Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Kedatangan Gubernur Jenderal A.J. Duymaer van Twist: Dari Manado ke Tondano, 12–19 September 1855

Kedatangan Gubernur Jenderal A.J. Duymaer van Twist: Dari Manado ke Tondano, 12–19 September 1855

  • calendar_month 38 menit yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 12 September 1855, kapal uap Ambon tiba di Manado membawa Gubernur Jenderal A.J. Duymaer van Twist beserta rombongannya. Pieter Bleeker, yang mengikuti perjalanan tersebut, mencatat kedatangan itu dalam Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, terbitan 1856. Sebelum mencapai tempat berlabuh, rombongan melihat Manado Tua, perbukitan pesisir, dan persiapan penyambutan di kota. Dari laut, menurut Bleeker, sebagian besar rumah Manado tersembunyi di antara pepohonan.

Laporan pemerintah Verslag van het beheer en den staat der koloniën over 1855 juga mencatat perjalanan tersebut. Dalam bagian mengenai Pemerintahan Kepulauan Maluku, laporan itu menyebut keberangkatan gubernur jenderal menuju Maluku pada 1 September setelah memperoleh izin raja. Menado dan Tondano termasuk tempat pertemuannya dengan pejabat setempat. Laporan resmi ini mencatat kunjungan ke kedua tempat tersebut, sedangkan tanggal kedatangan dan urutan persinggahan harian dalam perjalanan berikut bersumber pada catatan Bleeker.

Ketika Ambon memasuki tempat berlabuh, syahbandar datang menawarkan bantuan. Kapal Vesuvius dan beberapa korakora turut menyambut. Residen Jansen, Asisten Residen C. Bosscher, dan komandan militer Steenbergen kemudian naik ke kapal untuk menemui gubernur jenderal. Setelah kapal berlabuh, Vesuvius melepaskan 21 tembakan penghormatan. Korakora membunyikan meriam kecil, gong, dan tifa. Bleeker menyebut bunyi-bunyian tersebut sangat riuh.

Penduduk yang tidak terlibat dalam upacara berkumpul di pantai untuk melihat para tamu. Di kepala pelabuhan yang dihiasi bendera dan lengkung penghormatan, gubernur jenderal diterima Gubernur Maluku C.F. Goldmann dan Sekretaris Karesidenan Manado C.L. Valentini. Jalan menuju rumah residen juga dihiasi gerbang, bendera, dan hiasan upacara. Garnisun, barisan schutterij, kelompok penduduk Tionghoa, dan kabasaran ditempatkan sepanjang jalan yang dilalui rombongan.

Perjalanan menuju rumah residen dilakukan dengan kereta yang bergerak perlahan. Di sana berkumpul pejabat, perwira, kepala-kepala Minahasa, dan para zendeling untuk diperkenalkan. Dalam jawaban atas sambutan gubernur Maluku, Duymaer van Twist menyatakan maksud kunjungannya untuk memberi manfaat kepada penduduk. Menurut catatan Bleeker, ia sekaligus mengingatkan agar orang tidak menaruh harapan terlalu besar, sebab kekuasaan gubernur jenderal tidak tanpa batas.

Di depan rumah residen, kabasaran menampilkan tarian dan gerakan pertempuran tiruan. Bleeker menggambarkan mereka membawa perisai, pedang, atau tombak. Rumah residen sendiri berupa bangunan kayu bertiang yang tidak cukup menampung seluruh pengiring gubernur jenderal. Karena itu, sebagian rombongan ditempatkan di rumah-rumah sekitar yang telah dikosongkan untuk keperluan tersebut. Bleeker kemudian menggunakan sebagian hari pertamanya untuk berjalan mengamati Manado dan menambah koleksi benda alamnya.

Pada malam kedatangan, diselenggarakan resepsi di rumah residen dan penerangan meriah di sebagian besar kota. Bleeker mencatat penggunaan belahan kulit pepaya sebagai pengganti wadah kaca yang jumlahnya tidak mencukupi. Keesokan harinya, 13 September, gubernur jenderal memeriksa garnisun, schutterij, barak, benteng, tempat perawatan orang sakit, kantor residen, serta gudang kopi dan gudang lainnya. Pemeriksaan itu berlangsung sebelum rombongan memulai perjalanan ke pedalaman.

Pada 14 September, gubernur jenderal mengunjungi tempat perawatan penderita kusta di Temoempah, di sisi utara Teluk Manado. Rombongan berangkat melalui laut dan kembali ke kota dengan kendaraan. Mereka juga melihat pengolahan serat koffo di dekat negeri Bantik. Menurut Bleeker, istri gubernur jenderal mengikuti kunjungan tersebut dan kemudian turut hadir dalam sebagian besar perjalanan serta kunjungan gereja dan sekolah.

Dalam perjalanan kembali melalui Bantik, rombongan melewati jalan yang dihiasi lengkung penghormatan. Barisan schutterij Bantik ditempatkan di kedua sisi jalan. Setelah kembali ke Manado, gubernur jenderal mengunjungi gereja dan sekolah. Sore hari digunakan untuk berjalan dan berkendara mengelilingi kota. Malam sebelum keberangkatan, rumah residen kembali menjadi tempat jamuan makan dan penerimaan perpisahan yang dihadiri banyak orang Eropa.

Pagi-pagi pada 15 September, rombongan berangkat menuju pedalaman dengan menunggang kuda. Gubernur jenderal, istrinya, para pengiring, dan pelayan mengikuti perjalanan tersebut. Beberapa kepala setempat turut bergabung. Mereka meninggalkan Manado menuju Tomohon diiringi bunyi meriam. Tidak lama setelah melewati negeri Baroe, kuda-kuda mengangkat debu tebal dari jalan. Bleeker menulis bahwa debu itu kadang menghalangi pandangan dan menyulitkan pernapasan.

Di Lotta, kepala negeri, kabasaran, dan anak-anak sekolah telah berbaris di sepanjang jalan. Setelah rombongan lewat, mereka mengikuti sampai ke bangunan tempat gubernur jenderal turun. Anak-anak menyanyikan lagu penyambutan bagi pasangan gubernur jenderal dengan iringan suling. Sesudah anak-anak menuju sekolah, kabasaran mengambil tempat untuk memperagakan gerakan mereka. Bleeker mencatat bahwa sambutan serupa berulang di negeri-negeri berikutnya, meskipun lagu, pakaian, senjata, dan gerakannya berbeda.

Penyambutan oleh anak sekolah dan kabasaran juga disebut dalam resensi Aanteekeningen betreffende eene reis door de Molukken di Vaderlandsche Letteroefeningen tahun 1856. Resensi itu menyatakan bahwa gubernur jenderal disambut kedua kelompok tersebut ketika mengunjungi negeri-negeri Minahasa. Keterangan ini disampaikan peresensi berdasarkan buku yang dibahasnya, sehingga tidak digunakan untuk menetapkan tanggal penyambutan di setiap negeri.

Gereja dan sekolah Lotta kemudian dikunjungi. Murid-murid memperlihatkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan menyanyi. Ketika rombongan berangkat lagi, kabasaran telah berpindah ke ujung negeri untuk mengantar keberangkatan. Tembakan penghormatan terdengar saat kedatangan maupun keberangkatan. Menurut Bleeker, tembakan semacam itu juga dijumpai di negeri-negeri lain, dengan menggunakan meriam-meriam kecil tua yang menjadi perlengkapan setempat.

Selepas Lotta, jalan semakin menanjak di lereng Empoeng. Dari salah satu tempat perhentian, rombongan melihat dataran Manado, teluk, dan pulau-pulau di sebelah barat laut. Mereka kemudian melanjutkan pendakian sebelum turun menuju dataran tinggi Tomohon. Setelah melewati Tinoor, Kinilow, dan Kakaskasen, rombongan tiba di Tomohon menjelang tengah hari. Rumah zendeling dan kepala setempat telah dipersiapkan sebaik mungkin untuk menerima gubernur jenderal beserta pengiringnya.

Pada pagi 16 September, perjalanan dilanjutkan ke Sonder. Rombongan melewati Saronsong, kemudian menyimpang dari jalan utama untuk mengunjungi Danau Linow. Mereka turun melalui jalan yang lebih curam menuju danau. Bleeker mencatat tumbuhan di tepi danau dan uap yang keluar dari celah tanah. Dengan perahu-perahu kecil, rombongan menyeberang untuk melihat tempat keluarnya uap belerang yang lebih besar, lalu kembali melalui jalan yang sama.

Kunjungan ke Danau Linow juga muncul dalam resensi yang sama. Peresensi menyalin bagian halaman 37 dari Aanteekeningen, yang menceritakan tersedianya perahu kecil untuk berkeliling danau serta kunjungan ke tepi seberang untuk melihat kawasan solfatara. Dalam petikan itu, penulis menggambarkan uap yang naik di sepanjang tepian dan tumbuhan yang menutupi dinding di sekeliling danau. Resensi tersebut tidak mencantumkan tanggal kunjungannya.

Setelah mencapai Lahendong, rombongan kembali meninggalkan jalan utama dan melewati kebun-kebun kopi di medan yang tidak rata. Mereka menuruni perbukitan menuju Sonder. Pada sore hari, perjalanan diteruskan ke air terjun Moenteh dekat Tintjep. Gubernur jenderal dan istrinya turun melalui jalan curam sampai ke dasar tempat jatuhnya air. Sebagian pengiring memilih melihat dari pendopo di bagian atas, tempat minuman dan penyegar telah disediakan.

Rombongan kembali ke Sonder ketika hari sudah malam. Negeri itu diterangi lampu, terutama lapangan di depan bangunan penginapan atau loge (loji). Bleeker mencatat pantulan cahaya pada air sawah di sekitarnya. Pada 17 September, mereka meninggalkan Sonder menuju Kakas melalui Sonder Toewa, Kawangkoan, Tompaso, dan Langowan. Perjalanan melewati dataran tinggi serta tempat-tempat dengan mata air panas, semburan lumpur, dan genangan belerang.

Rombongan hanya berhenti sebentar di Kawangkoan sebelum melanjutkan perjalanan ke Tompasso. Di antara Tompaso dan Langowan, mereka mengunjungi sebuah mata air panas di tengah kebun kopi. Menjelang pukul sebelas pagi, rombongan tiba di Langowan. Mereka turun di rumah negeri untuk menyaksikan kabasaran dan anak-anak sekolah berbaris serta memperagakan gerakan, kemudian menuju rumah zendeling Schwarz, tempat hidangan makan telah menunggu.

Pada hari yang sama, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kakas. Untuk jalan antara Langowan dan Kakas yang relatif rata, Jansen telah menyediakan kereta bagi gubernur jenderal dan istrinya. Di Kakas, bangunan loge (loji) dinilai Bleeker luas dan tertata, tetapi tetap terlalu kecil bagi seluruh rombongan. Dari serambi belakangnya mereka melihat Danau Tondano, meskipun kabut saat itu membatasi pandangan ke bagian utara danau.

Tanggal 18 September digunakan untuk mengunjungi kebun kopi Kakas dan melakukan perjalanan ke Passo. Untuk kembali ke Kakas, telah disiapkan sebuah orembaai. Bleeker menyebut dua belas pendayung menggerakkan perahu dengan iringan gong dan tifa. Pada 19 September, rombongan meninggalkan Kakas menggunakan orembaai, didahului dan diikuti beberapa perahu lain. Perahu-perahu pengiring dihiasi bendera dan panji dalam perjalanan melintasi danau.

Tujuan pertama adalah Remboken. Setelah penyambutan serta kunjungan gereja dan sekolah, perjalanan dilanjutkan ke Tondano. Di bagian sungai yang dangkal, lunas orembaai kadang menyentuh dasar sehingga perahu harus didorong orang. Tepian sungai dihiasi lengkung penghormatan. Sebagian penduduk Tondano datang dengan perahu dan musik untuk menyambut gubernur jenderal. Bleeker mencatat sambutan tersebut ketika rombongan memasuki aliran sungai dari danau.

Rombongan mendarat di Toelian, yang dihubungkan dengan Toelimambot oleh sebuah jembatan kayu besar. Di tengah ribuan penonton dan kabasaran yang berbaris sepanjang jalan, mereka menuju loge (loji) yang baru dibangun untuk tinggal beberapa hari. Bleeker menjelaskan bahwa Toelian dan Toelimambot bersama-sama disebut Tondano, walaupun secara administratif merupakan pusat dua distrik berbeda. Kedua negeri tersebut hanya dipisahkan oleh sungai yang dilalui rombongan. Di tempat inilah rombongan menetap setelah perjalanan dari Manado melalui pedalaman dan tepian Danau Tondano.

Referensi

Bleeker, Pieter. 1856. Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel: Gedaan in de maanden September en Oktober 1855 in het gevolg van den Gouverneur Generaal Mr. A.J. Duymaer van Twist. Eerste deel. Batavia: Lange & Co.

Verslag van het beheer en den staat der koloniën over 1855. Dokumen parlemen, masa sidang 1857–1858. Bagian C, III, “Gouvernement der Moluksche eilanden”.

1856. “Aanteekeningen betreffende eene Reis door de Molukken, van Zijne Excellentie den Gouverneur-Generaal Mr. A.J. Duymaer van Twist, in de maanden September en October 1855.” Vaderlandsche Letteroefeningen.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Sang “Raja Kecil” dari Sonder: Sisi Lain Groot-Majoor Dotulong yang Membuat Misionaris Pusing

    Sang “Raja Kecil” dari Sonder: Sisi Lain Groot-Majoor Dotulong yang Membuat Misionaris Pusing

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Dalam lembar sejarah Minahasa, nama Hermanus Willem Dotulong (1795–1888) kerap ditulis dengan tinta emas sebagai perwira Minahasa yang mencapai pangkat Groot-Majoor dalam dinas kolonial Belanda. Ia dikenal sebagai komandan Pasukan Tulungan dan salah satu figur kunci dalam pengamanan yang berujung pada operasi penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang pada akhir Perang Jawa (1825–1830). Namun, di balik seragam […]

  • Dari Lembeh ke Lombagin: Awal Mula Konflik Minahasa dan Lahirnya Bangsa Bolaang

    Dari Lembeh ke Lombagin: Awal Mula Konflik Minahasa dan Lahirnya Bangsa Bolaang

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Sejarah Minahasa tidak hanya ditandai oleh kisah asal-usul para leluhur seperti Lumimuut dan Toar. Dalam naskah tua abad ke-19 yang disusun oleh J.G.F. Riedel, Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu… Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa (1862), tercatat pula periode yang penuh gejolak: masa peperangan antara masyarakat Minahasa dan kelompok yang kemudian dikenal sebagai bangsa Bolaang. Riedel menempatkan […]

  • Robert Wolter Mongisidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

    Robert Wolter Mongisidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

    • calendar_month Minggu, 2 Apr 2023
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Di tanah Makassar yang pernah bergolak oleh revolusi fisik, nama Robert Wolter Mongisidi berdiri sebagai salah satu simbol paling teguh dari perlawanan rakyat Indonesia terhadap kembalinya kolonialisme. Pemuda kelahiran Malalayang, Manado, 14 Februari 1925 itu, akrab disapa Bote, menjalani hidup singkat, namun meninggalkan jejak panjang tentang keberanian, kemanusiaan, dan kesetiaan pada keyakinan. Ia gugur pada […]

  • Kaicil. Hi. Djami Bin Syamsuddin Jou/Jogugu Moloku Loloda 1945 – 1977

    Kerajaan Loloda dan Bolaang Mongondow: Mengungkap Jejak Sejarah yang Terlupakan

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Di kawasan timur Nusantara, sejarah sering kali bergerak mengikuti arah angin dan arus laut. Jalur pelayaran yang menghubungkan Halmahera, Kepulauan Sangihe, pesisir Minahasa, hingga Bolaang Mongondow bukan sekadar lintasan perdagangan rempah, melainkan juga ruang perjumpaan antarelite politik, pertukaran budaya, dan pembentukan silsilah kerajaan. Di antara simpul-simpul sejarah itu, Kerajaan Loloda di Halmahera Utara menyimpan kisah […]

  • Gambar Kediaman Misionaris Schwarz di Kolongan-Atas (1896)

    Gambar Kediaman Misionaris Schwarz di Kolongan-Atas (1896)

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Het Woonhuis van den Zendeling Schwarz te Kolongan-Atas. (Kediaman misionaris Schwarz di Kolongan-Atas.) Sumber: Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap jilid ke-13 tahun 1896. Dipulihkan oleh. Roderick C. Wahr

  • Sejarah Awal Nama Desa Remboken

    Sejarah Awal Nama Desa Remboken

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Dari Kawatuan hingga Remboken: Jejak Legenda dan Tradisi   Remboken, sebuah wilayah di sekitar Danau Tondano, memiliki sejarah panjang yang berakar dari kondisi alam dan budaya masyarakatnya. Nama Remboken tidaklah muncul begitu saja; ia berasal dari evolusi nama dan cerita yang kaya akan nilai sejarah.   Kawatuan: Awal Mula Nama Remboken   Dahulu kala, wilayah […]

expand_less