Natal 1678 di Manado: Enam Belas Hari Sebelum Kontrak Pertama VOC
- calendar_month 5 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Penyambutan Gubernur Robertus Padtbrugge di pantai Manado pada Hari Natal 1678.(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kedatangan Gubernur Padtbrugge, enam belas hari sebelum kontrak 10 Januari 1679
Pada hari Natal 1678, seorang gubernur Belanda mendarat di pantai Manado. Dua pendeta Protestan dan sejumlah pater Yesuit menyambut kedatangannya. Pemandangan itu menyimpan ironi sejarah bahwa setahun sebelumnya, kedua kelompok rohaniwan tersebut berada di pihak yang berlawanan dalam konflik yang melibatkan Kompeni VOC dan Kerajaan Siau.
Gubernur itu adalah Robertus Padtbrugge, Gubernur Maluku VOC yang berkedudukan di Ternate. Hari itu, Minggu, 25 Desember 1678, ia mencatat kedatangannya dalam buku harian dengan dua sebutan sekaligus, Sondagh, off Keersdagh—hari Minggu atau hari Natal.[1]
Enam belas hari kemudian di benteng yang sama, Padtbrugge akan duduk bersama para kepala negeri untuk merundingkan sebuah perjanjian yang dikenal sebagai Voorwaarden en Verbondt, atau kontrak 10 Januari 1679.[2]
Namun, kisah yang mengantarkan perundingan itu tidak seluruhnya tercatat dalam naskah kontrak. Rangkaian peristiwa menjelang penandatanganannya justru tersimpan dalam buku harian perjalanan Padtbrugge, yang dikirim ke Belanda bersama surat-surat dari Ternate pada 1680 dan kini berada di Nationaal Archief, Den Haag.
Dari catatan harian itulah kita dapat mengikuti hari-hari ketika Manado menjadi tempat bertemunya kepentingan dagang, kekuasaan kolonial, agama, dan persoalan penduduk setempat.
Dari Gorontalo menuju Manado
Padtbrugge berlayar dari Gorontalo dengan kapal Eendraght. Dalam buku hariannya, kapal itu disebut chaloup atau chaloep. Istilah tersebut merujuk pada kapal layar kecil milik Kompeni yang memiliki tiang dan geladak, lazim digunakan untuk pelayaran pantai maupun antarpulau. Kapal itu cukup besar untuk membawa gubernur beserta rombongannya dan menjadi tempatnya beristirahat selama perjalanan.[1]
Perjalanan menuju Manado berlangsung lambat. Pada malam menjelang Natal, angin berhenti bertiup sehingga kapal hanya terapung-apung di laut. Pagi berikutnya, angin darat yang lemah mulai mendorong kapal menyusuri pantai. Menjelang siang, arah angin berubah-ubah, membuat perjalanan kembali tersendat.
Baru pada sore hari angin laut mulai bertiup. Memasuki teluk Manado, Padtbrugge memutuskan tidak menunggu lebih lama. Ia turun ke schuijt, perahu kecil milik kapal, lalu didayung menuju pantai.
Kedatangannya kali ini bukanlah kunjungan pertama. Pada Oktober 1677, sekitar empat belas bulan sebelumnya, Padtbrugge sudah singgah di Manado dalam perjalanan menuju Kaidipang, Gorontalo, dan Limboto. Dari kawasan ini pula ia kemudian memimpin ekspedisi militer Kompeni VOC melawan Siau.[3]
Karena itu, kedatangannya pada Natal 1678 bukan sekadar persinggahan seorang pejabat kolonial. Ia kembali ke wilayah yang telah menjadi bagian penting dari urusan militer dan politik Kompeni di pesisir utara Sulawesi.
Penyambutan yang menyimpan ironi
Di tepi pantai, sejumlah orang telah menunggu. Di antara mereka terdapat dua pendeta Protestan yaitu Caheijngh dan Van der Sluijs, para pater Yesuit, pegawai Kompeni, beberapa perempuan yang disebut dalam catatan sebagai Manadosche Juffrouwen, serta kepala-kepala negeri yang kebetulan berada di Manado.[1]
Atas nama para pater, Pater Torcottij maju menyampaikan sambutan. Padtbrugge menilainya sebagai pidato yang singkat, indah dan jenaka. Ia menggunakan ungkapan seer geestigh untuk menggambarkan sambutan yang dianggapnya sesuai dengan suasana saat itu.
Akan tetapi, di balik keramahan tersebut terdapat sejarah persaingan agama dan kekuasaan yang belum lama berlalu.
Pendeta Caheyng dan Pater Torcotti sebenarnya sudah saling mengenal. Pada Oktober 1677, keduanya datang bersama ke Manado dari Boelang-Itan. Malam itu juga, Torcotti melanjutkan perjalanan ke Siau.[4] Di sana ia bekerja bersama tiga Yesuit asing yakni seorang Belanda, seorang Jerman, dan seorang Italia.[5]
Beberapa minggu kemudian, Kompeni melancarkan serangan terhadap Siau. Dalam rapat perang pada 16 Oktober 1677, salah satu syarat perdamaian yang dibicarakan adalah agar Raja Siau meninggalkan agama Katolik, menolak orang-orang Spanyol, dan beralih ke Gereja Reformasi.[6] Pendeta Caheyng turut serta dalam ekspedisi tersebut.[7]
Dengan latar belakang itu, pertemuan pada Natal 1678 terasa jauh lebih rumit daripada sekadar acara penyambutan. Pendeta Protestan yang pernah mengikuti ekspedisi militer Kompeni dan pater Yesuit yang bekerja di wilayah Siau kini berdiri berdampingan di pantai Manado, menyambut gubernur yang sama.
Buku harian Padtbrugge tidak menjelaskan sejak kapan para pater berada di Manado atau bagaimana status mereka ketika itu. Namun, catatan berikutnya menunjukkan bahwa mereka sedang menunggu kesempatan untuk diangkut keluar dari wilayah tersebut.
Karena hari sudah larut ketika Padtbrugge tiba, tidak ada urusan kedinasan yang dibicarakan malam itu. Ia makan malam di rumah Pendeta Caheijngh, kemudian kembali ke kapal Eendraght untuk beristirahat.
Membawa kapal masuk ke muara
Senin 26 Desember, masih merupakan bagian dari perayaan Natal. Hari itu diisi dengan ibadah, sementara Padtbrugge tetap berada di kapal. Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana Eendraght dibawa memasuki sungai sekaligus memastikan kedalaman air di ambang muara.[1] Sungai yang dalam sumber Kompeni tahun 1657 sudah disebut Monango Labo.

Kapal Eendraght memasuki muara sungai di Manado pada 27 Desember 1678.(ilustrasi)
Pekerjaan tersebut dimulai pada Selasa pagi, 27 Desember. Kapal mula-mula dilabuhkan di perairan dengan kedalaman enam depa. Setelah itu, sebuah jangkar kecil dibawa ke ambang muara untuk membantu menarik kapal ke arah sungai.
Agar kapal menjadi lebih ringan, sebuah perahu yang membawa pemberat dibongkar dan tiga tong air besar dibuang. Ketika air pasang mulai naik dan angin laut bertiup, Eendraght dibiarkan bergerak perlahan memasuki muara.
Pada bagian yang paling dangkal, kedalaman air hanya sekitar tujuh kaki. Meski demikian, kapal berhasil melewatinya tanpa kandas.
Setelah masuk, Eendraght ditambatkan di tempat yang dinilai paling sesuai untuk dikeringkan dan diperbaiki. Pelayaran dari Gorontalo rupanya telah menimbulkan kebocoran di bagian haluan, tepat pada sambungan papan di bawah garis air.[8]
Urusan kapal selesai untuk sementara. Padtbrugge kemudian mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal yang lebih penting bagi kepentingan Kompeni yakni memeriksa kondisi benteng, persediaan pangan, perlengkapan militer, dan keadaan pos mereka di Manado.
Di dalam benteng Amsterdam
Setelah kapal aman, Padtbrugge turun ke darat untuk memeriksa benteng, rumah-rumah, gudang, serta persediaan amunisi milik Kompeni.[8]
Salah satu hal pertama yang menarik perhatiannya adalah persediaan padi. Di gudang tersimpan sekitar 100 last padi, sementara jacht Amsterdam yang sudah siap berlayar telah memuat 30 last lagi. Kapal itu juga membawa minyak kelapa, terdiri atas lima tong besar dan 636 bambu.[9]
Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya hasil pertanian dan komoditas lokal bagi kegiatan Kompeni VOC. Padi bukan hanya bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga persediaan yang berkaitan dengan logistik, pelayaran, dan pengelolaan wilayah kekuasaan.
Kondisi benteng sendiri menunjukkan kemajuan sekaligus kekurangan. Semua meriam telah ditempatkan pada dudukan baru yang kokoh. Secara umum, keadaan benteng dinilai cukup tertib. Namun, bagian-bagian yang baru diperbaiki masih menggunakan kayu yang tidak tahan lama.
Masalah lain belum terselesaikan. Ruangan berdinding batu yang direncanakan sebagai gudang mesiu tahan api, sebagaimana pernah dilaporkan Kapitan Cornelis Sweerus, bahkan belum mulai dibangun. Kain-kain dagangan juga masih disimpan dalam peti di rumah kayu, suatu keadaan yang dianggap berbahaya oleh gubernur.
Padtbrugge turut mencatat keadaan persediaan dan kehidupan di pos tersebut. Gudang dalam keadaan kering, sedangkan daging dan dendeng tersimpan dengan baik. Jumlah sapi bertambah, meskipun produksi susunya sedikit. Sepanjang tahun itu, hanya satu orang Kompeni meninggal di Manado. Masing-masing satu orang lainnya meninggal di Kaidipang, Siau, dan Tabukan.[9]
Catatan kematian yang tampak sederhana ini sekaligus memperlihatkan jangkauan kehadiran Kompeni. Lebih dari setahun setelah ekspedisi ke Siau, orang-orangnya telah ditempatkan bukan hanya di Manado, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di pesisir utara Sulawesi.
Persediaan padi yang begitu besar ternyata akan menjadi salah satu persoalan penting dalam perundingan berikutnya. Pada rapat 10 Januari 1679, urusan padi dan sekam kembali memicu perdebatan panjang antara gubernur dan para kepala negeri.[2]
Ketika rakyat mengadukan sang sersan
Di balik kondisi benteng yang relatif tertib, Padtbrugge menemukan persoalan yang menurutnya jauh lebih mendasar. Urusan Kompeni di Manado sebenarnya dapat berjalan baik, tulisnya, kalau saja komandan pos tidak berbuat curang dan mengecewakan penduduk.[9]
Orang yang dimaksud bukan seorang perwira tinggi, melainkan sersan bernama Harmen Smidt, yang dalam catatan lain juga ditulis Smith. Sebuah catatan di pinggir halaman menyebut bahwa perilakunya justru dibongkar oleh orang-orang Alfur sendiri.

Para kepala negeri menyampaikan pengaduan kepada Gubernur Robertus Padtbrugge di atas kapal Eendraght pada malam hari, akhir Desember 1678.(ilustrasi)
Beberapa kepala negeri meminta kesempatan untuk berbicara secara pribadi dengan gubernur. Mereka mengaku datang mewakili het geheele Landt—seluruh negeri. Padtbrugge menerima permintaan tersebut.
Pada malam hari, mereka naik ke kapal Eendraght untuk menyampaikan keluhan secara langsung.
Di hadapan gubernur, para kepala negeri menceritakan bahwa sang sersan berulang kali memperlakukan penduduk dengan kasar tanpa alasan yang jelas. Perlakuan itu bukan hanya dialami rakyat biasa, melainkan juga para kepala negeri, baik di pedalaman maupun di Manado. Mereka dihina, dimaki, dan diberi julukan yang merendahkan.
Keluhan tersebut memperlihatkan sisi lain dari pemerintahan kolonial. Di satu sisi, Kompeni membangun benteng, mengatur persediaan, dan menyusun perjanjian dengan para pemimpin setempat. Di sisi lain, perilaku seorang petugas di lapangan dapat merusak hubungan yang hendak dipertahankan melalui semua perangkat kekuasaan itu.
Persoalan tersebut tidak berhenti sebagai pembicaraan pribadi di atas kapal. Dua minggu kemudian, dalam rapat 10 Januari, para kepala negeri kembali mengangkat masalah sang sersan di hadapan seluruh sidang. Padtbrugge akhirnya menilai Smidt tidak layak memimpin pos dan berjanji akan mengirim penggantinya.[10]
Peristiwa ini penting karena menunjukkan bahwa para kepala negeri bukan sekadar pihak yang menunggu keputusan Kompeni. Mereka menyampaikan keberatan, mengajukan tuntutan, dan menggunakan pertemuan dengan gubernur untuk memperjuangkan kepentingan mereka.
Surat dari benteng kepada para penguasa
Hari-hari berikutnya diisi Padtbrugge dengan pekerjaan administrasi. Salah satu suratnya ditandatangani dengan nama Robbertus Padtbrugge dan diberi keterangan tempat serta tanggal: Manado aan de fortresse Amsterdam, 28 December 1678—Manado, di benteng Amsterdam, 28 Desember 1678.[11]
Surat tersebut ditujukan kepada seorang raja Kristen yang menguasai negeri Dauw. Dalam buku harian perjalanan tahun 1677, Dauw disebut sebagai negeri pantai di wilayah Kaidipang, tempat Raja Martinus Binankal tinggal.[12]
Isi surat itu berupa teguran keras. Dua perahu dari Dauw, dengan sepengetahuan sang raja, telah pergi menculik orang. Menurut Padtbrugge, tindakan tersebut tidak pantas dilakukan oleh orang Kristen, terlebih karena di pesisir Celebes tidak ada lagi musuh. Penduduk di wilayah itu, tulisnya, merupakan sahabat, kawula, sekutu, atau pihak yang terikat perjanjian dengan Kompeni.
Karena itu, penculikan orang dilarang dan siapa pun yang melakukannya akan dihukum.[13]
Surat tersebut memperlihatkan bagaimana Kompeni berusaha menata hubungan antarkelompok dan penguasa lokal melalui kategori politik yang mereka tetapkan sendiri. Istilah sahabat, kawula, sekutu, dan pihak yang terikat perjanjian bukan sekadar sebutan. Semuanya menunjukkan hubungan yang berbeda dengan kekuasaan VOC, sekaligus menjadi dasar bagi tuntutan agar penduduk mematuhi aturan yang ditetapkan Kompeni.
Namun, urusan Padtbrugge tidak hanya menyangkut keamanan. Ia juga mengatur penempatan guru sekolah di wilayah tersebut.
Seorang kopral bernama Robijn Boudon, seorang serdadu, dan guru Pauwelus Musquita dikirim ke Dauw. Sementara itu, guru lama bernama Francisco Fardinandus dipindahkan ke Bobading. Pemindahan tersebut berkaitan dengan janji negeri Doemoego dan Attingole—Atinggola—untuk memeluk agama Kristen serta permintaan mereka agar dikirimkan seorang guru.
Sang raja diminta menyediakan orang-orang untuk mengangkut barang bawaan rombongan itu ke Gorontalo.[13]
Dengan demikian, surat Padtbrugge tidak hanya mengatur hubungan politik dan keamanan, tetapi juga memperlihatkan keterkaitan antara penyebaran agama, penempatan tenaga pengajar, dan administrasi Kompeni.
Dalam surat-surat lain, perhatian gubernur meluas hingga ke Gorontalo. Ia memberikan instruksi kepada pejabat Kompeni yang menangani hubungan dengan para raja di sana agar bersikap ramah. Alasannya, kebiasaan lama para raja telah dilarang dan mereka kini dituntut untuk hidup dari pertanian.
Perubahan itu menimbulkan penolakan. Menurut catatan Padtbrugge, orang Gorontalo menganggap bertani sebagai pekerjaan boeren, atau petani, bukan pekerjaan yang pantas bagi bangsawan.
Padtbrugge meminta pejabatnya menjelaskan bahwa kata boer dalam bahasa Belanda sebenarnya berkaitan dengan bouwheer, yakni tuan yang menggarap tanah. Baginya, tidak ada yang lebih terhormat bagi seorang raja daripada memajukan pertanian di negerinya.[14]
Di balik penjelasan tersebut terdapat pandangan kolonial tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur dan bagaimana seorang penguasa semestinya menjalankan kekuasaannya. Apa yang oleh Padtbrugge dianggap sebagai kemajuan dan kehormatan, belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh para penguasa setempat.
Cuaca buruk pada hari itu membuat tidak satu pun perahu dapat berangkat. Pada sore hari, Padtbrugge mengunjungi rumah para pater Yesuit untuk membalas sambutan mereka saat ia tiba di pantai. Ia meminta maaf karena keberangkatan mereka telah lama tertunda. Musim angin sudah berlalu sehingga perjalanan laut menjadi semakin sulit.
Para pater kemudian meminta agar diantar ke Sambuanga, yaitu Zamboanga di Filipina, wilayah yang berada di bawah kekuasaan Spanyol.[11]
Keberangkatan para pater
Pada awal Januari 1679, para pater akhirnya bersiap meninggalkan Manado. Mereka memuat barang-barang ke kapal hingga larut malam. Menurut penulis buku harian, jumlah barang bawaan mereka hampir sebanyak ketika mereka dahulu meninggalkan Maleijen, kota Kompeni di Ternate.[15]
Catatan itu disertai nada sinis. Penulis mengaku heran karena sebelumnya para pater menyatakan bahwa harta mereka telah habis dan tidak ada lagi barang yang dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ketika seorang Belanda menyindir keadaan tersebut, Pater Rektor menjawab sambil bercanda bahwa orang miskin justru memiliki paling banyak barang rongsokan.
Penulis buku harian kemudian membalasnya dengan mengutip perkataan Paulus tentang orang yang seolah-olah tidak memiliki apa-apa, tetapi memiliki segala sesuatu. Ia menutup catatan itu dengan sindiran terhadap apa yang dianggapnya sebagai siasat khas Yesuit.
Sindiran tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara pejabat Kompeni dan para pater tidak sepenuhnya bebas dari ketegangan. Sambutan hangat pada hari Natal tidak serta-merta menghapus perbedaan kepentingan dan kecurigaan di antara mereka.
Sekitar pukul empat dini hari, semua barang dan penumpang akhirnya sudah berada di kapal. Malam itu, dua orang Kompeni juga berangkat. Pendeta Cornelis van der Sluijs menuju Sangi, yakni Sangihe, untuk memeriksa gereja dan sekolah di sana. Sementara itu, pemegang buku Jan Fransen kembali ke Maleijen untuk mengurus toko Kompeni.
Pada Selasa, 3 Januari, kapal yang membawa rombongan tersebut masih tertahan sepanjang hari di Manado.[15]
Dengan keberangkatan itu, kelompok yang beberapa hari sebelumnya berdiri bersama menyambut Padtbrugge di pantai Natal mulai berpencar. Para pater menuju wilayah kekuasaan Spanyol, Van der Sluijs berangkat ke Sangihe, dan Padtbrugge sendiri mempersiapkan perjalanan menuju negeri-negeri di pegunungan.
Manado kembali menjadi titik persinggahan sebelum urusan Kompeni bergerak ke wilayah yang lebih luas.
Enam belas hari sebelum kontrak
Kontrak 10 Januari 1679 dapat dengan mudah dibaca seolah-olah lahir dalam satu hari, melalui pertemuan antara gubernur dan para kepala negeri. Namun, buku harian Padtbrugge menunjukkan bahwa perundingan itu didahului oleh enam belas hari yang dipenuhi berbagai persoalan.
Semuanya bermula pada hari Natal, ketika gubernur disambut di pantai oleh pendeta Protestan dan para pater Yesuit. Setelah itu, ia memeriksa persediaan padi di gudang, menilai kondisi benteng, menerima pengaduan tentang perilaku sersan Kompeni, dan mengirim surat yang mengatur hubungan dengan para penguasa setempat.
Sementara itu, para pater Yesuit meninggalkan Manado dan sejumlah pejabat Kompeni berangkat ke tempat tugas masing-masing. Padtbrugge sendiri melanjutkan urusannya ke negeri-negeri di pegunungan sebelum kembali menghadapi persoalan yang menunggu di Manado.
Pada Senin, 9 Januari, para kepala negeri dipanggil untuk menghadiri rapat keesokan harinya. Semua diharapkan hadir, kecuali kepala negeri dari Datahan dan Saccan. Mereka diminta membawa persoalan apa pun yang hendak dibicarakan, baik yang menyangkut seluruh negeri, suatu wilayah, maupun satu kampung saja.[2]
Selasa pagi, pukul delapan, bangku-bangku diangkat dari gereja ke tempat pertemuan. Rapat pun dimulai. Dua persoalan yang telah muncul sejak hari-hari pertama kedatangan gubernur kembali menjadi bahan pembicaraan: perilaku sang sersan dan urusan padi.
Keduanya menunjukkan bahwa kontrak tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Ada persoalan pemerintahan sehari-hari, hubungan antara pejabat Kompeni dan penduduk, serta kepentingan ekonomi yang harus dihadapi sebelum kesepakatan dapat disusun.
Bagi Kompeni, kontrak merupakan sarana untuk mengatur hubungan politik dan memperkuat kedudukannya. Bagi para kepala negeri, pertemuan itu juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan keberatan dan membicarakan persoalan yang memengaruhi kehidupan masyarakat mereka.
Karena itu, Natal 1678 bukan sekadar pembuka kisah tentang kedatangan seorang gubernur Belanda. Enam belas hari yang mengikutinya memperlihatkan bagaimana kekuasaan kolonial dijalankan melalui benteng dan persediaan, tetapi juga melalui surat, perundingan, keluhan, serta tuntutan yang datang dari para pemimpin setempat.
Ketika kontrak akhirnya dibicarakan pada 10 Januari 1679, berbagai persoalan itu telah lebih dahulu hadir di meja perundingan. Di antara sambutan Natal dan naskah perjanjian, sejarah Manado memperlihatkan bahwa sebuah kontrak tidak hanya dibentuk oleh tanda tangan para penguasa, tetapi juga oleh ketegangan dan kepentingan yang mendahuluinya.
Catatan kaki
Member Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo
