Babi di Negeriku: Pembelaan Residen VOC dalam Skandal Manado 1719
- calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
- visibility 99
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jacob van Gijn meninggalkan Loji Manado pada 1719 setelah masa jabatannya berakhir.(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada Juli 1719 dua utusan Kompeni VOC tiba di Manado yaitu Kapten Casper Voges dan onderkoopman (pedagang muda) Frans Reaal.
Mereka diutus Gubernur Ternate Jacob Bottendorp dan Dewan Politiknya, dengan wewenang menerima pernyataan resmi di depan saksi.[1] Tugas utama mereka memulangkan orang-orang yang menyingkir dari Tongkimbut dan negeri lain. Perkara itu dibahas dalam rapat besar 20 Juli dan diceritakan dalam artikel terpisah.[2]
Tetapi ada urusan kedua yang tak kalah panas. Para kepala negeri telah mengirim surat ke Ternate untuk mengadukan residen mereka sendiri yaitu Jacob van Gijn.
Laporan komisi itu diserahkan di Kasteel Oranje Ternate, pada 11 September 1719. Setahun kemudian laporan itu disalin ke dalam kiriman Ternate untuk Batavia bertarikh 31 Agustus 1720. Dalam bentuk itulah jurnal tersimpan di Nationaal Archief, Den Haag.[3]
Yang membuat jurnal ini langka adalah isinya. Para kepala negeri dan seorang residen Kompeni saling menuduh di depan saksi, dan kedua pihak dicatat dengan kata-kata mereka sendiri lewat juru bahasa.
Meja residen
“Saturdag den 22 July 1719. Vergadering van den Algemeenen Landraad” (Sabtu, 22 Juli 1719. Rapat Dewan Negeri Umum), begitu jurnal membuka hari itu.[4]
Di satu sisi duduk Voges dan Reaal, onderkoopman Adriaan van Leene, dan sersan Jan van Hontenburg. Di seberangnya duduk “de drie hoeckums majoors Soepit, Paat en Lonto” (ketiga hukum mayor) bersama penduduk negeri atas, bawah, dan pedalaman. Kontrak 1699 menyebut rapat semacam ini “algemeene Landvergadering”.[5]
Keluhan pertama menyangkut Van Gijn yang sudah bertugas di Manado sekurang-kurangnya sejak November 1717.[6]
Ketiga hukum mayor bercerita bahwa beberapa waktu sebelumnya, ketika duduk semeja dengan residen mereka dimaki sebagai babi. Orang negeri yang turun menyerahkan padi dimaki sebagai anjing, hanya karena meminta padinya segera diterima supaya bisa cepat pulang.[4]
Hari itu juga keluhan tersebut dituangkan dalam pernyataan resmi. Van Gijn kata para hukum mayor, memaki mereka “voor varkens” (sebagai babi) dan para perwira negeri atas yang mengantar beras “voor honden” (sebagai anjing).
Mereka tidak bisa menyebut satu nama pengadu, sebab keluhan itu datang dari semua hukum dan bobato negeri atas. Meski begitu mereka tetap berpegang pada surat yang sudah dikirim ke Ternate. Di bawahnya Soepit, Paat, dan Lonto membubuhkan “merken” (tanda) mereka.[7]
Dua hari kemudian pernyataan itu dibacakan ulang kepada Soepit dan Lonto “de novo duijdelijk en distinct” (sekali lagi dengan jelas dan terang) oleh juru bahasa Pieter Tobias. Keduanya tetap pada isinya, tanpa menambah atau mengurangi. Paat sudah tidak ada di loji. Sore 22 Juli ia pulang untuk menguburkan putrinya.[8]
Andai aku burung
Senin 24 Juli, giliran negeri bawah bersaksi. Sebelum mereka bicara, para komisaris meminta ketiga hukum mayor keluar sebentar dari ruangan. Alasannya, para saksi bisa saja bersaksi “meerder als in der waarheijd bestaat” (lebih dari yang sebenarnya) karena arahan para Landregenten.
Di antara orang Eropa, kata para komisaris, pihak yang berperkara memang lazim dipisahkan. Para hukum mayor tidak keberatan. Selama saksi didengar, mereka keluar mengisap “een pijpie” (sebatang pipa).[9]
Yang masuk adalah kepala lima negeri bawah yaitu dari Aris, Bantik, Klabat, dan “de twee Christen negerijen” (dua negeri Kristen), yaitu Manado dan Negeri Baru.
Hukum mayor Monieka dari Klabat, hukum mayor Roemonder dari Aris, hukum Samola dari Bantik, hukum Pedro Panki dari Negeri Baru, hukum Ombieng dari Aris, dan Kapten Jacob Carinda bersaksi bahwa Van Gijn memaki mereka “voor honden en beesten” (sebagai anjing dan binatang), hanya karena mereka tidak cukup cepat datang ketika ia hendak mengadakan rapat.[10]
Kesaksian berikutnya lebih berat. Letnan Monigier dari Bantik dipukul Van Gijn karena duduk beristirahat sebentar di bangku. Vaandrager Barent Lolo dari Manado, Moemok dari Aris, Tonte dari Bantik, dan Loementoek dari Klabat, bersama marinyo Wennoer dari Negeri Baru, dimasukkan ke “troncq” (pasungan) di benteng tanpa tahu kesalahan mereka apa.
Mereka duduk di sana delapan sampai sembilan jam. Penduduk yang sekadar berteduh di bawah loji pun dimaki. Karena itu kata para hukum, mereka kadang pulang tanpa menghadiri rapat, dan karena itu pula mereka menulis surat ke Ternate.[10]
Hukum Monieka dari Klabat menutup kesaksiannya dengan kalimat yang sulit dilupakan “indien een vogel was soude wegh vliegen, om dat zo bangh voor den Van Gijn is” (andai ia seekor burung, ia akan terbang pergi, sebab begitu takutnya kepada Van Gijn). Tiga belas orang membubuhkan tanda di bawah pernyataan itu, termasuk hukum Alexander Canda Soelie, dan esoknya 25 Juli, pernyataan itu dikukuhkan lagi.[10]
Pembelaan Van Gijn
Van Gijn menjawab dalam sebuah “Debatt” tertulis, butir demi butir.[11]
Soal makian babi, Van Gijn menceritakan kejadian ketika ketiga hukum mayor makan bersamanya di meja residen di loji. Soepit mengambil piring demi piring, menyeruput isinya, lalu memuntahkan kembali ke piring apa yang tidak enak baginya, sampai enam atau tujuh piring.
Ditanya cara makan apa itu, Soepit menjawab: “wij alphoereesen onse mannier is zoodanigh” (kami orang Alifuru, beginilah cara kami).
Van Gijn membalas bahwa itu bukan kebiasaan manusia, “maar dat de varkens in mijn land zodanig deden” (melainkan babi di negeriku yang berbuat begitu). Ketiga hukum mayor lalu berdiri dan berkata “Schild gij ons voor varkens, zoo en zullen wij aan uwe tafel niet meer komen” (Kau maki kami babi, maka kami tidak akan datang lagi ke mejamu). Lalu mereka meninggalkan loji.[11]
Soal anjing, ceritanya lebih panjang. Van Gijn menyinggung perselisihan lama antara empat negeri atas, yaitu Tonsea, Tondano, Remboken, dan Kakas, dengan negeri-negeri bawah.
Menurutnya ketiga hukum mayor memainkan “hunne rol niet weijnigh” (peran yang tidak kecil) di dalamnya, “om de vier beneden negerijen te verdelgen” (untuk membinasakan negeri-negeri bawah). Naskah menulis “vier” (empat), padahal di bagian lain negeri bawah selalu berjumlah lima.
Ia mengingatkan bahwa Kompeni mengangkat mereka sebagai Landregenten untuk mendamaikan rakyat “als vaders over hunne onderdanen” (sebagai bapak atas rakyatnya), sesuai kontrak yang telah mereka sumpah. Jawaban mereka adalah mereka tidak berpegang pada kontrak, “maar hun eijgen humeur (agtervolgens hunne wetten)” (melainkan pada kehendak sendiri, menurut hukum mereka).[11]
Menurut Van Gijn, para kepala negeri justru membalikkan kata “anjing” kepada Kompeni “d’E Comp. is als de honden, die wel baffen, maar niet bijten en durven” (Kompeni seperti anjing yang menggonggong tetapi tak berani menggigit).
Artinya, ancaman Kompeni tak perlu ditakuti. Sebagai bukti mereka menunjuk perang dengan Tondano pada masa Mons.r Van der Burgh. Waktu itu Kompeni mendirikan sebuah “loos” (barak) untuk tiga ratus orang di depan loji dan membuat rakit untuk membawa mortir, kemungkinan untuk menembaki Tondano yang berdiri di atas danau. Tetapi ketika tiba saatnya, Kompeni malah mundur.
Van Gijn membalas bahwa mereka “nogh slimmer als honden” (lebih buruk daripada anjing), sebab anjing setidaknya datang bila dipanggil tuannya.[11]
Jurnal komisi mencatat jawaban lisan Van Gijn pada 22 Juli dengan nada sedikit berbeda. Di sana ia tidak menyangkal ucapannya.
Ia mengakui berkata “so eeten de varkens in mijn land, want die spugen ook de koost in haar trogge wanneer die hun niet aan en staan” (begitulah babi di negeriku makan, sebab babi pun meludahkan makanan ke palungnya bila tak cocok).
Soal anjing, ia menyangkal memaki siapa pun dan justru menuduh para kepalalah yang menyamakan Kompeni dengan anjing. Versi jurnal tentang masa Van der Burgh juga lain. Di situ disebut tenda-tenda untuk sekitar tiga ratus orang yang akan datang dari Ternate, tetapi orang-orang itu tak pernah datang.[4]
Soal para pengantar beras, Van Gijn menulis bahwa kalau ia memang pernah memaki mereka, karena tak seorang pun dari negeri atas akan membawa sebutir beras lagi.
Tuduhan itu katanya, hanya “van hooren zeggen” (kata orang). Terhadap kesaksian negeri bawah, ia mengaku memukul kepala Monigier yang waktu itu masih sersan, tetapi dengan cerita lain.
Ia mengirim korporal Dirk van Meeckelen dan dua posthouder (pegawai rendahan Kompeni penjaga pos kecil), masing-masing membawa “een halve piek” (tombak pendek), untuk menjemput beberapa bobato ke benteng.
Monigier “stond op van de bank daar hij op geseten hadden” (bangkit dari bangku tempat ia duduk) dan merampas tombak itu dari tangan sang korporal. Karena korporal itu “een swak man” (orang yang lemah), Van Gijn bangkit sendiri lalu memukul kepala Monigier, dan merebut kembali tombaknya.[11]
Kedua cerita sepakat soal bangku dan pukulan. Bedanya ada pada sebab, menurut negeri bawah karena duduk, menurut Van Gijn karena merampas senjata.
Soal rapat, Van Gijn mengeluh sering harus menunggu dari jam sembilan sampai jam sebelas. Ketika ia mengancam denda satu rijksdaalder untuk fakir miskin jemaat bagi yang terlambat, para kepala menjawab: “gij opperhoofd wij en kennen u niet instaat te zijn om onse eenige boetens op te leggen” (engkau opperhoofd, kami tidak mengakui hakmu mendenda kami). Soal pasungan, di halaman-halaman pembelaannya yang sudah dibaca, Van Gijn diam.[11]
Sumpah damai tanpa hukum mayor
Van Gijn tidak hanya membela diri. Ia juga menyerahkan sebuah pernyataan bertanggal 25 Juli 1719 yang memperlihatkan wajah lain para penuduhnya.[12]
Pernyataan itu bercerita tentang upaya berdamai antara dua kelompok negeri yang sudah lama berselisih. Di satu pihak ada lima negeri bawah di pesisir yaitu Aris, Bantik, Klabat, Manado, dan Negeri Baru. Di pihak lain ada empat negeri atas yaitu Tonsea, Tondano, Rambokkam (Remboken), dan Kakas.
Perdamaian itu akan dikukuhkan dengan “den eed van vreede” (sumpah damai) yang diucapkan dua kali, sekali di wilayah masing-masing pihak. Beberapa bulan sebelumnya, para bobato negeri bawah sudah naik ke Tonsea untuk bersumpah di sana. Sesudah itu giliran para kepala negeri atas yang turun ke loji di Manado.
Di sinilah urusan tata krama dimulai. Tamu terhormat biasanya dijemput dan diantar oleh utusan tuan rumah. Ketiga hukum mayor yang berdiri di pihak negeri atas, meminta tiap negeri bawah mengirim dua bobato untuk naik menjemput para kepala negeri atas dan mengantar mereka turun ke loji. Negeri bawah menolak.
Ketika bobato mereka sendiri pergi ke Tonsea kata mereka, tak seorang pun dari negeri atas datang menjemput. Mereka tidak disambut dengan hormat, jadi mereka pun tidak merasa wajib menyambut.
Para hukum mayor lalu menurunkan permintaannya. Cukup satu bobato dari tiap negeri, tetapi kali ini disertai ancaman bahwa opperhoofd akan memaksa mereka “met de grootste force” (dengan kekerasan sebesar-besarnya). Negeri bawah tetap menolak.
Permintaan diturunkan sekali lagi menjadi satu orang saja untuk kelima negeri, “al was het ook maar een jongen” (sekalipun hanya seorang anak), asal ada yang menjemput. Jawaban negeri bawah tegas yaitu “geen jongen ja geen hond” (tidak seorang anak, bahkan tidak seekor anjing pun).[12]
Negeri atas lalu mengabarkan akan turun dalam sepuluh hari, dengan syarat ketiga hukum mayor ikut menyaksikan sumpah itu. Negeri bawah menolak syarat ini juga. Kalau hukum mayor ikut, kata mereka, mereka “in der eeuwigheijt geen eed doen” (selamanya tidak akan bersumpah), sebab hukum mayor akan mengacaukan perdamaian lagi seperti dulu.
Para hukum mayor menjawab bahwa tak jadi soal mereka hadir atau tidak, asal kedua pihak berdamai. Tetapi ketika para kepala negeri atas akhirnya tiba di loji, negeri bawah menyatakan akan bersumpah di negeri mereka sendiri saja.[12]
Pada 25 Juli juru bahasa Pieter Tobias membacakan kisah ini kepada semua perwira negeri bawah dan bertanya apakah isinya benar. Mereka serempak membenarkannya kecuali satu hal, mereka tidak pernah meminta Van Gijn membuat surat yang membebaskan mereka dari kewajiban memberi hadiah kepada negeri atas. Van Gijn berkata juru bahasalah yang menyampaikan permintaan itu kepadanya. Tobias membantah pernah menerjemahkannya.[12]
Kisah ini memperlihatkan bahwa ketiga hukum mayor bukan hanya korban makian residen. Mereka juga pihak dalam perselisihan lama antara negeri atas dan negeri bawah, dan negeri bawah tidak mempercayai mereka sebagai penengah. Sumpah damai yang hendak diucapkan itu sendiri sejalan dengan sumpah malua yang dicatat Padtbrugge pada 1679 di artikel terpisah.[13]
Barang yang tak mau dipikul
Masa jabatan Van Gijn berakhir dalam kunjungan ini. Pada 21 Juli Adriaan van Leene diperkenalkan kepada orang Eropa dan pribumi sebagai kepala sementara “in steden van ‘t afgegane subalterne hooft Jacob van Gijn” (menggantikan Jacob van Gijn yang sudah lengser).[14]
Yang tersisa adalah urusan hartanya. Pada 26 Juli Van Gijn menuntut Soepit dan Lonto mengembalikan budak perempuan bernama Sompo, yang telah dibebaskan para hukum meski ia sudah menunjukkan bukti kepemilikan atau setidaknya barang seharga Sompo.
Kedua hukum mayor menyanggupi, lalu minta pulang karena padi mereka terbengkalai. Hukum mayor Monieka, hukum Roemonder, dan hukum Samola menjamin Van Gijn akan dipuaskan. Hukum Banginetan datang membawa sebundel kain salempuri, tetapi Van Gijn menolak menerimanya sebelum semua barangnya terkumpul, sebab barang-barang itu menurutnya “onder meest alle de Negerijen verdeelt” (tersebar di hampir semua negeri). Para komisaris membiarkan perkara itu “op zijn beloop” (berjalan sendiri).[15]
Awal Agustus juru bahasa dikirim ke lima negeri bawah untuk memanggil orang memikul barang bekas opperhoofd Van Gijn ke kapal. Jawaban mereka menjadi semacam penutup kisah ini dengan kalimat “dat zulx niet wilde doen, maar de gecomm.n haar goederen heel gaarne” (mereka tidak mau melakukannya, tetapi barang para komisaris dengan senang hati akan mereka lakukan).[16]
Pada petang 12 Agustus para komisaris naik ke brigantin Achilles. Kapal berlayar menjelang tengah malam 13 Agustus dan tiba di Ternate pada Rabu, 30 Agustus 1719.[17]
Satu catatan tambahan. Pada 25 Juli, sehari sesudah bersaksi melawan Van Gijn, hukum Samola dari Bantik diusulkan naik menjadi hukum mayor, dan vaandrager Thonte yang pernah dipasung, diusulkan menjadi kapten. Usul itu datang dari Soepit dan Lonto. Arsip tidak mengaitkan kedua peristiwa itu, tetapi urutannya patut diingat.
Konten Khusus Anggota Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum terdaftar sebagai anggota, silakan hubungi admin untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran. Terima kasih atas kunjungan dan partisipasi Anda dalam mendukung komunitas kami.
- Penulis: Moderator Malesung
