Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Di Balik Surat Para Bobato: Intrik, Pembunuhan, dan Skandal VOC di Manado 1693

Di Balik Surat Para Bobato: Intrik, Pembunuhan, dan Skandal VOC di Manado 1693

  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 9
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 16 Desember 1693 di negeri Tomon, dua puluh lima kepala negeri atas di pedalaman Manado membubuhkan nama di bawah sepucuk surat berbahasa Melayu.

Surat itu ditujukan kepada Cornelis van der Duijn, gubernur Kompeni VOC di Ternate, dan isinya hanya satu permintaan yakni jangan pindahkan opperhoofd (kepala pos Kompeni) yang kini memerintah di Manado.¹

Dalam sumber Kompeni, para kepala itu disebut bobato. Kata ini berasal dari Ternate dan dipakai untuk para pemuka atau pejabat sebuah negeri. Di pedalaman Manado, yang termasuk bobato adalah hoecoem majoor (hukum mayor), hoecoem (hukum), capitein (kapten), dan luijtenant (letnan). Jadi bobato adalah sebutan untuk orang, bukan untuk wilayah. Wilayah tempat mereka memerintah disebut negrie dalam bahasa Melayu atau negorij dalam bahasa Belanda, yaitu negeri.

Sekilas, surat ini adalah temuan yang langka bahwa ini suara para hukum dan kapten negeri atas abad ke-17 dalam kata-kata mereka sendiri. Mereka bahkan menyebut diri “camie orang alfoeroe”, kami orang Alifuru.

Tetapi dua setengah bulan kemudian, utusan Kompeni VOC yang datang memeriksa ke Manado menemukan bahwa surat itu dikonsep oleh residen yang dibelanya sendiri. Pada pekan yang sama, residen itu ditangkap karena menyuruh orang membunuh seorang guru sekolah.

Untuk memahami bagaimana surat itu lahir, kita perlu mundur beberapa tahun.

Seorang residen di Manado

Kepala pos yang dibela para bobato adalah Harmen Jansz Steijnkuijler. Sebelumnya ia bertugas sebagai guarnisoenboeckhouder (pemegang buku garnisun). Pada 18 Juli 1689 ia menerima instruksi sebagai residen Manado, dengan pangkat onderkoopman (pedagang muda, jenjang pegawai Kompeni di bawah koopman).² Belum genap setahun ia menjabat ketika pada Mei 1690, para bobato pertama kali menyurati Ternate untuk memintanya tetap tinggal. Itu pengakuan mereka sendiri dalam surat 1693.

Tahun-tahun sesudahnya tidak tenang. Pada awal Oktober 1691, utusan Kompeni memanggil para kepala negeri atas dan negeri pantai ke sebuah rapat besar di Tomon. Bobato Tondano mula-mula tidak datang. Vaandrig mereka yang bernama Hieronimus beralasan para kepala sedang menyembelih babi untuk pesta (varkens hebben geslagt, “sudah memotong babi”).

Utusan itu menyuruhnya kembali dengan pesan bahwa kalau mereka tidak datang esok hari, mereka akan dipaksa “met meerder magt” (dengan kekuatan yang lebih besar). Malam itu juga para bobato Tondano tiba.³

Yang dibahas adalah orang Timanij. Menurut keterangan Ternate, orang Timanij dulu tinggal di daratan. Pada masa orang Spanyol berkuasa, mereka menyingkir dari tekanan dan menumpang di kampung air Tondano, tetapi tetap hidup di bawah pemerintahan mereka sendiri. Kini sebagian dari mereka ingin kembali ke tanah asal, sedangkan Tondano menolak, karena kedua kelompok sudah saling kawin.⁴

Di rapat Tomon, orang Kakas dan Remboken melaporkan bahwa bobato Tondano bersumpah tidak akan melepas sisa orang Timanij, “al komt het opperhooft selfs hier boven” (biarpun opperhoofd sendiri naik ke sini). Bobato Tondano mula-mula menyangkal, lalu mengakui ucapan itu.

Dalam jurnal yang sama, kepala orang Timanij dicatat sebagai “Leboe houcom majoor van Timanij” (bernama Leboe, pangkat hukum mayor dari Timanij), dengan Linoe sebagai kaptennya dan Tamboerian sebagai letnannya.

Pada malam 7 Oktober Tondano mengalah, sisa orang Timanij boleh pindah ke Timani di darat dengan syarat asal tidak seorang pun orang Tondano ikut menetap di sana.³

Perkara itu belum selesai. Surat Ternate ke Batavia bertanggal 16 Juli 1692 menceritakan bahwa hukum orang Timanij, Leboe (dalam surat ini dieja “Lewo”), membawa perkaranya kepada hukum mayor Soepit dan Paat, lalu kepada Steijnkuijler.

Steijnkuijler membela orang Timanij. Ia menekan orang Tondano supaya mengizinkan orang Timanij pindah ke darat. Dewan VOC di Ternate menilai bantuannya kepada orang Timanij terlalu memaksa, “alte dringende hulpe” (bantuan yang terlalu mendesak).

Orang Tondano tidak mau menuruti tekanan itu, dan residen merasa mereka tidak menghormatinya sebagaimana mestinya. Kemarahannya kepada “water boeren” (orang tani air, sebutan bagi orang Tondano) nyaris berujung pada uijtspattinge (ledakan kerusuhan). Pada 10 Maret 1692 orang Tondano merendah dan berjanji membongkar bepaggeringe (pagar pertahanan) yang sudah mereka dirikan.⁴

Perang kecil di perbatasan selatan

Pada Agustus 1693 muncul masalah baru. Di perbatasan selatan terjadi saling bunuh antara orang Alifuru dan orang Mongondow.

Steijnkuijler melaporkan ke Ternate bahwa orang Mongondow yang membunuh lebih dahulu. Belakangan ternyata pembunuhan pertama dilakukan orang “Wintona”, lalu orang Tongkimbut membalas dengan membunuh tiga orang Mongondow.

Pada 9 Agustus 1693 orang Tongkimbut sendiri melaporkan pembunuhan itu kepada residen. Bukannya menegur, residen malah memberi orang Tongkimbut itu lijwaat (kain) “als tot een vergeldinge” (seolah sebagai imbalan). Dengan kain itu mereka menari Legoe Legoe “tot een teken van triumph” (sebagai tanda kemenangan) atas keberanian mereka.

Bagi orang Mongondow, hadiah dari Kompeni itu menjadi alasan sah untuk membalas. Pembalasan pun bersambung, orang Mongondow membunuh tiga orang Kaidipang, dan orang Tongkimbut membunuh enam orang Mongondow lagi.⁵

Surat dari Tomon

Dengan latar inilah surat 16 Desember 1693 ditulis. Surat itu dibuka dengan salam “Capada Touan Touancoe Cornelis vander Duijn, gouvernadoor daen directeur derie Moloco, sesama mantri-mantri sacalian” (kepada Tuan Tuanku Cornelis van der Duijn, gubernur dan direktur Maluku, beserta sekalian menterinya).¹

Kepala surat para bobato kepada Gubernur Cornelis van der Duijn, 16 Desember 1693.(Arsip Den Haag)

Kepala surat para bobato kepada Gubernur Cornelis van der Duijn, 16 Desember 1693.(Arsip Den Haag)

Dalam isi suratnya, para bobato mengingatkan bahwa pada Mei 1690 mereka sudah meminta agar residen Manado dibiarkan tetap bertugas. Surat itu tidak menyebut namanya, tetapi yang dimaksud jelas Harmen Jansz Steijnkuijler.

Naskah Melayu menyebutnya “ini capala nang Touan Touancoe Comp:e zoedah zoeroe camarie pada parentaan camie” (kepala yang telah disuruh Tuan Kompeni datang ke sini untuk memerintah kami). Para bobato meminta agar ia dibiarkan tinggal “sampe dianja poelang assalnja combalie” (sampai ia pulang kembali ke negeri asalnya).

Permintaan itu sudah mereka ulangi dua kali lewat committeerden (utusan Kompeni). Mereka tidak tahu apakah ketiga permintaan itu pernah sampai ke telinga gubernur. Karena itu kini mereka mengajukannya lagi “pada ampat calie” (untuk keempat kalinya). Pemicunya adalah kabar dari orang Siau yang baru datang dari Ternate bahwa residen yang sekarang di Manado tidak akan lama lagi bertugas, karena penggantinya segera datang.

Para bobato juga membantah “hodjatan orang” (hujatan orang) terhadap residen itu. Rupanya ada yang melaporkan ke Ternate bahwa residen menolak padi yang dibawa orang Alifuru untuk Kompeni dan menyuruh mereka membawanya pulang.

Menurut para bobato, hal itu tidak pernah terjadi. Justru sebaliknya, setiap hari residen menyuruh mereka mengantarkan padi. Karena itu gubernur diminta tidak mempercayai “orang laen poenja moeloet” (mulut orang lain). Kalau ada keluhan tentang residen, para bobato sendiri yang akan menyampaikannya.

Penutupnya paling menyentuh. Surat dan permintaan lisan mereka tidak pernah dijawab, sehingga hati mereka susah, seolah “Touancoe tiada sadoelie atauwa ingat capada anac anacnja camie” (Tuanku tidak peduli atau ingat lagi kepada kami, anak-anaknya). Mereka hanya meminta satu surat balasan untuk menghibur hati.

Surat itu tiba di Ternate pada 18 Januari 1694 dengan sekoci De Cuijper. Di sana ia diterjemahkan ke bahasa Belanda dan disalin ke dagregister (buku harian resmi) Kasteel Orangie.

Pada September 1694 salinannya ikut dikirim ke Batavia, dengan catatan “door 25 stx bobatos” (oleh 25 orang bobato).⁶

Penerjemah Belanda menambahkan sedikit warna. Ungkapan “pulang ke asalnya” ia jadikan nae zijn geslagte (kepada kaumnya). Keluhan tentang anak-anak yang dilupakan ia lengkapi dengan harapan yang tidak ada dalam naskah Melayu yakni “dat met dit schrijven vader om ons sijne kinderen zal denken” (bahwa dengan surat ini Bapa akan memikirkan kami, anak-anaknya).

Dua puluh lima nama

Daftar penandatangan adalah bagian surat yang paling berharga. Ejaan di bawah mengikuti naskah Melayu, dan pengelompokan menurut negeri mengikuti terjemahan Belanda:⁷

Tomon

  1. Paat, hoecoem majoor (hukum mayor)
  2. Paat, hoecoem (hukum)
  3. Soerentoe, capitein (kapten)

Tombariri

  1. Soepit, hukum mayor
  2. Polij, kapten
  3. Taloemeboe, kapten

Tonsaronson

  1. Lonto, hukum
  2. Tapa, kapten

Cascassen (Kakaskasen)

  1. Tikonoeboe, hukum
  2. Roemajas, luijtenant (letnan)

Langoeban (Langowan)

  1. Gohonij, hukum
  2. Mangoendap, letnan

Tongienboet (Tongkimbut)

  1. Koemeijmken, kapten
  2. Pokaton, letnan (dagregister: Pocaton; terjemahan Belanda: Pacaton)

Tonpasso (Tompaso)

  1. Lela, kapten

Romon

  1. Ossoe, kapten

Tondano

  1. Tanbahanij, hukum mayor
  2. Senelewang, capitein majoor (kapten mayor)
  3. Leboe, hukum mayor (kepala orang Timanij)
  4. Linoe, kapten (kapten orang Timanij)

Tonsea

  1. Benoas, hukum
  2. Daja, kapten

Ronboekoon

  1. Sendo-o, hukum
  2. Soemarab, kapten (dalam naskah Melayu mungkin Soemaraw)

Datahan

  1. Loosoeng, hukum

Beberapa nama sudah dikenal dari sumber lain. Paat dari Tomon dan Soepit dari Tombariri adalah dua hukum mayor yang menjadi tempat para kepala lain mengadu.

Leboe dan Linoe yang tercatat di bawah Tondano tidak lain adalah kepala orang Timanij dari rapat 1691, yang masih menumpang di kampung air Tondano. Itulah sebabnya Tondano tampak punya dua hukum mayor. Para kepala negeri pantai di sekitar Manado, seperti Aris dan Bantik, tidak ikut menandatangani. Surat ini sepenuhnya suara pedalaman.

Februari 1694: guru yang dibunuh

Pada awal 1694 dewan VOC Ternate mengirim Pieter Alsteijn, sekretaris dan onderkoopman, sebagai utusan ke Manado. Jurnal hariannya di benteng Amsterdam mencatat apa yang ia temukan.⁵

Pada 12 Februari sejumlah orang ditahan. Keesokan harinya, dari pemeriksaan mereka terungkap bahwa “de huijsvrouwe vanden vermoorden, en nevens haar, den resident zelve” (istri si korban, dan bersamanya residen sendiri) telah memberi “last tot die gruwel-daad” (perintah untuk perbuatan keji itu). Korbannya adalah Inlants schoolmeester (guru sekolah pribumi) Cosmus Damiaansz, dan istrinya bernama Dominga Damiaansz.

Hari Minggu, 14 Februari, “na het gehoort van Godes Woort” (sesudah mendengar Firman Tuhan), Alsteijn membaca surat-surat residen.

Dari situ ia mendapati bahwa laporan tentang perang kecil di selatan “niet na waarheijt” (tidak sesuai kebenaran). Pada Selasa 16 Februari residen ditangkap “in zijn Camer” (di kamarnya). Pada 17 sampai 20 Februari dikumpulkan sekitar tiga puluh pengakuan dan pernyataan, barang-barang Kompeni VOC di benteng Amsterdam Manado diperiksa, dan harta residen serta harta si moorderesse (pembunuh perempuan) dicatat satu per satu.

Para pelakunya juga terungkap yaitu “twee vrijelieden genaamt Rawankere [en] Montong, beijde alphoeresen” (dua orang merdeka bernama Rawankere dan Montong, keduanya orang Alifuru). Rawankere ditahan dan mengaku, sedangkan Montong “bereets gevlugt was” (sudah lebih dulu melarikan diri).⁵

Surat yang dikonsep residen

Surat para bobato pun ikut diperiksa. Laporan Alsteijn dan vaandrig David Haak dari loji Kompeni di benteng Amsterdam, bertanggal 1 Maret 1694, menyebut bahwa “de missive vande Manadose dorpshoofden” (surat para kepala kampung Manado) sampai ke Ternate “buijten het pacquet van Sr. Steijnkuijler” (di luar paket surat Steijnkuijler).

Surat itu ditulis “door Manuel, zoon des tolcx” (oleh Manuel, anak juru bahasa), “dog van den resident zelfs geconcipieert” (tetapi dikonsep oleh residen sendiri).⁸

Steijnkuijler “voorgeevt daar niets van te weten” (mengaku tidak tahu apa-apa). Namun Manuel mengakuinya, dan “de alphoerese hoofden” (para kepala Alifuru) bersaksi bahwa surat itu dikirimkan Manuel kepada mereka “uijt name van den resident” (atas nama residen) “om getekend te werden” (untuk ditandatangani). Mereka pun menandatanganinya.

Laporan yang sama menyinggung salah satu penandatangan. Hukum mayor Soepit dituduh ikut dalam gerakan melawan Kompeni. Alsteijn dan Haak menyebutnya “een der doortrapste alphoeresen” (salah satu Alifuru yang paling licik), tetapi meragukan kesalahannya, karena kabar bahwa ia diam-diam pergi ke Mongondow sudah terbukti “logenagtig” (bohong).

Steijnkuijler lalu dikirim ke Ternate dengan kapal yang membawa para tahanan, dijaga kopral Andries Distelhuijsen dan empat serdadu. Ia sengaja dipisahkan dari tahanan lain, supaya percakapan mereka tidak “tot verduijstering der waarheijd” (mengaburkan kebenaran).

Barang-barangnya, juga barang “de gevangen vrouwe Dominga” (tahanan perempuan Dominga), menyusul dengan kapal Den Bril. Sejak itu urusan Kompeni di Manado dipegang vaandrig Haak.

Akhir sang residen

Di Ternate perkara itu diperiksa lagi. Menurut surat Ternate ke Batavia bertanggal 21 September 1694, Steijnkuijler dan Dominga tetap “hertneckig bij het ontkennen” (keras kepala dalam penyangkalan).

Namun sembilan pengakuan dan pernyataan dari Manado membuktikan bahwa residen adalah “de eenige oorsake” (satu-satunya penyebab) pembunuhan itu, bersama perempuan tersebut. Mereka menentukan tempat dan waktunya, lalu ikut menyaksikan.

Ketika para pembunuh kurang sigap, residen menghunus degen (pedang)-nya dan mengancam mereka, sementara Dominga menonton “met vermaek” (dengan senang hati) ketika guru itu dipukuli “met stocken” (dengan tongkat) sampai mati. Juru tulis Ternate menyebutnya “een voorbeeld van een vermoorde onnoselheijt” (contoh kepolosan yang dibunuh). Bersama keduanya, 24 orang yang terlibat atau mengetahui perbuatan itu dikirim sebagai tahanan.⁹

Akhir perkara itu tercatat dalam surat Ternate bertanggal 27 Agustus 1694. Batavia sudah diberi tahu tentang “de Executie” (pelaksanaan hukuman mati) atas Haerman Jansz Steijnkuijler. Penggantinya, “op zijn instantig versoek” (atas permintaannya yang mendesak), adalah onderkoopman Stephanus Thierij.¹⁰

Hukuman itu dijalankan antara Maret dan Agustus 1694, tetapi tanggal pastinya belum ditemukan. Nasib Dominga juga belum diketahui.

Daftar penduduk Ambon tahun 1694 pun sudah mencatatnya sebagai almarhum. Bekas istrinya, Maria Arentsz dari Luhu, disebut “gescheijde vrouw” (istri yang telah bercerai) dari “gewesen guarnisoenboeckhouder Harman Jansz Steijnkuijler Zal[ige]r” (mendiang Harman Jansz Steijnkuijler, bekas pemegang buku garnisun).¹¹

Dalam surat Ternate bertanggal 10 Oktober 1695, ia hanya disebut “gewesen resident” (bekas residen), dan kekurangan dalam buku dagang Manado akan ditutup dari “nagelaten boedel” (harta peninggalannya).¹²

Montong masih buron setahun kemudian. Dalam perjalanannya ke Manado pada 1695, Alsteijn mencatat bahwa para kepala negeri Manado, Aris, Bantik, dan Klabat datang memberitahunya bahwa kerabat “den moorder Montong” (si pembunuh Montong) bersedia menyerahkan seorang budak kecil, dengan harapan perkara itu dianggap selesai.

Alsteijn menerima budak itu, tetapi dengan syarat Montong sendiri diserahkan dalam beberapa hari, dan menjanjikan kain sebagai upah. Ia lalu memanggil hukum mayor Lassout dan Lolabij untuk menuntut penyerahan si pembunuh.¹³

Suara siapa?

Surat 16 Desember 1693 tidak bisa lagi dibaca sebagai suara murni para bobato. Isinya, yaitu pembelaan atas residen, bantahan soal padi, dan permohonan balasan, lahir dari kepentingan Steijnkuijler yang sedang terdesak.

Pena dipegang Manuel, anak juru bahasa Kompeni, dan bahasanya adalah bahasa Melayu surat-menyurat resmi di Maluku.

Namun surat itu juga bukan palsu. Dua puluh lima kepala benar-benar menandatanganinya, dan mereka sendiri yang mengakuinya kepada Alsteijn. Mereka bersedia membela residen yang setahun sebelumnya hampir memicu kerusuhan di Tondano, dan yang dua bulan kemudian ditangkap karena pembunuhan.

Ini memperlihatkan betapa dekat hubungan antara para hukum negeri atas dan kepala pos Kompeni di Manado, dan betapa mudah hubungan itu dimanfaatkan.

Sebagai sumber, surat ini tetap sangat berharga. Ia mencatat nama dua puluh lima kepala dari dua belas negeri, lengkap dengan jabatannya, setahun sebelum sensus Alsteijn tahun 1695. Surat ini memperlihatkan sebutan “orang alfoeroe” dipakai dalam surat yang ditandatangani para kepala itu sendiri.

Akhir kata

Pada akhirnya, surat dari Tomon ini mengajarkan bahwa sejarah tidak cukup dibaca dari nama-nama yang tertulis atau tanda tangan yang dibubuhkan. Di baliknya selalu ada kepentingan, perebutan pengaruh, dan tangan-tangan yang mungkin tidak pernah disebut dalam dokumen.

Dua puluh lima bobato memang meninggalkan nama mereka dalam arsip VOC, tetapi pena yang menyusun suara mereka ternyata berada di tangan seorang residen Kompeni. Dari selembar surat tahun 1693, kita melihat bahwa jauh sebelum kekuasaan kolonial meninggalkan Minahasa, ia telah lebih dahulu berusaha mengatur bukan hanya pemerintahan negeri-negeri, melainkan juga bagaimana para pemimpinnya berbicara.

Dan bagi kita hari ini, pertanyaan terpenting dari arsip itu tetap sama yakni ketika membaca suara orang Minahasa pada masa lalu, apakah kita benar-benar sedang mendengar suara mereka sendiri?

Catatan kaki

Semua rujukan arsip berasal dari Nationaal Archief, Den Haag, Archief van de Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), nomor akses 1.04.02 (selanjutnya NL-HaNA VOC). Nomor scan mengikuti penomoran Nationaal Archief.

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Ramainya Poliklinik Sonder: 9.475 Pasien dalam Setahun

    Ramainya Poliklinik Sonder: 9.475 Pasien dalam Setahun

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Di Sonder tahun 1908, sebuah rumah sakit yang masih relatif muda di Sonder, Minahasa, mulai menunjukkan arti pentingnya bagi masyarakat. Rumah sakit tersebut didirikan pada 1907 setelah muncul kebutuhan nyata akan pelayanan kesehatan di tengah masyarakat. Setahun kemudian, laporan para zendeling-diakones H. de Ruijter dan M. Schoch memperlihatkan bahwa fasilitas kesehatan ini tidak berdiri sebagai […]

  • Sejarah Desa Munte Tonsea, Dari Daseng Kecil Hingga Desa Definitif yang Mandiri

    Sejarah Desa Munte Tonsea, Dari Daseng Kecil Hingga Desa Definitif yang Mandiri

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2024
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Pada awal tahun 1900, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Munte masih berupa kawasan terpencil yang dihuni oleh pendatang dari berbagai suku, seperti suku Atinggola, Gorontalo, Siau, dan Sanger. Para pendatang ini membangun pondok-pondok kecil yang disebut “daseng” di tepi pantai dan sebagian di perbukitan. Lambat laun, jumlah penduduk bertambah seiring dengan semakin banyaknya migrasi […]

  • Di Balik Kabut Tonderukan: Jejak Tua Kanonang dan Warisan Para Walian

    Di Balik Kabut Tonderukan: Jejak Tua Kanonang dan Warisan Para Walian

    • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Sejarah Minahasa kerap dibaca melalui arsip kolonial dan laporan misionaris Eropa. Namun, di balik catatan resmi itu, masyarakat adat menyimpan ingatan kolektif yang hidup dari generasi ke generasi. Di Kanonang, sejarah tidak dimulai dari pembentukan administrasi desa oleh pemerintah kolonial abad ke-19, melainkan jauh lebih tua berakar pada tradisi Watu Pinawetengan, kepemimpinan Walian, dan warisan […]

  • Memahami Sengketa Di Laut Tiongkok Selatan

    Memahami Sengketa Di Laut Tiongkok Selatan

    • calendar_month Minggu, 16 Apr 2023
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Steven Yohanes Pailah Kehadiran Cost Guard Cina di Laut Tiongkok Selatan bertujuan menjaga para nelayan yang mengambil ikan di wilayah perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia tepatnya perairan Natuna Utara. Dalam 5 tahun terkahir, negara Tirai Bambu ini sangat agresif hadir di wilayah perairan Natuna.   Alasannya adalah garis putus-putus (nine dash line) klaim […]

  • Recky Paulus Runtuwene (Penulis)

    Ketika Jarak Dilipat: Kisah Opa Taas dari Pineleng ke Makassar

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Pagi di Pineleng, pada penghujung dekade 1960-an, biasanya berjalan dalam ritme yang nyaris tak berubah. Suara alam menjadi latar, sementara kesibukan rumah seorang Danramil mengalir dalam rutinitas yang teratur. Namun, pada suatu pagi di akhir tahun 1969, suasana itu mendadak bergeser. Opa Taas, kepala keluarga yang dihormati berdiri di depan rumah dengan keteguhan yang sulit […]

  • Para pentolan pimpinan PRRI - Permesta saat dirumah tahanan militer (ilustrasi)

    Humor di Tengah Kekalahan: Kisah Para Tokoh PRRI-Permesta dalam Tahanan

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Sejarah pergolakan PRRI dan Permesta umumnya dikenang sebagai babak penuh ketegangan dalam perjalanan Republik. Perseteruan politik, operasi militer, hingga pertarungan gagasan antara pemerintah pusat dan para pemimpin daerah menjadi narasi yang paling sering muncul. Namun, di balik kisah konflik itu, tersimpan sisi lain yang jarang mendapat perhatian: kemampuan para tokohnya mempertahankan tawa ketika segala cita-cita […]

expand_less