Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » 11 Januari 1942: Hari ketika Langit Minahasa Dipenuhi Api dan Parasut

11 Januari 1942: Hari ketika Langit Minahasa Dipenuhi Api dan Parasut

  • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
  • visibility 103
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pagi Minggu, 11 Januari 1942, menjadi salah satu hari paling menentukan dalam sejarah Perang Pasifik di Minahasa. Sejak fajar menyingsing, kawasan Kema, Airmadidi, Kalawiran, hingga pegunungan Lembean berubah menjadi panggung pertempuran besar yang mempertemukan pasukan Jepang, KNIL, dan Sekutu.

Di darat, laut, dan udara, peperangan berlangsung hampir bersamaan, sementara warga sipil hanya bisa menyaksikan kedahsyatan perang dari tempat-tempat pengungsian.

Di sektor pertahanan Airmadidi, Kompi “A” KNIL berada dalam keadaan siaga penuh di bawah komando Letnan I O.A. Rademaker.

Berbeda dengan sebagian perwira yang memimpin dari belakang, Rademaker memilih berdiri di garis depan bersama anak buahnya. Ia ikut menyandang senapan karaben dan bersiap menghadapi setiap kemungkinan serangan.

Keberanian komandannya membangkitkan semangat para prajurit. Salah seorang anggota pasukan, Kopral Mandagi, bahkan berkomentar penuh semangat,

“Ini baru perang! Letnan juga pegang senapan. Dus, torang juga harus iko baku pasang.” Ucapan sederhana itu menggambarkan eratnya hubungan antara komandan dan anak buah di tengah ancaman invasi Jepang.

Namun perhatian pasukan segera tertuju ke langit Kema. Tiga pesawat Sekutu tampak bermanuver di udara. Salah satunya menukik tajam seperti seekor elang yang hendak menyambar mangsa di permukaan laut, lalu tidak pernah muncul kembali.

Belakangan diketahui bahwa pesawat tersebut berhasil menyerang sebuah kapal pengangkut besar Jepang hingga tenggelam di perairan Girian, Tonsea.

Pesawat kedua kemudian membelok ke arah timur dan diduga berhasil kembali ke pangkalannya.

Nasib berbeda dialami pesawat ketiga. Setelah menukik ke tengah armada Jepang, pesawat itu mendadak menanjak tajam, lalu berbelok menuju pegunungan Lembean. Dari salah satu sayapnya keluar asap hitam pekat yang semakin lama berubah menjadi kobaran api.

Tidak lama kemudian, dua pesawat tempur Jepang tipe Zero mengejarnya. Meski tetap mempertahankan arah terbang, kondisi pesawat Sekutu semakin memburuk. Asap hitam dan api terus membesar, menandakan kerusakan yang sangat serius.

Pada saat yang sama, kehidupan warga sipil masih berusaha berjalan normal meski dalam suasana perang.

Di lokasi pengungsian di perkebunan Tuloun, sekitar lima ratus meter dari Kampung Ranowangko II, Johannes Lambertus Kumontoy, Wakil Hukum Tua bersama istrinya, Fien Geertruida Lengkong, sedang menyiapkan makan pagi bersama kedua putra mereka, Ade’ dan Albert yang akrab dipanggil Alo’.

Melihat banyaknya pesawat yang memenuhi langit, Alo’ bertanya kepada ibunya,

“Mak, apa sebabnya di hari Minggu yang indah ini begitu ramainya pesawat-pesawat terbang di udara? Ini lain dari hari-hari biasa.”

Sang ibu menjawab dengan tenang,

“Sesuai pengumuman plakat dari Hukum Tua, kita sekarang sedang dalam keadaan perang dengan Jepang.”

Jawaban itu belum sepenuhnya dipahami Alo’. Ia masih terlalu muda untuk mengerti arti peperangan yang sesungguhnya.

Padahal, pagi itu langit Minahasa benar-benar dipenuhi puluhan pesawat Jepang dari berbagai jenis. Mereka mendominasi udara setelah berhasil merebut keunggulan di front Manado dan Kema.

Sebagian pesawat memberi perlindungan bagi penerjunan pasukan payung Jepang di sekitar Lapangan Udara Kalawiran, tempat pertempuran sengit masih berlangsung melawan pasukan KNIL.

Sementara di laut, armada Jepang telah sepenuhnya menguasai perairan utara, barat, dan timur Minahasa tanpa mendapat perlawanan berarti.

Ketika keluarga Kumontoy sedang menikmati sarapan, tiba-tiba suara gemuruh mesin pesawat yang sangat rendah membuat mereka panik.

Mereka berhamburan keluar pondok. Nasi dan ikan yang sedang mereka santap langsung ditinggalkan.

Di atas kepala mereka melintas sebuah pesawat yang sedang terbakar hebat.

Beberapa detik kemudian terdengar ledakan dahsyat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Pesawat itu diduga berusaha melakukan pendaratan darurat, tetapi akhirnya jatuh dan meledak berkeping-keping di dekat Kali Tuloun.

Peristiwa itu segera mengubah suasana.

Penduduk yang sebelumnya mengungsi di bukit-bukit berbondong-bondong turun menuju lokasi jatuhnya pesawat tanpa mempedulikan apakah pesawat tersebut milik kawan atau lawan.

Di lokasi kejadian berkumpul Hukum Tua Z.Z. Singal, Johannes L. Kumontoy beserta kedua putranya, sejumlah pensiunan tentara, tokoh masyarakat, dan kepala jaga kampung.

Sebagai mantan Kopral KNIL, Z.Z. Singal segera mengenali identitas pesawat tersebut.

Pada badan pesawat masih tampak jelas tulisan besar “RAAF” (Royal Australian Air Force).

Pesawat itu merupakan pesawat pembom B-17 Flying Fortress milik Angkatan Udara Australia.

Keempat awaknya gugur di tempat. Mereka terdiri atas tiga pria dan seorang perempuan yang bertugas sebagai pilot, kopilot, navigator, dan penembak udara (air gunner).

Meski perang masih berlangsung, warga Ranowangko II memberikan penghormatan yang sangat layak kepada para penerbang Sekutu tersebut.

Atas perintah Hukum Tua Singal, jenazah para awak dievakuasi dari reruntuhan pesawat.

Potongan-potongan tubuh yang sudah tidak utuh dirapikan kembali dengan penuh hormat.

Seluruh tanda pengenal militer dari logam, baik yang dikenakan di leher maupun pergelangan tangan, dikumpulkan, dilumuri minyak gemuk agar tidak berkarat, lalu dimasukkan ke dalam peti jenazah.

Sebelum dimakamkan, keempat jenazah disemayamkan terlebih dahulu di Gereja GMIM setempat dan dilangsungkan ibadah penghormatan.

Dentangan momongan, gong besar tradisional bergema berkali-kali sebagai tanda dimulainya prosesi pemakaman.

Dengan diiringi seluruh warga kampung, jenazah kemudian dimakamkan di pekuburan Ranowangko II menggunakan tata cara Kristen Protestan.

Prosesi juga dilaksanakan secara militer sederhana, dipimpin para pensiunan tentara dan tokoh masyarakat, meskipun tanpa tembakan salvo.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, seluruh pecahan pesawat kemudian dikumpulkan dan ditempatkan di pekarangan rumah Hukum Tua Z.Z. Singal.

Reruntuhan itu dibiarkan menjadi semacam monumen memorial yang mengingatkan warga akan pengorbanan para penerbang Sekutu, meski perang sendiri belum berakhir.

Sementara itu, di kawasan Kema, tiga pesawat Jepang kembali muncul di langit.

Satu demi satu mereka menjatuhkan parasut yang tampak mengembang indah. Namun parasut-parasut itu melayang terlalu lama tanpa segera mendarat.

Melihat kejadian tersebut, Letnan O.A. Rademaker segera memahami taktik Jepang.

Ia berkata,

“Dat zijn toch poppetjes!”

(“Itu ‘kan boneka-boneka!”)

Menurutnya, boneka-boneka itu sengaja dijatuhkan sebagai umpan.

Bila pasukan KNIL menembakinya, Jepang akan mengetahui posisi pertahanan mereka dan segera menggempurnya dengan artileri maupun serangan udara.

Di atas armada Jepang yang berlabuh di Teluk Kema, para perwira mulai meyakini kemenangan sudah berada di tangan mereka.

Mereka percaya pasukan marinir Sasebo dan pasukan payung Yokosuka telah berhasil merebut seluruh sasaran.

Semangat itu diperkuat oleh doktrin militer Kekaisaran Jepang.

Setiap prajurit “Imperial Dai Nippon Dai Koku Sentai” dibekali sebungkus rokok bertuliskan amanat “Tennoheika Gogoheika” sebagai simbol kesetiaan kepada Kaisar dan Permaisuri Jepang.

Amanat tersebut menanamkan semangat pengorbanan mutlak, yang kemudian dikenal melalui konsep jibaku tai, kamikaze, dan harakiri sebuah tekad untuk menang atau gugur demi kehormatan Kekaisaran.

Namun kemenangan itu ternyata belum sepenuhnya mutlak.

Belum sempat Laksamana Muda Takeo Takagi merayakan keberhasilannya, langit Kema kembali dipenuhi pesawat Sekutu.

Lima belas pesawat pembom Hudson milik RAAF, didampingi tiga pesawat Dornier dari Militaire Luchtvaart (ML-KNIL), datang menyerang armada Jepang.

Pertempuran udara pun pecah. Pesawat-pesawat saling mengejar, bermanuver, dan terlibat duel sengit. Beberapa pesawat Jepang berhasil ditembak jatuh.

Salah satunya adalah pesawat pembom tukik bermesin ganda yang jatuh terbakar di perkebunan Mataingkere, sekitar tiga kilometer dari Kampung Tumaluntung.

Seorang awak tewas bersama bangkai pesawat, sementara rekannya berhasil meloncat menggunakan parasut.

Pilot Jepang yang selamat kemudian menyerahkan diri kepada Hukum Tua dan warga setempat.

Dalam keadaan tidak berdaya, ia memohon agar dikembalikan kepada markas Tentara Jepang di Semenanjung Kema.

Permintaan itu dipenuhi, sehingga nyawanya berhasil diselamatkan.

Meski melakukan serangan besar dari Pangkalan Udara Laha di Ambon, misi Sekutu tidak berhasil sepenuhnya.

Pesawat-pesawat pembom Betty dan pesawat tempur Zero milik Angkatan Laut Jepang yang lepas landas dari kapal induk berhasil merontokkan empat pesawat Hudson dan satu pesawat Dornier.

Tiga pesawat pembom B-17 Flying Fortress yang sebelumnya dihancurkan di udara juga termasuk dalam formasi tempur skuadron RAAF.

Sebagian pesawat Sekutu memang berhasil kembali ke Laha, tetapi banyak yang mendarat dalam kondisi rusak berat. Beberapa awaknya bahkan telah gugur di dalam pesawat sebelum mencapai pangkalan.

Pertempuran di Kema segera menjadi perhatian dunia.

Komentator Tokyo Rose dari Radio Tokyo mengakui bahwa perebutan Kema berlangsung “singkat, tetapi sengit.”

Sementara itu, Radio NIROM Batavia Centrum dalam siarannya pada 13 Januari 1942 memberikan penghormatan kepada para pejuang Minahasa dengan kalimat yang kemudian terkenal,

“De zonen van Toar-Lumimuut vechten als leeuw.”

Artinya,

“Para putra-putri Toar-Lumimuut bertarung bagaikan singa.”

Ungkapan tersebut menjadi pengakuan bahwa, di tengah dominasi militer Jepang, perlawanan yang diberikan para prajurit KNIL asal Minahasa tetap dikenang karena keberanian dan kegigihannya.

Sumber: Disusun berdasarkan draft buku karya almarhum Jimmy Andre Legoh dan disunting kembali oleh Johanes Mundung, eks Pilot Tempur TNI Angkatan Udara.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Tetetana

    Tetetana Hill, View Spektakuler di Sulawesi Utara

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Tetetana Hill, Surga Alam yang Lagi Hits Banget! Hai, Sobat Traveler! 👋 Lagi cari tempat wisata yang kece banget buat healing atau sekadar foto-foto cantik? Nih, mimin kasih rekomendasi tempat keren di Sulawesi Utara yang lagi hits banget: Tetetana Hill! Yup, Tetetana Hill atau biasa disebut Bukit Tetetana ini terletak di Desa Koha, Kabupaten Minahasa. […]

  • Perubahan Sosial di Minahasa: Antara Tradisi dan Modernitas dalam Pandangan M.J.C Maria Josephine Catherine Walanda Maramis

    Perubahan Sosial di Minahasa: Antara Tradisi dan Modernitas dalam Pandangan M.J.C Maria Josephine Catherine Walanda Maramis

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • visibility 42
    • 0Komentar

    ⁣⁣⁣𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘑𝘰𝘴𝘦𝘱𝘩𝘪𝘯𝘦 𝘊𝘢𝘵𝘩𝘦𝘳𝘪𝘯𝘦 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘔𝘢𝘳𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘔𝘪𝘯𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘳𝘢𝘥𝘪𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩𝘪 𝘮𝘰𝘥𝘦𝘳𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪. 𝘛𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘛𝘫𝘢𝘩𝘢𝘫𝘢-𝘔𝘪𝘯𝘢𝘩𝘢𝘴𝘴𝘢 (1922) 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 Engel Yong.⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣ Pada bagian awal dijelaskan bahwa majalah […]

  • Desa Kayuuwi kecamatan Kawangkoan Barat, Minahasa

    Kayuuwi: Sebuah Negeri Tua di Persimpangan Mitos, Ingatan, dan Sejarah

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Di Minahasa, sebuah nama tempat sering kali lebih tua daripada peta yang mencatatnya. Nama-nama itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan jejak ingatan tentang perjalanan leluhur, pembukaan hutan, perpindahan manusia, dan perjumpaan masyarakat lokal dengan kekuatan-kekuatan besar yang datang dari luar. Salah satu nama yang menyimpan lapisan sejarah panjang itu adalah Kayuuwi. Dalam sejumlah arsip kolonial, […]

  • Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

    Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Tondano, Minahasa, dalam catatan perjalanan Dr. H. Kraemer tahun 1926 Ada sebuah kisah singkat dalam laporan perjalanan Dr. H. Kraemer ke Minahasa yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan gambaran penting mengenai hubungan antara masyarakat Tondano, kehidupan gereja, dan pemerintah kolonial. Kraemer mencatat bahwa pada suatu masa di Tondano, masyarakat sedang membangun sebuah gereja. Mereka telah […]

  • Evert Langkai: Panglima Legendaris Minahasa yang Tak Tergoyahkan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

    Evert Langkai: Panglima Legendaris Minahasa yang Tak Tergoyahkan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2024
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Evert Langkai adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dari Sulawesi Utara. Lahir pada 28 September 1915, dia dikenal sebagai Panglima pertama dan satu-satunya dari Laskar KRIS (Kesatuan Rakyat Indonesia Semesta), yang merupakan organisasi militer penting dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia pada periode 1945-1949. Langkai merupakan orang Minahasa pertama yang […]

  • Menyusuri Keindahan

    Keindahan Pantai Tanjung Merah di Sulawesi Utara

    • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Pantai Tanjung Merah: Permata Tersembunyi di Minahasa Utara   Wisatawan dapat menjangkau Keindahan Pantai Tanjung Merah dengan mudah karena lokasinya hanya berjarak sekitar satu jam dari pusat Kota Manado. Meskipun dekat, sebagian besar pelancong belum banyak mengunjungi pantai ini, sehingga suasananya tetap alami dan damai. Setibanya di sana, hamparan pasir putih yang lembut menyambut langkah […]

expand_less