Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Gereja dan Misi » Dua Ordo, Satu Ladang: Perebutan Manado antara Fransiskan dan Jesuit

Dua Ordo, Satu Ladang: Perebutan Manado antara Fransiskan dan Jesuit

  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • visibility 116
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada suatu hari di benteng Ternate menjelang akhir 1639 atau awal 1640, seorang Fransiskan Spanyol bernama Juan Yranzo mengeluarkan sehelai dokumen kepausan dan menyodorkannya kepada Gubernur Maluku. Ia hendak membuktikan bahwa ia berhak berlayar ke Manado. Gubernur tulisnya kemudian, “tidak mau melihatnya, tidak pula mendengarnya.”[^1]

Adegan itu bukan pertikaian teologi, bukan perebutan jiwa, melainkan sebuah surat izin yang ditolak dibaca dan ini adalah pintu masuk terbaik ke persoalan yang selama ini beredar di sejarah gereja lokal Sulawesi Utara dalam bentuk yang keliru.

Versi yang lazim berbunyi bahwa Fransiskan dilarang masuk Sangihe dan Sulawesi karena wilayah itu dianggap ladang Jesuit, larangan itu dicabut oleh gubernur pengganti dan pada 1655 misi diserahkan kembali kepada Jesuit. Ketiga kalimat itu tidak bertahan bila sumber Fransiskan yang paling dekat kepada peristiwanya dibuka.

Sumbernya

Sumber yang dimaksud adalah Relación de lo sucedido en Manados, laporan Fr. Juan Yranzo O.F.M., bertarikh Manila, 4 Agustus 1645, naskahnya tersimpan di Archivo de Pastrana (arsip Provinsi San Gregorio) dan diterbitkan utuh oleh Lorenzo Pérez O.F.M. dalam Archivum Franciscanum Historicum tahun VII (1914), halaman 636–644.[^2]

Yranzo adalah Komisaris misi itu, atasan langsung Fr. Lorenzo Garralda di Manado dan orang yang selamat dari pemberontakan 1644. Ia menulis satu tahun sesudah keluar dari Tomun (Tomohon).

Sifat dokumen ini harus dinyatakan lebih dulu karena menentukan cara membacanya. Ia dibuka dengan kalimat bahwa penulisnya diperintahkan membuat laporan benar tentang “awal dan alasan pergi ke sana, serta sebab saya menarik diri dari sana.”[^3]

Artinya, ini pertanggungjawaban seorang bawahan kepada atasan ordonya sendiri yang menjelaskan mengapa sebuah misi ditinggalkan. Penyuntingnya seorang Fransiskan yang bekerja di arsip Fransiskan. Setiap tuduhan terhadap Serikat Yesus di dalamnya adalah tuduhan satu pihak yang belum pernah diadu dengan arsip pihak lain.

Artikel ini tidak menyembunyikan itu namun sebaliknya, itulah batas yang ditarik di bagian penutup.

Dua Permintaan, Satu Ancaman

Tahun 1639 seorang utusan kerajaan Tabuka (Tabukan, Sangihe) tiba di Manila. Pesannya: seluruh kerajaan itu memutuskan meninggalkan Islam, menolak kepatuhan kepada Raja Ternate dan kepada Belanda, dan menyerahkannya kepada Raja Katolik.

Mereka meminta perlindungan dan meminta religiosos de S. Francisco secara khusus. Alasannya menurut laporan itu, karena mereka memandang Fransiskan sebagai “yang paling tidak berkepentingan di antara semua yang pernah mereka lihat.”[^4]

Pada saat yang hampir sama datang kiriman surat dari Gubernur Ternate, Jenderal D. Pedro Mendiola, disertai surat Sargento Mayor Francisco Hernandez dan surat seorang kapelan Fransiskan, Fr. Alonso Maestre yang bertarikh dari provinsi Manados. Isinya, penduduk provinsi itu juga meminta padri Fransiskan untuk menerima baptisan, dan menawarkan kesetiaan kepada Raja Spanyol.[^5]

Gubernur Jenderal Filipina, Sebastián Hurtado de Corcuera meneruskan permintaan itu ke biara Fransiskan dengan satu tambahan yang menentukan seluruh cerita berikutnya. Jika Provinsial tidak sanggup mengirim, ia akan mengirim orang Serikat Yesus.[^6] Maka Provinsial saat itu, Fr. Antonio Escalona, mengirim empat religius dengan Yranzo sebagai Komisaris. Sejak awal, dengan kata lain kedua ordo sudah ditempatkan sebagai dua pilihan atas satu ladang yang sama.

Yang Ditolak Baptisnya

Rombongan itu berhenti di Ternate untuk berangkat dari sana. Di situ Yranzo menemukan Buntuan, Raja Kalonga (Kolongan, Sangihe), sepupu raja Tabuka, yang datang dengan urusan serupa. Ia dan seluruh rakyatnya hendak dibaptis.

Ditanya padri mana yang ia kehendaki, raja itu menjawab, dari S. Fransiskus, sebab rakyatnya tidak mau menerima Serikat Yesus. Yranzo mencatat alasannya tanpa memperhalusnya, Gubernur dan para Padre Compañía, katanya, telah menjadikan kerajaan itu tributario, wajib upeti, dan karena itu lebih dari separuh kerajaannya memberontak.[^7]

Raja itu lalu meminta dibaptis bersama seluruh rakyatnya. Yranzo meminta izin kepada Vikaris benteng Tomé Alvarez. Jawabannya, Gubernur dan para Padre Compañía sudah memutuskan tidak memberinya padri dan tidak membaptisnya, sehingga sang Vikaris tidak berani memberi izin itu agar tidak jatuh dalam ketidaksenangan mereka. Raja Kalonga pulang tanpa baptisan.[^8]

Ini bukan perselisihan antara misi dan penduduk. Ini perselisihan antar-lembaga Eropa dan yang ditangguhkan adalah permintaan seorang raja pribumi yang datang sendiri.

Menyangkut Mahkota Portugal

Ketika Yranzo mengurus keberangkatannya ke kerajaan-kerajaan itu, Gubernur Mendiola menghalanginya. Menurut laporan itu, á instancias de los Padres de la Compañía. Alasan resminya, gubernur tidak punya perintah untuk memberi kapal atau melepaskannya keluar benteng. Alasan sebenarnya dikutip Yranzo dengan lengkap bahwa para Padre menyatakan bahwa kerajaan dan pertobatan itu milik mereka, karena menyangkut Mahkota Portugal, sehingga Fransiskan tidak boleh memasukinya kecuali lewat jalur India, dengan ancaman graves censuras — hukuman gerejawi berat.[^9]

Di sinilah letak perkaranya dan ia tidak dapat dimengerti tanpa hukum. Sejak 1494 dan 1529, penginjilan di Asia timur berada di bawah padroado Portugis, raja Portugal memegang hak dan kewajiban mengirim misionaris dan Serikat Yesus adalah pelaksananya di Maluku sejak 1546.

Fransiskan yang datang dari Manila datang di bawah patronato Spanyol. Selama 1580–1640 kedua mahkota dipegang satu raja, tetapi kedua sistem gerejawinya tidak pernah dilebur. Ternate adalah benteng Spanyol, Manado dan Sangihe, menurut hitungan Jesuit tetap tanah padroado.

Terhadap klaim itulah Yranzo mengeluarkan breve-nya. Pérez memberi alamat dokumennya di catatan kaki, breve Paulus V, Sedis Apostolicae providentia, 11 Juni 1608; ditambah keputusan Kongregasi Propaganda Fide 3 dan 11 September serta 21 November 1632, dan konstitusi Urbanus VIII Ex debito Pastoralis officii, 22 Februari 1633 — seluruhnya melonggarkan monopoli jalur Portugis atas misi di Asia.[^10] Gubernur menolak melihatnya.

Yang terjadi sesudah itu bukan pencabutan larangan, melainkan pengerasannya. Yranzo meminta izin pulang ke Manila karena tidak punya biaya menghidupi para religiusnya, itu pun ditolak. Mereka ditahan satu tahun, “hampir sebagai tahanan” di benteng itu, dengan penjagaan dan ancaman hukuman bagi siapa pun yang membawa mereka pergi.

Seorang Padre Compañía dikirim ke Manila untuk berperkara melawan mereka dan pulang membawa perintah Kapten Jenderal agar Fransiskan mundur ke Manila dan pertobatan itu dijalankan oleh Serikat Yesus.[^11]

Perintah penyerahan itu jadi sudah keluar pada sekitar 1640, lima belas tahun sebelum tarikh 1655 yang beredar.

Bukan Pencabutan, Melainkan Dalih

Yang membalikkan keadaan adalah pergantian gubernur. Sargento Mayor D. Francisco Suárez de Figueroa menggantikan Mendiola di Ternate pada 1640.[^12]

Yranzo menggambarkannya sebagai orang yang sama condongnya kepada ordonya seperti ia menentang perbuatan para Padre itu.

Tetapi teksnya tidak mengatakan Figueroa mencabut larangan. Yang ia lakukan lebih halus dan lebih menjelaskan, ia memberi Yranzo avío — bekal dan kapal — “dengan alasan bahwa ia mengirim kami untuk mencari bastimentos“, yaitu perbekalan bagi benteng.[^13]

Sebuah dalih administratif. Misi itu berjalan lagi bukan karena perkara yurisdiksinya diselesaikan melainkan karena seorang gubernur bersedia menuliskan tujuan lain pada surat jalan.

Rumusan “larangan dicabut penggantinya” karena itu harus ditinggalkan. Yang benar adalah larangan itu tidak pernah dicabut, ia disiasati.

Yang Dikerjakan Di Dua Kerajaan

Di Sangihe hasilnya segera terlihat dan sebabnya sudah disiapkan setahun sebelumnya. Bruder awam Fr. Francisco de Alcalá telah menemani Raja Buntuan pulang dari Ternate dan mengajar hampir setahun — raja, ratu, dan para principal Kalonga.[^14]

Karena itu ketika Yranzo mendarat pada 1640 ia dapat langsung membaptis 92 orang: raja D. Juan Buntuan, istrinya, anak-anak, dan saudara-saudaranya, beserta keluarga kerajaan dan para Chachil.[^15]

Ia juga memberi potret pulau itu yang layak dikutip apa adanya. Seluruh pulau ditaksir ±16.000 jiwa, permukiman kedua raja banyak tetapi kecil-kecil; pulau itu “seluruhnya moros“, dengan perbedaan bahwa Buntuan selalu berpihak kepada Raja Spanyol sedangkan Gama (Gadma), Raja Tabuka, bersama para principal lain adalah pembayar upeti kepada Raja Ternate dan Belanda.[^16]

Dua religius ditinggalkan di sana yakni Fr. Bartolomé de S. Diego dan Fr. Miguel de S. Buenaventura dengan perintah tinggal bersama dan bergiliran setengah tahun di tiap kerajaan.

Dalam lima tahun keduanya membaptis hingga 4.500 jiwa di dua kerajaan itu, termasuk Raja Tabuka beserta saudara-saudara dan anak-anaknya.[^17]

Syarat Masuk Pedalaman Minahasa

Dari Sangihe, Yranzo berlayar bersama Fr. Francisco de Alcalá ke Manado, “tiga puluh legua lewat laut”.[^18] Bagian ini adalah bahan terpenting laporan itu bagi sejarah Minahasa dan bentuknya bukan kisah kemenangan.

Ia mencatat lebih dulu bahwa pendahulunya gagal, Fr. Blas Palomino dan Komisarisnya tidak diterima. Fr. Diego de Rojas hanya diterima di Kale dan tak seorang pun mau dibaptis dan para Padre Compañía sempat menempatkan sebuah fuerza, pos bersenjata, di pesisir untuk menundukkan penduduk, tanpa hasil, sehingga infanterinya ditarik.[^19]

Yranzo sendiri mula-mula juga ditolak. Ia mendesak sampai para principal ketiga provinsi berkumpul dan sesudah lima belas hari mereka memutuskan menerimanya dengan syarat, yang ia daftarkan satu per satu. Orang Spanyol tidak boleh memaksa mereka menjadi Kristen dengan senjata, tidak boleh mencabut antigüedades mereka, tidak boleh menghalangi tarian dan kurban yang biasa mereka persembahkan kepada dewa-dewa mereka dan siapa yang mau menjadi Kristen secara sukarela boleh, dengan kewajiban memegang adat orang Kristen. Syarat-syarat itu disumpahkan menurut cara mereka sendiri.[^20]

Sesudah itu ia masuk ke pedalaman. Deskripsinya adalah semua negeri terbagi dalam tiga provinsi yang berdampingan, tanahnya berlimpah dan padat penduduk, orangnya tak terhitung, mudah didekati dan satu kalimat yang berdiri sendiri sebagai keterangan politik — “Mereka tidak punya Raja atau Tuan, jadi masing-masing adalah raja atas rumah dan kehendaknya sendiri”, meski mereka mau diperintah para principal, “tetapi tidak dalam segala hal.”[^21]

Ia menegakkan salib di negeri-negeri utama, berkedudukan di dua negeri besar dan ketika rekannya jatuh sakit, penggantinya adalah Fr. Lorenzo Garralda, imam, asal Navarra.

Yranzo menahannya setahun di dekatnya untuk mengajarinya bahasa penduduk, “karena tanpa itu tidak ada yang bisa dikerjakan.”[^22] Garralda kemudian membaptis sendiri dua pertiga dari 740 anak dan orang dewasa “dari kalangan paling terkemuka”, menurut buku baptis dan atas permintaan para principal negeri Kale, cabeza salah satu provinsi, ia ditempatkan di sana sebagai Presidente.[^23]

Mengapa Semuanya Runtuh

Sebab keruntuhannya, dalam laporan ini, bukan agama melainkan pemerasan.

Seorang mulato bertugas di pesisir, di sebuah negeri para Padre Compañía untuk mengangkut bekal dan memungut donativo atau upeti. Fransiskan menghalangi perampasan dan penganiayaan yang ia lakukan terhadap penduduk.

Orang itu bersekutu dengan P. Juan Rodríguez S.J. yang menurut Yranzo tidak menyukai mereka, bukan terutama karena Fransiskan masuk ke pertobatan itu dan menguasai negeri-negeri terbaik, melainkan karena mereka menuntut kembali enam belas budak milik Raja Kalonga D. Juan Buntuan yang dibawa pergi padri itu secara tidak sah. Perkaranya dibawa ke pengadilan Gubernur, saat itu Jenderal Pedro del Río dan meski saksinya banyak, hanya satu budak yang belum terjual dikembalikan.[^24]

Padri itu kemudian pergi ke Ternate membawa laporan palsu dan menuduh Fransiskan memberontak bersama provinsi-provinsi itu. Yranzo menyisipkan keterangan yang penting bagi kronologi. Figueroa sudah dicopot saat itu, juga karena laporan para Padre.[^25]

Gubernur baru mengirim perintah agar Fransiskan diperiksa dan dikirim sebagai tahanan dengan dua puluh lima serdadu untuk berjaga-jaga bila ada perlawanan. Perintah itu dikirim tiga kali berturut-turut, para ajudan dan serdadunya sendiri menolak melaksanakannya setelah melihat tuduhan itu palsu.[^26]

Lalu pada 1644, seorang serdadu melukai principal utama negeri Tomun (Tomohon), tempat Yranzo bertugas. Kerabatnya mengangkat senjata. Yranzo sempat mendamaikannya, tetapi pada suatu malam anak-anak orang yang dilukai itu memanggil ketiga provinsi untuk membunuh orang Spanyol dengan syarat para padri dan religius tidak dibunuh.

Yang membalikkan syarat itu adalah para imam setempat yang menyatakan bahwa justru para religius itulah sebab dewa-dewa mereka murka, karena mereka menghalangi orang Kristen mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa lama.[^27]

Pada 10 Agustus 1644, tulis Yranzo, lebih dari sepuluh ribu orang bangkit.[^28]

Kematian Garralda Dan Tanggal Yang Harus Diperbaiki

Garralda diperingatkan dua principal dan mengabarkan Yranzo tengah malam. Dua kali Yranzo memerintahkannya mundur ke posnya di dekat laut, dua kali ia menjawab bahwa ia tidak akan mundur tanpa prelatnya (atasan) dan bahwa ia siap mati.[^29]

Ia lalu menyingkir ke pegunungan karena dikabari bahwa Yranzo sudah dibunuh. Tiga hari kemudian ia ditemukan empat orang. Ia berlutut dan meminta dijadikan budak, mereka menikamnya lalu menombaknya kemudian memenggalnya dan membawa kepalanya ke kampung. Kepala itu dipancang di tengah alun-alun bersama jubah dan kaputnya dan ditarikan mengelilinginya selama setahun penuh.[^30]

Yranzo sendiri diselamatkan dua principal (tokoh masyarakat) yang bersahabat dengannya, bersama beberapa orang Spanyol yang tersisa ia bertahan delapan bulan dalam benteng kecil yang dibuat dari kayu biara.[^31]

Dari sini keluar koreksi yang mengikat sejumlah tulisan lokal. Tanggal kematian Garralda beredar dalam beberapa versi: Februari 1632 (Puga, Gascueña, Fr. Juan de S. Antonio) dan 13 Februari 1642 (Huerta, Estado, hlm. 405). Pérez menyatakan tidak satu pun benar dan alasannya bersifat dokumenter: dua akta pengambilan jubah dan profesi Garralda sendiri bertarikh 1632 dan 1633 sehingga ia tidak mungkin mati pada 1632 dan Yranzo, prelatnya sendiri di Manado menyatakan ia mati dua atau tiga hari sesudah 10 Agustus 1644.[^32]

Pérez juga membatalkan satu unsur yang sering diulang, kisah bahwa jenazah Garralda ditebus tujuh atau delapan hari kemudian dan dibawa ke Manila dalam keadaan utuh, lalu dimakamkan di dekat altar utama gereja biara S. Francisco. Ia menyebutnya “sama sekali tidak benar”, karena Yranzo menyatakan bahwa saat ia meninggalkan Ternate menuju Manila, jenazah itu masih berada di tempat ia dibunuh.[^33]

Mengapa “1655” Tidak Bertahan

Tinggal satu kalimat dari versi lama, bahwa pada 1655 misi Sangihe diserahkan kepada Jesuit. Dua keterangan dalam terbitan Pérez menyulitkannya.

Pertama, catatan kaki pada halaman 637: pada tahun 1657 dibuat sebuah información di Ternate oleh Vikaris Jenderal atas permintaan Síndico Fransiskan yang membuktikan bahwa merekalah misionaris pertama Manados dan bahwa mereka telah berlanjut sampai tahun 1657 itu. Berkasnya disebut tersimpan otentik di Archivo de Pastrana.[^34]

Kedua, halaman 645 di arsip yang sama tersimpan dua surat Raja Kalonga D. Juan Buntuan kepada Provinsial Fransiskan di Manila, bertarikh 1655 dan 1659, masing-masing bercap kerajaan. Cap itu sendiri sebuah dokumen, ia menggambarkan seorang bangsawan di perahu kecil menarik seorang Fransiskan dari laut, melingkar tulisan “Rey de Calonga D. Juan Buntuan” — peringatan atas peristiwa ketika Buntuan menyelamatkan Fr. Francisco de Alcalá yang jatuh ke laut saat badai.[^35]

Seorang raja tidak menulis kepada Provinsial sebuah ordo yang misinya sudah diserahkan kepada ordo lain empat tahun sebelumnya. Salah satu dari dua hal berlaku yakni penyerahan 1655 itu tidak pernah dilaksanakan atau tarikhnya sendiri keliru.

Apa Yang Belum Bisa Dikatakan

Bentuk yang bertahan dari seluruh pemeriksaan ini adalah sebagai berikut. Larangan atas Fransiskan nyata, bertarikh sekitar 1639–1640 dan dasarnya klaim padroado Portugis atas Manado dan Sangihe.

Larangan itu tidak dicabut oleh gubernur pengganti bahwa ia disiasati dengan surat jalan bertujuan palsu. Perintah agar pertobatan itu dijalankan Serikat Yesus sudah keluar sekitar 1640, bukan 1655. Dan pada 1655 serta 1659 Raja Kalonga masih berkirim surat kepada Fransiskan.

Yang belum bisa dikatakan lebih banyak lagi.

Seluruh rangkaian di atas berasal dari satu pihak. Tidak satu pun tuduhan terhadap P. Juan Rodríguez, terhadap para Padre Compañía di Ternate atau terhadap keputusan Vikaris Tomé Alvarez telah diperiksa terhadap sumber Jesuit. Selama itu belum dilakukan, artikel ini adalah rekonstruksi versi Fransiskan bukan rekonstruksi peristiwanya. Langkah berikutnya sudah jelas bentuknya, korpus Jesuit untuk tahun-tahun itu ada dan lema yang harus dibuka adalah Fransiskan, Sangi, dan Iranzo.

Empat celah lain dinyatakan terbuka di sini agar tidak tertutup diam-diam.

Satu, nama religius Tabukan tidak seragam bahkan di dalam terbitan yang sama. Ia disebut Fr. Bartolomé de S. Diego pada halaman 638 dan Fr. Bartolomé de Tejada pada halaman 643, apakah satu orang dengan dua sebutan atau dua orang, belum dapat dipastikan. Surat orang ini diterbitkan pada bab berikutnya dan belum diperiksa.[^36]

Dua, pernyataan Yranzo bahwa ia masuk ke pedalaman “tempat yang tidak pernah dimasuki padri atau seorang Spanyol pun” bertabrakan dengan laporan Jesuit 1617 tentang tiga salib yang didirikan di tepi sebuah danau di pedalaman Manado. Salah satu dari keduanya harus mengalah atau tempatnya memang berbeda.

Tiga, alamat arsip yang diberikan Pérez untuk naskah Relación itu memuat angka tahun 1685 pada berkas yang isinya bertarikh 1645, kemungkinan salah cetak tetapi harus dipastikan sebelum dikutip.

Empat, tanggal Figueroa menerima jabatan di Ternate belum seragam antara keterangan Pérez dan hitungan lain yang beredar, artikel ini karena itu hanya menyebut tahunnya.

Adegan pembuka tulisan ini tetap yang paling banyak menerangkan. Sebuah kerajaan meminta padri lalu sebuah ordo bersedia datang dan yang menghentikannya bukan penolakan penduduk, melainkan pertanyaan mengenai mahkota mana yang berhak mengirim. Sepucuk breve dikeluarkan untuk menjawabnya dan tidak dibaca.

Catatan

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • air terjun

    Air Terjun Ratahan Telu Minahasa Selatan

    • calendar_month Sabtu, 14 Jun 2025
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Air Terjun Ratahan Telu: Eksotisme Tiga Aliran Air Sekaligus   Sulawesi Utara memang menyimpan banyak surga tersembunyi, dan salah satunya adalah Air Terjun Ratahan Telu di Desa Kali, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa. Wisata alam ini menyuguhkan pemandangan unik berupa tiga air terjun yang berdampingan dan mengalir deras dari tebing batu tinggi. Pengunjung yang datang akan […]

  • Ilustrasi Ai

    Aliansi Salib dan Pedang: Surat Raja Cachil Tulo (1616) dan Titik Balik Sejarah Manado

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Awal abad ke-17 menjadi periode penuh ketegangan di kawasan perairan Sulawesi Utara. Persaingan pengaruh antara kekuatan Eropa dan kesultanan lokal membentuk dinamika politik yang kompleks. Di tengah situasi tersebut, sebuah dokumen bertanggal 21 Juni 1616 mengungkap momen diplomasi penting yang jarang disorot dalam narasi sejarah: keputusan strategis Raja Manado untuk menjalin hubungan religius dan politik […]

  • Malaria di Minahasa 1926: Nyamuk, Rumah, Kolam Ikan dan Pohon Sagu

    Malaria di Minahasa 1926: Nyamuk, Rumah, Kolam Ikan dan Pohon Sagu

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • visibility 71
    • 0Komentar

    H. F. Tillema dan perhatiannya terhadap kesehatan di Hindia Belanda. Hendrik Freerk Tillema lahir di Echten, Friesland, pada 5 Juli 1870 dan meninggal di Bloemendaal pada 26 November 1952. Ia adalah seorang apoteker yang pada 1892 berangkat ke Hindia Belanda dan kemudian bekerja di Samarangsche-Apotheek di Semarang, yang pada 1899 menjadi miliknya. Tillema memperoleh kekayaan […]

  • Mengapa istilah “Orang Manado” lebih populer dari pada “Orang Minahasa”?

    Mengapa istilah “Orang Manado” lebih populer dari pada “Orang Minahasa”?

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Nama Minahasa (Mina Esa) dikenal dengan nama itu oleh penduduk wanua. Ketika Spanyol menemukan daerah itu, mereka pertama kali mendarat di pulau kecil Manarou (sekarang Manado Tua). Nama itu diberikan oleh penduduk kota Wenang di daratan.   Manarou dalam bahasa Tontemboan lokal berarti: di seberang – di kejauhan. Di sanalah orang-orang Spanyol bertemu dengan jung-jung […]

  • Menyusuri Keindahan

    Keindahan Pantai Tanjung Merah di Sulawesi Utara

    • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Pantai Tanjung Merah: Permata Tersembunyi di Minahasa Utara   Wisatawan dapat menjangkau Keindahan Pantai Tanjung Merah dengan mudah karena lokasinya hanya berjarak sekitar satu jam dari pusat Kota Manado. Meskipun dekat, sebagian besar pelancong belum banyak mengunjungi pantai ini, sehingga suasananya tetap alami dan damai. Setibanya di sana, hamparan pasir putih yang lembut menyambut langkah […]

  • Ukung Runtuwene: Sang Peruntuh Tirani di Tanah Minawanua

    Ukung Runtuwene: Sang Peruntuh Tirani di Tanah Minawanua

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Fajar menyingsing di ufuk timur tanah Minahasa, membawa aroma tanah basah dan desas-desus yang mencemaskan dari arah Manado. Di jantung wilayah Tombasian, seorang pria berdiri tegak menatap rimbunnya hutan, merasakan kegelisahan yang mulai merayap di hati rakyatnya yang selama ini hidup dalam kedamaian. Beliau adalah Ukung Runtuwene, sang Kepala Walak Tombasian yang kewibawaannya melampaui batas-batas […]

expand_less