Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Hendrik Polii dalam Arsip VOC: Konflik Jabatan dan Tata Pemerintahan Negeri Baru 1726–1729

Hendrik Polii dalam Arsip VOC: Konflik Jabatan dan Tata Pemerintahan Negeri Baru 1726–1729

  • calendar_month 19 menit yang lalu
  • visibility 3
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada malam 2 Desember 1727, seorang luitenant berjalan berkeliling Negeri Baru di dekat Benteng Amsterdam Manado, sambil berseru “Hendrik Polij kini hukum mayor kalian, dan empat hukum yang lama tidak perlu dipercaya lagi”.

Siang harinya, keempat hukum itu diberhentikan begitu saja oleh residen Kompeni VOC karena menolak menebang balok kayu. Polij yang sejak pagi menunggu di depan pintu jaga loji, diangkat menggantikan mereka, lalu makan semeja dengan residen.

Kisah ini sampai kepada kita karena keempat hukum yang tersingkir tidak tinggal diam. Mereka menulis pengaduan dalam bahasa Melayu kepada Gubernur Ternate, dan pengaduan itu diterjemahkan, disalin, lalu dikirim sampai ke Batavia dan Belanda.

Dari surat-surat itu muncul sosok Hendrik Polij, seorang kapitein yang selama tiga tahun mengejar kursi hukum, dan akhirnya mendapatkannya dengan cara yang tidak terduga.

Kapitein yang ingin menjadi hukum

Negeri Baru adalah negeri orang Kristen di dekat Benteng Amsterdam. Bersama Manado, Aris, Klabat bawah, dan Bantik, ia termasuk negeri-negeri ‘bawah’ yang tinggal di sekitar benteng, berbeda dari negeri-negeri ‘atas’ di pegunungan.

Seperti negeri-negeri lain, ia dipimpin beberapa hukum, dibantu kapitein, luitenant, dan vaandrig. Pada pertengahan 1720-an, salah satu kapiteinnya bernama Hendrik Polij.

Namanya pertama kali menonjol pada awal 1726, ketika utusan VOC dari Ternate datang ke Manado untuk mengganti residen Adriaan van Leene. Di hadapan mereka, hukum Negeri Baru saat itu bernama Alexander Carinda (Karinda), sedang membela diri dari serangan hukum-hukum lain. Ia membawa tulisan Melayu berisi dua puluh satu butir jawaban, diperkuat sepuluh saksi.¹

Para utusan membacanya dengan teliti dan sampai pada kesimpulan yang tajam. Menurut mereka, hukum-hukum lain “met veele passien beset”, dikuasai nafsu, dan hendak menjatuhkan Carinda justru karena ia cakap dan “veel te slim”, terlalu pintar bagi mereka.

Dalang di balik semuanya tulis mereka, adalah Polij “wel ‘t grootste werktuijg van ‘t gantsche spel”, alat terbesar dalam seluruh permainan. Ia menghasut hukum-hukum lain karena ia sendiri ingin menjadi hukum menggantikan Carinda.²

Carinda lebih blak-blakan. Dalam tulisannya, Polij disebut “den logenaar”, si pembohong, yang menghasut hukum Jeremias Kessoo dan Andries Remoe.³

Para utusan sebenarnya ingin memulihkan Carinda, yang mereka nilai taat beragama dan baik kelakuannya. Tetapi residen baru, Jan Swigtman, meminta perkara itu dibiarkan saja. Ia khawatir begitu utusan pergi orang-orang itu akan “haar oude deunen weder opsingen”, menyanyikan lagu lama mereka lagi. Mereka akan bertengkar seperti semula, dan dialah yang harus menanggung kerepotannya. Para utusan setuju, dan sengketa itu dibiarkan menggantung.²

Pagi di loji, 2 Desember 1727

Swigtman ternyata punya rencana sendiri untuk Polij. Para hukum menulis bahwa residen itu “zeer toe hem Heer Pollij g’affectioneerd”, sangat menyayangi Polij, dan ingin mengangkatnya. Pada 18 September 1727 ia mengumpulkan para hukum dan bobato di loji Kompeni dan mengusulkan Polij menjadi hukum. Hukum Alexander Candasoele dari negeri Manado menolak dengan ancaman kalau Polij menjadi hukum, Manado dan Negeri Baru akan bertikai. Carinda, Kessoo, dan Remoe juga menolak, karena mereka tidak pernah memintanya. Hari itu usul Swigtman gagal.⁴

Beberapa bulan kemudian Swigtman mencoba jalan lain. Pada 29 November ia memerintahkan Carinda menyediakan orang untuk menebang balok kayu. Carinda menolak dengan sopan dengan alasan bahwa menebang balok bukan bagian kerja Negeri Baru, melainkan bagian orang Manado. Lagi pula ia harus berunding dulu dengan hukum-hukum lain.

Dua hari kemudian seorang serdadu memanggilnya menghadap baas Pieter, kepala tukang, yang menyampaikan perintah yang sama. Jawaban Carinda pun sama, ditambah satu kalimat “sinjeur kan selvs in ‘s Comp:s boek zien”, Tuan bisa melihat sendiri di buku Kompeni.⁴

Pada 2 Desember para hukum dipanggil ke loji. Begitu mereka naik, Polij turun dan menunggu di depan pintu jaga. Residen bertanya kepada Carinda apakah benar ia menolak perintah menebang balok. Carinda membenarkan.

Jawaban residen pendek saja “gaet gij maar heen, gij bent geen Hoeccum meer”, pergilah, kau bukan hukum lagi. Jeremias Kessoo dan Andries Remoe ditanya hal yang sama, menolak, dan diberhentikan juga. Terakhir Pedro Pankij, “een oude hoeccum”, seorang hukum tua, menjawab bahwa kerja itu “ons werk niet”, bukan kerja kami. Ia pun disuruh pulang.⁴

Setelah keempatnya pergi, Swigtman memanggil Polij dari depan pintu jaga. “Nu maek ik jouw Hoeccum van de nieuwe negorij, maar gij moet balken kappen”, sekarang kuangkat kau menjadi hukum Negeri Baru, tetapi kau harus menebang balok. Polij menjawab, “‘t is wel, mijn heer.” Ia tidak ikut turun bersama yang lain, tetapi tinggal dan makan bersama residen di loji.⁴

Sesampainya di rumah, Polij memanggil vaandrig Christiaen Lomban. Karena ia sudah makan semeja dengan residen, katanya, mulai sekarang ia harus dipanggil hukum mayor dan tidak ada orang di negeri ini yang naik seperti dirinya.

Malam itu juga ia menyuruh luitenant Jacob Woenoer berkeliling negeri mengumumkan bahwa Hendrik Polij kini hukum mayor Negeri Baru, dan bahwa keempat hukum lama sudah diberhentikan.⁴

Balok, babi, dan kerja warisan leluhur

Pengaduan keempat hukum bukan sekadar keluhan orang yang kehilangan jabatan. Mereka membangun argumen yang rapi, dan argumen itu bertumpu pada satu hal yakni kebiasaan yang sudah berlaku sejak zaman leluhur.

Pertama, soal cara mengangkat hukum. Menurut mereka, hukum atau bobato baru diangkat atas permintaan para hukum kepada residen, lalu residen melaporkannya dulu ke Ternate untuk disetujui. Namun Swigtman melompati semua itu: “hij set ons vier Hoeccums zoo maar af”, begitu saja ia memecat kami berempat.⁵

Kedua, soal pembagian kerja. Inilah kalimat terpenting dalam pengaduan mereka. Sejak zaman leluhur tulis mereka, belum pernah ada kepala pos atau sersan di Manado yang membebankan kerja satu negeri kepada negeri lain, “want wij alle die op manado zijn hebben elk negorij ons eijgen werk voor d’E: Comp:e te doen, zoo als d’E: Comp: gecontracteerd met ijder negorij, en het werk verdeeld heeft onder onse voorouders”. Setiap negeri punya kerjanya sendiri untuk Kompeni, sesuai kontrak dengan tiap negeri, yang pembagiannya dibuat bersama leluhur mereka. Kerja itu mereka sebut “aangebooren”, bawaan sejak lahir, dan “g’erft van d’E: Comp:e”, warisan dari Kompeni.⁵

Pembagian itu memang tercatat. Instruksi Ternate tahun 1697 untuk komandan Manado mendaftar kewajiban setiap negeri berdasarkan kontrak 1679. Negeri Manado wajib menyiapkan kayu untuk benteng dan loji.

Negeri (Kristen) Baru wajib membuat dan memelihara sekolah, memperbaiki atap, dan memperbaiki pagar bila roboh diterpa angin.⁶ Jadi para hukum tidak mengada-ada. Yang melanggar aturan adalah residennya.

Mereka juga menunjukkan itikad baik. Ketika loji Kompeni terbakar pada masa residen Van Leene, mereka dengan sukarela menebang tujuh belas balok untuk membantu orang Manado. Swigtman sendiri pernah meminta enam balok lagi, dan itu pun mereka berikan.⁵ Yang mereka tolak bukan kerjanya, melainkan dijadikannya bantuan sukarela itu sebagai kewajiban.

Ketiga, soal hukum adat. Seorang warga Negeri Baru bernama Hendrik Rarakoetan tidak ikut mengerjakan bagian kerja negerinya. Para hukum menghukumnya menurut kebiasaan setempat, yaitu dengan menikam babi-babinya.

mengadu kepada residen. Swigtman marah, menyuruh Rarakoetan bekerja bersama orang Manado saja dan memerintahkan para hukum membayar sepuluh schelling sebagai ganti babinya. Setelah Polij naik, Rarakoetan malah diangkat menjadi mirinyu (marinyo), pembantu Polij.⁵

Residen dipecat, Polij akhirnya menjadi hukum

Ternate membaca pengaduan itu dan menemukan hal yang memalukan. Beberapa bulan sebelum Desember 1727, Ternate justru telah menskors Kapitein Polij atas pengaduan Swigtman sendiri, karena kelakuannya yang dinilai buruk, dengan perintah tegas agar ia tidak dipulihkan sebelum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Kini residen yang sama mengangkatnya menjadi hukum lewat dua resolusi, 2 dan 13 Desember 1727 dan memberhentikan empat hukum yang sah.⁷

Bagi Ternate, ini tanda bahwa Swigtman meremehkan perintah atasannya pada saat yang tidak tepat. “Wij thans een tijt beleeven”, tulis mereka, ketika raja-raja dan kepala-kepala setempat “eer diende te koesteren en aen te locken”, lebih perlu dirangkul daripada didorong membangkang.

Pada 28 April 1728 dewan VOC di Ternate dengan suara bulat memberhentikan Swigtman karena “irreguliere directie”, kepemimpinan yang kacau dan mengirim ondercoopman Thomas Heijmans untuk menggantikannya.⁷

Polij sendiri juga sempat bersuara dalam berkas itu. Dalam sebuah kesaksian ia menceritakan perjalanan perahu di perairan Lambango dan Lanpangij, ketika seorang bernama Reaal memukul mirinyu Hendrik Bentuc dengan senjata sampai Bentuc terjun ke laut karena takut.

Polij menurut ceritanya sendiri, menyelamatkan Bentuc dengan perahu kecil. Di Danebanko, orang-orang di perahu Kompeni memohon agar ia ikut bersama mereka, karena mereka takut dibawa ke Manado dan Polij menurutinya “uijt commisseratie”, karena kasihan.⁸ Dalam kisahnya sendiri, Polij adalah penolong.

Akhir kisahnya justru tidak terduga. Lewat resolusi 22 November 1728, atas usul residen baru Thomas Heijmans, Ternate mengangkat “den gesuspendeerde Capitain Hendrik Polij”, kapitein yang sedang diskors, menjadi hukum. Ia menggantikan Andries Remoe, yang telah wafat.⁹ Remoe adalah salah satu hukum yang dulu dihasutnya pada 1726 dan salah satu dari empat hukum yang ikut menulis pengaduan terhadap pengangkatannya. Kursi yang direbut dengan cara yang salah pada Desember 1727 akhirnya didapatnya dengan cara yang sah setahun kemudian. Bertahun-tahun sesudahnya, namanya masih muncul sebagai “manados hoccum Hendrik Polij”.¹⁰

Dari Polij ke Polii

Nama Polij tidak hanya muncul pada abad ke-18. Pada 16 Desember 1693, para bobato negeri-negeri atas menulis sebuah surat Melayu dari negeri Tomon kepada Gubernur Ternate.

Di antara para penanda tangannya, bersama Paat, Soepit, dan Lonto, tercantum seorang bernama Polij.¹¹ Jadi nama ini sudah tercatat dalam dokumen VOC sejak akhir abad ke-17, lebih dari tiga puluh tahun sebelum Hendrik Polij merebut kursi hukum di Negeri Baru. Apakah kedua orang itu sekerabat, sumber-sumber ini tidak mengatakannya.

Di Minahasa sekarang, nama ini dikenal sebagai marga Polii, salah satu marga besar yang banyak dijumpai di daerah Minahasa. Perbedaan ejaannya mudah dijelaskan.

Dalam tulisan Belanda kuno, akhiran “-ij” dipakai untuk bunyi vokal “i” panjang. Para juru tulis Kompeni menerapkannya pada banyak nama setempat yang berakhir dengan bunyi “i”: negeri Tombariri ditulis “Tambaririj”, Tolitoli ditulis “Tontolij”, dan Kayeli ditulis “Caijelij”.¹² Nama Polij dibaca dengan cara yang sama, yaitu Polii.

Seiring pembakuan ejaan bahasa Indonesia dan pembaruan administrasi kependudukan pada abad ke-19 dan ke-20, ejaan “-ij” untuk nama-nama keluarga Minahasa ditinggalkan, dan penulisan nama ini disesuaikan menjadi Polii, seperti yang dikenal sekarang. Kapan tepatnya perubahan itu terjadi pada marga ini belum ditelusuri dalam artikel ini.

Pada akhirnya, kisah Hendrik Polii dan para hukum Negeri Baru memperlihatkan bahwa orang Minahasa pada masa itu bukan sekadar rakyat yang menerima perintah Kompeni tanpa suara. Mereka mengenal batas kewenangan, mengingat kesepakatan leluhur, mempertahankan pembagian kerja antarnegeri, dan berani membawa keberatan mereka hingga ke hadapan penguasa Ternate.

Di balik nama-nama yang dicatat dengan ejaan asing dalam arsip VOC, tersimpan kehidupan masyarakat yang memiliki tata aturan, ingatan, dan kehendaknya sendiri dan itu jauh sebelum sejarah mereka lebih banyak ditulis melalui sudut pandang penguasa kolonial.

Catatan

Semua sumber arsip berasal dari Nationaal Archief, Den Haag, arsip Verenigde Oost-Indische Compagnie, nomor akses 1.04.02 (selanjutnya NL-HaNA 1.04.02).

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Melawan Pemerintah, Mempertahankan Merah Putih: Kawilarang Menolak Pergantian Lambang Republik

    Melawan Pemerintah, Mempertahankan Merah Putih: Kawilarang Menolak Pergantian Lambang Republik

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Dalam pertemuan yang membicarakan rencana Republik Persatuan Indonesia atau RPI pada 1959, Alex Kawilarang mendukung penolakan J.F. Warouw terhadap penggantian Merah Putih dan ditinggalkannya Pancasila. Barbara Sillars Harvey mencatat peristiwa itu dalam Permesta: Half a Rebellion. Menurut kesaksian A.C.J. Mantiri yang digunakan Harvey, Kawilarang mengingatkan bahwa rekan-rekan mereka telah gugur mempertahankan bendera tersebut dan bahwa […]

  • Kisah Tuanku Imam Bonjol yang Berakhir di Tanah Minahasa

    Kisah Tuanku Imam Bonjol yang Berakhir di Tanah Minahasa

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Tuanku Imam Bonjol (Muhammad Shahab, ±1772–1864) dikenal luas sebagai pemimpin utama Perang Padri di Sumatra Barat. Namun, bab terakhir hidupnya tidak berakhir di tanah Minangkabau, melainkan jauh di timur Nusantara: Tanah Malesung atau Minahasa, Sulawesi Utara. Di sanalah, dalam status sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Belanda, Imam Bonjol menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat dan dimakamkan […]

  • Perjanjian Minahasa - VOC 1679 (Ilustrasi)

    Jejak Bawontehu dan Bantik dalam Pusaran Verbond 1679

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Sejarah Minahasa tidak pernah berdiri di atas satu garis lurus. Ia dibentuk oleh perjumpaan antara kekuatan lokal dan kekuatan asing, antara pesisir dan pedalaman, antara aliansi dan dominasi. Salah satu titik penting dalam lintasan itu adalah Verbond 10 Januari 1679. Perjanjian yang diprakarsai Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge di Benteng Amsterdam, Manado, ini sering dikenang sebagai […]

  • Dongue, ratu kerajaan Kaidipang (ilustrasi)

    Ketika Ratu Kaidipang Menulis kepada Spanyol

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Pada 26 Juli 1606, Juan de Esquivel maestre de campo Spanyol yang baru saja merebut Ternate menulis surat kepada lima penguasa di lengan utara Sulawesi. Ia menawarkan hal yang sama kepada semuanya, mereka tidak perlu lagi membayar upeti kepada Ternate yang menurutnya telah menguasai benteng itu selama tiga puluh satu tahun lamanya secara lalim. Sebagai […]

  • Gunung Klabat

    Gunung Klabat, Pesona Alam Tertinggi di Sulawesi Utara

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Eksplorasi Gunung Klabat: Ikon Pendakian Tertinggi di Sulawesi Utara   Gunung Klabat berdiri megah di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, dengan ketinggian mencapai 1.995 meter di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan puncak tertinggi di Sulawesi Utara dan telah menjadi destinasi favorit bagi para pendaki, fotografer alam, dan pencinta petualangan. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara […]

  • Ilustrasi

    Jejak Daniel Rotinsulu: Putra Tonsea di Medan Perang Jawa

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Di tengah berkecamuknya Perang Jawa (1825–1830), pemerintah kolonial Hindia Belanda menghadapi krisis besar. Perlawanan yang dipimpin Pangeran Diponegoro menguras kas negara, memakan ribuan korban, dan memaksa Batavia mencari bala bantuan hingga ke wilayah-wilayah terluar Nusantara. Dari Minahasa, lahirlah sebuah kontingen yang kemudian dikenang dalam sejarah sebagai Pasukan Tulungan. Di antara para pemimpinnya, nama Kapitein Daniel […]

expand_less