Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Profil » Jejak Daniel Rotinsulu: Putra Tonsea di Medan Perang Jawa

Jejak Daniel Rotinsulu: Putra Tonsea di Medan Perang Jawa

  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • visibility 97
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah berkecamuknya Perang Jawa (1825–1830), pemerintah kolonial Hindia Belanda menghadapi krisis besar.

Perlawanan yang dipimpin Pangeran Diponegoro menguras kas negara, memakan ribuan korban, dan memaksa Batavia mencari bala bantuan hingga ke wilayah-wilayah terluar Nusantara.

Dari Minahasa, lahirlah sebuah kontingen yang kemudian dikenang dalam sejarah sebagai Pasukan Tulungan. Di antara para pemimpinnya, nama Kapitein Daniel Rotinsulu dari Tonsea menjadi bagian dari jejak panjang keterlibatan masyarakat Minahasa dalam konflik terbesar di Jawa pada abad ke-19.

Perang Jawa merupakan salah satu peperangan paling mahal yang pernah dihadapi Kerajaan Belanda di Asia. Ketika pertempuran terus meluas dan kekuatan pasukan kolonial mulai terkuras, Residen Manado D.E.W. Pietermaat diminta menghimpun bantuan dari para kepala walak di Minahasa.

Permintaan itu disambut dengan pengerahan ribuan prajurit bantuan (Hulptroepen) yang dalam tradisi lisan Minahasa dikenal sebagai Pasukan Tulungan. Kontingen tersebut dipimpin oleh Majoor Hermanus Willem Dotulong, Kepala Walak Sonder, yang dipercaya memimpin ekspedisi menuju Pulau Jawa.¹

Dalam struktur komando Pasukan Tulungan, Dotulong tidak bekerja sendiri. Ia didampingi sejumlah kapten yang memimpin pasukan dari berbagai wilayah Minahasa.

Salah satunya ialah Daniel Rotinsulu dari Kema, pemimpin dari wilayah Tonsea yang diangkat sebagai Kapitein. Rotinsulu bertanggung jawab memimpin serdadu asal Tonsea yang bergabung dalam ekspedisi militer ke Jawa pada penghujung dekade 1820-an.²

Kehadiran Daniel Rotinsulu mencerminkan kuatnya tradisi kepemimpinan militer di Minahasa.

Dalam masyarakat Minahasa, para pemimpin perang dikenal dengan sebutan teterusan, yakni tokoh yang dipercaya memimpin pasukan dalam peperangan dan memiliki kemampuan mengatur strategi serta menjaga disiplin prajurit.

Tradisi ini telah berkembang jauh sebelum kedatangan kolonial dan kemudian dimanfaatkan pemerintah Hindia Belanda ketika membutuhkan pasukan yang tangguh dan terlatih.³

Perjalanan menuju Jawa bukanlah tugas ringan. Para prajurit Minahasa harus menempuh pelayaran panjang sebelum memasuki medan perang yang sama sekali berbeda dengan kampung halaman mereka.

Sekitar tahun 1829, kontingen Pasukan Tulungan mulai terlibat dalam berbagai operasi militer di bawah komando Jenderal Hendrik Merkus de Kock.

Bersama para perwira lain seperti Kapitein Benyamin Thomas Sigar dari Langowan dan Kapitein Polingkalim dari Tondano, Daniel Rotinsulu memimpin pasukan yang dikenal memiliki disiplin tinggi.

Kehadiran mereka memperkuat operasi pengejaran terhadap laskar-laskar Diponegoro di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Walaupun keberhasilan Belanda dalam mengakhiri perang merupakan hasil dari banyak faktor militer dan politik, termasuk strategi benteng (Benteng Stelsel) serta negosiasi yang berujung pada penangkapan Diponegoro di Magelang pada 28 Maret 1830, kontribusi Pasukan Tulungan menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat kekuatan kolonial pada fase akhir perang.⁴

Sepulang dari Perang Jawa, pengaruh para pemimpin Minahasa semakin diperhitungkan dalam struktur pemerintahan kolonial. Daniel Rotinsulu menjadi kepala walak Tonsea sejak tahun 1840 sampai 1854 dan bergelar Majoor.

Pemerintah Hindia Belanda mulai memperkuat sistem administrasi di Minahasa dengan mengintegrasikan para kepala walak ke dalam birokrasi kolonial.

Namun, struktur tradisional tetap dipertahankan. Kedudukan walak sebagai satuan politik dan pemerintahan tidak disamakan dengan ukung, yang memiliki fungsi administratif berbeda dalam organisasi masyarakat Minahasa.⁵

Kedudukan Daniel Rotinsulu sebagai Kapitein sekaligus pemimpin masyarakat Tonsea memperlihatkan bagaimana kepemimpinan lokal mampu beradaptasi dengan perubahan politik kolonial tanpa sepenuhnya kehilangan akar tradisinya.

Kiprahnya dalam Pasukan Tulungan bukan sekadar catatan mengenai keterlibatan Minahasa dalam Perang Jawa, melainkan juga menjadi bagian dari transformasi elite Minahasa pada abad ke-19, ketika kepemimpinan adat mulai bersinggungan dengan sistem militer dan administrasi kolonial.

Hingga kini, nama Daniel Rotinsulu mungkin tidak sepopuler beberapa tokoh Minahasa lainnya. Namun, jejak kepemimpinannya dalam Pasukan Tulungan menunjukkan bahwa sejarah Minahasa tidak hanya ditulis melalui pembangunan daerah atau misi penginjilan, melainkan juga melalui peran para pemimpin lokal yang pernah mengarungi lautan dan bertempur jauh dari tanah kelahiran mereka dalam salah satu perang terbesar di Nusantara.

 

Catatan Kaki

 

  1. Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (Manado: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara), mengenai pembentukan Hulptroepen (Pasukan Tulungan) dan kepemimpinan Hermanus Willem Dotulong.
  2. Mieke Schouten, Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society: Minahasa, 1667–1942 (Leiden: KITLV Press, 1998), pembahasan mengenai elite Minahasa dan keterlibatan para kepala distrik dalam struktur militer kolonial.
  3. Nicolaas Graafland, De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand (Rotterdam: H. Nijgh, 1869), mengenai struktur kepemimpinan tradisional Minahasa dan istilah teterusan.
  4. Petrik Matanasi, “Jasa Dotulong & Pasukan Tulungan untuk Belanda Selama Perang Jawa,” Tirto.id (2019); lihat pula Peter Carey, The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 (Leiden: KITLV Press, 2007), mengenai fase akhir Perang Jawa dan penangkapan Diponegoro.
  5. E.C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1928), mengenai struktur pemerintahan walak dan ukung di Minahasa.
  6. Staat der Nederlandsche Zee- en Landmagt serta arsip Koninklijk Besluit mengenai tata cara penganugerahan Militaire Willems-Orde di Kerajaan Belanda.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Sejarah Manado Tua dan Penghuni Awal Daratan Manado: Jejak Lahirnya Kota Manado

    Sejarah Manado Tua dan Penghuni Awal Daratan Manado: Jejak Lahirnya Kota Manado

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • visibility 414
    • 0Komentar

    Suatu ketika, entah berapa abad lalu orang-orang yang baru menetap di pesisir Teluk Manado memperhatikan sesuatu yang hanyut di sungai yaitu sekam padi. Sekam itu terbawa arus dari pegunungan. Dari situlah, tulis Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge pada 1679, mereka menyimpulkan dua hal bahwa di gunung ada manusia dan manusia itu menanam padi.[^1] Naskah tulisan tangannya […]

  • Frans Pieter Parengkuan: Raja Siau yang Dicintai Rakyat di Tengah Gejolak Zaman

    Frans Pieter Parengkuan: Raja Siau yang Dicintai Rakyat di Tengah Gejolak Zaman

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2025
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Pada awal pemerintahannya, Raja Frans Pieter Parengkuan kerap dipersepsikan sebagai figur yang “ditempatkan” oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk meredam dinamika politik di Kerajaan Siau, di tengah menguatnya kesadaran nasional dan pergerakan rakyat pada dekade 1930-an. Namun, seiring waktu, dedikasi dan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat justru mengubah citra tersebut. Parengkuan tumbuh menjadi sosok […]

  • Diplomasi “Walak” Abad ke-17: Kecerdasan Politik Leluhur Minahasa di Panggung Internasional

    Diplomasi “Walak” Abad ke-17: Kecerdasan Politik Leluhur Minahasa di Panggung Internasional

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Sejarah populer kerap menempatkan 10 Januari 1679 sebagai tonggak diplomasi Minahasa melalui perjanjian dengan Belanda (VOC). Namun, jejak kecerdasan politik leluhur Minahasa sesungguhnya telah terpatri jauh sebelumnya. Arsip Spanyol abad ke-17 mengungkap bahwa masyarakat pesisir Manado dan para pemimpin Walak, federasi suku Minahasa sudah memainkan strategi geopolitik tingkat tinggi dengan kekuatan global lain: Kekaisaran Spanyol. […]

  • Sri Sultan HB V merupakan raja Jawa termuda saat dinobatkan. Pada awal pemerintahannya beliau diwakilkan oleh Pangeran Diponegoro (Museum Ullen Sentalu)

    Pengasingan Keraton Yogyakarta: Dari Intrik Takhta hingga Pusara Sunyi di Mahakeret

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Pengasingan politik pada masa Hindia Belanda bukan sekadar pemindahan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah strategi kekuasaan: memutus ingatan, melemahkan pengaruh, dan mengisolasi kharisma. Namun, tidak semua berhasil dilenyapkan. Di ujung utara Sulawesi, di Kota Manado yang kini tumbuh sebagai pusat urban, tersimpan kisah panjang tentang bangsawan Keraton Yogyakarta yang terlempar jauh […]

  • Waruga di Kembuan (fb Olke)

    Kembuan: Mata Air, Perang Tondano, dan Lahirnya Permukiman Baru

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Di kawasan utara Kota Tondano, terdapat sebuah wilayah tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan permukiman Minahasa: Kembuan. Kini dikenal sebagai desa administratif di Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Kembuan sesungguhnya merekam lapisan sejarah yang jauh lebih tua dibanding batas-batas pemerintahan modern yang melekat padanya hari ini. Sejarah Kembuan tidak hanya berkaitan dengan lahirnya sebuah desa, […]

  • Malaria di Minahasa 1926: Nyamuk, Rumah, Kolam Ikan dan Pohon Sagu

    Malaria di Minahasa 1926: Nyamuk, Rumah, Kolam Ikan dan Pohon Sagu

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • visibility 71
    • 0Komentar

    H. F. Tillema dan perhatiannya terhadap kesehatan di Hindia Belanda. Hendrik Freerk Tillema lahir di Echten, Friesland, pada 5 Juli 1870 dan meninggal di Bloemendaal pada 26 November 1952. Ia adalah seorang apoteker yang pada 1892 berangkat ke Hindia Belanda dan kemudian bekerja di Samarangsche-Apotheek di Semarang, yang pada 1899 menjadi miliknya. Tillema memperoleh kekayaan […]

expand_less