Keluhan Hukum Tua Distrik Toulour mengenai Collecteloon dan Pendapatan Adat
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rumah Controleur di Tondano 1901 - WIkimedia
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Surat kabar Keng Hwa Poo edisi 18 Juli 1936 memuat tulisan tentang keadaan hukum tua, yang dalam sumber ditulis Hoekoemtoea, di Distrik Toulour dalam rubrik “Dari Tondano”. Tulisan berjudul “Nasibnja toean² Hoekoemtoea didistrict Toulour” itu disertai permohonan agar persoalannya diperhatikan oleh pihak berwenang. Koresponden yang tidak mencantumkan nama menjelaskan bahwa ia menulis karena keluhan para hukum tua telah menumpuk. Persoalan yang dikemukakannya meliputi collecteloon, commissie aanslag, serta pendapatan menurut adat yang belum mereka terima atau tidak berjalan sebagaimana diharapkan.
Dalam pemberitaan Juli tersebut, koresponden menyebut penahanan collecteloon dari kasbon sejumlah f 2.000 serta commissie aanslag untuk tahun 1933, 1934, dan 1935. Menurut keterangannya, pembayaran itu belum diterima para hukum tua. Ia menyatakan telah menanyakan persoalan tersebut langsung kepada mereka. Jawaban yang diperolehnya menyebut adanya perbedaan antara pencatatan dan penerimaan uang: buku kas menunjukkan bahwa collecteloon telah diterima, tetapi para hukum tua menyatakan belum memperoleh uangnya.
Koresponden kemudian mengemukakan pandangannya mengenai pembayaran tersebut. Ia menganggap collecteloon dan commissie aanslag sebagai upah atau pembayaran atas pekerjaan yang diwajibkan untuk kepentingan pemerintah. Menurut penilaiannya, jumlah upah itu masih jauh dari cukup apabila dibandingkan dengan beratnya pekerjaan hukum tua. Ia juga menyatakan bahwa keluhan mereka bukan sesuatu yang asing bagi para kepala distrik karena telah berulang kali diperdengarkan.
Selain pembayaran uang, tulisan itu mengangkat persoalan pendapatan adat. Koresponden menyebut bahwa kebanyakan rakyat tidak memenuhi kewajibannya kepada hukum tua. Sebagai contoh, ia menceritakan keadaan seorang hukum tua dari negeri yang hanya ditulis dengan inisial L. Hukum tua tersebut telah memerintahkan 50 orang untuk bekerja sawang pinontol selama satu hari dan menyediakan makanan bagi jumlah orang yang sama. Namun, menurut cerita yang dimuat, hanya sepuluh orang datang ke tempat pekerjaan.
Mereka yang datang itu disebut sudah hendak makan, sedangkan makanan telanjur disediakan untuk 50 orang. Koresponden mengemukakan kejadian tersebut sebagai contoh kerugian rumah tangga hukum tua. Para hukum tua juga menceritakan kepadanya bahwa sebagian di antara mereka lemah atau lalai menjalankan kewajiban. Dalam keterangan yang disampaikan itu, keadaan penghidupan yang tidak teratur disebut sebagai penyebab sebagian kelemahan dan kelalaian tersebut. Urusan jabatan berjalan bersamaan dengan kebutuhan rumah tangga, termasuk persoalan ketiadaan beras.
Dalam uraian berikutnya, koresponden menyebut bahwa banyak orang yang dipilih menjadi hukum tua merupakan orang mampu. Namun, menurut pendapatnya, kekayaan itu dapat habis apabila terus dipakai tanpa pendapatan lain. Ia menghubungkan kesulitan penghidupan dengan ketidaktenangan menjalankan perintah dan kemungkinan pemberhentian dari jabatan karena dianggap tidak cakap. Atas dasar pandangan tersebut, ia meminta agar persoalan collecteloon, commissie aanslag, dan sawang pinontol dibereskan oleh kepala distrik.
Koresponden juga menyebut hukum tua sebagai penghubung antara rakyat dan pemerintahan pribumi yang lebih tinggi. Dalam pandangannya, kemajuan pekerjaan kepala distrik bertumpu pada pekerjaan hukum tua. Karena itu, ia menempatkan penyelesaian keadaan di kampung sebagai bagian dari pelaksanaan pemerintahan yang baik. Pendapat tersebut menjadi bagian dari permohonannya agar penghidupan para hukum tua diperhatikan.
Sebagai pembanding, koresponden dalam Keng Hwa Poo edisi 18 Juli memuji tindakan Mogot, yang disebut sebagai hukum besar Ratahan. Menurut koresponden, Mogot memperhatikan keluhan serta upah para hukum tua. Dalam kunjungan ke kampung-kampung, ia dikabarkan menanyakan apakah penduduk memenuhi pinontol sawang. Orang yang tidak memenuhi kewajiban itu dinasihati. Apabila tetap tidak bekerja, menurut tulisan tersebut, mereka dihadapkan kepada pengadilan raaddistrict.
Pada bagian akhir pemberitaan Juli, koresponden mengajukan beberapa pertanyaan kepada pihak berwenang. Ia menanyakan apakah penahanan collecteloon dilakukan atas perintah Voorzitter M.R. dan mengapa buku kas mencatat penerimaan yang, menurut para hukum tua, belum terjadi. Ia juga mempertanyakan belum diterimanya commissie aanslag tahun 1933–1935. Jika uang itu telah dimintakan, ia bertanya di mana uang tersebut tertahan; jika belum, ia mengharapkan tindakan pihak yang bertanggung jawab.
Koresponden menegaskan bahwa tulisannya ditujukan untuk kepentingan para hukum tua dan untuk memperoleh keadilan dari pemerintah, bukan untuk menghina seseorang. Ia menyatakan masih percaya kepada keadilan pihak berwenang. Permintaan yang disampaikannya ialah agar uang tersebut segera diberikan dan persoalannya diperiksa dengan teliti. Dengan demikian, pemberitaan Juli berakhir pada permohonan pemeriksaan dan pembayaran, bukan pada laporan bahwa persoalannya telah selesai.
Pada 12 September 1936, Keng Hwa Poo kembali memuat persoalan tersebut melalui tulisan “Keloeh kesah Hm.toea² district Toulour” dalam rubrik “Dari Tondano”. Koresponden menceritakan kedatangan beberapa hukum tua yang menyampaikan keadaan mereka. Menurut laporannya, para tamu itu memuji surat kabar tersebut karena membela mereka. Koresponden menyatakan bahwa pembelaan terhadap keadaan para hukum tua merupakan kewajiban yang hendak dijalankannya melalui pemberitaan.
Keluhan September diperinci menjadi tiga bagian. Pertama, collecteloon dari uang kasbon f 200 sejak Juli 1935 disebut belum diterima oleh para hukum tua Tondano. Kedua, collecteloon dari pajak pegawai dan pensiunan, yang dipotong ketika pembayaran gaji di kantor onderdistrik Kakas, disebut belum diterima oleh hukum tua Kakas. Ketiga, tulisan itu membahas commissie aanslag untuk beberapa tahun yang belum sampai kepada para penerimanya.
Angka kasbon yang disebut dalam berita September berbeda dari angka yang tercetak pada pemberitaan Juli. Edisi 18 Juli menyebut f 2.000, sedangkan edisi 12 September menyebut f 200 dan mengaitkannya dengan Juli 1935. Kedua tulisan tidak memberikan penjelasan yang memastikan apakah angka tersebut menunjuk pokok pembayaran yang sama. Karena itu, artikel ini mempertahankan masing-masing angka sesuai dengan edisi yang memuatnya.
Mengenai commissie aanslag, koresponden September menyampaikan keterangan personel kantor Distrik Toulour bahwa pembayaran tahun 1935 dan 1936 baru dimintakan. Untuk tahun 1934, diberitakan adanya keterangan bahwa mandatnya telah hilang, dengan tambahan kemungkinan dimakan tikus. Namun, koresponden sendiri menyatakan tidak dapat memastikan kebenaran keterangan tersebut. Ia meminta pihak berwenang menyelidiki di mana uang tahun 1934 tertahan sehingga belum diterima para hukum tua.
Tulisan September merujuk kembali pemberitaan 18 Juli 1936 No. 3 dan tulisan “Collecteloon” bertanggal 1 Agustus 1936 No. 5. Koresponden juga menanyakan mengapa keluhan tidak langsung disampaikan kepada Majoor. Jawaban yang dilaporkannya menyebut kekhawatiran bahwa penyampai keluhan akan dicap ingkar, kemudian disebut “merah”, ekstremis, hingga komunis. Sebagai contoh, jawaban itu menunjuk bekas hukum tua Wewelen dengan inisial G. S. Keterangan tersebut disajikan sebagai jawaban pihak yang mengeluh.
Koresponden menutup pemberitaan September dengan permohonan bersyarat: apabila keluhan itu benar, pihak berwenang di Manado diharapkan menyelidikinya. Ia meminta agar kepala distrik Tondano dan Kakas diperintahkan menyerahkan commissie aanslag 1934 serta collecteloon secepatnya. Penutup tersebut tetap berupa desakan pemeriksaan dan penyerahan uang. Tidak ada keterangan dalam tulisan itu bahwa pembayaran yang dipersoalkan sudah diselesaikan.
Pada 24 Oktober 1936, persoalan penghidupan hukum tua muncul lagi dalam rubrik “Dari Tondano”, kali ini di bawah subjudul “Menggelapkan wang padjak”. Koresponden mengawali laporannya dengan informasi yang disebut diperoleh melalui bisikan mengenai pemeriksaan uang pajak di Makalonsouw pada 24, 25, dan 26 September. Tulisan itu menuduh hukum tua setempat menggelapkan pajak dan menyebut sebagian uang telah dikembalikan kepada Majoor. Koresponden mengaku belum mengetahui apakah perkara akan dibawa ke pengadilan.
Setelah laporan tersebut, koresponden menyatakan telah meminta keterangan kepada para hukum tua mengenai penggunaan uang pemerintah. Dalam jawaban yang dimuat, mereka mengeluhkan perintah menagih pajak setiap hari, panggilan ke kantor distrik, serta pemeriksaan penagihan oleh mantri belasting. Mereka menyatakan kegiatan itu mengurangi waktu untuk mencari penghidupan keluarga. Jawaban tersebut juga menyebut ancaman pemecatan apabila pemasukan pajak kurang pada hari Senin berturut-turut.
Para hukum tua kembali menyatakan bahwa collecteloon dari kasbon di Tondano dan yang ditahan di onderdistrik Kakas belum diterima. Mereka juga mengeluhkan pendapatan adat pinontol sawang yang tidak dipenuhi kebanyakan rakyat. Sesudah menyampaikan keterangan mereka, koresponden mengajukan perbandingan: bagaimana perasaan kepala distrik jika gajinya ditahan tanpa alasan, dan bagaimana ia akan menghidupi rumah tangganya? Pertanyaan itu merupakan tanggapan koresponden terhadap keluhan yang baru diuraikan.
Pada penutup berita Oktober, koresponden menyebut kembali tulisan 18 Juli, 1 Agustus, dan 12 September. Menurut penilaiannya, pemberitaan tersebut belum menghasilkan perubahan sampai saat ia menulis. Ia menyampaikan harapan kepada Asisten Residen Manado agar jasa para hukum tua diperhatikan, collecteloon dan commissie aanslag tidak ditahan, serta persoalan pinontol sawang mendapat perhatian. Tulisan itu kembali diakhiri dengan permintaan pemeriksaan teliti oleh pihak berwenang.
Referensi
Keng Hwa Poo. Tahun ke-18, No. 3, 18 Juli 1936. “Dari Tondano: Nasibnja toean² Hoekoemtoea didistrict Toulour”, hlm. 4.
Keng Hwa Poo. Tahun ke-18, No. 11, 12 September 1936. “Dari Tondano: Keloeh kesah Hm.toea² district Toulour”, hlm. 3.
Keng Hwa Poo. Tahun ke-18, No. 17, 24 Oktober 1936. “Dari Tondano: Menggelapkan wang padjak”, “Lembar kedoea”, hlm 5.
Catatan sumber: edisi 1 Agustus 1936 No. 5 disebut dalam berita September dan Oktober, tetapi belum ditemukan dan dibaca langsung. Edisi tersebut tidak digunakan sebagai sumber mandiri. Ejaan asli dipertahankan dalam judul tulisan sumber.
Dalam konteks artikel:
- Collecteloon berarti upah pemungutan pajak, yaitu imbalan atas pekerjaan menagih atau mengumpulkan pajak.
- Uang commissie aanslag merujuk pada imbalan yang berkaitan dengan pekerjaan penaksiran atau penetapan pajak, yaitu menentukan besarnya pajak yang harus dibayar.
Jadi, collecteloon berkaitan dengan pemungutan, sedangkan commissie aanslag berkaitan dengan penetapan pajak. Berita yang digunakan tidak merinci aturan maupun cara menghitung kedua pembayaran tersebut.
- Penulis: Engel Yong
