Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

  • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
  • visibility 56
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tondano, Minahasa, dalam catatan perjalanan Dr. H. Kraemer tahun 1926

Ada sebuah kisah singkat dalam laporan perjalanan Dr. H. Kraemer ke Minahasa yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan gambaran penting mengenai hubungan antara masyarakat Tondano, kehidupan gereja, dan pemerintah kolonial.

Kraemer mencatat bahwa pada suatu masa di Tondano, masyarakat sedang membangun sebuah gereja. Mereka telah menebang kayu dari hutan dan hendak mengangkutnya menuju tempat pembangunan. Namun, pekerjaan tersebut menghadapi hambatan dari pemerintah Eropa. Setiap kali masyarakat hendak mengangkut kayu, pemerintah menetapkan heerendiensten, yaitu kewajiban kerja yang harus dilakukan penduduk.

Keadaan itu tidak membuat pembangunan gereja berhenti. Justru di sinilah muncul kalimat yang menjadi bagian paling menarik dari catatan Kraemer:

“Toen sleepten de vrouwen het hout.”

yang artinya

“Maka para perempuanlah yang mengangkut kayu tersebut.”

Ketika pembangunan gereja berhadapan dengan kerja wajib

Kisah tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Sebelum menceritakan kayu gereja, Kraemer menulis bahwa pernah ada masa ketika orang-orang Tondano yang pergi ke gereja mendapatkan pukulan rotan dari pihak pemerintah Eropa. Namun, menurut catatannya, mereka tetap pergi ke gereja.

Setelah itu Kraemer langsung memberikan contoh pembangunan gereja.

Masyarakat telah menebang kayu dan mempersiapkan bahan bangunan. Masalahnya muncul ketika kayu tersebut hendak dibawa dari hutan ke lokasi pembangunan. Pemerintah kolonial, menurut Kraemer, setiap kali mengeluarkan ketentuan heerendiensten ketika masyarakat hendak melakukan pengangkutan. Dengan demikian, pekerjaan pembangunan gereja terus berhadapan dengan kewajiban kerja yang ditetapkan pemerintah.

Tetapi masyarakat menemukan jalan lain.

Para perempuan mengambil alih pekerjaan mengangkut kayu.

Kraemer tidak memberikan nama perempuan-perempuan tersebut, jumlah mereka, maupun tanggal pasti kejadian itu. Ia juga tidak menjelaskan secara rinci berapa banyak kayu yang mereka angkut. Karena itu, informasi yang dapat kita pastikan dari sumber hanyalah bahwa perempuan Tondano turut mengangkut kayu untuk pembangunan gereja ketika pekerjaan tersebut terhambat oleh pemberlakuan heerendiensten.

Bukan sekadar kisah pembangunan gereja

Bagi Kraemer, peristiwa tersebut mempunyai makna yang lebih luas.

Ia sedang membahas apa yang menurutnya merupakan persoalan dalam proses perubahan masyarakat Minahasa. Kraemer menggambarkan Minahasa sebagai masyarakat yang dalam waktu kurang dari satu abad mengalami perubahan besar: dari masyarakat yang sebelumnya memiliki struktur kehidupan dan kepercayaan yang berbeda, menjadi masyarakat Kristen yang berada di bawah pemerintahan modern dan memiliki jaringan pendidikan serta jalan yang semakin berkembang.

Perubahan tersebut, menurut Kraemer, bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia menggambarkannya sebagai semacam “guncangan psikologis” bagi masyarakat yang mengalami perubahan begitu cepat.

Dalam konteks itulah ia melihat hubungan antara pemerintah kolonial dan proses kristenisasi sebagai persoalan yang rumit.

Menurut Kraemer, masyarakat Minahasa melihat pemerintah yang secara historis mereka kaitkan dengan agama baru tersebut, tetapi pada saat yang sama mengalami sikap dan tindakan pejabat yang menurutnya bertentangan dengan semangat agama yang sedang mereka anut. Ia bahkan menulis tentang adanya “permusuhan dan perlawanan langsung” dari pihak pejabat terhadap proses kristenisasi.

“Netralitas” kolonial yang dipertanyakan

Bagian ini juga memperlihatkan kritik Kraemer terhadap konsep netralitas pemerintah kolonial.

Menurutnya, pemerintah seharusnya bersikap netral terhadap persoalan agama. Namun, ia melihat adanya kontradiksi ketika pemerintah yang mengaku netral justru melakukan tindakan yang menurutnya menghambat kegiatan keagamaan masyarakat.

Kisah pembangunan gereja di Tondano menjadi salah satu contoh yang ia gunakan.

Masyarakat ingin membangun gereja. Mereka sudah menyiapkan kayu. Namun ketika hendak mengangkut kayu, kewajiban kerja diberlakukan. Pada akhirnya, perempuan mengambil alih pekerjaan tersebut.

Karena itu Kraemer menyebut keadaan tersebut sebagai suatu “vermin keling der neutraliteit”, yang dalam konteks tulisannya mengarah pada kritik terhadap penyimpangan atau kerusakan prinsip netralitas pemerintah.

Ia kemudian bertanya secara retoris bagaimana mungkin orang-orang Kristen Minahasa yang sederhana tidak mengalami kebingungan batin ketika menghadapi keadaan seperti itu.

Perempuan yang muncul di balik sejarah gereja

Yang membuat kisah ini menarik bagi sejarah lokal adalah bahwa nama perempuan-perempuan tersebut tidak dicatat.

Kraemer hanya menulis satu kalimat pendek:

“Toen sleepten de vrouwen het hout.”

Tetapi satu kalimat tersebut memberi kita gambaran bahwa perempuan bukan sekedar penonton dalam pembangunan kehidupan gereja. Dalam situasi tertentu, mereka mengambil bagian langsung dalam pekerjaan fisik yang dibutuhkan agar pembangunan gereja tetap berjalan.

Namun, penting untuk tidak menambahkan cerita yang tidak terdapat dalam sumber. Kraemer tidak mengatakan bahwa mereka melakukan aksi demonstrasi, tidak menyebutnya sebagai pemberontakan, dan tidak menyebut nama mereka. Karena itu adalah keteguhan atau keterlibatan perempuan Tondano dalam pembangunan gereja, bukan “pemberontakan perempuan Tondano”.

Sebuah kisah kecil dari perubahan besar Minahasa

Laporan Kraemer bukan sekadar catatan perjalanan. Nationaal Archief mencatat dokumen ini dalam topik Indonesia Timur sebagai Verslag van de reis van dr H. Kraemer naar Ambon en de Minahassa van 2 september–8 november 1926, laporan dari Nederlandsch Bijbelgenootschap tahun 1926.

Di dalam laporan itu, Kraemer berusaha memahami perubahan sosial dan keagamaan yang sedang berlangsung di Minahasa. Ia melihat masyarakat yang telah mengalami perubahan besar akibat Kekristenan, pendidikan, dan pemerintahan kolonial, tetapi sekaligus menghadapi berbagai ketegangan dalam proses tersebut.

Dalam konteks itu, kisah perempuan Tondano yang mengangkut kayu menjadi lebih dari sekedar cerita pembangunan sebuah bangunan.

Ia memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan pekerjaan yang dianggap penting bagi kehidupan gerejanya ketika berhadapan dengan hambatan administratif kolonial.

Dan di tengah catatan panjang tentang agama, pemerintahan, pendidikan, dan kolonialisme, Kraemer meninggalkan satu kalimat pendek yang justru sangat kuat:

“Toen sleepten de vrouwen het hout.”

yang artinya

“Maka para perempuanlah yang mengangkut kayu tersebut.”

 

Sumber: H. Kraemer, Verslag van de reis van Dr. H. Kraemer naar Ambon en de Minahassa van 2 September–8 November 1926, Nederlandsch Bijbelgenootschap, 1926.

Catatan: judul “Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja” adalah judul interpretatif untuk artikel; bukan judul asli dalam laporan Kraemer. Fakta utamanya berasal dari kalimat Belanda “Toen sleepten de vrouwen het hout.”

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Robertus Padtbrugge dan Raja Loloda Mokoagow (ilustrasi)

    Loloda Mokoagow dan Akhir Klaim Mongondow atas Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Pada abad ke-17, kekuasaan di Sulawesi Utara tidak selalu dapat diukur dari luas wilayah yang diklaim seorang raja. Kekuasaan juga ditentukan oleh siapa yang benar-benar dapat menggerakkan orang, menguasai jalur perdagangan, menghimpun hasil bumi, dan membuat keputusan politik dipatuhi di lapangan. Di antara tokoh yang memperlihatkan kerumitan itu adalah Loloda Mokoagow, penguasa Bolaang Mongondow. Dalam […]

  • Sejarah Singkat Musik Bambu di Minahasa

    Sejarah Singkat Musik Bambu di Minahasa

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2024
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Musik bambu adalah seni tradisional khas Minahasa yang berakar pada perpaduan budaya lokal dan pengaruh pendidikan Zending Protestan di abad ke-19. Diperkirakan, musik bambu mulai berkembang sekitar tahun 1850-an melalui pengajaran suling bambu di sekolah-sekolah zending.   Instrumen ini diajarkan oleh para nyora (istri guru jemaat) sebagai bagian dari kurikulum yang bertujuan menggantikan Kolintang Gong, […]

  • Negara Kolonial Hindia Belanda Berdiri dan Mengapa Sejarahnya Seakan Hilang dari Indonesia?

    Negara Kolonial Hindia Belanda Berdiri dan Mengapa Sejarahnya Seakan Hilang dari Indonesia?

    • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Nama Hindia Belanda atau Hindia Timur Belanda (Nederlandsch-Indië) pernah menjadi identitas resmi wilayah yang kini dikenal sebagai Republik Indonesia. Selama lebih dari tiga abad, nama itu menjadi simbol dari kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara, suatu masa panjang yang membentuk banyak aspek kehidupan bangsa Indonesia hari ini, baik secara sosial, ekonomi, maupun budaya. Berapa Lama Hindia […]

  • Tarumetor (Ilustrasi Ai)

    Tengkorak Raja yang Disimpan: Serangan Malam Tarumetor dan Trofi Kemenangan Toun Kaakas

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Sejarah konflik antara komunitas Minahasa dan Bolaang Mongondow menyimpan banyak kisah dramatis yang mencerminkan kerasnya dinamika politik dan perang antarkelompok di masa lampau. Salah satu episode yang paling mencolok adalah cerita tentang pemenggalan kepala seorang raja Bolaang Mongondow oleh pasukan Toun Kaakas sebuah peristiwa yang kemudian diabadikan sebagai simbol kemenangan. Kisah ini dicatat oleh J.G.F. […]

  • E. J. S. Lumanauw: Dari Hukum Besar menjadi Majoor Distrik Toulour

    E. J. S. Lumanauw: Dari Hukum Besar menjadi Majoor Distrik Toulour

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • visibility 57
    • 0Komentar

    E. J. S. Lumanauw dalam artikel F. S. Watuseke mengenai istilah hukum dan jabatan pemerintahan di Minahasa. Keterangan pada sebuah foto menyebutkan bahwa Lumanauw menjabat sebagai Hukum Besar Distrik Toulour selama 1928–1929. Ia kemudian menggunakan gelar Majoor dan tetap memimpin Distrik Toulour dari 1929 sampai 1942. Tempat kedudukannya berada di Tondano. Distrik Toulour yang dipimpin […]

  • Tuanku Muhammad Batee 1900 (Ilustrasi)

    Ketika Putra Pocut Meurah Intan Dibuang: Kisah Pengasingan Tuanku Muhammad Batee ke Tondano

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Pengasingan tokoh perlawanan merupakan salah satu strategi utama Pemerintah Hindia Belanda dalam meredam gerakan anti-kolonial. Dalam konteks Perang Aceh (1873–1904), kebijakan ini juga menimpa Tuanku Muhammad Batee, putra sulung pejuang perempuan Aceh, Pocut Meurah Intan. Sejarah mencatat, Pocut Meurah Intan merupakan tokoh penting dari Biheue, Pidie, yang tetap mempertahankan perlawanan bersenjata di tengah melemahnya struktur […]

expand_less