Pembaptisan Manado 1563: Pulau, Daratan, dan Nama yang Berpindah
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 114
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi orang Spanyol dan Minahasa mendirikan tiga salib dalam kegiatan misi Jesuit di area danau.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setiap kali tahun 1563 disebut dalam sejarah awal Manado, satu pertanyaan hampir selalu muncul: di mana Pater Diogo de Magalhães membaptis raja Manado dan penduduknya di Pulau Manado, atau di daratan tempat Kota Manado sekarang berkembang?
Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun, jika dibawa kembali ke dokumen abad ke-16, persoalannya menjadi lebih rumit.
Sebab, pada masa itu belum ada dokumen yang menyebut “Wenang” sebagai nama permukiman di lokasi Kota Manado sekarang. Nama “Manado” pun pada sumber-sumber awal tidak selalu menunjuk sebuah kota. Ia muncul terutama sebagai nama sebuah kerajaan dan wilayah yang dicapai melalui jalur laut.
Karena itu, untuk menentukan lokasi pembaptisan 1563, yang perlu dilakukan bukan memilih antara dua kota yang sudah ada, melainkan mengikuti bagaimana sumber-sumber sezaman menggunakan nama “Manado”.
Dari rangkaian dokumen itu muncul satu kesimpulan yang cukup kuat: pembaptisan 1563 berlangsung di pusat Kerajaan Manado di sebuah pulau yang oleh sumber 1588 disebut secara eksplisit sebagai “ilha de Manado”, Pulau Manado.[1]
Surat Magalhães: Sumber Terdekat Dengan Peristiwa
Sumber utama mengenai peristiwa 1563 adalah surat Pater Diogo de Magalhães SJ yang ditulis di Manado pada 28 Juli 1563.
Surat tersebut sampai kepada kita sebagai lampiran surat Pater Pero Mascarenhas kepada para Jesuit di Lisbon yang ditulis dari Ternate pada 10 Februari 1564. Dalam edisi kritis Hubert Jacobs, surat itu tercatat sebagai dokumen D 125 dalam Documenta Malucensia Volume I.[2]
Perbedaan tanggal ini penting. Surat Magalhães berasal dari 28 Juli 1563, sedangkan tanggal 10 Februari 1564 adalah tanggal surat pengantar Mascarenhas. Keduanya bukan dua laporan berbeda mengenai peristiwa yang sama.[3]
Magalhães menceritakan bahwa ia bertemu raja Siau di Manado. Raja itu kemudian meminta dibaptis dan menerima nama Jerónimo, sedangkan nama aslinya adalah Pasuma.[4]
Pada bagian lain, Magalhães menyebut raja Bolaang sebagai anak raja Manado. Ia juga menceritakan kedatangan orang-orang Kaidipang ke pantai serta penolakan masyarakat pesisir Totole terhadap Islam.[5]
Manado, dalam surat itu, bahkan disebut sebagai “a principal cabeça de todo o Celebe”, salah satu keterangan yang menunjukkan kedudukan penting wilayah tersebut dalam jaringan politik dan pelayaran Sulawesi Utara.[6]
Namun, justru pada titik yang paling dicari sejarawan, surat Magalhães tidak memberikan jawaban langsung.
Surat itu ditutup dengan keterangan “Do Manado”—dari Manado.
Tidak ada kata “pulau”. Tidak ada uraian mengenai topografi. Tidak ada nama pelabuhan. Tidak ada pula penyebutan Wenang.
Karena itu, surat Magalhães sendiri tidak cukup untuk mengatakan bahwa pembaptisan berlangsung di Manado Tua. Kesimpulan tersebut harus dibangun dari dokumen lain.
Angka sekitar 1.500 orang yang sering disebut dalam tulisan mengenai pembaptisan 1563 juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Angka tersebut berasal dari ringkasan Adolf Heuken mengenai dokumen-dokumen awal, bukan dari kalimat surat Magalhães sendiri.[7]
Kesaksian 1588: “na ilha de Manado”
Dua puluh lima tahun setelah peristiwa itu, sebuah laporan memberikan keterangan yang jauh lebih eksplisit.
Laporan tersebut ditulis oleh Antonio Marta SJ, seorang visitator Jesuit, di Tidore pada April 1588. Dalam Documenta Malucensia Volume II, laporan itu tercatat sebagai D 73.[8]
Pada bagian mengenai Siau, paragraf 44 menyebut:
“Estando o sobreditto P. Diogo de Magagliais na ilha de Manado preegando aos naturais della, aconteceu de se achar naquelle tempo presente el-rey de Siao, o qual tambem era gentio como os de Manado e de Cauripa. E parecendo-lhe ben o que afirmava o ditto Padre, se bautizou e com elle hum seu filho de idade de dous annos que agora reina, chamado D. João.”[9]
Artinya, ketika Pater Diogo de Magalhães berada “di pulau Manado” dan berkhotbah kepada penduduk asli di sana, raja Siau kebetulan hadir. Raja Siau kemudian dibaptis bersama putranya yang berusia dua tahun. Anak tersebut pada 1588 telah menjadi raja dan bernama D. João.[10]
Kalimat ini penting bukan semata karena menggunakan kata “ilha”.
Marta menempatkan Magalhães di “ilha de Manado”. Pada saat yang sama, ia menjelaskan bahwa sang imam sedang berkhotbah kepada “naturais della”—penduduk asli pulau tersebut.
Dengan demikian, sumber 1588 tidak sekadar menyebut sebuah kerajaan bernama Manado. Ia menempatkan aktivitas Magalhães secara geografis di sebuah pulau bernama Manado.[11]
Inilah kesaksian paling eksplisit yang tersedia untuk menjawab pertanyaan lokasi pembaptisan 1563. Namun, bobot sumber tersebut tetap harus ditimbang secara kritis.
Marta menulis 25 tahun setelah peristiwa. Ia juga mengakui bahwa dalam beberapa bagian ia mengandalkan keterangan lisan karena tidak menemukan catatan tertulis mengenai misi awal tersebut.[12]
Dalam bagian lain laporannya, ia terbukti keliru mengenai tanggal jatuhnya benteng Ternate.[13]
Karena itu, laporan Marta tidak dapat diperlakukan sebagai catatan mata. Tetapi ia adalah laporan resmi seorang visitator Jesuit yang bekerja di kawasan Maluku dan Sulawesi, dibuat ketika sejumlah orang yang mengalami atau mengetahui misi generasi pertama masih hidup.
Dan yang terpenting: ia menyatakan lokasi itu secara eksplisit.
Mascarenhas Datang Sendiri Ke Manado
Kesaksian Marta menjadi semakin penting jika dibandingkan dengan surat Pero Mascarenhas tahun 1569. Mascarenhas bukan hanya penerus informasi dari orang lain. Ia sendiri pernah mengunjungi Manado.
Dalam surat bertanggal 6 Maret 1569 dari Ternate, yang tercatat sebagai D 162 dalam Documenta Malucensia Volume I, Mascarenhas menyebut sebuah perahu orang Celebes berasal “da ilha do Manado”—dari Pulau Manado.[14]
Penyebutan itu muncul dalam surat yang sama dengan istilah “ilha dos Cellebes” untuk Sulawesi. Dengan kata lain, dalam satu dokumen, penulis membedakan Pulau Manado dari Pulau Celebes.[15]
Keterangan itu menjadi lebih menarik karena Mascarenhas berada di Manado. Ia mencatat bahwa rombongannya berangkat dari benteng Ternate pada hari Santo Bartolomeus, 24 Agustus 1568. Pada Minggu berikutnya, 29 Agustus, ia pergi mempersembahkan misa “ao Manado”.[16]
Beberapa bulan kemudian ia kembali. Pada 1 November 1568 ia meninggalkan Siau dengan lima perahu dan dua hari kemudian tiba di Manado. Ia tinggal di sana sekitar delapan atau sepuluh hari.[17]
Dengan demikian, sumber tersebut menunjukkan bahwa Mascarenhas mengunjungi Manado dua kali pada 1568.[18]
Ia juga menulis tentang raja Bolaang yang merupakan anak raja Manado. Bahkan, ia datang ke wilayah Bolaang untuk mencari seorang anak muda yang sebelumnya ditinggalkan Magalhães di Manado.[19]
Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa “Manado” dalam jaringan misi Jesuit abad ke-16 bukan sekadar nama abstrak sebuah kerajaan. Ia merupakan tempat yang dapat didatangi, ditinggali sementara, dan dijadikan basis aktivitas misioner.
Tetapi Kata “ilha” Tidak Boleh Dipakai Sembarangan
Ada satu keberatan metodologis yang harus dikemukakan. Kata Portugis “ilha” atau bahasa Spanyol “isla” tidak selalu digunakan secara geografis secara ketat dalam dokumen-dokumen masa itu.
Contohnya adalah Kaidipang.
Mascarenhas menggambarkan perjalanannya menuju Bolaang dengan menyusuri pantai Sulawesi. Namun, Antonio Marta juga tampaknya menyebut Kaidipang sebagai sebuah “ilha”.[20]
Padahal Kaidipang berada di pesisir utara daratan Sulawesi. Karena itu, tidak tepat jika seluruh argumen dibangun hanya dari kemunculan kata “ilha”. Yang membuat kasus Manado berbeda adalah konteks keseluruhannya.
Marta pada 1588 secara eksplisit menempatkan Magalhães “na ilha de Manado” ketika berkhotbah kepada penduduk asli Manado dan ketika raja Siau dibaptis.
Mascarenhas pada 1569 menggunakan “ilha do Manado” dan “ilha dos Cellebes” dalam surat yang sama, sementara ia sendiri pernah mengunjungi tempat itu.
Sementara dokumen 1597 kembali membedakan pulau Manado dari daratan Sulawesi.[21]
Jadi, kekuatan bukti tidak terletak pada satu kata “ilha”, melainkan pada pola penggunaan nama tersebut dalam sejumlah dokumen yang saling berdekatan.
Dokumen 1597 Masih Mengenal Manado Sebagai Pulau
Sebuah surat dari Ambon bertanggal 13 Mei 1597, tercatat sebagai D 114 dalam Documenta Malucensia Volume II, memberikan petunjuk penting lainnya.
Dalam satu rangkaian kalimat, surat itu membedakan tiga wilayah: permukiman besar di “la costa de la isla que llaman Selebes”, kemudian “la isla de Manado”, dan “la isla de Cauripa”.[22]
Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa pada akhir abad ke-16, Manado masih diperlakukan sebagai sebuah pulau yang berbeda dari daratan Sulawesi.
Di sinilah kronologi mulai menjadi menarik.
Jika pada 1597 Manado masih disebut sebagai pulau, kapan nama Manado mulai digunakan untuk kerajaan di daratan?
Jawabannya dapat dipersempit hingga dua dekade berikutnya.
Dari “Isla de Mateo” ke Manados di daratan
Pada 1616 muncul sebuah keterangan dari Cochin mengenai posisi Buol. Surat itu menyebut Buol berada “no principio da ilha dos Celebes, ao que os espanhois chamão do Matteo”—di bagian awal Pulau Celebes, yang oleh orang Spanyol disebut Pulau Matteo.[23]
Keterangan ini penting karena “Matteo” bukan nama pulau lain yang berdiri sendiri. Ia merupakan salah satu sebutan Spanyol untuk Celebes atau Sulawesi dalam korpus tersebut. Mata rantai ini menjadi jelas dalam dokumen berikutnya.
Pada Juli 1617, dua sertifikat dari Manila mencatat pengiriman dua imam Jesuit ke “isla de Manados”. Sertifikat lainnya menyebut “reyno de Manados”—Kerajaan Manados.[24]
Pada titik ini, nama Manado sudah tidak hanya muncul sebagai nama sebuah pulau. Ia juga muncul sebagai nama sebuah kerajaan yang memiliki raja dan rakyat.
Kemudian datang dokumen yang paling menentukan. Dalam surat dari Ternate tertanggal 12 Mei 1618, lokasi kerajaan itu dinyatakan:
“al reyno de Manados, que está en la isla de Matheus, la qual va continuando por terra firme hasta Maquasar”.[25]
Kerajaan Manados berada di Pulau Matheus, yang berlanjut melalui daratan hingga Makassar.
Keterangan 1618 ini tidak menunjuk sebuah pulau kecil di depan pantai. “Isla de Matheus” dalam konteks ini adalah Celebes, yakni daratan besar yang disebut berlanjut melalui “por terra firme” sampai Makassar.
Laporan tahunan Filipina untuk periode Juli 1618–Juli 1619 bahkan menyebut “en la isla de Manados, que es continente con la de Macaçar”—di pulau Manados yang merupakan satu daratan dengan Makassar.[26]
Laporan tersebut juga menggambarkan kegiatan misioner di wilayah Manados dan menyebut kelompok Alifuru yang masih menganut agama leluhur, termasuk sebuah komunitas besar di dekat sebuah danau. Teks yang sama menyebut bahwa sang imam menaikkan tiga salib di kalangan orang Alifuru, tetapi tidak menyebut nama tempat penaikan salib tersebut. Keterangan tentang danau muncul sebagai contoh banyaknya orang Alifuru, bukan sebagai lokasi salib.[27]
Dengan demikian, pada 1618–1619 sudah terdapat penggunaan geografis yang jelas mengenai Manados sebagai bagian dari daratan Sulawesi.
Bilches Dan Ungkapan “al principio de la tierra”
Pada titik inilah kronik Francisco de Bilches menjadi penting.
Bilches, dalam Santos y Santuarios del Obispado de Iaen, y Baeza yang terbit pada 1653, menempatkan Reyno de Manados “en la misma Isla de Macasar, al principio de la tierra” untuk peristiwa 1619.[28]
Sekilas, frasa itu dapat dibaca sebagai keterangan yang berbeda dari sumber-sumber 1616–1619. Namun, jika ditempatkan dalam korpus yang sama, justru tampak sebaliknya.
Ungkapan “al principio de la tierra” sejalan dengan cara sumber-sumber Spanyol pada awal abad ke-17 menggambarkan kawasan Manados sebagai bagian awal daratan Celebes/Makassar. Struktur keterangannya juga dekat dengan bahasa yang muncul dalam dokumen 1616 dan 1618.
Karena itu, Bilches tidak perlu diperlakukan sebagai bukti tandingan yang menempatkan Manados di sebuah pulau kecil terpisah dari Sulawesi.
Ia lebih tepat dibaca sebagai saksi yang mengulang terminologi geografis yang telah digunakan pada 1610-an: Manados berada di bagian awal daratan yang disebut Isla de Macasar.[29]
Hal ini penting karena Bilches sering muncul dalam diskusi mengenai lokasi Manado awal. Jika dibaca tanpa konteks terminologi Spanyol-Maluku pada zamannya, frasa tersebut mudah disalahpahami.
Padahal, ketika dibandingkan dengan D 83 dan D 102 serta laporan 1619 dalam Documenta Malucensia III, keterangan Bilches membantu memperlihatkan bahwa pada awal abad ke-17 telah terjadi pergeseran geografis yang nyata dalam penggunaan nama Manado.
Dari Pulau Ke Kerajaan Di Daratan
Perubahan tersebut tidak cukup dijelaskan sebagai perubahan cara menulis nama.
Dokumen 1617–1620 memperlihatkan adanya seorang raja Manados yang meminta kehadiran imam Jesuit dan menyatakan keinginannya menjadi Kristen bersama rakyatnya.[30]
Ini penting karena menunjukkan adanya sebuah polity—kerajaan atau pusat kekuasaan yang hidup dan mempunyai penguasa.
Surat-surat Visitator Manuel de Azevedo pada 1620 bahkan menunjukkan bahwa residensi Jesuit di Manados telah menjadi kenyataan kelembagaan. Ada imam yang ditempatkan di sana, ada tentara Spanyol, dan misi tersebut telah menghadapi persoalan jumlah orang yang dibaptis serta kemungkinan penarikan pasukan.[31]
Dengan demikian, pada awal 1620-an Manados bukan lagi sekadar nama geografis. Ia telah menjadi nama sebuah kerajaan di mana berlangsung hubungan antara penguasa lokal, misionaris, dan kekuatan militer Spanyol.
Dua Lelaki Tua Dan Ingatan Tentang Misi Lama
Ada satu detail dalam surat Manuel Barradas dari Cochin, 20 November 1619, yang justru sangat penting untuk pertanyaan mengenai hubungan antara Manado 1563 dan Manados pada 1617–1620.[32]
Dalam laporan yang diterima Barradas, para imam di Manado menjumpai dua lelaki tua yang masih menyimpan ingatan mengenai masa misi terdahulu. Salah seorang disebut bernama Mascarenhas. Seorang lainnya masih dapat menyanyikan doa tanda salib dan menirukan cara katekismus dahulu diajarkan.[33]
Menariknya, ketika menceritakan pembaptisan lama itu, ingatan setempat justru mengaitkannya dengan nama Mascarenhas, bukan Magalhães.[34]
Keterangan tersebut tentu tidak membuktikan bahwa Kerajaan Manados 1619 adalah kerajaan yang sama secara politik dengan kerajaan yang didatangi Magalhães pada 1563.
Namun, nilainya berbeda dari sekedar kemiripan nama.
Ia menunjukkan adanya ingatan lokal terhadap praktik misioner generasi sebelumnya yang masih bertahan di Manado pada 1619. Dengan demikian, di tengah pergeseran geografis dan politik yang terjadi antara 1597 dan 1617, terdapat setidaknya satu lapisan kesinambungan memori yang menghubungkan komunitas Manado pada awal abad ke-17 dengan misi Katolik generasi pertama.
Apakah kesinambungan ingatan itu juga mencerminkan kesinambungan kerajaan?
Sumber yang ada belum cukup untuk menjawabnya.
Dari Manado ke “Wenang”
Di sinilah tradisi lokal mulai memasuki cerita.
Nama “Wenang” tidak ditemukan dalam dokumen abad ke-16 maupun abad ke-17 yang digunakan untuk merekonstruksi lokasi pembaptisan 1563.
Nama tersebut muncul dalam sumber yang jauh lebih kemudian, terutama rekaman tradisi lisan abad ke-19.
J.G.F. Riedel pada 1862 menuliskan hikayat mengenai kedatangan orang Kastejla. Dalam kisah itu disebut sebuah galeon yang mendarat di Kema, kemudian berdasarkan petunjuk orang Babontehu dibangun permukiman di “Tumpahan Wenang” di Teluk Manado.[35]
Beberapa tahun kemudian, N. Graafland memuat naskah Melayu “Hikajet Permulaan Distrik Manado itu”, yang ditulis di Tanawangko pada 5 Juli 1867.[36]
Dari korpus tersebut muncul cerita mengenai Babontehu, asal-usul mereka, tokoh-tokoh leluhur, dan perpindahan dari pulau ke daratan.
Namun, ada persoalan besar: jarak waktunya. Peristiwa 1563 terjadi tiga abad sebelum Riedel dan Graafland mencatat tradisi tersebut.
Karena itu, tradisi Babontehu sangat penting sebagai sumber mengenai ingatan sejarah masyarakat Manado pada abad ke-19, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai dokumen sezaman mengenai keadaan Manado pada 1563.
Tradisi Babontehu Dan Persoalan Perpindahan
Tradisi tentang perpindahan orang Babontehu dari pulau ke daratan sering digunakan untuk menjelaskan perubahan pusat kehidupan Manado.
Ada sumber yang mendukung keberadaan komunitas di pulau itu cukup lama.
Robertus Padt-Brugge pada 1679 menggambarkan penduduk pulau sekitar tiga ratus orang bersenjata. Ia juga mencatat kesulitan memperoleh air bersih serta gangguan monyet. Menurutnya, penduduk pulau akhirnya tunduk kepada Raja Bolaang setelah tidak lagi memiliki raja sendiri.[37]
Sumber lain yang kemudian mengutip von Rosenberg menyebut pulau tersebut masih dihuni sampai 1682.[38]
Namun, dari sini kita belum dapat menentukan kapan tepatnya perpindahan besar-besaran ke daratan terjadi.
Kronologi yang sering dikutip dari H.M. Taulu masih menghadapi persoalan internal. Perbedaan sekitar lima belas tahun dalam penempatan tokoh Loloda jika dibandingkan dengan daftar penguasa Bolaang Mongondow menunjukkan bahwa kronologi tradisional tersebut belum stabil.[39]
Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa perpindahan dan perubahan pusat kekuasaan merupakan proses historis yang belum dapat diberi tanggal pasti daripada menetapkan satu tahun tanpa dukungan dokumen sezaman.
Lalu Bagaimana Dengan 14 Juli 1623?
Tanggal 14 Juli 1623 juga perlu ditempatkan dalam konteks yang benar. Tanggal tersebut kemudian dikaitkan dengan Dotu Lolong Lasut dan diperingati sebagai hari jadi Kota Manado.
Namun, penetapan tersebut bukan berasal dari dokumen kota tahun 1623 yang masih bertahan sebagai bukti langsung mengenai berdirinya kota.
Tanggal itu merupakan konstruksi sejarah modern yang ditetapkan melalui SK DPRD-GR No. 17 Tahun 1968, dengan menggabungkan sejumlah unsur kronologis, termasuk tahun 1946, 1919, dan 1623.
Karena itu, tanggal 14 Juli 1623 tidak dapat digunakan untuk membuktikan bahwa pada 1563 sudah terdapat sebuah kota bernama Manado atau Wenang di lokasi kota sekarang.
Sebuah Catatan Tahun 1561 Tentang Keadaan 1556
Ada satu keterangan lain yang menarik. Dalam D 98, sebuah ikhtisar yang dibuat di Portugal pada 1561, disebut adanya “hum rey christão que se chama el-rey do Manado”—seorang raja Kristen yang disebut raja Manado.[40]
Catatan editor menunjukkan bahwa keadaan yang dilukiskan dalam bagian tersebut berkaitan dengan tahun 1556 dan bersumber pada laporan Br. Nicolau Nunes.[41]
Jika keterangan tersebut dapat dipercaya, muncul pertanyaan baru: apakah sudah ada raja Manado yang disebut Kristen sebelum kedatangan Magalhães pada 1563?
Pertanyaan ini penting karena dapat mengubah cara kita memahami kata “pertama” dalam narasi pembaptisan Manado.
Namun, sumber tersebut tidak boleh begitu saja dianggap lebih benar daripada dokumen lain. Ia berasal dari laporan yang diteruskan melalui beberapa tahap dan perlu dibandingkan dengan keseluruhan korpus sumber.
Karena itu, persoalan tentang kemungkinan adanya raja Kristen Manado sebelum 1563 sebaiknya menjadi penelitian tersendiri.
Kesimpulan: Pulau, Bukan Daratan Manado Sekarang
Jika seluruh bukti dibaca secara berurutan, gambarnya menjadi lebih jelas. Pada 1563, surat Diogo de Magalhães hanya mengatakan “Do Manado”. Surat itu sendiri tidak menyebut pulau.
Namun, laporan visitasi Antonio Marta pada 1588 secara eksplisit menyatakan bahwa Magalhães berada “na ilha de Manado” ketika berkhotbah kepada penduduk asli Manado dan ketika raja Siau dibaptis.[42]
Kesaksian tersebut didukung oleh surat Pero Mascarenhas pada 1569. Mascarenhas menyebut “ilha do Manado”, datang sendiri ke Manado pada 1568, bahkan mengunjungi tempat itu dua kali.[43]
Dokumen 1597 masih membedakan pulau Manado dari daratan Sulawesi.[44]
Kemudian, antara 1616 dan 1619, muncul perubahan penting dalam cara Manado ditempatkan secara geografis. Dokumen 1616 menjelaskan bahwa orang Spanyol menyebut Celebes sebagai “Matteo”; dokumen 1618 menempatkan Kerajaan Manados di “isla de Matheus” yang berlanjut “por terra firme” sampai Makassar; dan laporan 1619 menyebut Manados sebagai daratan yang bersambung dengan Makassar.[45]
Bilches pada 1653, dengan ungkapan “al principio de la tierra”, tidak perlu dibaca sebagai bantahan terhadap rangkaian tersebut. Sebaliknya, ia menggunakan bahasa geografis yang sesuai dengan pemahaman Spanyol-Maluku mengenai kawasan Manados pada awal abad ke-17.[46]
Yang juga penting, surat Barradas tahun 1619 menunjukkan bahwa di Manado masih ada orang tua yang menyimpan ingatan mengenai ajaran dan praktik misi sebelumnya. Kesaksian mereka tidak membuktikan kesinambungan politik kerajaan, tetapi menunjukkan bahwa hubungan dengan misi generasi pertama belum sepenuhnya hilang dari ingatan lokal.[47]
Dari seluruh rangkaian tersebut, kesimpulan yang paling bertanggung jawab adalah:
Pembaptisan 1563 berlangsung di pusat Kerajaan Manado di Pulau Manado, yang dalam perkembangan kemudian dikenal sebagai Manado Tua, bukan di daratan tempat Kota Manado sekarang berada.
Identifikasi “Manado Tua” di sini adalah penamaan kemudian untuk pulau yang dalam sumber 1588 disebut “ilha de Manado”; artikel ini tidak mengklaim telah menemukan dokumen abad ke-16 yang sudah memakai nama “Manado Tua”.
Kesimpulan tersebut juga tidak berarti seluruh sejarah perpindahan pusat Kerajaan Manado sudah selesai dijelaskan, justru sebaliknya.
Pertanyaan yang lebih menarik kini adalah apa yang terjadi antara 1597 dan 1617: bagaimana nama Manado yang sebelumnya merujuk pada sebuah pulau kemudian muncul sebagai nama sebuah kerajaan di daratan?
Tradisi Babontehu menawarkan satu kemungkinan, perpindahan penduduk dan pusat kekuasaan dari pulau ke daratan.
Dokumen 1617–1620 menunjukkan bahwa pada masa itu sudah ada raja Manados yang memerintah sebuah kerajaan di daratan dan meminta kehadiran imam Jesuit. Sementara kesaksian dua lelaki tua pada 1619 menunjukkan bahwa ingatan terhadap misi generasi sebelumnya masih hidup di Manado.
Apakah semua itu berarti Kerajaan Manados 1617–1620 merupakan kelanjutan politik langsung dari Kerajaan Manado 1563?
Belum dapat dipastikan.
Yang dapat dikatakan dengan lebih aman adalah bahwa terdapat kesinambungan nama, jaringan misioner, dan sebagian ingatan keagamaan, sementara kesinambungan politik dan perpindahan pusat kerajaan masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Yang sudah dapat dikatakan dengan lebih pasti adalah bahwa “Wenang” bukan nama yang dapat dibawa mundur begitu saja ke tahun 1563. Nama itu baru muncul dalam rekaman tradisi lisan abad ke-19, sedangkan sumber abad ke-16 menempatkan Manado sebagai sebuah kerajaan yang pusatnya berada di pulau.
Dengan demikian, ketika membayangkan peristiwa pembaptisan 1563, kita sebaiknya tidak membayangkan kota Manado sebagaimana terlihat sekarang.
Kita harus membayangkan sebuah pusat kerajaan di sebuah pulau di lepas pantai utara Sulawesi, sebuah tempat yang dalam laporan 1588 disebut secara lugas:
na ilha de Manado.
Catatan
[1] Hubert Jacobs SJ (ed.), Documenta Malucensia, Volume I (1542–1577), Monumenta Historica Societatis Iesu vol. 109, Roma: Institutum Historicum Societatis Iesu, 1974, D 125; Hubert Jacobs SJ (ed.), Documenta Malucensia, Volume II (1577–1606), Monumenta Historica Societatis Iesu vol. 119, Roma: Institutum Historicum Societatis Iesu, 1980, D 73 §44.
[2] Jacobs, Documenta Malucensia I, D 125: surat Pero Mascarenhas kepada para Jesuit di Lisbon, Ternate, 10 Februari 1564, dengan surat Diogo de Magalhães dari Manado, 28 Juli 1563, sebagai lampiran.
[3] Documenta Malucensia I, D 125, khususnya lampiran surat Magalhães dan penutupnya.
[4] Documenta Malucensia I, D 125 §6, beserta catatan editor no. 11.
[5] Documenta Malucensia I, D 125 §7.
[6] Documenta Malucensia I, D 125 §10.
[7] Adolf Heuken SJ, “Catholic Converts in the Moluccas, Minahasa and Sangihe-Talaud, 1512–1680”, dalam Jan Sihar Aritonang & Karel Steenbrink (eds.), A History of Christianity in Indonesia, Leiden: Brill, 2008, hlm. 62 dan 64.
[8] Jacobs, Documenta Malucensia II, D 73, laporan visitasi Antonio Marta SJ, [Tidore, April 1588].
[9] Documenta Malucensia II, D 73, Bab 14 §44, hlm. 261.
[10] Ibid., §44.
[11] Ibid.
[12] Documenta Malucensia II, D 73, Bab 5 §§15–16.
[13] Catatan editor pada D 73 §18; Marta salah menanggali jatuhnya benteng Ternate.
[14] Jacobs, Documenta Malucensia I, D 162 §2, hlm. 530.
[15] Ibid.; Teks A memuat “huma embarcassão dos Cellebes, da ilha do Manado que hé christãa”. Editor membandingkan beberapa tradisi naskah dalam dokumen tersebut.
[16] Documenta Malucensia I, D 162 §4, hlm. 532.
[17] Ibid., §16, hlm. 538.
[18] Documenta Malucensia III, catatan editor pada hlm. 432, yang merujuk pada kunjungan Mascarenhas ke Manado pada 1568.
[19] Documenta Malucensia I, D 162 §18, hlm. 539.
[20] Documenta Malucensia II, D 73 §21, hlm. 253. Bagian ini perlu diperiksa pada halaman tercetak karena hasil pengenalan teksnya rusak sebagian.
[21] Documenta Malucensia II, D 114, Ambon, 13 Mei 1597, hlm. 439.
[22] Ibid.
[23] Jacobs, Documenta Malucensia III (1606–1682), Monumenta Historica Societatis Iesu vol. 126, Roma: Institutum Historicum Societatis Iesu, 1984, D 83, Cochin, 10 Desember 1616, hlm. 312.
[24] Documenta Malucensia III, D 95 §5, Manila, 12 Juli 1617, hlm. 350; D 98 §4, Manila, 20 Juli 1617, hlm. 356.
[25] Documenta Malucensia III, D 102 §2, Ternate, 12 Mei 1618, hlm. 363.
[26] Documenta Malucensia III, D 113, Jesuit Relation on the Situation of the Philippines, from July 1618 to July 1619, Manila, 12 Juli 1619, hlm. 396; bagian Manado pada f. 207v, naskah Madrid, RAH, Jesuitas tomo 112 no. 63.
[27] Documenta Malucensia III, D 114, surat Manuel Barradas kepada Pater Jenderal Vitelleschi, Cochin, 20 November 1619, hlm. 399.
[28] Francisco de Bilches SJ, Santos y Santuarios del Obispado de Iaen, y Baeza, Madrid, 1653, Parte I, Cap. LXVIII–LXIX, hlm. 218–223.
[29] Bandingkan Documenta Malucensia III, D 83, D 102, D 113, dan D 114 dengan Bilches, Santos y Santuarios, hlm. 218–223. Frasa “al principio de la tierra” perlu dibaca dalam konteks terminologi geografis Spanyol mengenai Celebes/Makassar pada awal abad ke-17.
[30] Documenta Malucensia III, D 95 §5 dan D 98 §4; lihat juga D 102 §2.
[31] Documenta Malucensia III, D 121 dan D 122, surat Visitator Manuel de Azevedo, 1620, hlm. 415, 425–426, 429–432.
[32] Documenta Malucensia III, D 114, surat Manuel Barradas kepada Pater Jenderal Vitelleschi, Cochin, 20 November 1619, hlm. 399.
[33] Ibid. Laporan tersebut menyampaikan kesaksian dari para imam yang bertugas di Manado mengenai dua lelaki tua yang masih menyimpan ingatan tentang pengajaran agama pada masa sebelumnya.
[34] Ibid. Dalam kesaksian tersebut, pembaptisan lama dikaitkan dalam ingatan penduduk dengan nama Mascarenhas.
[35] J.G.F. Riedel, Inilah pintu gerbang pengatahuwan itu… bahagijan kalima, Batavia: Landsdrukkerij, 1862, hlm. 55 dan seterusnya.
[36] N. Graafland, “De Manadorezen”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, deel XV, Batavia, 1868. Naskah Melayu “Hikajet Permulaan Distrik Manado itu” bertanggal Tanawangko, 5 Juli 1867.
[37] Robertus Padt-Brugge, “Beschrijving der zeden en gewoonten van de bewoners der Minahassa”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, deel XIII, 1866, hlm. 304–331.
[38] Adolf Verkuyl, “De Minahasa” II, Tropisch Nederland, Jrg. X No. 21, 7 Februari 1938, hlm. 323–329.
[39] H.M. Taulu, Sedjarah Minahasa, Manado: Membangun, 1951; bandingkan J.G.F. Riedel, “Het Oppergezag der vorsten van Bolaang over Minahasa”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, deel XVII, 1869; David Henley, “A Superabundance of Centers: Ternate and the Contest for North Sulawesi”, Cakalele, Vol. 4, 1993, hlm. 39–60.
[40] Documenta Malucensia I, D 98 [Portugal, Juni–Oktober 1561] §5, hlm. 326–327.
[41] Catatan editor pada D 98 no. 1 merujuk pada Documenta Malucensia I, D 63 §20. D 63 adalah surat Luís Fróis dari Malaka, 19 November 1556, hlm. 202, yang menjadi sumber keterangan mengenai keadaan tahun 1556 dan bersandar pada Br. Nicolau Nunes.
[42] Documenta Malucensia II, D 73 §44.
[43] Documenta Malucensia I, D 162 §§2, 4, dan 16.
[44] Documenta Malucensia II, D 114.
[45] Documenta Malucensia III, D 83, D 102, dan D 113.
[46] Bilches, Santos y Santuarios, Parte I, Cap. LXVIII–LXIX, hlm. 218–223.
[47] Documenta Malucensia III, D 114, hlm. 399.
- Penulis: Alfa Leo
