Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Keluhan Hukum Tua Distrik Toulour mengenai Collecteloon dan Pendapatan Adat

Keluhan Hukum Tua Distrik Toulour mengenai Collecteloon dan Pendapatan Adat

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Surat kabar Keng Hwa Poo edisi 18 Juli 1936 memuat tulisan tentang keadaan hukum tua, yang dalam sumber ditulis Hoekoemtoea, di Distrik Toulour dalam rubrik “Dari Tondano”. Tulisan berjudul “Nasibnja toean² Hoekoemtoea didistrict Toulour” itu disertai permohonan agar persoalannya diperhatikan oleh pihak berwenang. Koresponden yang tidak mencantumkan nama menjelaskan bahwa ia menulis karena keluhan para hukum tua telah menumpuk. Persoalan yang dikemukakannya meliputi collecteloon, commissie aanslag, serta pendapatan menurut adat yang belum mereka terima atau tidak berjalan sebagaimana diharapkan.

Dalam pemberitaan Juli tersebut, koresponden menyebut penahanan collecteloon dari kasbon sejumlah f 2.000 serta commissie aanslag untuk tahun 1933, 1934, dan 1935. Menurut keterangannya, pembayaran itu belum diterima para hukum tua. Ia menyatakan telah menanyakan persoalan tersebut langsung kepada mereka. Jawaban yang diperolehnya menyebut adanya perbedaan antara pencatatan dan penerimaan uang: buku kas menunjukkan bahwa collecteloon telah diterima, tetapi para hukum tua menyatakan belum memperoleh uangnya.

Koresponden kemudian mengemukakan pandangannya mengenai pembayaran tersebut. Ia menganggap collecteloon dan commissie aanslag sebagai upah atau pembayaran atas pekerjaan yang diwajibkan untuk kepentingan pemerintah. Menurut penilaiannya, jumlah upah itu masih jauh dari cukup apabila dibandingkan dengan beratnya pekerjaan hukum tua. Ia juga menyatakan bahwa keluhan mereka bukan sesuatu yang asing bagi para kepala distrik karena telah berulang kali diperdengarkan.

Selain pembayaran uang, tulisan itu mengangkat persoalan pendapatan adat. Koresponden menyebut bahwa kebanyakan rakyat tidak memenuhi kewajibannya kepada hukum tua. Sebagai contoh, ia menceritakan keadaan seorang hukum tua dari negeri yang hanya ditulis dengan inisial L. Hukum tua tersebut telah memerintahkan 50 orang untuk bekerja sawang pinontol selama satu hari dan menyediakan makanan bagi jumlah orang yang sama. Namun, menurut cerita yang dimuat, hanya sepuluh orang datang ke tempat pekerjaan.

Mereka yang datang itu disebut sudah hendak makan, sedangkan makanan telanjur disediakan untuk 50 orang. Koresponden mengemukakan kejadian tersebut sebagai contoh kerugian rumah tangga hukum tua. Para hukum tua juga menceritakan kepadanya bahwa sebagian di antara mereka lemah atau lalai menjalankan kewajiban. Dalam keterangan yang disampaikan itu, keadaan penghidupan yang tidak teratur disebut sebagai penyebab sebagian kelemahan dan kelalaian tersebut. Urusan jabatan berjalan bersamaan dengan kebutuhan rumah tangga, termasuk persoalan ketiadaan beras.

Dalam uraian berikutnya, koresponden menyebut bahwa banyak orang yang dipilih menjadi hukum tua merupakan orang mampu. Namun, menurut pendapatnya, kekayaan itu dapat habis apabila terus dipakai tanpa pendapatan lain. Ia menghubungkan kesulitan penghidupan dengan ketidaktenangan menjalankan perintah dan kemungkinan pemberhentian dari jabatan karena dianggap tidak cakap. Atas dasar pandangan tersebut, ia meminta agar persoalan collecteloon, commissie aanslag, dan sawang pinontol dibereskan oleh kepala distrik.

Koresponden juga menyebut hukum tua sebagai penghubung antara rakyat dan pemerintahan pribumi yang lebih tinggi. Dalam pandangannya, kemajuan pekerjaan kepala distrik bertumpu pada pekerjaan hukum tua. Karena itu, ia menempatkan penyelesaian keadaan di kampung sebagai bagian dari pelaksanaan pemerintahan yang baik. Pendapat tersebut menjadi bagian dari permohonannya agar penghidupan para hukum tua diperhatikan.

Sebagai pembanding, koresponden dalam Keng Hwa Poo edisi 18 Juli memuji tindakan Mogot, yang disebut sebagai hukum besar Ratahan. Menurut koresponden, Mogot memperhatikan keluhan serta upah para hukum tua. Dalam kunjungan ke kampung-kampung, ia dikabarkan menanyakan apakah penduduk memenuhi pinontol sawang. Orang yang tidak memenuhi kewajiban itu dinasihati. Apabila tetap tidak bekerja, menurut tulisan tersebut, mereka dihadapkan kepada pengadilan raaddistrict.

Pada bagian akhir pemberitaan Juli, koresponden mengajukan beberapa pertanyaan kepada pihak berwenang. Ia menanyakan apakah penahanan collecteloon dilakukan atas perintah Voorzitter M.R. dan mengapa buku kas mencatat penerimaan yang, menurut para hukum tua, belum terjadi. Ia juga mempertanyakan belum diterimanya commissie aanslag tahun 1933–1935. Jika uang itu telah dimintakan, ia bertanya di mana uang tersebut tertahan; jika belum, ia mengharapkan tindakan pihak yang bertanggung jawab.

Koresponden menegaskan bahwa tulisannya ditujukan untuk kepentingan para hukum tua dan untuk memperoleh keadilan dari pemerintah, bukan untuk menghina seseorang. Ia menyatakan masih percaya kepada keadilan pihak berwenang. Permintaan yang disampaikannya ialah agar uang tersebut segera diberikan dan persoalannya diperiksa dengan teliti. Dengan demikian, pemberitaan Juli berakhir pada permohonan pemeriksaan dan pembayaran, bukan pada laporan bahwa persoalannya telah selesai.

Pada 12 September 1936, Keng Hwa Poo kembali memuat persoalan tersebut melalui tulisan “Keloeh kesah Hm.toea² district Toulour” dalam rubrik “Dari Tondano”. Koresponden menceritakan kedatangan beberapa hukum tua yang menyampaikan keadaan mereka. Menurut laporannya, para tamu itu memuji surat kabar tersebut karena membela mereka. Koresponden menyatakan bahwa pembelaan terhadap keadaan para hukum tua merupakan kewajiban yang hendak dijalankannya melalui pemberitaan.

Keluhan September diperinci menjadi tiga bagian. Pertama, collecteloon dari uang kasbon f 200 sejak Juli 1935 disebut belum diterima oleh para hukum tua Tondano. Kedua, collecteloon dari pajak pegawai dan pensiunan, yang dipotong ketika pembayaran gaji di kantor onderdistrik Kakas, disebut belum diterima oleh hukum tua Kakas. Ketiga, tulisan itu membahas commissie aanslag untuk beberapa tahun yang belum sampai kepada para penerimanya.

Angka kasbon yang disebut dalam berita September berbeda dari angka yang tercetak pada pemberitaan Juli. Edisi 18 Juli menyebut f 2.000, sedangkan edisi 12 September menyebut f 200 dan mengaitkannya dengan Juli 1935. Kedua tulisan tidak memberikan penjelasan yang memastikan apakah angka tersebut menunjuk pokok pembayaran yang sama. Karena itu, artikel ini mempertahankan masing-masing angka sesuai dengan edisi yang memuatnya.

Mengenai commissie aanslag, koresponden September menyampaikan keterangan personel kantor Distrik Toulour bahwa pembayaran tahun 1935 dan 1936 baru dimintakan. Untuk tahun 1934, diberitakan adanya keterangan bahwa mandatnya telah hilang, dengan tambahan kemungkinan dimakan tikus. Namun, koresponden sendiri menyatakan tidak dapat memastikan kebenaran keterangan tersebut. Ia meminta pihak berwenang menyelidiki di mana uang tahun 1934 tertahan sehingga belum diterima para hukum tua.

Tulisan September merujuk kembali pemberitaan 18 Juli 1936 No. 3 dan tulisan “Collecteloon” bertanggal 1 Agustus 1936 No. 5. Koresponden juga menanyakan mengapa keluhan tidak langsung disampaikan kepada Majoor. Jawaban yang dilaporkannya menyebut kekhawatiran bahwa penyampai keluhan akan dicap ingkar, kemudian disebut “merah”, ekstremis, hingga komunis. Sebagai contoh, jawaban itu menunjuk bekas hukum tua Wewelen dengan inisial G. S. Keterangan tersebut disajikan sebagai jawaban pihak yang mengeluh.

Koresponden menutup pemberitaan September dengan permohonan bersyarat: apabila keluhan itu benar, pihak berwenang di Manado diharapkan menyelidikinya. Ia meminta agar kepala distrik Tondano dan Kakas diperintahkan menyerahkan commissie aanslag 1934 serta collecteloon secepatnya. Penutup tersebut tetap berupa desakan pemeriksaan dan penyerahan uang. Tidak ada keterangan dalam tulisan itu bahwa pembayaran yang dipersoalkan sudah diselesaikan.

Pada 24 Oktober 1936, persoalan penghidupan hukum tua muncul lagi dalam rubrik “Dari Tondano”, kali ini di bawah subjudul “Menggelapkan wang padjak”. Koresponden mengawali laporannya dengan informasi yang disebut diperoleh melalui bisikan mengenai pemeriksaan uang pajak di Makalonsouw pada 24, 25, dan 26 September. Tulisan itu menuduh hukum tua setempat menggelapkan pajak dan menyebut sebagian uang telah dikembalikan kepada Majoor. Koresponden mengaku belum mengetahui apakah perkara akan dibawa ke pengadilan.

Setelah laporan tersebut, koresponden menyatakan telah meminta keterangan kepada para hukum tua mengenai penggunaan uang pemerintah. Dalam jawaban yang dimuat, mereka mengeluhkan perintah menagih pajak setiap hari, panggilan ke kantor distrik, serta pemeriksaan penagihan oleh mantri belasting. Mereka menyatakan kegiatan itu mengurangi waktu untuk mencari penghidupan keluarga. Jawaban tersebut juga menyebut ancaman pemecatan apabila pemasukan pajak kurang pada hari Senin berturut-turut.

Para hukum tua kembali menyatakan bahwa collecteloon dari kasbon di Tondano dan yang ditahan di onderdistrik Kakas belum diterima. Mereka juga mengeluhkan pendapatan adat pinontol sawang yang tidak dipenuhi kebanyakan rakyat. Sesudah menyampaikan keterangan mereka, koresponden mengajukan perbandingan: bagaimana perasaan kepala distrik jika gajinya ditahan tanpa alasan, dan bagaimana ia akan menghidupi rumah tangganya? Pertanyaan itu merupakan tanggapan koresponden terhadap keluhan yang baru diuraikan.

Pada penutup berita Oktober, koresponden menyebut kembali tulisan 18 Juli, 1 Agustus, dan 12 September. Menurut penilaiannya, pemberitaan tersebut belum menghasilkan perubahan sampai saat ia menulis. Ia menyampaikan harapan kepada Asisten Residen Manado agar jasa para hukum tua diperhatikan, collecteloon dan commissie aanslag tidak ditahan, serta persoalan pinontol sawang mendapat perhatian. Tulisan itu kembali diakhiri dengan permintaan pemeriksaan teliti oleh pihak berwenang.

Referensi

Keng Hwa Poo. Tahun ke-18, No. 3, 18 Juli 1936. “Dari Tondano: Nasibnja toean² Hoekoemtoea didistrict Toulour”, hlm. 4.

Keng Hwa Poo. Tahun ke-18, No. 11, 12 September 1936. “Dari Tondano: Keloeh kesah Hm.toea² district Toulour”, hlm. 3.

Keng Hwa Poo. Tahun ke-18, No. 17, 24 Oktober 1936. “Dari Tondano: Menggelapkan wang padjak”, “Lembar kedoea”, hlm 5.

Catatan sumber: edisi 1 Agustus 1936 No. 5 disebut dalam berita September dan Oktober, tetapi belum ditemukan dan dibaca langsung. Edisi tersebut tidak digunakan sebagai sumber mandiri. Ejaan asli dipertahankan dalam judul tulisan sumber.

Dalam konteks artikel:

  • Collecteloon berarti upah pemungutan pajak, yaitu imbalan atas pekerjaan menagih atau mengumpulkan pajak.
  • Uang commissie aanslag merujuk pada imbalan yang berkaitan dengan pekerjaan penaksiran atau penetapan pajak, yaitu menentukan besarnya pajak yang harus dibayar.

Jadi, collecteloon berkaitan dengan pemungutan, sedangkan commissie aanslag berkaitan dengan penetapan pajak. Berita yang digunakan tidak merinci aturan maupun cara menghitung kedua pembayaran tersebut.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Budaya atau Kebiasaan? Kajian Antropologis Konsumsi Daging Anjing di Minahasa

    Budaya atau Kebiasaan? Kajian Antropologis Konsumsi Daging Anjing di Minahasa

    • calendar_month Kamis, 17 Apr 2025
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Perdebatan tentang konsumsi daging anjing di Minahasa biasanya bergerak di antara dua kutub. Di satu sisi, praktik ini dibela sebagai warisan leluhur yang tak boleh disentuh. Di sisi lain, ia dicibir sebagai kebiasaan pasar yang tak punya akar. Sudah waktunya masyarakat Minahasa berhenti makan anjing. Namun berpihak tidak berarti boleh mengarang sejarah. Karena itu, sebelum […]

  • Henk Ngantung: Gubernur ke-5 Jakarta yang Dilupakan Sejarah

    Henk Ngantung: Gubernur ke-5 Jakarta yang Dilupakan Sejarah

    • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Jakarta pernah dipimpin oleh seorang pelukis. Bukan sekadar pejabat, bukan pula politisi biasa. Ia datang bukan dengan suara-suara kampanye, melainkan dengan sketsa, kanvas, dan tinta. Namanya Henk Ngantung, pria kelahiran Manado, yang lebih dulu dikenal karena goresan tangannya daripada pidatonya. Lahir dari Timur, Tumbuh dengan Cita-Cita   Hendrik Hermanus Joel Ngantung lahir pada 1 Maret […]

  • 10 Januari 1929 di Manado

    Gemeente Manado: Perkembangan Sebuah Kota di Masa Desentralisasi, 1919–1930

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Pada awal abad ke-20, Manado mengalami perubahan penting dalam tata pemerintahan perkotaan. Perubahan tersebut berkaitan dengan kebijakan desentralisasi di Hindia Belanda, yang memberikan sebagian urusan pemerintahan kepada daerah. Dalam buku Vijfentwintig jaren decentralisatie in Nederlandsch-Indië, 1905–1930, A. B. Cohen Stuart secara khusus membahas perkembangan Gemeente Manado dan berbagai pekerjaan yang dilakukan pemerintah kota selama lebih […]

  • Sersan J. Mamangkey (Nederland-Menado 1896–1921/Repro Ai)

    J. Mamangkey di Édi: Fragmen Keberanian di Tengah Perang Aceh

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Sejarah tidak selalu menyisakan kisah lengkap tentang seseorang. Dalam banyak kasus, yang bertahan hanyalah potongan-potongan kecil cukup untuk dikenali, tetapi tidak cukup untuk sepenuhnya dipahami. Demikian pula halnya dengan J. Mamangkey. Namanya muncul dalam buku Nederland-Menado (1896–1921) karya L.F. van Gent, sebuah sumber primer yang merekam kiprah prajurit-prajurit Minahasa dalam dinas militer kolonial Belanda. Tidak […]

  • Pembaptisan di Manado, 1563: seorang misionaris Yesuit membaptis penduduk lokal, menggambarkan salah satu babak awal masuknya agama Kristen di utara Celebes.(ilustrasi)

    Surat dari Ternate: Kesaksian Awal Kristenisasi Manado dan Minahasa, 1563–1564

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Dari pembaptisan Raja Manado dan Raja Siau hingga ribuan penduduk di pesisir utara Celebes, sebuah surat Yesuit dari Ternate merekam salah satu babak paling awal sejarah kekristenan di Sulawesi Utara. Pada pertengahan abad ke-16, nama Manado belum merujuk pada kota di daratan seperti yang dikenal sekarang. Nama itu muncul dalam sejumlah sumber Portugis sebagai bagian […]

  • Kabar dari Kotamobagu: Pengalaman Ibu Maria Walanda Maramis pada 1923

    Kabar dari Kotamobagu: Pengalaman Ibu Maria Walanda Maramis pada 1923

    • calendar_month Minggu, 7 Jul 2024
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Pada tahun 1923, Ibu Maria Walanda Maramis menuliskan kisah perjalanan dan pengalamannya saat berkunjung ke Kotamobagu, sebuah daerah yang terletak di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Dalam tulisannya yang berjudul Kabar dari Kotamobagu, Ibu Walanda Maramis menceritakan kehidupan di daerah tersebut, mengungkapkan keindahan alam, budaya, serta nuansa sosial yang begitu khas pada masa itu. Menurut informasi […]

expand_less