Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Historiografi » Siapa yang Lebih Dulu Memanggil Kompeni VOC ke Manado? Hikayat Minahasa dan Babontehu

Siapa yang Lebih Dulu Memanggil Kompeni VOC ke Manado? Hikayat Minahasa dan Babontehu

  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • visibility 1
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cerita tentang leluhur Manado yang berlayar ke Ternate untuk menjemput Kompeni sampai kepada kita dalam dua rekaman abad ke-19, dan keduanya tidak menceritakan peristiwa yang sama.

J.G.F. Riedel mencatat empat utusan dari negeri-negeri pegunungan pada 1862. N. Graafland mencatat enam pahlawan Babontehu dari pulau pada 1868.

Arsip Kompeni VOC sendiri kini bisa dipasangkan dengan keduanya, menyebut angka ketiga yakni delapan orang Manado dalam satu perahu, Februari 1644.

Tulisan ini tidak bermaksud memilih versi yang benar. Ia memisahkan apa yang diceritakan hikayat, apa yang dicatat surat-surat sezaman, dan apa yang ditempelkan belakangan oleh tulisan populer.

Versi Riedel, 1862: empat kepala dari pegunungan

Riedel menerbitkan himpunan tuturnya di Batavia pada 1862. Dalam bagian kelimanya, orang Kastela (Spanyol) berlabuh di “perlabohan Kimah”, lalu diantar sisa orang Babontehu ke “Tumpa-an Wenang”.¹

Untuk melepaskan diri dari tekanan orang Kastela, dikirimlah empat utusan ke Ternate. Nama mereka Supit, Lonto, Pa-at, dan Lonta-an, masing-masing dari Toun Waririj, Toun Saronsong, Toumuung, dan Kekaskasan. Yang datang kemudian sebagai wakil Kompeni bernama Degude.²

Pelaku versi ini adalah kepala-kepala negeri pegunungan. Tidak ada perahu bininta dan tidak ada pahlawan pulau. Nama Degude belum ditemukan dalam daftar pejabat Kompeni yang sudah diperiksa; bentuk “de Goede” yang kadang dipasangkan dengannya masih tebakan bunyi.

Versi Graafland, 1868: enam pahlawan dari pulau

Enam tahun kemudian Graafland memuat hikayat lain dalam karangannya “De Manadorezen”, di bawah judul “Permulaan Hikajet Distrikt Manado itu”.³ Tokohnya orang Babontehu, penduduk pulau yang kini disebut Manado Tua.

Enam pahlawan berangkat ke Ternate dengan perahu bininta yakni Bukarakombang, Boremanung, Manikunusa, Sahadagi, Bahakiky, dan Huntamoniaga, ditambah seorang perempuan bernama Dongintairang. Di Pulau Batang Dua mereka bertemu sebuah sebuah breek (kapal layar 2 tiang) milik Kompeni VOC, yang lalu mengantar mereka pulang ke Manado.

Arah permintaan tolong mereka pun terbalik dari versi Riedel. Dalam hikayat Graafland, orang Kinilow yang meminta Babontehu menghubungkan mereka dengan Kompeni. Asal-usul Babontehu juga berbeda yakni Graafland menyebut mereka datang dari Bacan, dengan raja bernama Anuw, sedangkan Riedel hanya menyebut mereka datang “dari pihak selatan”.

Dua kelompok, dua cerita

Kedua hikayat tidak bisa digabung menjadi satu pelayaran dengan sepuluh utusan. Jumlah, nama, negeri asal, dan kendaraannya berbeda, dan masing-masing menempatkan kelompoknya sendiri sebagai penjemput Kompeni.

Perbedaan pelaku ini punya dasar dalam catatan yang jauh lebih tua.

Gubernur Robertus Padtbrugge, yang menulis uraiannya pada 1679, mencatat bahwa orang pulau dan orang pegunungan mula-mula tidak saling mengetahui. Mereka baru sadar akan keberadaan satu sama lain lewat sekam padi yang hanyut di sungai, sesudah penduduk pulau menyeberang ke daratan.⁴

Godée Molsbergen, yang membaca tradisi-tradisi itu bersama arsip, juga menyimpulkan bahwa negeri-negeri pedalaman tidak berada di bawah Babontehu.⁵ Jadi yang kita punya bukan dua saksi atas satu kejadian. Yang kita punya adalah ingatan dua masyarakat yang berbeda tentang bagaimana Kompeni sampai ke pantai mereka.

Ingatan yang lebih tua: kapal pertama dan musket tua

Ada satu rekaman ingatan setempat yang hampir dua abad lebih tua dari Riedel dan Graafland. Dalam jurnal perjalanannya tahun 1677, Padtbrugge mencatat apa yang diceritakan penduduk tentang kapal Kompeni pertama yang datang ke Manado.⁶

Menurut cerita itu, kapal tersebut menukar besi tua dengan penduduk. Sebuah musket (senapan) tua dari masa itu masih disimpan sebagai tanda buktinya. Padtbrugge melewatkan kisah tentang orang Spanyol sesudahnya, karena menurutnya hal itu terjadi “ten tijden van de heer Sijmon Cos”, pada masa Gubernur Simon Cos.

Ingatan tahun 1677 ini tidak memuat utusan, tidak memuat pelayaran ke Ternate, dan tidak menyebut siapa yang memanggil siapa. Yang diingat adalah sebuah kapal, sebuah pertukaran, dan sebuah benda yang dirawat sebagai bukti.

Yang dicatat arsip sezaman

Surat-surat Kompeni tidak memuat satu pun nama dari kedua hikayat. Namun surat-surat itu mencatat tiga peristiwa yang bisa menjadi bahan bagi ingatan semacam itu.

1615: tujuh serdadu yang dijemput pulang. Adriaen van der Dussen melaporkan bahwa Letnan Cassiopijn meninggalkan tujuh serdadu Kompeni di Manado. Mereka dijemput kembali dengan susah payah, sambil meninggalkan 180 pon mesiu, karena penduduknya dianggap rakyat raja Ternate.⁷ Inilah kehadiran Kompeni VOC pertama di Manado yang punya alamat arsip.

1644: delapan orang Manado dalam satu perahu. Gubernur Ternate Wouter Seroijen melaporkan, dalam surat 21 April 1644, bahwa sebuah perahu dengan delapan orang Manado tiba di Malayu (Ternate) pada Februari tahun itu.

Laporan yang sama menyebut sekitar empat puluh orang Kastilia terbunuh. Kompeni lalu mengirim kapal Egmont di bawah Paulus Andriesz, dengan 70 orang Belanda dan 50 Mardijker, dan ekspedisi itu gagal.⁸ Surat Simon Cos tahun 1657 mengingat ekspedisi yang sama sebagai “vruchteloose toght” (Ekspedisi sia-sia) ke negeri Timon, ibu kota orang Spanyol, yang buyar karena angin kencang.⁹

1650-an: utusan raja Manado. Godée Molsbergen mencatat bahwa raja Manado mengirim utusan ke Ternate untuk meminta persekutuan dan sebuah loji tetap. Halamannya berada di antara pelayaran fluit De Beer ke Manado pada Juli 1653 dan rencana Gubernur Hustaert pada 1655, tetapi tahun pengiriman utusan itu tidak dicetak.¹⁰ Yang mengutus di sini adalah raja Manado, bukan kepala-kepala pegunungan dan bukan pahlawan Babontehu.

Aspek Hikayat Riedel (1862) Hikayat Graafland (1868) Surat Seroijen (1644)
Jumlah orang 4 utusan 6 pahlawan dan 1 perempuan 8 orang
Asal Waririj, Saronsong, Toumuung, Kekaskasan Babontehu (pulau) Manado
Kendaraan Tidak disebutkan Perahu bininta Satu perahu
Tujuan Ternate Ternate Malayu, Ternate
Tahun Tidak disebutkan Tidak disebutkan Februari 1644
Nama orang Supit, Lonto, Pa-at, Lonta-an Bukarakombang, Boremanung, Manikunusa, Sahadagi, Bahakiky, Huntamoniaga, dan Dongintairang Tidak disebutkan

Tarikh yang ditempelkan belakangan

Tidak satu pun dari kedua hikayat menyebut tahun. Tarikh 1644 dan 1654 yang beredar dalam tulisan populer tidak berasal dari teks Riedel maupun Graafland.

Tahun 1644 kini punya pegangan arsip, tetapi bukan untuk hikayat mana pun. Yang tercatat adalah delapan orang Manado tanpa nama dan sebuah ekspedisi Kompeni yang gagal.

F.W. Stapel, dalam pengantarnya atas kontrak 1699, juga menyebut bahwa pada 1644 orang Manado meminta perlindungan kepada gubernur Ternate.¹¹ Alamat naskah untuk kalimat Stapel itu belum ditemukan bahwa kemungkinan ia bersandar pada peristiwa yang sama.

Untuk tahun 1654 belum ada sandaran sezaman apa pun. Tahun itu paling dekat dengan utusan raja Manado yang dicatat Godée Molsbergen, tetapi halaman itu sendiri tidak mencetak tahunnya. Menempelkan empat nama Riedel atau enam nama Graafland pada salah satu tahun ini berarti menggabungkan cerita dengan dokumen yang tidak saling menyebut.

Nama yang menjadi jabatan

Hikayat Riedel menyentuh arsip di satu titik, tetapi bukan pada tahun 1644. Tiga dari empat namanya, Supit, Lonto, dan Pa-at, muncul dalam dokumen Kompeni setengah abad kemudian sebagai kedudukan tertinggi di negeri-negeri pegunungan.

Kontrak 10 Januari 1679 dibubuhi tanda oleh empat perantara, salah satunya kapitan Pacat Soepit.¹² Kontrak 10 September 1699 menyebut “de drie hoofd-hoecums-majoors Soepit, Lonto en Paät” sebagai pihak yang mengikat diri.¹³ Pada 1706 Pieter Rooselaar mendaftar ketiganya sebagai hoofdhoekoem: Soupit dari Tombariri, Lonto dari Tonsea atau Tonsaronson, dan Paät dari Tomohon.¹⁴

Pasangan nama dan negeri pada Rooselaar tidak sama dengan pasangan pada Riedel. Yang terbaca dari sini bukan pembenaran hikayat. Tradisi lisan abad ke-19 menempatkan tiga jabatan tertinggi akhir abad ke-17 di titik awal hubungan dengan Kompeni, dan dengan begitu menjelaskan dari mana wibawa jabatan itu berasal.

Nilai sebuah hikayat

Sebuah cerita tidak perlu berstatus dokumen untuk bernilai sebagai sumber sejarah. Riedel 1862 dan Graafland 1868 memperlihatkan dua masyarakat yang, pada pertengahan abad ke-19, sama-sama ingin tercatat sebagai pihak yang memilih Kompeni, bukan pihak yang didatangi.

Arsip menceritakan hal yang lebih sederhana dan lebih berantakan yakni tujuh serdadu yang ditarik pulang pada 1615, delapan orang Manado tanpa nama pada 1644, ekspedisi yang buyar diterpa angin, dan utusan seorang raja yang tahunnya tidak tercetak.

Kedua jenis sumber ini menjawab pertanyaan yang berbeda. Hikayat menerangkan bagaimana orang Minahasa dan orang Babontehu memandang kedudukan mereka dua abad kemudian dan arsip menerangkan apa yang terjadi di pantai pada abad ke-17.

Catatan Kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Rumah Eduard W.G. Graafland, putra Nicolaas Graafland, di pemukiman Sarani (1890)

    Rumah Eduard W.G. Graafland, putra Nicolaas Graafland, di pemukiman Sarani (1890)

    • calendar_month Kamis, 8 Agt 2024
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Rumah Eduard W.G. Graafland, putra Nicolaas Graafland, di pemukiman Sarani, 1890. *Diupload oleh Roderick C Wahr

  • Tontemboansche Teksten – Aantekeningen – J.A.T. Schwarz (1907)

    Tontemboansche Teksten – Aantekeningen – J.A.T. Schwarz (1907)

    • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Buku ini ditulis dalam Bahasa BELANDA (Minahasa). Ini adalah buku yang ditulis oleh J.Alb.T. Schwarz, di mana ia menceritakan Hikayat-hikayat yang diceritakan kepadanya oleh orang tua di Minahasa. Dalam bagian ini adalah catatan-catatan lengkap mengenai Hikayat-hikayat tsb. Ini untuk mereka yang mengerti bahasa Belanda, menyukai cerita-cerita Minahasa, dan mungkin ingin menerjemahkan cerita-cerita tersebut ke dalam […]

  • Komandan pertahanan laskar KRIS, Letkol Evert Langkay

    Evert Langkay: Loyalis Republik dari Minahasa yang Menggerakkan Laskar KRIS di Medan Revolusi

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Tidak banyak nama pejuang asal Minahasa yang jejaknya tersimpan rapi dalam ingatan publik nasional. Di antara nama-nama yang lebih sering disebut dalam sejarah revolusi Indonesia, sosok Evert Langkay justru berada di balik layar, menjadi penggerak organisasi, pemersatu berbagai kelompok bersenjata, sekaligus salah satu loyalis Republik yang konsisten sejak zaman kolonial hingga Indonesia merdeka. Perjalanan hidup […]

  • Johann Friedrich Riedel (wikitree)

    Riedel Menghentikan Pertikaian Tondano dan Tomohon di Wilayah Tombulu

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Ketika Pieter Bleeker mengunjungi Minahasa dalam perjalanan yang berlangsung selama September dan Oktober 1855, Johan Friedrich Riedel telah dikenal sebagai zendeling yang mempunyai pengaruh besar di Tondano. Dalam bukunya Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, Bleeker mencatat perjalanan melewati Kema, Manado, Lotta, Kakaskasen, Tomohon, Tondano, Remboken, Passo, dan Kakas. Di antara berbagai hal […]

  • Willy Ghayus Alexander Lasut: Pahlawan Petani dan Pejuang Keadilan di Sulawesi Utara

    Willy Ghayus Alexander Lasut: Pahlawan Petani dan Pejuang Keadilan di Sulawesi Utara

    • calendar_month Selasa, 24 Des 2024
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Willy Ghayus Alexander Lasut, lahir pada 28 Januari 1926, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Sulawesi Utara. Beliau menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara selama periode singkat antara 1978 hingga 1979. Meski hanya menjabat selama 16 bulan, jejak perjuangannya untuk kesejahteraan rakyat Sulawesi Utara, khususnya petani cengkeh, meninggalkan warisan yang tak terlupakan.     Keberanian […]

  • Petisi A.L. Waworuntu kepada Gubernur Jenderal

    Petisi A.L. Waworuntu kepada Gubernur Jenderal

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Dalam tulisan yang berjudul Myth and Reality in Minahasan History: The Waworuntu-Gallois Confrontation oleh Mieke Schouten membahas petisi yang disampaikan Albert Lasut Waworuntu kepada Gubernur Jenderal C. Pijnacker Hordijk. Waworuntu merupakan Hukum Besar atau Mayor Distrik Sonder. Tahun 1891, ia pergi ke Jawa dan memperoleh kesempatan menghadap Gubernur Jenderal. Dalam pertemuan pada Desember tahun itu, Waworuntu […]

expand_less