Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Ketika Ratu Kaidipang Menulis kepada Spanyol

Ketika Ratu Kaidipang Menulis kepada Spanyol

  • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
  • visibility 78
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 26 Juli 1606, Juan de Esquivel maestre de campo Spanyol yang baru saja merebut Ternate menulis surat kepada lima penguasa di lengan utara Sulawesi. Ia menawarkan hal yang sama kepada semuanya, mereka tidak perlu lagi membayar upeti kepada Ternate yang menurutnya telah menguasai benteng itu selama tiga puluh satu tahun lamanya secara lalim.

Sebagai tanda persahabatan ia mengirim sepotong beludru. Dua champán berangkat pada 1 Agustus membawa delapan belas serdadu di bawah komando alferez Christoval Suarez.[^1]

Yang membalas hanya dua, yang pertama Don Miguel Pololibuta, raja Tolitoli, menulis dari Bool pada 10 Oktober. Yang kedua bertarikh Cauripa 1 November 1606 dan penulisnya seorang perempuan bernama Dongue, seorang ratu Kaidipang.[^2] Dari Manado tidak ada balasan sama sekali.

Itu bukan kebetulan sekali jadi, di antara negeri-negeri di lengan utara Sulawesi, Kaidipang adalah yang paling sering muncul dalam arsip Iberia abad ke-16 dan ke-17 dan satu-satunya yang penguasanya bersurat ke luar lebih dari sekali. Tulisan ini menelusuri kemunculan itu dari 1563 sampai 1677 dan mencoba menjelaskan mengapa polanya seperti itu.

1563: Empat Hari Dari Manado

Nama itu masuk arsip lewat sebuah pelayaran yang tujuan awalnya bukan Kaidipang. Pada Mei 1563, raja Ternate mengirim putranya bernama Babu dengan armada besar ke Celebes. Menurut catatan Jesuit, untuk mengislamkan penduduknya dengan paksa. Kapten benteng Ternate membekali dua korakora dengan delapan sampai sepuluh orang Portugis agar mendahului armada itu. Yang ikut sebagai imam adalah Diogo de Magalhães.[^3]

Suratnya ditulis dari Manado pada 28 Juli 1563, memberi jarak-jarak yang masih bisa dipakai yaitu Ternate ke Manado dua hari dua malam, Manado ke Siau dua hari, Manado ke Cauripa empat hari, Cauripa ke Totole lima hari.[^4]

Di Kaidipang ia menemukan enam negeri di dalam jarak setengah legua. Penduduknya datang ke pantai tiga kali, kira-kira tiga ribu orang dan ia menyebut mereka sangat marah kepada orang Ternate. Dalam delapan hari ia membaptis kira-kira dua ribu orang. Lalu satu kalimat yang sejak itu selalu dikutip tertulis esta he a princypal cabeça de todo o Celebe — inilah kepala utama seluruh Celebes.[^5]

Perlu dicatat apa arti kalimat itu dan apa yang bukan. Ia ditulis oleh orang yang baru delapan hari di sana yang membandingkannya dengan Manado dan Siau yang baru saja disinggahinya dan yang sedang menulis surat permohonan bantuan tenaga. Dalam surat yang sama ia mengusulkan penempatan dua padri dan seorang bruder untuk Siau, Manado, dan Cauripa. Usul itu tidak pernah terwujud.[^6]

1568: Yang Dikirim Ke Pelabuhan, Dan Yang Ditolak

Lima tahun kemudian Pero Mascarenhas melewati jalur yang sama. Ia berangkat dari benteng Ternate pada hari Santo Bartolomeus 24 Agustus 1568, memimpin misa di Manado pada Minggu berikutnya, lalu ke Sangihe pada awal Oktober dan singgah di Bolaang dalam perjalanan ke Kaidipang.

Ia tinggal dua puluh hari di sana. Kaidipang mengirim ke kapalnya untuk perbekalan pelayaran yakni babi, kambing, seekor kerbau dan menurut catatannya sendiri “selain itu banyak sagu”.[^7]

Tetapi ia menolak membaptis siapa pun, dengan alasan yang ia nyatakan terang, tidak ada padri yang bisa ditinggalkan di situ.

Itu keputusan yang jarang dicatat sebuah misi tentang dirinya sendiri dan ia layak dibaca berdampingan dengan tahun 1563. Lima tahun sesudah dua ribu baptisan, orang yang datang berikutnya menganggap pembaptisan tanpa pendeta tetap adalah pekerjaan yang tak boleh diulang.

1588: Dua Puluh Lima Tahun Kemudian

Kesaksian berikutnya datang dari António Marta, yang pada 1588 menyusun Informação tentang keadaan misi Maluku. Bab dua belas berjudul “Tentang kekristenan Celebes“. Di situ ia menulis bahwa dalam perjalanan yang sama Magalhães membaptis raja Cauripa “con alguma gente principal” — bersama beberapa orang terkemuka.[^8]

Selisihnya dengan angka dua ribu itu satu orde besaran dan selisih itu sendiri layak diperiksa bukan didamaikan.

Kerajaan Kaidipang di lengan utara pulau Sulawesi

Kerajaan Kaidipang di lengan utara pulau Sulawesi

Yang pertama harus dikatakan bahwa keduanya bukan dua saksi tentang hal yang sama. Magalhães menghitung baptisan yang baru saja ia lakukan dan Marta merangkum dua puluh lima tahun kemudian apa yang pernah dikerjakan seorang pendahulunya.

Yang kedua, Marta sendiri menyebutkan sebabnya. Ia menutup bab itu dengan pernyataan bahwa sesudah Magalhães pergi tidak ada yang menggantikannya, sehingga kekristenan itu kini hilang sama sekali — nem há livro de bautizados nem fumo della, tidak ada buku baptis, tidak ada bekasnya.[^9]

Buku baptis biasanya ada. Ketiadaannya ia catat sebagai kejanggalan dan tanpa buku itu ia memang tidak punya angka untuk dikutip.

Yang ketiga dan ini yang paling menentukan adalah selisih semacam itu bukan khas Kaidipang. Untuk Siau, korpus yang sama memberi taksiran dua puluh sampai dua puluh lima ribu jiwa pada 1563, sedangkan cacah Marta pada 1588 memberi seribu tiga ratus sampai seribu empat ratus orang Kristen ditambah sekitar seribu yang bukan.[^10]

Pulau itu justru tempat garis rajanya berlanjut dan misinya bertahan. Kalau di sana pun angkanya berselisih sepuluh kali lipat, selisih itu sifat korpusnya karena cara orang abad ke-16 menaksir kerumunan dibandingkan cara mereka menghitung daftar, bukan bukti bahwa salah satunya berbohong.

Seorang saksi Spanyol yang datang lewat jalur sama sekali lain memberi latarnya. Francisco de Dueñas yang berkeliling kawasan itu pada 1582, menulis bahwa banyak permukiman Kristen yang dibaptis para teatino bersama orang Portugis “aunque el día de oy todos están tan ynfieles como de primero a causa de esta guerra” — meski hari ini semuanya sudah sekafir semula, karena perang.[^11]

1606–1612: Pintu Yang Bernama Siau

Sesudah surat Ratu Dongue, Kaidipang menghilang dari dokumen selama dua tahun, lalu muncul lagi dengan cara yang khas.

Laporan tahunan yang dikirim dari Cochin pada 25 November 1608 menyebutkan bahwa orang dari Menado, Cauripa dan Celebes meminta padri dengan mendesak.

Alasannya dinyatakan bahwa kesempatan itu timbul dari perdagangan yang dilakukan negeri-negeri ini dengan orang Siau dan dari perjumpaan mereka dengan padri yang bertugas di sana. Tiga orang terkemuka dibaptis. Sepulangnya mereka menjadi sahabat orang Portugis, “sendo antes vassalos do emigo ternate“.[^12]

Yang perlu dicatat yakni para kepala itu datang ke Siau, padrinya tidak berlayar ke negeri mereka.[^13] Dan dalam laporan tahunan Ternate tahun yang sama, alasannya juga dinyatakan. Padre António Pereira dipanggil ke Sangi, ke Tahulandang, dan ke Sulawesi, tetapi raja Siau menolak memberinya tumpangan kapal.[^14]

Empat tahun kemudian dalam surat dari Maluku bertarikh 8 April 1612, seorang Jesuit menulis satu kalimat yang merangkum seluruh abad itu yakni Siao, Cauripa, dan Sanguir adalah pulau-pulau tempat sejak bertahun-tahun lampau banyak buah dipetik di antara jiwa-jiwa penduduknya, tetapi karena peperangan terus berlanjut dan pekerjanya sedikit, orang-orang Kristen di pulau-pulau itu tinggal dalam keterlantaran yang paling dalam.[^15]

Seorang Ratu Yang Murtad

Pada 1610 empat biarawan Fransiskan tiba di Ternate. Superior Jesuit setempat mencatat kedatangan mereka dengan nada tidak senang dan menambahkan sebuah dugaan bahwa di pulau Mattheo alias Silebes orang juga menginginkan kami dan agaknya para biarawan baik ini akan mengambil pos itu bila ada kesempatan.[^16]

Dugaan itu terbukti. Apa yang terjadi sesudahnya sampai kepada kita dalam beberapa versi yang tidak seluruhnya bisa didamaikan dan akan lebih jujur menyajikannya begitu.

Sumber Jesuit yang paling awal, surat 8 April 1612 menulis bahwa dua kali biarawan pergi ke sana tanpa berhasil, yang pertama pada 1610 seorang pengkhotbah dan comisario ordonya, dibunuh orang Muslim di jalan sebelum sampai, tahun berikutnya seorang lagi yang wafat karena sakit dalam lima belas hari pertama sesudah tiba.

Penyunting kritisnya menamai keduanya, Sebastián de S. José terbunuh 18 Juni 1610, dan Juan del Caño wafat di Buol 9 September 1611.[^17]

Tetapi surat provinsial dari Cochin 2 Desember 1612 menempatkan peristiwanya di Kaidipang sendiri dan merumuskannya lain lagi. Tahun sebelumnya, tulisnya, seorang biarawan Fransiskan tak berkasut pergi ke Canripa, sebuah tempat di Mateo, begitu tiba ia dibunuh bersama seorang rekannya dan beberapa orang Portugis yang menyertainya.

Yang membunuh bukan orang pulau itu sendiri, melainkan musuh lain yang sedang berdagang di sana. Lalu anak kalimat yang menjadikan surat ini penting: posto que com consentimento da rainha da terra, que era christãa mas já renegada — meskipun dengan persetujuan ratu negeri itu, yang dahulu Kristen tetapi kini sudah murtad.[^18]

Penyunting edisi kritisnya menautkan sendiri kalimat itu ke depan dan ke belakang, perempuan itu adalah yang dalam relasi Esquivel disebut “la Reyna Dongue”, dan baru dua tahun sesudah surat ini penguasa Kaidipang bernama Banidaca.[^19]

Jadi dari dokumen sezaman kita mendapat dua hal yang tidak ada di tempat lain. Ratu yang membalas surat Spanyol pada 1606 masih berkuasa sekitar 1611. Dan ia pernah dibaptis, lalu tidak Kristen lagi.

1614: Banidaca

Suara penguasa Kaidipang berikutnya terdengar pada 1614, dalam berkas korespondensi Gubernur Maluku Gerónimo de Silva. Salinannya berkepala 21 Juni 1614, tetapi surat itu sendiri ditutup “de esta isla de Manados á 29 de junio de 1614″, selisih delapan hari yang belum terjelaskan.[^20]

Penulisnya menyebut dirinya Banidaca, rey de Cauripa dan mengaku sedang berada di negeri lain, bukan di negerinya sendiri. Isinya ia menutup pintu bagi Ternate dan bagi Belanda dan ia meminta mesiu, peluru, dua pucuk musket, dan sebuah bendera.

Yang diminta bukan padri. Delapan tahun sesudah tawaran Esquivel dan tiga tahun sesudah salah seorang pendahulunya dicatat murtad, permintaan yang dikirim ke Ternate Spanyol berbentuk persenjataan.

1650-an: Satu Baris Dalam Laporan Tahunan

Kaidipang muncul lagi setengah abad kemudian, dan sekali lagi lewat Siau. Sesudah D. Ventura, raja Siau, wafat meninggalkan seorang putra yang masih kecil, Gubernur Filipina Sabiniano Manrique de Lara menyerahkan pemerintahan kerajaan itu kepada Padre Diego de Esquivel, yang menerimanya sejauh diizinkan hukum kanon, sebagai penasihat dan administrator.

Laporan tahunan Provinsi Filipina mencatat bahwa karena itu iman terpelihara dan bertambah “en las islas de Siao, Cauripa y Manados, que frequentemente solía el Padre visitar” — di pulau-pulau Siau, Cauripa, dan Manado, yang biasa dikunjungi sang padri.[^21]

Kunjungan berkala itu berhenti pada April 1661, ketika Esquivel dipindahkan ke Ternate.[^22]

1677: Lima Ratus Orang, Sepuluh Minggu

Yang terakhir adalah yang paling terang dokumennya dan yang paling cepat berbalik.

Pada 1 September 1677, rektor Jesuit Manuel Español menulis kepada Gubernur Manila melaporkan kemajuan misinya. Di antara angkanya sampai lima ratus orang dibaptis di Cauripa oleh Padre Carlos Turcotti.[^23]

Lima minggu sebelumnya, pada 27 Juli 1677, penguasa Kaidipang sendiri menulis kepada gubernur yang sama. Namanya Helena Lincaxa, dan suratnya memperlihatkan bahwa ia dibaptis bersama lima ratus orangnya hanya beberapa bulan sebelumnya oleh Turcotti yang mengunjungi Kaidipang dari Siau. Yang ia perintah adalah bagian Kaidipang yang disebut Bolaang-Hitam.[^24]

Pada April 1677, gubernur Belanda yang baru di Ternate yakni Robert Padtbrugge tiba. Ia mendukung tuntutan Ternate atas Kaidipang, dan memaksa Turcotti kembali ke Siau.[^25]

Turcotti menulis surat dua kali kepada Padtbrugge dari Kaidipang sebelum berangkat dan kedua suratnya terpelihara dalam terjemahan Belanda. Yang pertama bertarikh 16 September 1677, dari “desa Carolio” nama yang menurut dugaan penyuntingnya diberikan sang padri kepada Bolaang-Hitam menurut nama Karel II, raja Spanyol saat itu.

Isinya permintaan praktis. Ia hanya punya dua belas sahabat Siau dan meminta pendayung serta satu dua orang terkemuka. Ia berharap beberapa orang Kaidipang mau mengantarnya pulang, sebagaimana mereka dahulu membawanya ke sana tetapi ia sendiri khawatir mereka tidak mau.

Padtbrugge membalas bahwa orang Kaidipang memang tidak akan memberi pendayung, sebab baru-baru ini tiga puluh orang dikirim ke Siau dengan sebuah perahu dan belum kembali.[^25a]

Surat kedua pada dua hari kemudian, tidak lagi menyebut nama desa itu, hanya “di tempat tinggalku”. Malam sebelumnya, tulisnya, para sahabat Siau-nya yang gagah — kecuali si pembawa surat — kabur ketakutan ke puncak-puncak gunung atau menurut kabar lain melarikan diri dengan perahu ke Siau, sehingga ia tinggal sendirian dengan tiga penyanyi yang dibawanya dari Manila.

Dengan mereka ia boleh kini menyanyi bersama pemazmur bahwa sahabat dan orang-orang terdekatnya telah meninggalkan dia. Lalu kalimat yang menjadikan surat ini penting adalah hal itu, katanya, sungguh lebih menyakitkan baginya daripada bahwa para petobat barunya telah menjauh darinya. Dalam surat yang sama ia meminta agar seorang anak buah Padtbrugge mendesak sang ratu supaya barang-barangnya diangkut keluar oleh orang-orangnya.[^25b]

Jadi pembalikan itu diakui oleh orang yang membaptis mereka dengan tarikh, tujuh minggu sesudah lima ratus baptisan dan lebih dari dua pekan sebelum laporan Belanda tentangnya. Dan ratu yang menulis ke Manila pada Juli masih di tempatnya pada September masih cukup berkuasa untuk menahan barang seorang padri.

Apa yang terjadi sesudahnya dicatat Padtbrugge sendiri dalam jurnal perjalanannya, dalam satu entri: Senin, 4 Oktober 1677, di Manado.

Yang pertama dilaporkan adalah kepergian sang padri. Predikant Caheyng tiba dengan perahu kecil bersama Turcotti dari sekitar Bolaang, tetapi malamnya sang pater berpisah darinya dan menurut dugaannya, langsung menuju Siau.

Orang Bolaang-Hitam menolak membantunya dalam hal apa pun, sehingga barang-barangnya terpaksa dibawa ke kapal oleh nakhoda Belanda sendiri. Para pelayan Siau-nya yang setia pun meninggalkannya, yang tersisa hanya tiga penyanyi yang dibawanya dari Manila, dan dengan mereka ia masih bisa menyanyikan Mazmur — sahabat-sahabatku dan orang-orang terdekatku telah meninggalkan aku.[^26a]

Yang kedua adalah apa yang terjadi di negeri yang ditinggalkannya. Begitu Turcotti keluar dari Bolaang-Hitam, seorang imam Ternate merobohkan salib di situ dengan kakinya.

Mula-mula tak seorang pun penduduk berani menyentuhnya, sebab sang padri telah meyakinkan mereka bahkan bersumpah, bahwa siapa pun yang menyentuh salib untuk mencederainya pasti mati.

Karena orang Ternate yang menebasnya dengan berani itu tidak tertimpa apa-apa dan tetap segar, orang Bolaang-Hitam ikut menginjaknya. Rosario mereka serahkan sendiri, medali dan salibnya dilepas, manik koralnya diurai untuk perhiasan perempuan. Padtbrugge menutupnya dengan kalimat yang puas sendiri, dalam sekejap mereka berubah dari papis yang baik menjadi geus yang lumayan.[^26]

Pada 8 Oktober 1677, seorang kopral dan enam orang dikirim dengan chaloup Terlucco untuk berjaga di pantai Kaidipang, “di tengah antara Dauw dan Bolaang-Hitam, atau sungai Asin dan sungai Tawar”. Alasannya dinyatakan bahwa Padtbrugge khawatir sesuatu dilancarkan lagi terhadap Bolaang-Hitam. Bersama mereka dikirim sepucuk surat berbahasa Melayu untuk kedua desa itu. Penyunting jurnal pada 1867 mencatat bahwa surat itu tidak dimuat.[^27]

Tiga bulan sesudah ratunya menulis ke Manila meminta perlindungan Spanyol yang berjaga di pantainya adalah tujuh orang Kompeni dan surat yang mereka bawa berbahasa Melayu.

Sebuah Pola Dan Sebuah Pintu

Empat hal berulang di sepanjang tujuh puluh tahun ini, dan ketiganya bisa ditunjuk halamannya.

Kaidipang selalu terlihat lewat Siau. Pada 1563 ia disinggahi dalam pelayaran yang juga menyinggahi Siau, pada 1568 padrinya datang dari Sangihe, pada 1608 kontaknya lewat perdagangan Kaidipang dengan orang Siau, pada 1650-an ia dikunjungi seorang padri yang berkedudukan di Siau, pada 1677 yang membaptis lima ratus orangnya datang dari Siau. Dan sekali pada 1608, seluruh rencana kunjungan batal karena raja Siau menolak memberi tumpangan kapal.

Keterlihatan Kaidipang dalam arsip adalah fungsi pelayaran Siau dan sebagian juga fungsi kehendak raja Siau.

Pembaptisan massalnya berbalik, tiga kali dan selalu sesudah dukungan yang menopangnya ditarik. 1563 dibalikkan sebelum 1588, 1606 dibalikkan sebelum 1611, 1677 dibalikkan dalam hitungan minggu. Dalam ketiga kasus, dokumennya menyebut sebabnya dan sebab itu bukan sikap penduduknya melainkan hilangnya orang dan kekuatan yang menyertai pembaptisan itu.

Urutannya tidak selalu sama dan perbedaan itu sendiri berbicara. Pada 1563 dan 1606 padrinya pergi lebih dulu dan penduduknya berbalik kemudian, sejauh yang bisa diketahui dari laporan yang ditulis bertahun-tahun sesudahnya. Pada 1677 urutannya terbalik, para petobat sudah menjauh ketika padrinya masih di tempat dan padrinya sendiri yang mencatatnya. Yang berubah bukan penduduknya, melainkan tahun itu Ternate dan Kompeni datang bersamaan, sehingga siapa yang menopang pembaptisan itu dan siapa yang mencabutnya sama-sama hadir dan sama-sama menulis.

Penguasanya bersurat ke luar, dan lebih sering daripada tetangganya. Dongue 1606, Banidaca 1614, Helena Lincaxa 1677, tiga penguasa, tiga penerima yang berbeda, dua di antaranya perempuan. Sebagai perbandingan, Manado tidak membalas surat 1606 sama sekali dan suaranya sendiri baru terdengar sekali pada 1616.

Yang diminta berubah bentuk. 1606 tawaran bebas upeti dijawab dengan balasan, 1614 permintaan mesiu, peluru, dua musket, dan sebuah bendera; 1677 permintaan perlindungan ketika Ternate dan Kompeni datang bersamaan.

Terakhir, sebuah patokan letak. Pada Oktober 1677 Kaidipang digambarkan sebagai pantai di antara dua sungai, Dauw dan Bolaang-Hitam. Sebuah laporan Belanda dari tahun-tahun yang sama menyebut kerajaan itu terutama terdiri atas dua desa dengan nama yang sama dan bahwa menurut perjanjian Dauw jatuh kepada raja Manado dan Bolaang-Hitam kepada raja Siau, sesudah ayah raja Manado menaklukkan Kaidipang dengan bantuan raja Siau.[^28]

Bahwa garis belah itu bertahan lama dapat diperiksa dari ujung yang lain bahwa pada 1906 pemerintah kolonial menyatukan kembali landschap Kaidipan dengan Bolaang Itang menjadi satu satuan bernama Groot-Kaïdipan.[^29]

Catatan Tentang Sumber Dan Celah Yang Masih Terbuka

Seluruh tulisan ini bersandar pada empat kelompok terbitan yaitu Documenta Malucensia jilid I–III suntingan Hubert Jacobs, Documentação para a História das Missões do Padroado Português do Oriente, Insulíndia suntingan Artur Basílio de Sá, transkripsi Pablo Pastells dalam edisi ulang Labor evangélica Francisco Colín dan korespondensi Gerónimo de Silva dalam Colección de documentos inéditos para la historia de España jilid LII, ditambah jurnal perjalanan Padtbrugge 1677 suntingan Leupe.

Beberapa hal perlu dinyatakan terbuka.

Surat Magalhães 1563 terbit dua kali, dalam suntingan Sá dan dalam Documenta Malucensia. Keduanya satu dokumen dengan dua jalur naskah, bukan dua rujukan yang saling menguatkan.

Kematian dua Fransiskan pada 1610–1611 sampai kepada kita dalam sekurang-kurangnya empat rumusan dan hanya satu di antaranya yang menyebut Kaidipang sebagai tempatnya. Yang paling awal, surat 1612, tidak menyebut nama tempat itu sama sekali. Kepustakaan Fransiskan sendiri — Pérez dan Meersman yang dirujuk penyunting Documenta Malucensia — belum diperiksa untuk tulisan ini dan pemeriksaan itu kemungkinan besar akan mengubah paragraf yang bersangkutan.

Surat Ratu Helena Lincaxa 27 Juli 1677 dikutip di sini lewat ringkasan penyuntingnya. Teksnya sendiri tercetak dalam Colín–Pastells dan dalam Historia Pastells jilid IX dan belum saya baca.

Dua surat Padre Carlo Turcotti kepada Padtbrugge dari Bolaang-Hitam, 16 dan 18 September 1677, hanya terpelihara dalam terjemahan Belanda; teks aslinya tidak diketahui. Alamat halamannya dalam terbitan Leupe memuat satu ketidakcocokan penomoran yang saya nyatakan di catatan kaki dan belum saya tutup.

Surat berbahasa Melayu untuk Dauw dan Bolaang-Hitam, Oktober 1677, dinyatakan ada oleh jurnalnya dan dinyatakan tidak dimuat oleh penyuntingnya. Kalau salinannya masih ada, tempatnya arsip VOC, bukan terbitan.

Dan satu hal yang tidak akan tertutup oleh dokumen mana pun. Semua yang kita ketahui tentang Kaidipang pada tujuh dekade ini ditulis orang yang datang dari laut, dalam bahasa yang bukan bahasa penduduknya, untuk dibaca di Ternate, Manila, Cochin, atau Roma.

Bahkan surat-surat para penguasanya sendiri sampai kepada kita sebagai salinan dalam bahasa Spanyol di dalam berkas orang lain.

Yang bisa direkonstruksi dari bahan semacam ini adalah bagaimana Kaidipang terlihat dari kapal dan barangkali justru itu yang paling jelas terbaca, sebuah negeri yang selama tujuh puluh tahun terus-menerus mengirim surat ke arah laut dan yang tiga kali menerima agama para pengirimnya, tiga kali kehilangan penopangnya, dan tiga kali berbalik, itu saja.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Waruga Minahasa: Teknik Megalitikum, Mapalus, dan Kosmologi Leluhur dalam “Rumah Batu” Abadi

    Waruga Minahasa: Teknik Megalitikum, Mapalus, dan Kosmologi Leluhur dalam “Rumah Batu” Abadi

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Proses pembuatan Waruga pada masa lampau merupakan kombinasi antara keterampilan teknis tinggi, kekuatan fisik, dan nilai spiritual yang dilakukan secara komunal. Mengingat berat satu Waruga dapat mencapai ratusan kilogram hingga berton-ton, pembangunannya menuntut perencanaan matang, pembagian peran yang jelas, serta mobilisasi tenaga kolektif melalui mapalus (gotong royong khas Minahasa). Waruga tidak sekadar dibangun sebagai wadah […]

  • Sejarah Berdirinya Desa Sea Kecamatan Pineleng

    Sejarah Berdirinya Desa Sea Kecamatan Pineleng

    • calendar_month Senin, 1 Mei 2023
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Desa Sea adalah salah satu wilayah Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa mulanya adalah sebuah wilayah perkebunan kelapa dan kopi di massa VOC zaman penjajahan Belanda. Para pekerjanya di datangkan dari Minahasa dan Gorontalo. Para pekerja ini sambil bekerja mereka mencari tempat persinggahan/tinggal sementara disekitar perkebunan. Kemudian mereka tinggal menetap disana sehingga oleh pemerintah hindia belanda pada […]

  • Pantai

    Pantai Lakban Ratatotok, Hidden Gem Cantik di Sulawesi Utara

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • visibility 254
    • 0Komentar

    🏝️ Pantai Lakban Ratatotok: Hidden Gem Eksotis di Sulawesi Utara yang Bikin Hati Adem! Hai, Sobat Petualang! 👋 Kalau kamu sedang mencari tempat liburan yang tenang, alami, dan tentunya Instagramable, Pantai Lakban Ratatotok wajib banget masuk dalam wishlist kamu. Pantai ini belum terlalu ramai, namun justru itulah daya tariknya. Terletak di bagian tenggara Sulawesi Utara, […]

  • Perang Padri 1803-1838 (Ilustrasi Ai)

    Dari Perang Jawa ke Bonjol: Jejak Pasukan Tulungan Minahasa

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Perang Jawa yang berlarut-larut memaksa pemerintah kolonial mencari tenaga di luar Jawa. Pada 1827 Komisaris Jenderal memerintahkan perekrutan di Makassar, Maluku, dan Timor. Karesidenan Menado, yang saat itu berada di bawah gouvernement Makassar, menyerahkan 1.280 orang Menadonezen dan Gorontalezen. Mereka tiba di Semarang mulai Juni 1828 dan sepanjang musim baik tahun itu, lalu dibagikan ke […]

  • Boulevard Manado

    Boulevard Manado, Wisata Laut dan Kuliner di Tengah Kota

    • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Lokasi Strategis di Tengah Kota Manado   Pantai Boulevard Manado berada tepat di pusat kota, sehingga wisatawan lokal maupun dari luar daerah bisa mencapainya dengan mudah. Terletak di sepanjang Jalan Piere Tendean, pantai ini menyuguhkan panorama laut lepas serta latar Pulau Manado Tua, Bunaken, dan Siladen. Berkat letaknya yang strategis, banyak warga dan pelancong memilih […]

  • Partai Minahasa Raya

    Partai Minahasa Raya

    • calendar_month Sabtu, 18 Mei 2024
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Pengantar: Ada sebuah tulisan berjudul Partai Politik Lokal Minahasa PARADIGMA BARU MINAHASA. MOTIF PERLUNYA PARTAI POLITIK LOKAL DI MINAHASA SEBAGAI STRATEGI JANGKA PANJANG MEMBANGUN ’ROH JATIDIRI’ MINAHASA? Yang saya baca pada 07 April 2009. Maaf, saya tidak tahu penulisnya, tetapi sangat menarik dan lama saya simpan. Berikut ini saya posting lengkap sekedar meningatkan bagi para […]

expand_less