Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik
Beranda » Sejarah » Pasar Ikan Manado

Pasar Ikan Manado

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada hari pertamanya di Manado dalam perjalanan 1855, Pieter Bleeker berjalan ke pasar dan melihat beberapa ikan yang belum dikenalnya. Pengalaman itu dicatat dalam Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, terbit pada 1856. Bleeker mengikuti perjalanan Gubernur Jenderal A.J. Duymaer van Twist pada September dan Oktober 1855. Di sela kegiatan rombongan, ia mengamati kota serta berusaha menambah koleksi alamnya. Pasar menjadi salah satu tempat yang dikunjunginya untuk pekerjaan tersebut.

Manado yang digambarkan Bleeker berada di tepi teluk dan pada sisi kiri sungai. Ia memperkirakan penduduk kota berjumlah lebih dari 2.500 orang. Dengan memasukkan negeri Bantik dan Negeri Baru yang berdekatan, perkiraannya meningkat menjadi sekitar 4.000 orang. Angka-angka tersebut mengikuti cakupan permukiman yang dibedakannya pada saat kunjungan. Di bagian barat kota, dekat tempat kapal berlabuh, terdapat benteng, kantor residen, barak, gudang pemerintah, dan pasar beratap.

Rumah penduduk Eropa berada di sebelah utara dan selatan benteng, sedangkan kawasan Tionghoa terletak di sebelah timurnya. Kawasan yang disebut terakhir berbatasan dengan sungai. Rumah residen berada pada batas timur kawasan tersebut. Bleeker juga mencatat jalan-jalan utama yang lebar dan pada banyak tempat saling berpotongan tegak lurus. Di antara pengamatannya atas susunan kota itu, ia menyempatkan diri melihat barang yang diperdagangkan di pasar.

Pasar Manado ditutup sebuah bangunan beratap dan menurut Bleeker cukup ramai dikunjungi. Barang dagangannya meliputi buah, gambir, tembakau, sirih, garam, kain, barang kecil, serta ikan. Garam dijual dalam keranjang memanjang dari daun palma dan dari jauh sempat disangkanya sebagai gula yang belum dimurnikan. Ia membandingkan ragam barang itu dengan yang dijumpai pada pasar di kota-kota utama Jawa. Penilaiannya mengenai perputaran perdagangan lebih terbatas: pasar Manado disebut mempunyai kegiatan yang berarti dibandingkan beberapa pasar lain yang dibahas dalam perjalanan tersebut.

Bleeker membedakan keberadaan bangunan pasar dengan berlangsungnya kegiatan pasar. Bangunan semacam itu disebut terdapat di Manado, Amurang, Tomohon, Sonder, Tondano, Kakas, Kema, dan Belang. Akan tetapi, ia menyatakan pasar diselenggarakan di Manado, Tomohon, Kakas, dan Tondano. Hanya pasar Manado yang disebut dipachtkan, dengan nilai 3.250 gulden pada 1855. Keterangan ini merupakan gambaran yang diberikan bukunya tentang keadaan pasar pada masa kunjungan.

Di antara ikan yang belum dikenalnya, Bleeker menyebut anggota kelompok Mesoprion, Lethrinus, Sicijdium, Julis, dan Leptocephalus. Ia kemudian menyatakan daftar ikan yang diamati di berbagai tempat selama perjalanan akan disajikan pada bagian akhir karya. Nama kelompok tersebut memperlihatkan bahwa pengamatannya disertai pencatatan ilmiah. Namun, pernyataan “belum dikenal” itu merujuk pada pengetahuan Bleeker saat melihatnya; bukan keterangan bahwa semua ikan pasar tersebut kemudian ditetapkan sebagai spesies baru.

Mengenai persediaan, Bleeker menilai penangkapan ikan di Manado belum dilakukan dalam skala besar meskipun teluknya kaya ikan. Ia berpendapat konsumsi ikan kering di pedalaman Minahasa masih dapat ditingkatkan. Bahkan kebutuhan kota sendiri menurutnya belum terpenuhi dengan cukup. Ia menghubungkan keadaan itu dengan mahalnya ikan di Manado, yang disebut lebih mahal daripada di Batavia, tempat ikan juga sudah dinilainya tidak murah.

Ia memberikan contoh harga hasil laut yang dilihatnya. Tuna kecil dengan panjang belum mencapai satu kaki dijual seharga setengah sampai satu gulden. Seekor penyu laut dengan panjang lebih dari dua kaki dibayar dua belas gulden. Contoh itu dicatat bersama pengamatannya tentang harga dan persediaan. Bleeker tidak menyertakan rangkaian harga sepanjang tahun, sehingga angka tersebut menggambarkan contoh transaksi yang disebut dalam kisah kunjungannya.

Pelaku penangkapan ikan juga disebut secara khusus. Menurut Bleeker, pekerjaan itu hampir seluruhnya berada di tangan kelompok burger Kristen dan Muslim. Sebutan burger mempunyai latar sosial tersendiri. Dalam catatan penyuntingan laporan C.C. Prediger tahun 1804, F.S. Watuseke menjelaskan burgerij sebagai kelompok penduduk dengan asal beragam, antara lain dari Maluku dan Filipina, yang pada masa Kompeni menjalankan kewajiban tertentu serta memperoleh sejumlah hak istimewa.

Laporan Prediger juga memuat keterangan lebih awal mengenai kegiatan menangkap dan menjual ikan. Ia menulis bahwa hasil penjualan ikan dipakai penduduk burger untuk memperoleh beras atau jagung serta kebutuhan lainnya. Keterangan 1804 itu mendahului kunjungan Bleeker lebih dari setengah abad. Kedua sumber sama-sama menghubungkan kelompok burger dengan penangkapan ikan, meskipun tidak memberikan daftar pelaku atau data yang membuktikan susunan pekerjaan tetap sama sepanjang masa di antara keduanya.

Pengamatan Bleeker terhadap ikan berlanjut ketika rombongan memasuki pedalaman. Di Danau Linow, yang ditulisnya sebagai Linoe, ia menyebut gabus yang dikenal setempat sebagai kebos, betok yang disebut geteh-geteh, serta sejenis sidat yang dinamai sugili atau kasili. Nama ilmiah yang dicantumkannya mengikuti pengetahuan pada masa itu. Bleeker menyampaikan keberadaan kelompok-kelompok tersebut dengan kata yang menunjukkan perkiraan, bukan sebagai hasil inventarisasi lengkap seluruh jenis ikan danau.

Ketika membicarakan Danau Tondano, ia kembali merujuk tiga kelompok ikan yang telah disebutnya dalam uraian Danau Linow. Menurutnya, Danau Tondano kaya ikan, tetapi jenisnya tampaknya terbatas pada kelompok tersebut. Pada bagian yang sama ia menjelaskan pemanfaatan danau untuk pengangkutan hasil bumi dan perjalanan penduduk ke sawah di tepi danau. Dengan demikian, catatan perairannya memuat sekaligus keterangan mengenai hewan dan kegiatan penduduk yang menggunakan danau.

Jejak lain penelitian ikan Manado terdapat dalam Eschmeyer’s Catalog of Fishes. Katalog California Academy of Sciences tersebut mencatat Anthias manadensis sebagai nama yang dideskripsikan Bleeker pada 1856, dengan lokalitas Manado dan holotipe bernomor RMNH 5456. Rujukannya menunjuk halaman 39 tulisan dalam Acta Societatis Regiae Scientiarum Indo-Neêrlandicae, jilid 1 nomor 6. Katalog menerima nama Pseudanthias manadensis untuk ikan tersebut.

Entri katalog itu menautkan nama ikan, deskripsi ilmiah, lokalitas, dan spesimen tipe. Buku perjalanan Bleeker menyediakan keterangan berbeda: pengamatannya terhadap ikan yang dijual, keadaan penangkapan, pelaku perikanan, serta ikan perairan pedalaman. Sumber yang diperiksa tidak menghubungkan holotipe tersebut dengan ikan tertentu pada kunjungan pasar hari pertama. Yang tercatat jelas ialah kegiatan pengamatan Bleeker pada perjalanan 1855 dan keberadaan nama ikan dari Manado dalam penerbitan ilmiah tahun berikutnya.

Referensi

Bleeker, Pieter. Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel. Jilid I. Batavia: Lange & Co., 1856.

California Academy of Sciences. Eschmeyer’s Catalog of Fishes. Entri Anthias manadensis Bleeker, 1856. Diakses 3 November 2026.

Watuseke, F.S., dan D.E.F. Henley. “C.C. Predigers verhandeling over het plaatselijke bestuur en de huishouding van de Minahasa in 1804.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150, no. 2 (1994): 357–385.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Nyanyian dari Leluhur Malesung (Chapter 3 – Wenas & Londo)

    Nyanyian dari Leluhur Malesung (Chapter 3 – Wenas & Londo)

    • calendar_month Sabtu, 18 Okt 2025
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Langit di atas hutan Tombulu mulai berwarna tembaga, dan kabut yang tadi turun kini berputar seperti pusaran roh. Di depan sabua, Londo berdiri kaku, bulu-bulunya berdiri, matanya menatap ke arah pepohonan yang seolah bernafas. Wenas merasakan udara di sekitarnya berubah, menjadi berat dan panas sekaligus. Batu hitam di tangannya berdenyut pelan, seperti jantung yang masih […]

  • Johanna Tumbuan: Perintis Kemerdekaan dan Pejuang Tiga Zaman

    Johanna Tumbuan: Perintis Kemerdekaan dan Pejuang Tiga Zaman

    • calendar_month Selasa, 17 Des 2024
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Johanna Tumbuan Masdani, yang lebih dikenal sebagai Jo Masdani, lahir pada 29 November 1910 di Amurang, Minahasa, dari keluarga pengusaha perkebunan terpandang. Ayahnya, Alexander Tumbuan, merupakan salah satu pemilik perkebunan besar di Minahasa pada masa kolonial Hindia Belanda. Sejak muda, Johanna telah menunjukkan karakter kepemimpinan, keberanian, dan kemandirian yang kuat, ciri khas perempuan Minahasa yang […]

  • Masyarakat beribadah ke gereja di Langowan, (Tropenmuseum, 1900)

    Menelusuri Jejak Sejarah Langowan: Dari Pusat Ritual Alifuru hingga Distrik Kolonial Hindia Belanda

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Langowan di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, selama berabad-abad dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah tanah Minahasa. Wilayah dataran tinggi yang subur ini bukan hanya menjadi pusat permukiman masyarakat Malesung, tetapi juga memainkan peran penting dalam transformasi sosial, keagamaan, dan administrasi pada masa kolonial Hindia Belanda. Dalam arsip kolonial, laporan misionaris, hingga tradisi lisan […]

  • Orang Tiongkok saat melakukan barter dengan masyarakat di Kema sebelum kedatangan bangsa Eropa (ilustrasi)

    Sebelum Eropa Datang, Pesisir Utara Sulawesi Sudah Menjadi Urat Nadi Jalur Rempah Asia

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Sejarah Nusantara kerap dimulai dari jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, atau dari pelayaran Spanyol ke Maluku beberapa tahun kemudian. Dalam kisah itu, kawasan timur Indonesia seolah baru masuk panggung sejarah ketika kapal Eropa tiba membawa peta, kompas, dan ambisi menguasai rempah. Sumber-sumber maritim Tiongkok memberi gambaran lain. Jauh sebelum Portugis tiba, sudah ada […]

  • Pembagian Wilayah Malesung

    Pembagian Wilayah Malesung

    • calendar_month Kamis, 2 Jan 2025
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Pada masa pemerintahan tradisional Minahasa Tua, telah tersusun struktur sosial yang menjadi dasar pemerintahan. Struktur ini terdiri atas tiga golongan utama yang masing-masing memiliki tugas tertentu:   1. Golongan Makarua Siow (Dua Kali Sembilan): Terdiri dari para Tonaas sebagai pemimpin masyarakat dan sejumlah Walian sebagai pengatur dalam bidang keagamaan. 2. Golongan Makatelu Pitu (Tiga Kali […]

  • Pantai Mahembang Sulawesi Utara, Permata Tersembunyi di Minahasa

    Pantai Mahembang Sulawesi Utara, Permata Tersembunyi di Minahasa

    • calendar_month Jumat, 18 Jul 2025
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Pantai Mahembang Sulawesi Utara menghadirkan pemandangan memukau berupa pasir putih bersih dan air laut tenang berwarna biru kehijauan. Pantai ini terletak di Desa Mahembang, Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa. Setiap akhir pekan, warga lokal dan wisatawan dari luar daerah mengunjungi pantai ini untuk menikmati ketenangan dan keindahan alamnya. Selain itu, banyak orang menyamakan suasana pantai ini […]

expand_less