhadie vant dorp Tomon Pelealo” (sangaji negeri Tomon, Pelealo).[3]
Enam tahun kemudian pada Juli 1689, Ternate menulis tentang “Soepit Capt: van Tomariry” dan “Pa=at hoecom van Thomon”. Keduanya termasuk tiga kepala negeri yang diangkat untuk memutus “alle voorname geschillen” (semua sengketa penting).
Ternate menjuluki mereka “2: gauwe en doortrapte gasten” (dua orang yang cerdik dan licin). Berkat merekalah Kompeni kini tahu “wat’er int geborgte omging” (apa yang terjadi di pegunungan).[4]
Dalam kontrak lanjutan 10 September 1699 tampil tiga nama yang akan terus muncul bersama yakni “hooft-hoecums-majoors Soepit, Lonto en Paat”. Ketiganya membubuhkan “mercken” (tanda) di bawah naskah Melayu kontrak itu.[5]
Rentang 1679 sampai 1724 terlalu panjang untuk satu orang yang masih aktif memimpin. Mungkin ada lebih dari satu Soepit, atau nama itu diwariskan bersama jabatannya. Arsip yang sudah diperiksa belum menjawab soal ini, jadi di sini mereka akan disebut sebagaimana arsip menyebutnya.
Komisi dari Ternate
Voges dan Reaal datang ke Manado pada Juli 1719 untuk memulangkan “de uijtgeweken volckeren van Tonkienboet als mede van andre negerijen” (orang-orang yang menyingkir dari Tongkimbut dan negeri-negeri lain).[6]
Dari awal Soepit sudah tampak enggan untuk ikut. Seorang sersan yang dikirim ke Bantik melaporkan bahwa Paat dan Lonto akan datang ke loji, “maar dat den hoeckum majoor Soepit niet mede zoude komen” (tetapi hukum mayor Soepit tidak akan ikut). Ketika ditanya apakah Soepit sakit, jawabannya tidak.
Pada Minggu 2 Juli, Kompeni mengirim lagi utusan dengan pesan bahwa ketiganya harus datang bersama.[7]
Sementara itu juru bahasa Pieter Tobias dikirim ke Tompaan untuk memanggil orang Tonkienboet. Namun ia tidak menemukan seorang pun disana.
Hukum Lontaan, yang bersama kira-kira separuh penduduk Tombasian di teluk Amurang juga sudah pindah ke Tompaan, berkata bahwa orang Tonkienboet sudah pulang.
Letnan Fetor yang pindah dari Tonsea ke Kema, dipanggil tiga kali dan tidak pernah datang.[6][8]
Baru pada Senin petang tanggal 17 Juli, Soepit, Paat, dan Lonto tiba. Residen Jacob van Gijn menyambut mereka “met de vereijschte ceremonien” (dengan upacara yang semestinya) dan dengan tiga tembakan meriam.
Kepada para komisaris mereka menyatakan bahwa orang Tonkienboet di Tompaan yaitu Kapten Mayor Tombal, Sersan Alla, dua marinyo dan para pengikut mereka sudah kembali.[6]
Kamis 20 Juli, sekitar pukul sembilan pagi, dibuka “Vergadering van den algemeenen Landraad” (Rapat Dewan Negeri Umum).
Hadir kedua komisaris, Van Gijn dan penggantinya Adriaan van Leene, ketiga hukum mayor, serta para hukum dan kepala negeri atas, bawah, dan pedalaman.[6] Rapat itu membahas masalah dua pelarian lain bernama Caliedjes dan Wonkaar.
Danobanko
Perkara pertama menyangkut hukum Caliedjes, kepala negeri Tombarierie. Ketiga hukum mayor mengadukan bahwa ia telah membawa “dertien bobatos en hondert en veertigh gemeene” (tiga belas bobato dan seratus empat puluh rakyat biasa) pindah ke Danobanko tanpa sepengetahuan mereka.
Caliedjes menjawab bahwa kepindahan itu diputuskan rapat dalam negeri, sebab tanah lama mereka “een schraal en mager land” (gersang dan kurus).
Para komisaris menyuruhnya kembali. Caliedjes lalu menyerahkan “een Maleyds geschrift” (sebuah tulisan Melayu) yang menyatakan bahwa berkebun di Danobanko sudah diizinkan oleh Soepit sendiri. Soepit menyebutnya “onwaar” (tidak benar). Lalu Caliedjes bertahan “Danobanko wil ik niet verlaten, nog veel min naar mijn oude negerij keeren” (Danobanko tidak mau saya tinggalkan, apalagi kembali ke negeri lama saya).[9]
Soepit meminta Caliedjes dibawa ke Ternate untuk setahun kerja paksa. Para komisaris menolak. Menurut mereka lebih baik Caliedjes, selama ia tidak menyingkir dengan niat buruk, dibiarkan tenang sampai Gubernur mendengar laporan.
Di titik inilah Soepit mengucapkan kalimat yang kelak berbalik arah yakni “ik wil veel liever mijn Rotting weder aan d’E Comp. overleveren en de qualiteijt van gemeene hoeckum besitten dan zulx gedogen” (aku jauh lebih suka mengembalikan rotanku kepada Kompeni dan menjadi hukum biasa daripada membiarkan hal itu).
Caliedjes tidak bergeming dan berkata “zij mogen met mij handelen soo als zij willen, ik zal tog Danobanko niet verlaten” (mereka boleh berbuat terhadapku sesuka mereka, aku tetap tidak akan meninggalkan Danobanko).
Soepit lalu meminta agar Caliedjes dimasukkan “in den troncq” (ke pasungan) dan dihukum di Ternate “tot een exempel van andre” (sebagai contoh bagi yang lain). Itu pun ditolak para komisaris, sebab dari situ tidak bisa diharapkan apa pun selain “onheijle” (malapetaka).[9]
Lalu giliran Letnan Wonkar. Ia perwira dari Tomon, negeri yang dikepalai hukum mayor Paat, sehingga Paat-lah yang paling berkepentingan dalam perkaranya ini.
Ia menetap di Tomboeloean bersama dua sersan, seorang marinyo, dan seratus empat puluh rakyat, jumlah yang persis sama dengan pengikut Caliedjes.
Wonkar berkata ia hanya berkebun di sana, dan kabar bahwa ia menyingkir itu disebarkan Paat “uijt een quaadaardigheijt” (karena dengki). Paat menjawab bahwa Wonkar sudah lama tinggal di Tomboeloean dan tidak pernah datang bila dipanggil. Wonkaar membenarkannya, dan menjelaskan alasannya bahwa para kepala negeri pernah mengusirnya dari rapat “en hem nageven dat een tovenaar is” (dan menuduhnya tukang tenung).
Ia minta izin berkebun tiap tahun di Tomboeloean dan pulang ke Tomon sesudah panen. Para hukum mayor menolaknya. Caliedjes dulu juga hanya minta izin berkebun, dan sekarang menetap di Danobanko.[10]
Para komisaris lalu mengajukan pertanyaan yang menjadi inti perkara ini. Bukankah sama saja di mana orang bertempat tinggal, “domicilium houden”, asal mereka tetap tunduk dan hormat kepada para hukum mayor serta memberikan semua dinas kepada Kompeni? Sesudah lama berunding, para hukum mayor menjawab tidak, “want als zulx getollereert wierd, te dugten stond dat andre mede soude komen uijt te wijken” (sebab kalau itu dibiarkan, dikhawatirkan orang lain akan ikut menyingkir).[8]
Lalu datang pembelaan dari arah yang tak terduga. Jacob van Gijn bersaksi bahwa Caliedjes dan Wonkaar selalu “d’eerste” (yang pertama) datang bila Kompeni meminta sesuatu, sedangkan negeri lain baru bergerak sesudah dikirimi empat atau lima utusan.
tidak membantah itu. Menurutnya kerajinan itu hanya “om d’E Comp.e te annimeeren” (untuk mengambil hati Kompeni), supaya mereka boleh tetap di dusun buatan mereka sendiri. Kompeni tidak terbujuk.[11] Rapat ditutup dengan anjuran agar Caliedjes dibiarkan di Danobanko dan diperlakukan “minsaam” (dengan ramah). Sebelum mereka bangkit untuk makan bersama, Soepit minta izin berangkat sendiri ke Ternate. Permintaan itu pun ditolak dengan ramah oleh komisaris.[12]
Satu hal patut dicatat. Pada 1683 dan 1689 dalam arsip Soepit disebut kapten dari Tomariri.[3][4] Kalau Tomariri dan Tombarierie negeri yang sama, kepala yang menyingkir ke Danobanko berasal dari wilayah Soepit sendiri.
Surat dari Danobanko
Tulisan Melayu Caliedjes tersalin dalam terjemahan Belanda buatan Van Gijn, dengan judul “Translaat van een Maleyds geschrift”.[13] Isinya bercerita dari sudut pandang orang-orang yang pindah. Keputusan pindah diambil dalam rapat “met alle de bobatos en alle onderdanen” (bersama semua bobato dan rakyat). Jalan ke Danobanko dibuka bersama dua bobato dari Tonsoronson, Kapten Senkeij dan Letnan Tombeg, nama yang kini dikenal sebagai marga Sengkey dan Tombeg. Dua tahun mereka berkebun di sana.
Lalu Soepit datang memeriksa padi mereka. Ia heran mereka masih tinggal di hutan. Kalau pegawai Kompeni datang dan butuh makan dan minum katanya, mereka tak bisa dicari di hutan pada malam hari. Lebih baik rumah dibangun di tepi sungai Danobanko, dekat pantai.
Mereka lalu pergi ke Manado bersama Soepit dan meminta izin kepada opperhoofd Bartram Bichon. Bichon menjawab “het is goed” (baiklah), meski khawatir orang Kema dan Amurang akan ikut-ikutan.
Lima hari kemudian Soepit sendiri mengadakan rapat. Siapa yang sudah berjanji tinggal bersama Caliedjes tetapi lalai membangun rumahnya akan didenda. Dendanya benar-benar dijatuhkan. Dari situ Soepit menerima “een werpspies” (sebuah tombak lempar), lalu menanam sebatang “klappus boom”, kemungkinan pohon kelapa, di Danobanko.
Negeri lama juga ikut memutuskan. Hukum Pelealoe mengundang rapat di negeri Lemo dan menyatakan bahwa siapa yang ingin tinggal bersama Caliedjes boleh pergi tanpa dihalangi, dan siapa yang ingin pulang juga boleh. Saksinya kapten Bantik bernama Kassia. Keputusan itu disampaikan kepada Soepit, yang lagi-lagi menjawab “het is goed”, baiklah.[13]
Kalau surat itu benar, kepindahan ke Danobanko dianjurkan, disahkan, bahkan ikut dinikmati oleh Supit sendiri. Namun di depan para komisaris, Soepit menyebut semuanya tidak benar.
Sepekan di loji
Esok harinya pada 21 Juli, Adriaan van Leene diperkenalkan sebagai kepala sementara loji menggantikan Van Gijn.[12] Rapat 22 Juli itu dipenuhi keluhan terhadap Van Gijn.
Sore itu putra Paat datang membawa kabar bahwa salah seorang putri Paat meninggal. Paat minta pulang untuk menguburkannya dan “insteede van zijn persoon” (sebagai pengganti dirinya) ia hendak meninggalkan rotannya di loji. Para komisaris mengizinkannya pulang dan mengembalikan rotan itu.[14] Rotan yang sama tiba lagi sepuluh hari kemudian, di tangan Koeago.
Pada 25 Juli Soepit dan Lonto meminta agar sejumlah orang “in qualiteijt mogte verhoogt werden” (dinaikkan pangkatnya):[15]
| Negeri | Nama | Pangkat lama | Diusulkan menjadi |
|---|---|---|---|
| Tondano | Kalipon | kapten mayor | hukum |
| Tondano | Pangan | kapten mayor | kapten mayor |
| Tondano | Paockie | sersan | vaandrager |
| Bantik | Samola | hukum | hukum mayor |
| Bantik | Goloe | kapten | hukum |
| Bantik | Cassia (Kassia) | kapten | hukum |
| Bantik | Thonte | vaandrager | kapten |
| Bantik | Mankoe | vaandrager | kapten |
| Bantik | Colompongoij | sersan | vaandrager |
| Bantik | Monjaga | sersan | vaandrager |
| Aris | Lawit | letnan | kapten |
| Aris | Galla | vaandrager | letnan |
| Aris | Mogo | kapten mayor | hukum, “in steden van den blinden en buijten staat zijnde hoekkum Paat” (menggantikan hukum Paat yang buta dan tak lagi mampu) |
| Aris | Ponda-aal | kapten | kapten mayor |
| Aris | Loelingh | letnan | kapten |
Para komisaris merasa tidak dapat menolak dan menyetujuinya, namun dengan janji usul itu disampaikan kepada Gubernur VOC terlebih dahulu.[15]
Hukum Paat yang buta adalah hukum negeri Aris, bukan Paat dari Tomon. Pangan tetap kapten mayor dan ia tampaknya mengisi tempat yang ditinggalkan Kalipon. Yang paling menarik adalah Samola dari Bantik, yang diusulkan naik menjadi hukum mayor.
Kalau usul itu disahkan, Bantik mendapat hukum mayornya sendiri, seperti Klabat dan Aris. Dalam pernyataan 24 Juli tentang Van Gijn, Monieka dari Klabat dan Roemonder dari Aris sudah disebut hukum mayor. Samola sendiri ikut bersaksi melawan Van Gijn sehari sebelum diusulkan naik.
Beberapa nama lain juga muncul di tempat lain seperti Kassia adalah saksi dalam surat Caliedjes, Thonte pernah dipasung Van Gijn, dan Monjaga melaporkan perahu Mindanao di Selat Bangka.[8]
Pada 1719 Soepit masih mengusulkan pengangkatan lewat para komisaris. Namun lima tahun kemudian ia mengangkat sendiri.
Esoknya 26 Juli, perkara datang dari arah laut. Sangaji Siau bernama Caspar Lomeo, menuntut lima budak milik raja dan jogugu Siau yang ditahan Soepit. Soepit tidak menyangkal hal itu.
Ia menahan mereka “om dat se van zijn geslagt zijn” (sebab mereka dari garis keturunannya), karena saudaranya memperanakkan mereka dengan seorang budak perempuan di Siau. Diingatkan bahwa tak seorang pun boleh menahan budak milik orang lain dan Soepit langsung bersedia menyerahkan mereka, asal mereka “nooijt verkogt” (tidak pernah dijual).
Katanya “zoo draa als ik boven in mijn land ben, zal ik alle vijf afsteuren” (begitu saya sampai di atas, di negeri saya, kelimanya akan saya kirim).[16] Tiga puluh enam tahun sebelumnya, Kapten Soupit dari Tomariri juga menolak menyerahkan budak milik orang lain.[3]
Dalam rapat yang sama Van Gijn menuntut budak perempuannya bernama Sompo, yang telah dibebaskan para hukum. Soepit dan Lonto menyanggupi, lalu minta pulang “om dat haar padij leijt te verderven” (sebab padi mereka terbengkalai).[16] Kamis pagi 27 Juli, para “Lantregenten” berpamitan dan dilepas dengan tiga tembakan meriam.[16]
Dua pekan kemudian ternyata kelima budak itu tidak berada di negeri Soepit. Mereka tinggal di Danobanko, di negeri Caliedjes. Sangaji Siau meminta “pas” (surat jalan) dari loji supaya bisa pergi ke Danobanko menjemput mereka.[17]
Ia pulang hanya dengan empat budak. Yang kelima ada di Tondano. Budak itu bisa saja ikut dibawa, tetapi karena Caliedjes sedang ke Amurang, “de andre hoofden van de negerij Donabanko” (para kepala lain negeri Danobanko) tidak mau melepaskannya.[18]
Kabar dari Tomboeloean
Kini kita kembali ke pagi 1 Agustus. Koeago melaporkan bahwa Soepit dan Lonto mendengar sebuah cerita. Sumbernya dari Letnan Wonkaar.
Bahwa dalam rapat dengan pengikutnya di “sijn opgeworpene negerij” (negeri yang ia dirikan sendiri) di Tomboeloean, Wonkaar konon berkata bahwa para komisaris sudah memutuskan mencabut tongkat Soepit dan menyerahkannya kepada Caliedjes, “om in plaats van Soepit als hoeckum majoor te regeeren” (untuk memerintah sebagai hukum mayor menggantikan Soepit).
Para komisaris, katanya, sudah mencoba mengambil tongkat itu “in volle vergadering” (dalam rapat penuh), “maar dat hij Soepit zijn rotting niet had willen overgeven” (tetapi Soepit tidak mau menyerahkan rotannya).[1]
Kalimat Belandanya penuh “zoude” dan “soude”, bentuk yang berarti “konon”, dan jurnal tidak mencatat keputusan seperti itu.
Tetapi kabar itu tidak muncul dari ruang kosong. Dua belas hari sebelumnya Kompeni membela Caliedjes dan Wonkaar di depan Soepit, dan Soepit sendiri berkata lebih suka mengembalikan rotannya kepada Kompeni. Di Tomboeloean ucapan itu dibalik menjadi Soepit yang menolak menyerahkan rotannya.
Ditanya siapa yang membawa kabar itu, Koeago menjawab bahwa para hukum mayor “sulx maar hadden hooren seggen” (hanya mendengarnya dari orang). Kompeni menganggap cerita itu “voor wat apocrief” (agak meragukan).[19]
Esoknya Koeago pulang dengan membawa pesan. Para pembawa kabar dan Letnan Wonkaer harus dikirim ke loji “om partijen tegens den andre te hooren” (agar kedua pihak dapat didengar berhadapan). Kalau tidak terbukti, kabar itu “voor een gefingeerde leugen zal en moet aangenomen werden” (akan dan harus dianggap kebohongan rekaan).[20]
Jurnal lalu kembali ke urusan sehari-hari. Orang dipanggil memuat beras ke brigantin Achilles, tetapi semua sedang “naar haar thuijnen” (ke kebun). Para hukum mayor berjanji mengirim orang memperbaiki pagar loji yang roboh.[20][17]
Baru pada Sabtu, 12 Agustus, datang seorang saksi dari Tomboeloean sendiri bernama Sersan Raauw, mengantar beras. Benarkah ada rapat di Tomboeloean pada tanggal satu? Benar, katanya. Apa yang diputuskan? Tidak ada perkara yang dibahas.
Caliedjes hanya menyampaikan apa yang diputuskan di loji yakni mereka harus menunjukkan “alle onderdanigheijt” (segala ketundukan) kepada Kompeni dan kepada para hukum.[18]
Menurut Raauw, yang dibawa pulang dari loji adalah pesan untuk tunduk kepada para hukum, persis syarat yang diajukan para komisaris pada 20 Juli. Kabar pencopotan Soepit tidak termasuk di dalamnya. Malam itu para komisaris naik ke kapal Achilles, dan menjelang tengah malam 13 Agustus kapal berlayar ke Ternate. Wonkaar tidak tercatat pernah datang ke loji.[18]
Kayu, kapur, dan Tonsaronda, 1720
Setahun kemudian, Rabu 21 Agustus 1720, jurnal loji mencatat: “Verscheen alhier p.r prouw van de negerij Danoebanko den hoekum Soupit, benevens nog eenige mindere babatossen” (tibalah di sini dengan perahu dari negeri Danobanko hukum Soepit, bersama beberapa bobato rendahan).[21] Soepit turun ke Manado lewat Danobanko, negeri yang setahun sebelumnya ingin ia kosongkan.
Ia datang untuk urusan bahan bangunan loji. Soepit menegaskan bahwa rakyatnya tak pernah menolak pekerjaan Kompeni. Ia akan menebang kayu bagiannya, seperti rekan sejawatnya Lonto dan Paat. Untuk kapur ia minta dibebaskan, sebab mereka “bergvolckeren” (orang pegunungan) dan di sana “geen craal steen” (tak ada batu karang). Kewajiban itu ia minta dialihkan ke negeri-negeri pantai, “Aris, Clabat en Bantik”.[21] Pembagian ini sejalan dengan daftar kewajiban dalam kontrak 1699.[5]
Penulis jurnal lalu menyinggung perselisihan baru antara rakyat Soepit dan rakyat Lonto, “als Tombariry en Tonsaronda”. Soepit menjawab bahwa perkara itu sudah selesai. Ia telah melarang rakyatnya membawa “schilt of swaard” (perisai atau pedang) ke mana pun mereka pergi.[21]
Inilah satu-satunya catatan dalam berkas ini yang mengaitkan Lonto dengan sebuah negeri, dan itu pun tidak langsung. Kalau Tombariry pihak Soepit, Tonsaronda kemungkinan pihak Lonto, yaitu Tonsaronson atau Saronson.
Hikayat yang dicatat Riedel pada 1862 menyebut empat utusan, Supit, Lonto, Pa-at, dan Lonta-an, dari Toun Waririj, Toun Saronsong, Toumuung, dan Kekaskasan. Kalau urutannya sejajar, maka Lonto berasal dari Saronsong.[22]
Tetapi pada 1689 hukum Saronson masih bernama Mandagij,[4] jadi asal Lonto tetap dugaan.
Bukan urusan Kompeni, 1724
Empat tahun kemudian nadanya berubah. Pada 8 Mei 1724 Gubernur Ternate, Jacob Cloeck, menulis dari Kasteel Oranje kepada “den hooft rigter Soepit”, dengan sapaan “Goeden vrund” (sahabat yang baik).[23]
Dasarnya laporan residen Adriaan van Leene tertanggal 16 Maret 1724, orang yang dulu menerima Soepit di loji.
Menurut laporan itu, Soepit telah “op eijgen aanmatiging” (atas kuasanya sendiri) mengangkat hukum, kapten, dan letnan di negeri-negeri “Tompassian, Tompasso, Tompaan en Selemmo”. Di antara yang diangkat ada dua orang Kristen, vaandrig Dirk Ramangkang dan Thomas Tidong.[23]
Penyalin di inv. 8093 menulis huruf k dengan lengkung, sehingga nama belakang Dirk terbaca seperti “Ramanglang” atau “Ramanbrang”. Salinan kedua di inv. 2012 menulisnya jelas, “Ra-mangkang”, juga “Ramankang”. Nama ini nyaris sama dengan Rumangkang, marga Minahasa yang sampai sekarang banyak dipakai.
Vaandrig Dirk mungkin salah satu jejak tertulis tertua nama itu, walaupun kemiripan nama belum membuktikan hubungan keturunan. Kawannya ditulis “Tidong” di inv. 8093 dan dengan huruf awal berlekuk mirip P di inv. 2012. Nama ini mungkin Toding, juga marga Minahasa, tetapi dugaan itu hanya bersandar pada bunyi nama. Tompaan sudah kita temui pada 1719 sebagai tempat pelarian orang Tonkienboet dan Tombatsian. Kalau Tompassian adalah Tombatsian, perwira yang diangkat Soepit justru berada di negeri-negeri yang lima tahun sebelumnya hendak dipulangkan komisi.
Seorang korporal Kompeni bernama Waarnaar sudah mengingatkan Soepit bahwa pengangkatan perwira adalah hak Kompeni semata. Jawaban Soepit tercatat dengan kalimat “dat de boven dorpen niet d’E. Comp.e maar hem alleen aangaan en dat de beheersing daar over hem alleen competeert” (bahwa negeri-negeri atas bukan urusan Kompeni, melainkan urusannya sendiri, dan kekuasaan atas negeri-negeri itu hanya haknya).[24]
Ternate menyebut jawaban itu “seer arrogant” (sangat lancang). Soepit diingatkan bahwa ia tidak punya kuasa lain selain yang diberikan Kompeni “agtervolgens het besworen contract” (menurut kontrak yang telah disumpah), dan bahwa gelar hukum mayor pun berasal dari Kompeni.
Pengangkatan itu tidak disahkan. Soepit diminta menjadi “een gehoorsaam hoofdrigter” (hukum mayor yang patuh),[24] mengembalikan Dirk Ramangkang dan Thomas Tidong ke kedudukan semula, dan membiarkan perwira lain pada pangkat lamanya sampai Kompeni menyetujui.
Ia juga diminta mendorong rakyatnya menjalankan “hofdiensten” (kerja wajib): menyelesaikan loji, turun memuat kapal, dan dinas lain menurut kontrak. Salinan surat itu disahkan oleh sekretaris J. de Ree dan dikirim ke Batavia bersama kiriman Ternate 13 September 1724.[25]
Kalimat Soepit sampai kepada kita lewat tiga tangan yaitu korporal, residen, lalu gubernur. Meski begitu, ini salah satu dari sedikit ucapan kepala negeri Minahasa abad ke-18 yang tercatat. Pada 1719 Soepit meminta Kompeni menghukum Caliedjes dan menepis kabar tentang tongkatnya. Pada 1724 ia menyatakan negeri-negeri atas bukan urusan Kompeni. Kedua sikap itu bersandar pada kontrak yang sama, dibaca dari dua arah. Menurut Van Gijn, nada 1724 sudah terdengar pada 1719, ketika ketiga hukum mayor berkata bahwa yang mereka ikuti adalah “hunne wetten” (hukum mereka sendiri), bukan kontrak.[26]
Konten Khusus Anggota Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum terdaftar sebagai anggota, silakan hubungi admin untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran. Terima kasih atas kunjungan dan partisipasi Anda dalam mendukung komunitas kami.
- Penulis: Moderator Malesung
