Hessel Rooker Dituduh Menjatuhkan Majoor Tondano Touliang
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 62
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pemandangan kantor-kantor distrik Touliang dan Toulimambot di Tondano. Keterangan gambar: Kantor-kantor distrik Touliang dan Toulimambot. Tondano. Bagian dari: Foto-foto (47), yang dipersembahkan kepada Hessel Rooker dalam rangka yubileum 50 tahun jabatannya sebagai Pendeta Tondano dan sekitarnya di Minahasa (Sulawesi Utara) pada 31 Oktober, (album nomor 4). Utrechts Archief
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pelayanan penginjilan Hessel Rooker sebagai zendeling-leeraar kemudian hulpprediker di Tondano, tidak seluruh kehidupannya berlangsung dalam suasana tenang. Di balik hubungan eratnya dengan masyarakat Minahasa, muncul pula persoalan yang menyeret namanya ke dalam pergolakan politik lokal. Salah satu episode yang paling menarik terjadi ketika Majoor Tondano Touliang diberhentikan oleh Resident, lalu sebagian pendukungnya berusaha mencari seseorang yang dapat dijadikan sasaran untuk dipersalahkan. Nama yang kemudian mereka pilih adalah Hessel Rooker.
Menurut F. D. J. Moorrees dalam Leven en bedrijf van Hessel Rooker, peristiwa itu terjadi beberapa tahun setelah Rooker menyaksikan sebuah kejadian lain yang membuatnya kecewa terhadap kehidupan jemaat Tondano. Pada 1891, ketika penyakit menular melanda dan menimbulkan ketakutan besar, sebagian masyarakat kembali menggunakan praktik-praktik yang oleh Moorrees disebut sebagai sisa kepercayaan lama. Mereka menganggap penyakit tersebut disebabkan oleh roh jahat atau Satan. Di tengah kepanikan, mereka berteriak, menyalakan api, dan menggantung potongan lemak babi di pintu rumah sebagai upaya mengusir kekuatan jahat. Peristiwa itu berlangsung secara terbuka di Tondano, di tengah jemaat yang selama ini dikenal karena kesetiaannya.
Moorrees menilai kejadian tersebut menjadi pukulan bagi Rooker. Ia telah bekerja selama puluhan tahun di tengah masyarakat Tondano dan melihat banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa menurut pandangan Moorrees, unsur kepercayaan lama belum sepenuhnya hilang dari kehidupan sebagian masyarakat. Hanya beberapa tahun kemudian, muncul persoalan lain yang kembali memberikan bayangan gelap terhadap pelayanan Rooker. Kali ini masalahnya bukan mengenai kepercayaan lama, melainkan berkaitan dengan jabatan kepala distrik dan konflik di dalam masyarakat Tondano.
Persoalan bermula ketika Majoor van Tondano Touliang diberhentikan dari jabatannya oleh Resident. Pemberhentian tersebut menimbulkan gerakan dan perpecahan pendapat di sebagian wilayah Tondano. Ada orang yang mendukung Touliang dan ada pula yang berada di pihak yang berseberangan. Mereka yang mendukung kepala distrik tersebut kemudian berusaha mencari orang lain untuk dijadikan penyebab atau pihak yang dapat dipersalahkan atas pemberhentian Touliang. Dalam keadaan seperti itu, mereka menunjuk Rooker.
Tuduhan yang diarahkan kepada Rooker sangat serius. Ia dituduh telah menyebabkan Majoor Touliang kehilangan jabatannya karena permusuhan pribadi. Dengan kata lain, menurut tuduhan tersebut, Rooker dianggap memiliki pengaruh sedemikian besar sehingga mampu membuat seorang kepala distrik diberhentikan dari kedudukannya. Namun Moorrees segera memberikan penjelasan yang sangat penting: “De meeste menschen wisten wel beter” — sebagian besar masyarakat sebenarnya mengetahui keadaan yang sebenarnya. Artinya, tuduhan terhadap Rooker tidak diterima begitu saja oleh masyarakat luas.
Moorrees juga menegaskan bahwa Rooker tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan. Ia berada di luar persoalan tersebut dan menyatakan hal itu secara terbuka. Sikap ini sebenarnya sesuai dengan prinsip yang sebelumnya digambarkan Moorrees mengenai hubungan Rooker dengan pejabat pemerintah. Ketika sistem pemerintahan di Tondano berubah dan seorang Controleur Belanda ditempatkan di sana, Rooker memahami bahwa hubungan antara pejabat pemerintah dan zendeling dapat saling membantu, tetapi masing-masing harus tetap berada dalam batas tugasnya. Controleur mengurus pemerintahan sipil, sedangkan zendeling bergerak dalam bidang agama dan moral. Moorrees bahkan memberikan kesaksian bahwa Rooker selalu memegang batas tersebut dan karena itu memiliki hubungan yang sangat baik dengan para Controleur.
Karena Rooker tidak bersedia membantu mereka dalam persoalan Majoor Touliang, orang-orang yang tidak puas kemudian berusaha menekan dirinya. Menurut cerita Moorrees, mereka menyampaikan ancaman yang bernada keagamaan: jika Rooker tidak mau membantu Majoor tersebut, mereka akan menjadi Katolik – “Allemaal Roomsch! (Terj. Bhs. Indonesia: Semua (jadi) Katolik Roma“ atau Semua menjadi penganut Katolik Roma)” Ancaman itu menjadi semakin menarik karena pada waktu tersebut belum terdapat gereja Katolik dan pastor di Tondano. Pusat-pusat Katolik yang disebut Moorrees berada di tempat lain, seperti Menado, Tomohon, Ajer-Madidi dan Tatataran.
Ancaman tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan politik lokal telah bersinggungan dengan identitas keagamaan. Masyarakat Tondano yang telah lama berada dalam lingkungan Protestan menggunakan kemungkinan berpindah agama sebagai tekanan terhadap Rooker. Moorrees kemudian menjelaskan bahwa keberadaan pelayanan Katolik di Minahasa memang telah mulai dikenal. Pada 1874 seorang pastor Katolik pernah melakukan perjalanan untuk mengunjungi anggota militer Katolik (Roomsche militairen) yang tersebar. Beberapa tahun kemudian, dengan persetujuan pemerintah, seorang pastor Katolik menetap di Minahasa. Dengan demikian, masyarakat Kristen Minahasa mulai mengenal gereja Katolik, pastor, misa, gambar, salib, rosario dan altar—hal-hal yang sebelumnya tidak mereka peroleh melalui pengajaran Rooker.
Namun, ancaman “kami semua akan menjadi Katolik” ternyata tidak berubah menjadi perpindahan massal. Moorrees mencatat bahwa dari jemaat Tondano yang besar itu, hanya tujuh orang yang kemudian menjadi Katolik. Setelah itu, perpindahan tersebut untuk sementara berhenti. Jadi, meskipun ancaman tersebut tentu mempunyai arti penting bagi Rooker, tidak terjadi perpecahan besar-besaran antara masyarakat Tondano Protestan dan Katolik seperti yang mungkin dikhawatirkan pada saat ancaman itu disampaikan.
Bagi Rooker sendiri, perkembangan tersebut tetap memiliki arti yang besar. Moorrees menulis bahwa Rooker merasakan pentingnya munculnya pelayanan Katolik di tengah masyarakat yang selama puluhan tahun telah menjadi bagian dari lingkungan pelayanannya. Rooker melihat masa depan dengan kekhawatiran, tetapi ia tidak membuat ramalan mengenai apa yang akan terjadi. Ia tetap mempercayai keteguhan para sahabatnya serta semangat dan kemampuan para pembantunya. Pada akhirnya, menurut Moorrees, Rooker menyerahkan masa depan itu kepada kehendak Tuhan.
Kisah tuduhan terhadap Rooker karena itu memperlihatkan sisi lain dari kehidupannya di Tondano. Ia bukan hanya seorang pengkhotbah yang berkeliling dari satu jemaat ke jemaat lain, tetapi juga seorang tokoh yang memiliki kedudukan sosial cukup kuat sehingga namanya dapat ditarik ke dalam konflik politik lokal. Namun sumber yang digunakan di sini justru menekankan bahwa Rooker berusaha menjaga jarak dari urusan pemerintahan. Tuduhan bahwa ia menyebabkan pemberhentian Majoor Touliang digambarkan sebagai tuduhan dari kelompok yang kecewa, bukan sebagai tindakan Rooker yang terbukti.
Dengan demikian, episode ini penting dalam sejarah pelayanan Hessel Rooker karena memperlihatkan batas yang tidak selalu mudah dipertahankan antara agama, masyarakat dan kekuasaan lokal di Tondano. Rooker berusaha menempatkan dirinya dalam bidang keagamaan dan moral, sementara konflik mengenai seorang kepala distrik membuatnya terseret ke dalam persoalan yang sebenarnya berada di luar tugasnya. Justru karena ia menolak terlibat, sebagian orang menjadikannya sasaran tuduhan dan bahkan mengancam akan berpindah agama. Tetapi catatan Moorrees menunjukkan bahwa tuduhan tersebut tidak diterima oleh sebagian besar masyarakat dan tidak berakhir dengan perpindahan massal dari Protestan ke Katolik. Kisah itu menjadi salah satu episode paling menarik dalam perjalanan panjang Rooker di Tondano.
Referensi: F. D. J. Moorrees, Leven en bedrijf van Hessel Rooker, zendeling-leeraar, later hulpprediker te Tondano in de Minahassa (Nijmegen, 1918).
- Penulis: Engel Yong
