Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Sebelum Ada Residen Manado: Jejak Para Pejabat VOC di Tanah Minahasa

Sebelum Ada Residen Manado: Jejak Para Pejabat VOC di Tanah Minahasa

  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selama hampir tujuh dasawarsa, dari 1656 hingga 1724, pos Kompeni VOC di Manado mengalami pergantian pemimpin berkali-kali. Sedikitnya dua puluh orang pernah memegang atau menjalankan pemerintahan pos tersebut dan hampir separuhnya berasal dari kalangan militer berpangkat sersan.

Namun, sepanjang periode itu jabatan yang kemudian dikenal sebagai Residen Manado belum menjadi kedudukan tetap dengan struktur pemerintahan yang mapan.

Pada mulanya Manado hanyalah sebuah pos kecil yang berada di bawah kekuasaan Gubernur VOC di Ternate. Pemimpinnya tidak selalu memiliki pangkat atau gelar yang sama. Ada yang disebut sersan, kepala pos, komandan, opperhoofd, subaltern opperhoofd, hingga residen dan gezaghebber. Pergantian gelar tersebut mencerminkan perubahan sifat pemerintahan Kompeni di Manado, dari pos pertahanan sederhana menjadi pusat pengawasan politik dan perdagangan yang semakin penting.

Perjalanan jabatan itu juga tidak berlangsung mulus. Sejumlah pemimpin meninggal ketika masih bertugas, sebagian dipanggil ke Ternate untuk diperiksa, sementara yang lain diberhentikan setelah muncul pengaduan dari para kepala negeri setempat. Karena itu, sejarah para kepala pos ini bukan sekadar daftar nama pejabat, melainkan juga gambaran mengenai bagaimana Kompeni berusaha mempertahankan kekuasaannya di tengah hubungan yang kerap tegang dengan masyarakat pribumi.

Penting pula membedakan kepala pos dari para utusan yang dikirim Ternate untuk menjalankan tugas tertentu. Mereka dapat memimpin pemeriksaan, menyelesaikan perselisihan, atau mengawasi pergantian pejabat, tetapi kehadiran mereka di Manado tidak dengan sendirinya menjadikan mereka residen.

Masa barikade dan para sersan, 1656–1676

Kehadiran Kompeni di Manado pada 1656 bermula dari sebuah pos pertahanan sederhana. Pada November tahun itu, Gubernur Simon Cos mendirikan barikade di Amoura (Amurang) dengan dua meriam dan delapan orang Belanda di bawah seorang sersan sementara. Nama sersan tersebut belum diketahui (jika ditemukan, akan diupdate).

Pada tahun berikutnya, Kapten Paulus Andriesz muncul dalam catatan mengenai benteng di kawasan Sungai Monango Labo, Manado. Ia merupakan perwira sekaligus anggota dewan Ternate. Karena kedudukannya, kehadirannya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kegiatan militer dan pemerintahan sementara, bukan sebagai bukti bahwa ia memegang jabatan kepala pos secara tetap.

Pada Agustus 1658, garnisun Manado telah berkembang menjadi sekitar dua puluh orang di bawah seorang sersan. Beberapa tahun kemudian, susunan personelnya menunjukkan bahwa pos tersebut bukan semata-mata tempat penempatan serdadu. Di dalamnya terdapat tenaga medis yang merangkap kopral, seorang kopral, serdadu, penembak, guru sekolah, dan seorang mardijker yang bertugas sebagai juru bahasa.

Meskipun susunan personel itu diketahui, identitas sersan yang memimpin pos antara 1658 dan 1663 masih belum terungkap.

Jan Baptista dan Jochum Sipman

Nama kepala pos yang mulai dapat dikenali dengan lebih jelas adalah Sersan Jan Baptista. Ia sudah memegang Manado sekitar Mei 1664. Pada masa pemerintahannya, Kompeni mengklaim berhasil memulihkan ketertiban dan membawa kembali kelompok-kelompok yang sebelumnya memberontak ke pihaknya.

Ketika itu garnisun Manado masih relatif kecil. Kekuatan awalnya disebut hanya terdiri atas empat serdadu dan seorang sersan. Jumlah tersebut kemudian ditingkatkan menjadi enam belas orang karena ancaman dan persaingan dengan pihak Spanyol.

Baptista masih disebut sebagai pemimpin pos pada sekitar 1666. Namun, masa tugasnya berakhir akibat kematian. Ia wafat sebelum pertengahan 1668, meninggalkan persoalan administrasi dan harta yang kemudian harus diselesaikan oleh pihak Kompeni. Catatan keuangan atas namanya bahkan memperlihatkan adanya utang dalam jumlah besar.

Penggantinya adalah Jochum Sipman, tokoh yang tercatat memegang Manado paling lama di antara para pemimpin pos pada abad ke-17. Masa tugasnya berlangsung sekitar delapan tahun, dimulai dari kedudukan sersan sebelum ia memperoleh pangkat dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Seiring waktu, Sipman disebut sebagai vaandrig, kemudian luitenant sekaligus pemegang pemerintahan. Ia juga dikenal sebagai komandan Manado. Perubahan kedudukan tersebut menunjukkan bahwa jabatan kepala pos tidak selalu berhenti pada pangkat awal seseorang. Pengalaman dan kepercayaan Kompeni dapat membawa seorang perwira ke dalam tanggung jawab pemerintahan yang lebih luas.

Akan tetapi, peningkatan kedudukan tidak menjamin akhir karier yang baik.

Pada Oktober 1675, Fiskal Daniel Helmans datang ke Manado bersama seorang pendeta bernama Montanus. Kedatangan mereka berkaitan dengan pemeriksaan terhadap Sipman setelah sejumlah kepala negeri mengajukan pengaduan. Salah satu persoalan yang diperiksa menyangkut kegiatan perdagangan pribadi sang komandan.

Tidak lama setelah itu, Sipman meninggal dunia. Perkara yang ditinggalkannya berlanjut melalui tuntutan yang berkaitan dengan harta peninggalannya.

Selama pemeriksaan berlangsung, Helmans menunjuk Vaandrig Harmen Smit sebagai pengganti sementara dengan kedudukan substituut opperhoofd. Pada 20 Oktober 1675, barang-barang milik Kompeni diserahkan dari Sipman kepada Smit. Dengan demikian, pemerintahan pos tetap berjalan meskipun kepemimpinannya sedang berada dalam masa peralihan.

Helmans sendiri tidak lama kemudian meninggal dunia. Smit tetap memegang Manado hingga 1679, menutup periode ketika pos tersebut terutama dipimpin oleh kalangan militer.

Dari pos militer ke pusat perdagangan, 1679–1696

Tahun 1679 menandai perubahan penting dalam kepemimpinan Kompeni di Manado. Setelah perjanjian Padtbrugge pada tahun itu, jabatan kepala pos semakin banyak dipercayakan kepada pegawai perdagangan, bukan semata-mata kepada perwira militer.

Pada 22 Maret 1679, Abraham van Meijert, seorang boekhouder atau pemegang buku administrasi, dipilih sebagai opperhoofd Manado. Penunjukan ini berlangsung bersamaan dengan persiapan ekspedisi Kapten Cornelis Sweeris ke Sangihe.

Van Meijert terkadang disebut sebagai residen. Pada 1681, ia telah memperoleh kedudukan ondercoopman, suatu pangkat dalam jenjang pegawai perdagangan Kompeni. Surat terakhirnya yang diketahui berasal dari awal 1682. Sebelum Mei 1683, ia meninggal dunia ketika masih menjabat.

Kematian Van Meijert membuat jabatan kepala pos kembali kosong. Pada Mei 1683, Fiskal Andries Oloffsz. Loffsang datang ke Manado sebagai utusan Ternate. Ia kemudian mengangkat Anthonij van der Mast, seorang boekhouder, sebagai subaltern opperhoofd yang baru.

Van der Mast tidak lama memegang jabatan tersebut. Pada 1684, kedudukannya digantikan oleh Joost Gijsbertsz Anne, yang sebelumnya bekerja sebagai juru tulis tersumpah di Ternate. Anne menjalankan tugas sebagai boekhouder sekaligus subaltern opperhoofd.

Pada 1687, Mattheus Carelsz., seorang ondercoopman, mengambil alih kepemimpinan pos. Namun, masa tugasnya berakhir singkat. Ia meninggal dunia di Manado pada 25 November tahun yang sama.

Kekosongan jabatan itu kembali memperlihatkan pentingnya para sersan dalam menjaga kesinambungan pemerintahan. Harmen van Staden, bersama Sersan Kinling, mengambil alih tugas sementara. Van Staden bukan orang baru di Manado. Ia telah berada di sana sejak 1680, ketika masih berpangkat kopral dan bertugas di bawah Van Meijert.

Pada 1689, kepemimpinan beralih kepada Harmen Jansz. Steijnkuijler. Ia kemudian dikenal sebagai ondercoopman dan residen Manado. Selain menjalankan administrasi pos, ia juga melakukan perjalanan ke negeri-negeri di pedalaman dan mencatat kegiatannya dalam sebuah jurnal perjalanan pada 1691.

Namun, pada awal 1694, kedudukannya kembali terguncang.

Sekretaris Pieter Alsteijn dan Vaandrig David Haek datang dari Ternate sebagai utusan. Keduanya kemudian memberhentikan Steijnkuijler. Keputusan tersebut memicu keberatan dari sang residen, yang mengajukan protes resmi terhadap tindakan para utusan.

Persoalan itu tidak berhenti pada pergantian pejabat. Inventaris barang-barang Kompeni, harta milik Steijnkuijler, serta barang yang dibawa ke Ternate harus dicatat dan dipisahkan. Bahkan, muncul kecurigaan dari pihak Ternate bahwa surat para kepala negeri yang membela residen mungkin disusun oleh Steijnkuijler sendiri.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa hubungan antara kepala pos dan masyarakat setempat menjadi salah satu persoalan penting bagi pemerintahan Kompeni. Pengaduan dari para kepala negeri dapat memengaruhi kedudukan seorang pejabat, sementara pihak Kompeni sendiri berusaha memastikan bahwa laporan dan kesaksian yang diterimanya tidak dimanipulasi.

Setelah Steijnkuijler diberhentikan, David Haek mengambil alih pemerintahan pos untuk sementara. Ia mulai memegang barang-barang dan urusan Kompeni pada 1 Maret 1694, lalu menjalankan tugas hingga kedatangan penggantinya.

Pada Maret 1695, Stephanus Thierrij tiba di Manado sebagai residen yang telah ditunjuk. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pemegang buku garnisun di Ternate. Haek kemudian menyerahkan kepemimpinan dan komando kepadanya.

Thierrij tidak bertahan lama. Sekitar September 1696, ia telah kembali ke Ternate bersama keluarganya. Kepergiannya membuka jalan bagi kembalinya para sersan ke pucuk pemerintahan pos.

Kembalinya para sersan, 1696–1707

Pada akhir September 1696, Sersan Hendrik de Chiese ditunjuk untuk menggantikan Thierrij. Dalam sejumlah surat, ia disebut sebagai residen Manado, tetapi gelar yang lebih sering digunakan adalah sergeant commandant.

Karier De Chiese berlangsung dengan beberapa kali gangguan. Pada Agustus 1697, Gubernur Salomon le Sage memerintahkannya datang ke Ternate. Selama ia tidak berada di Manado, pemerintahan pos diserahkan kepada Kopral Jacob Jojeus sebagai komandan sementara.

Jojeus bukan orang yang sepenuhnya asing dengan urusan pemerintahan. Ia pernah bertugas selama bertahun-tahun sebagai residen di Tagulandang dan Kaidipang. Pengalaman tersebut menjadi alasan penunjukannya untuk menjaga agar pemerintahan di Manado tetap berjalan.

Ia diperkenalkan kepada para bobato dalam sebuah pertemuan besar pada akhir Agustus 1697, kemudian kepada orang-orang Eropa pada awal September.

De Chiese kembali menghadapi persoalan pada 1698 ketika dirinya diperiksa. Selama pemeriksaan berlangsung, Hans Hoffman dan Jan Dijkman diangkat sebagai residen sementara. Setelah urusan tersebut selesai, De Chiese kembali menjalankan tugasnya dan pada September 1699 sudah menulis dari loji Kompeni di Manado.

Ia masih tercatat memimpin benteng pada 1701 dan 1702. Surat terakhirnya yang diketahui bertanggal 31 Oktober 1703. Beberapa bulan kemudian, kabar kematiannya sampai kepada pihak Ternate. Pada Februari 1704, Kopral Hans Hofman melaporkan bahwa De Chiese telah meninggal dunia, bersama Kopral Aernoud van Conlaert dan penembak Paulus van Osselaer.

Untuk menggantikannya, Ternate memilih Sersan Daniel Jan Piron sebagai kepala pos. Serah terima barang-barang Kompeni dilakukan dengan melibatkan Vaandrager Caspar Voges dan boekhouder Leendert Limbeeck.

Pemeriksaan administrasi pada Agustus 1704 menemukan sejumlah kekurangan dalam catatan barang. Kain, beras, dan kacang-kacangan yang tersedia tidak sesuai dengan jumlah yang tercatat pada masa De Chiese. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan administrasi dan pertanggungjawaban barang menjadi bagian penting dalam setiap pergantian kepemimpinan.

Piron sendiri kemudian meminta berhenti. Masa dinasnya telah berlangsung lama, sementara kemampuan menulis dan menyusun laporan dinilai tidak memadai untuk memenuhi tuntutan jabatan. Permohonannya disetujui pada Desember 1705.

Penggantinya adalah Sersan Cornelis van Wercken, yang sebelumnya pernah memimpin di Bacan. Ia berangkat ke Manado pada Februari 1706. Salah satu alasan pemilihannya adalah penguasaannya terhadap bahasa Melayu, keterampilan yang sangat berguna bagi seorang pejabat yang harus berkomunikasi dengan para kepala negeri dan masyarakat setempat.

Pada pertengahan 1708, Van Wercken telah kembali ke Ternate dan memperoleh pangkat vaandrig. Masa tugasnya di Manado menandai berakhirnya periode panjang ketika pos tersebut berulang kali dipimpin oleh para sersan.

Para ondercoopman dan residen Manado, 1707–1724

Mulai sekitar 1707, kepemimpinan Manado kembali dipercayakan kepada pegawai perdagangan berpangkat ondercoopman. Gelar residen semakin lazim digunakan untuk menyebut pejabat yang menjalankan pemerintahan di pos tersebut.

Namun, perubahan dari perwira militer ke pegawai perdagangan tidak serta-merta menghasilkan pemerintahan yang lebih stabil. Para residen pada masa ini masih menghadapi persoalan disiplin, administrasi, perselisihan dengan kepala negeri, dan pengawasan dari Ternate.

Bartran Bichon

Bartran Bichon merupakan salah satu pejabat pertama dalam periode ini. Sebelum bertugas di Manado, ia bekerja sebagai winkelier dan dispencier, yaitu pegawai yang menangani toko serta perbekalan, termasuk persediaan beras di Ternate.

Pada Agustus 1707, ia telah disebut sebagai residen Manado. Ia menulis catatan harian pemerintahan dan mengirim laporan mengenai keadaan di wilayah tersebut. Pada Agustus 1708, ia menyampaikan beberapa surat tentang keributan yang melibatkan orang-orang Tondano.

Catatan itu menunjukkan bahwa tugas seorang residen tidak terbatas pada pengelolaan perdagangan dan loji. Ia juga harus berhadapan dengan persoalan keamanan serta hubungan politik dengan kelompok-kelompok pribumi.

Sekitar 1710, Bichon meninggalkan Manado dan kembali ke Ternate untuk menjabat sebagai coopman sekaligus fiskal. Perpindahan itu mengakhiri masa tugasnya di Manado dan membuka jalan bagi pengangkatan residen berikutnya.

Hendrik van der Burg

Pengganti Bichon adalah Hendrik van der Burg, yang dikenal sebagai ondercoopman, residen, dan gezaghebber Manado.

Pada September 1711, ia menandatangani surat berbahasa Melayu dari loji Kompeni yang dikenal sebagai Kotta Amsterdam. Surat tersebut memperlihatkan penggunaan bahasa Melayu dalam komunikasi pemerintahan, sekaligus menunjukkan bahwa loji itu menjadi pusat kegiatan administratif Kompeni.

Pada Mei 1712, Van der Burg melaporkan sebuah peristiwa kekerasan yang melibatkan guru sekolah Cornelis Ferdinandus di Bolaang-Itang.

Namun, masalah yang lebih serius muncul ketika ia tidak melaksanakan perintah untuk menyelidiki persoalan suksesi di Attingola. Ia juga dinilai tidak memelihara buku perdagangan dan buku gaji sebagaimana mestinya.

Akibatnya, Van der Burg dipanggil ke Ternate. Ia tiba pada Oktober 1714 dalam keadaan sangat lemah dan menjalani pemeriksaan pada bulan berikutnya. Pada 26 Januari 1715, ia meninggal dunia di Ternate.

Perjalanan akhir Van der Burg menunjukkan betapa rentannya kedudukan seorang residen. Jarak yang jauh dari pusat pemerintahan tidak membebaskannya dari kewajiban administrasi, dan kelalaian dalam melaksanakan perintah dapat berujung pada pemanggilan serta pemeriksaan resmi.

Jacob van Gijn

Jacob van Gijn, yang sebelumnya bekerja sebagai pemegang buku garnisun di Ternate, menggantikan Van der Burg. Pada awalnya, ia menjalankan tugas sebagai p.t. opperhoofd, yakni kepala pos sementara. Ia kemudian disebut sebagai residen Manado.

Salah satu tugas pentingnya adalah menangani persoalan suksesi di Attingola. Pada Juni 1715, ia melakukan perjalanan ke wilayah tersebut untuk menjalankan urusan itu.

Namun, masa jabatannya tidak berakhir dengan baik. Pada Juli 1719, Kapten Casper Voges dan ondercoopman Frans Reaal datang ke Manado sebagai anggota komisi pemeriksa. Dalam kunjungan tersebut, sejumlah pemimpin pribumi mengajukan pengaduan terhadap Van Gijn.

Di antara mereka terdapat para hukum mayor Soepit, Paat, dan Lonto, bersama kepala-kepala Bantik, Klabat, dan Negeri Baru. Pengaduan mereka menunjukkan bahwa para pemimpin setempat bukan sekadar pihak yang menerima keputusan Kompeni. Mereka juga dapat menyampaikan keberatan dan membawa persoalan pemerintahan ke hadapan pejabat yang lebih tinggi.

Bagi Kompeni, pengaduan semacam itu merupakan persoalan yang harus ditangani karena menyangkut hubungan dengan para kepala negeri. Bagi masyarakat setempat, kesempatan mengadukan residen menjadi salah satu jalan untuk menentang tindakan pejabat yang dianggap merugikan.

Adriaan van Leene

Setelah Van Gijn, jabatan kepala pos dipercayakan kepada Adriaan van Leene, seorang ondercoopman. Ia menerima barang-barang Kompeni di hadapan komisi yang datang untuk menangani persoalan pendahulunya.

Pada 1720, loji Kompeni di Manado terbakar. Para saksi menyatakan bahwa Van Leene kehilangan hampir seluruh barang miliknya dalam kebakaran tersebut, kecuali pakaian yang dikenakannya.

Akan tetapi, kebakaran itu bukan satu-satunya masalah yang membayangi pemerintahannya. Pihak Ternate kemudian menegurnya dengan keras karena dugaan keserakahan dan keuntungan yang diperoleh tanpa hak.

Van Leene masih tercatat sebagai residen Manado sekitar 1724. Namanya terkadang ditulis lebih lengkap sebagai Adriaan Fabricius van Leene.

Persoalannya berlanjut hingga 1725, ketika Ternate mengirim utusan untuk menggantikannya setelah para raja setempat mengeluhkan perilakunya. Pada 28 Januari 1726, ia menyerahkan jabatan kepada Jan Swigtman.

Ketika utusan tiba, Van Leene dilaporkan berada dalam kondisi sangat lemah. Ia meninggal dunia di Manado tidak lama kemudian, sementara jandanya meninggalkan wilayah tersebut setelahnya.

Dengan demikian, masa kepemimpinan Van Leene menutup satu rangkaian pemerintahan yang ditandai oleh pengawasan ketat, pengaduan masyarakat, dan persoalan pertanggungjawaban pejabat.

Pergantian setelah 1724

Walaupun batas utama penelusuran ini adalah 1724, perjalanan jabatan kepala pos Manado dapat diikuti beberapa tahun lebih jauh untuk melihat bagaimana sistem tersebut berkembang.

Setelah Van Leene, Jan Swigtman mengambil alih jabatan residen. Namun, ia kemudian juga dipanggil pulang dan digantikan oleh Thomas Heijmans, seorang ondercoopman yang sebelumnya menjadi anggota dewan Ternate.

Pergantian itu berkaitan dengan tindakan Swigtman terhadap para hukum di Negeri Kristen Baru. Pada akhir 1727, ia memberhentikan empat orang pemimpin dan mengangkat pengganti mereka. Salah seorang yang diberhentikan sebelumnya bahkan pernah diskors oleh Ternate setelah pengaduan Swigtman sendiri.

Keputusan Swigtman tersebut menimbulkan persoalan baru. Ternate akhirnya memutuskan untuk menggantinya dengan Heijmans. Dalam instruksi yang disiapkan pada September 1728, para utusan diperintahkan berlayar langsung ke Manado dengan membawa seorang sersan, seorang kopral, dan tiga belas serdadu. Mereka harus memastikan bahwa Swigtman menyerahkan komando kepada Heijmans.

Pergantian itu kembali memperlihatkan bahwa kepala pos Manado tidak memiliki kebebasan mutlak dalam menjalankan pemerintahan. Keputusan mereka dapat memengaruhi kedudukan para pemimpin lokal, tetapi tindakan tersebut tetap berada di bawah pengawasan Ternate.

Heijmans kemudian menjalankan tugas bersama komisi yang dipimpin Kapten Elias van Stade dan bertahan hingga 1732. Pada tahun itu, ia menyerahkan pos kepada Jan Nebbens, yang sebelumnya menjabat sebagai residen Gorontalo.

Rangkaian ini memperlihatkan bahwa hingga memasuki dekade 1730-an, pergantian pemimpin Manado masih menjadi bagian dari mekanisme pengawasan Kompeni terhadap wilayah yang dikuasainya.

Para utusan yang bukan kepala pos

Dalam catatan pemerintahan Kompeni, sejumlah nama kerap muncul bersama Manado meskipun mereka bukan kepala pos tetap. Mereka datang untuk menjalankan misi tertentu, mengawasi pemeriksaan, mendampingi pejabat, atau menangani persoalan yang dianggap penting oleh Ternate.

Cornelis Sweeris, misalnya, merupakan kapten yang memimpin ekspedisi ke Sangihe pada 1679. Namanya muncul dalam pembahasan pengangkatan Abraham van Meijert, tetapi ia bukan residen Manado. Sweeris kemudian terbunuh dalam ekspedisi tersebut.

Jodocus Lodewijk Cromhuijsen adalah seorang letnan dan wakil komandan militer Ternate yang hadir dalam kegiatan pemerintahan di Manado pada 1677. Willem Bastingh, yang juga disebut dalam catatan masa awal, merupakan pegawai perdagangan senior dan pernah menjalankan misi ke Makassar.

Andries Oloffsz. Loffsang datang sebagai fiskal sekaligus utusan Ternate pada 1683. Tugasnya mencakup penanganan kekosongan jabatan kepala pos dan pengangkatan Anthonij van der Mast.

Pieter Alsteijn, sekretaris Ternate, beberapa kali datang ke Manado untuk menjalankan tugas pemerintahan. Dalam kunjungannya pada 1694 dan 1695, ia terlibat dalam pergantian Steijnkuijler, Haek, dan Thierrij. David Haek sendiri awalnya dikenal sebagai utusan, sebelum kemudian menjalankan pemerintahan pos untuk sementara.

Pada awal 1690-an, Jacob Claasz., J. W. de la Fontaine, dan Coenraet van Otteren juga datang dalam misi khusus yang berkaitan dengan persoalan di Tondano dan urusan pemerintahan setempat.

Pada 1706, Van Gijn dan Van der Burg terlibat dalam perjalanan yang berkaitan dengan penempatan Van Wercken di Manado. Keduanya kemudian memang pernah menjabat sebagai residen, tetapi kehadiran mereka dalam misi tersebut harus dibedakan dari masa jabatan masing-masing.

Sementara itu, Caspar Voges dan Frans Reaal datang pada 1719 sebagai anggota komisi yang memeriksa persoalan Jacob van Gijn. Jurgen Pijper, yang muncul dalam catatan sekitar 1719–1720, adalah sersan garnisun di bawah pemerintahan Van Leene, bukan kepala pos.

Pembedaan ini penting. Tanpa memisahkan utusan, anggota garnisun, dan kepala pos, sejarah pemerintahan Manado mudah menghasilkan daftar pejabat yang keliru dan mencampuradukkan kunjungan sementara dengan jabatan tetap.

Pos kecil dengan kekuasaan yang terus diperebutkan

Dari barikade sederhana pada 1656 hingga pemerintahan para ondercoopman pada awal abad ke-18, pos Kompeni di Manado mengalami perubahan bertahap. Pada masa awal, kepemimpinannya bertumpu pada sersan dan perwira yang bertugas menjaga pertahanan serta mengawasi garnisun. Kemudian, ketika perdagangan dan urusan pemerintahan semakin kompleks, pegawai perdagangan mulai mengambil alih jabatan kepala pos.

Namun, perubahan pangkat dan gelar tidak serta-merta menghasilkan pemerintahan yang stabil. Kematian pejabat, kekosongan jabatan, pemeriksaan administrasi, serta pengaduan dari para kepala negeri terus mewarnai sejarah pos tersebut.

Nama-nama seperti Jan Baptista, Jochum Sipman, Harmen Smit, Abraham van Meijert, Steijnkuijler, De Chiese, Van Gijn, dan Van Leene menggambarkan pergantian kepemimpinan yang berulang. Sebagian meninggal ketika masih bertugas, sebagian diberhentikan atau dipanggil untuk diperiksa, dan sebagian lainnya hanya memegang jabatan sementara.

Yang tidak kalah penting adalah masyarakat pribumi bukan sekadar latar belakang dari pergantian para pejabat itu. Para hukum mayor, raja, dan kepala negeri memiliki kedudukan dalam hubungan politik yang membentuk jalannya pemerintahan. Pengaduan mereka dapat memicu pemeriksaan, memengaruhi keputusan Ternate, dan mengubah nasib seorang residen.

Karena itu sejarah kepala pos Kompeni di Manado bukan hanya sejarah tentang siapa yang memegang jabatan dan berapa lama ia berkuasa. Sejarah ini juga memperlihatkan bagaimana kekuasaan kolonial dibangun melalui garnisun, perdagangan, administrasi, dan hubungan yang terus dinegosiasikan dengan para pemimpin lokal.

Gelar residen mungkin semakin lazim digunakan pada awal abad ke-18, tetapi di balik gelar tersebut, Manado tetap menjadi tempat ketika kewenangan Kompeni harus dijalankan, dipertanggungjawabkan, dan sesekali dipersoalkan oleh mereka yang hidup di bawah pengaruhnya.

Sumber

Nationaal Archief, Den Haag, arsip Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Walian Minahasa (Ilustrasi)

    Ketika Alam Menjadi Kalender: Jejak Pengetahuan Waktu Orang Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Di tengah ketiadaan kalender tertulis seperti yang dikenal dalam tradisi Barat, masyarakat Minahasa pada masa pra-kolonial justru mengembangkan cara tersendiri dalam memahami waktu. Bukan angka dan tanggal yang menjadi acuan, melainkan alam langit, hutan, dan tanda-tanda ekologis yang menjadi penunjuk ritme kehidupan. Catatan para misionaris dan pejabat Hindia Belanda pada abad ke-19 menunjukkan bahwa masyarakat […]

  • Seorang Fransiskan dan seorang Jesuit berjalan bersama di tanah Manado (ilustrasi)

    Dua Ordo, Satu Ladang: Perebutan Manado antara Fransiskan dan Jesuit

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Pada suatu hari di benteng Ternate menjelang akhir 1639 atau awal 1640, seorang Fransiskan Spanyol bernama Juan Yranzo mengeluarkan sehelai dokumen kepausan dan menyodorkannya kepada Gubernur Maluku. Ia hendak membuktikan bahwa ia berhak berlayar ke Manado. Gubernur tulisnya kemudian, “tidak mau melihatnya, tidak pula mendengarnya.”[^1] Adegan itu bukan pertikaian teologi, bukan perebutan jiwa, melainkan sebuah […]

  • Ilustrasi orang Spanyol dan Minahasa mendirikan tiga salib dalam kegiatan misi Jesuit di area danau.

    Pembaptisan Manado 1563: Pulau, Daratan, dan Nama yang Berpindah

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Setiap kali tahun 1563 disebut dalam sejarah awal Manado, satu pertanyaan hampir selalu muncul: di mana Pater Diogo de Magalhães membaptis raja Manado dan penduduknya di Pulau Manado, atau di daratan tempat Kota Manado sekarang berkembang? Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun, jika dibawa kembali ke dokumen abad ke-16, persoalannya menjadi lebih rumit. Sebab, pada masa […]

  • Enam Duta Samudera: Misi Senyap Leluhur Manado Menjemput Eropa

    Enam Duta Samudera: Misi Senyap Leluhur Manado Menjemput Eropa

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Dalam lembaran sejarah kolonial yang sering didominasi kisah penaklukan dan peperangan, terdapat satu episode berbeda dari Tanah Minahasa. Alih-alih dimulai dengan invasi, kisah ini berawal dari undangan. Catatan manuskrip N. Graafland (1868) merekam sebuah perjalanan laut berani yang dilakukan oleh enam pelaut keturunan Babontehu (Manado Tua). Mereka bukan raja ataupun bangsawan, namun keberanian mereka mengubah […]

  • Foto Tropisch Nederland, 13-06-1938 (Engel yong)

    Kawangkoan: Dari Walak Tontemboan Menjadi Pusat Pertumbuhan Minahasa

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Di jantung dataran tinggi Minahasa, berdiri sebuah kawasan yang sejak berabad-abad lalu memainkan peran penting dalam denyut kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakatnya. Nama tempat itu adalah Kawangkoan, wilayah yang dalam perjalanan sejarah tidak hanya berkembang sebagai pemukiman agraris, tetapi juga menjelma menjadi pusat perdagangan, pendidikan, dan administrasi di Minahasa bagian selatan. Transformasi tersebut berlangsung […]

  • Henk Ngantung: Gubernur ke-5 Jakarta yang Dilupakan Sejarah

    Henk Ngantung: Gubernur ke-5 Jakarta yang Dilupakan Sejarah

    • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Jakarta pernah dipimpin oleh seorang pelukis. Bukan sekadar pejabat, bukan pula politisi biasa. Ia datang bukan dengan suara-suara kampanye, melainkan dengan sketsa, kanvas, dan tinta. Namanya Henk Ngantung, pria kelahiran Manado, yang lebih dulu dikenal karena goresan tangannya daripada pidatonya. Lahir dari Timur, Tumbuh dengan Cita-Cita   Hendrik Hermanus Joel Ngantung lahir pada 1 Maret […]

expand_less