Ramainya Poliklinik Sonder: 9.475 Pasien dalam Setahun
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 55
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rumah Sakit di Sonder, beserta Rumah Suster dan tenda perayaan untuk jamuan peresmian. 1909
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di Sonder tahun 1908, sebuah rumah sakit yang masih relatif muda di Sonder, Minahasa, mulai menunjukkan arti pentingnya bagi masyarakat. Rumah sakit tersebut didirikan pada 1907 setelah muncul kebutuhan nyata akan pelayanan kesehatan di tengah masyarakat. Setahun kemudian, laporan para zendeling-diakones H. de Ruijter dan M. Schoch memperlihatkan bahwa fasilitas kesehatan ini tidak berdiri sebagai lembaga yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan semakin menjadi bagian dari komunitas. Bahkan, laporan tersebut menyebut bahwa rumah sakit “semakin memenangkan hati penduduk” dan berdiri di tengah-tengah jemaat. [1]
Kehadiran pelayanan kesehatan di Sonder tidak dapat dilepaskan dari perkembangan zending Kristen di Minahasa. Het Penningske menggambarkan Minahasa sebagai wilayah yang sejak kedatangan J. F. Riedel dan J. G. Schwarz pada awal abad ke-19 mengalami perkembangan Kekristenan yang sangat pesat. Pada 1909, wilayah itu disebut memiliki sekitar 183.000 penduduk, terbagi dalam sepuluh ressort dengan 245 jemaat dan dibantu 110 guru pribumi. Dalam konteks inilah pelayanan kesehatan menjadi salah satu bagian dari aktivitas zending di Sonder. [2]
Rumah sakit itu sendiri lahir dari kebutuhan yang muncul secara langsung di tengah masyarakat. Dr. Schoch, yang sebenarnya bertugas sebagai hulpprediker atau pendeta pembantu, memiliki pengetahuan tentang kedokteran dan perawatan bersama istrinya. Karena banyak orang sakit datang meminta pertolongan, pekerjaan tersebut perlahan menjadi terlalu berat untuk mereka tangani sendiri. Dari masyarakat kemudian muncul usulan agar dibangun sebuah rumah sakit kecil. Sebuah rumah dibeli, dibongkar, lalu dibangun kembali di tempat yang dianggap lebih sesuai. [3]
Pembangunan rumah sakit tersebut juga memperlihatkan keterlibatan masyarakat Sonder. Karena pekerjaan dilakukan bertepatan dengan musim panen padi, kegiatan tidak dapat mengganggu pekerjaan pertanian. Namun, karena saat itu bulan purnama, masyarakat dapat bekerja setelah matahari terbenam. Mapaloes—pengerahan masyarakat untuk bekerja bersama—dilakukan. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak turut membantu membawa balok dan papan ke lokasi baru. Sumber tersebut menggambarkan pekerjaan berlangsung dengan percakapan dan nyanyian, sementara perempuan tua yang tidak lagi mampu bekerja menyiapkan kopi. Setelah selesai, rumah sakit diresmikan dalam sebuah pesta. [4]
Setelah bangunan berdiri, pelayanan kemudian diperkuat dengan kedatangan tenaga dari Belanda. Suster H. de Ruijter datang terlebih dahulu, disusul M. Schoch. Mereka bekerja bersama perawat-perawat perempuan pribumi. Foto yang terdapat dalam sumber Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa memperlihatkan kedua zendeling-diakones tersebut bersama tiga perawat pelajar Minahasa. Sementara itu, Het Penningske mencatat bahwa para perempuan pribumi tersebut bukan sekadar pembantu, tetapi juga didorong untuk mempelajari pekerjaan keperawatan. Bahkan, anak-anak perempuan dari keluarga kepala daerah disebut ikut mendaftarkan diri. [5]
Hasil pekerjaan mereka pada 1908 terlihat jelas dari angka kunjungan poliklinik. Laporan tahunan yang diterbitkan dalam Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap mencatat 9.475 pasien datang ke poliklinik Sonder sepanjang tahun tersebut. Kepada mereka diberikan bantuan atau pelayanan sebanyak 16.393 kali. Laporan itu juga mencatat rata-rata 53 pasien per hari. Angka tersebut menunjukkan betapa aktifnya pelayanan kesehatan di Sonder hanya setahun setelah rumah sakit mulai beroperasi. [6]
Ramainya poliklinik juga perlu dibedakan dari pasien yang menjalani rawat inap. Pada 1908 tercatat 144 pasien dirawat di rumah sakit, dibandingkan 90 pasien pada tahun sebelumnya. Laporan melihat peningkatan tersebut sebagai bukti meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit. Dengan demikian, perkembangan pelayanan kesehatan Sonder bukan hanya terlihat dari jumlah orang yang datang untuk mendapatkan pertolongan di poliklinik, tetapi juga dari semakin banyaknya masyarakat yang bersedia menjalani perawatan di dalam rumah sakit. [7]
Pelayanan kesehatan tidak berhenti di dalam gedung. Para suster juga melakukan 563 kunjungan rumah pada 1908, meningkat dari 528 kunjungan pada 1907. Menariknya, laporan mencatat adanya perubahan perilaku masyarakat. Sebagian orang sebelumnya baru memanggil tenaga kesehatan ketika penyakit sudah sangat parah. Namun, semakin banyak masyarakat yang mulai meminta pertolongan sejak awal penyakit. Mereka bahkan datang dari negeri-negeri yang lebih jauh untuk mendapatkan bantuan ketika menghadapi persalinan yang sulit. [8]
Dalam satu tahun itu, para suster tercatat memberikan pertolongan pada 12 kasus persalinan berat. Mereka menghadapi kondisi yang menurut laporan sangat sulit, bahkan terdapat keadaan yang tidak dapat ditangani oleh bidan Belanda. Bila kasusnya terlalu sulit, mereka meminta bantuan bidan pribumi dari Tomohon atau Tondano. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa tugas para zendeling-diakones jauh melampaui perawatan pasien di bangsal. Mereka juga menjalankan pelayanan kesehatan langsung di rumah-rumah penduduk dan menangani kebutuhan kesehatan perempuan. [9]
Jenis penyakit yang mereka hadapi juga beragam. Laporan 1908 menyebut malaria, demam tifoid, disentri, penyakit mata, cacingan, rabun senja, dan berbagai macam luka sebagai penyakit yang sering dijumpai. Luka-luka yang mereka temukan bahkan kerap sudah lama dan sulit sembuh. Terdapat pula banyak orang muda yang mengalami batuk atau mengeluarkan darah. Sebelumnya, masyarakat memiliki anggapan bahwa orang yang mengeluarkan darah hampir pasti tidak akan selamat. Setelah beberapa pasien dirawat dan kemudian dapat kembali menjalani kehidupan sosial serta melakukan pekerjaan ringan, semakin banyak orang datang meminta obat atau memohon dirawat. [10]
Namun, meningkatnya kepercayaan terhadap pengobatan modern tidak berarti pengobatan tradisional langsung ditinggalkan. Laporan tersebut mencatat bahwa sebagian besar penduduk masih sangat percaya pada obat Minahasa yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Dalam menghadapi penyakit, sebagian masyarakat juga masih menjalankan praktik-praktik yang oleh penulis sumber disebut sebagai bagian dari kepercayaan lama. Salah satu contohnya adalah keyakinan terhadap pertanda tertentu, termasuk kisah seorang pasien disentri yang meninggalkan rumah sakit karena mendengar suara burung yang dianggap sebagai pertanda buruk. [11]
Karena itu, rumah sakit Sonder pada 1908 bukan hanya tempat pengobatan, tetapi juga ruang perjumpaan antara pengetahuan medis baru, kepercayaan masyarakat, dan kegiatan keagamaan. Sumber khusus mengenai rumah sakit bahkan menekankan bahwa para suster memiliki tugas yang lebih berat dibandingkan perawat di Eropa karena mereka sekaligus menjalankan pekerjaan sebagai gemeentezusters. Di rumah sakit, pasien tidak hanya dirawat secara fisik, tetapi juga mendapatkan pengajaran Alkitab. Dalam laporan tahunan disebutkan bahwa pasien semakin memahami pelajaran sejarah Alkitab setelah beberapa waktu tinggal di rumah sakit. [12]
Keterlibatan masyarakat dalam kehidupan rumah sakit semakin terlihat dari berbagai bentuk bantuan yang mereka berikan. Berbagai negeri menyerahkan beras pada saat pesta panen untuk rumah sakit, sementara masyarakat Sonder dan Kolongan-atas datang secara sukarela untuk mengapur bangunan, membersihkan halaman, dan mengurus kebun. Para pasien sendiri juga menghasilkan berbagai kerajinan. Sebuah kursi rotan dan jalusi yang dibuat oleh pasien dikirim ke pameran kerajinan pribumi di Kawangkoan dan memperoleh dua penghargaan pertama, sementara saputangan mendapat penghargaan kedua. [13]
Dengan demikian, angka 9.475 pasien pada 1908 bukan sekadar statistik kesehatan. Angka tersebut menggambarkan sebuah proses ketika rumah sakit yang baru berdiri di Sonder mulai memperoleh tempat dalam kehidupan masyarakat. Poliklinik menjadi pintu masuk bagi ribuan orang untuk mengenal pelayanan medis baru, sementara kunjungan rumah dan perawatan inap memperluas jangkauan pelayanan. Pada saat yang sama, rumah sakit menjadi tempat bertemunya para zendeling-diakones, perawat Minahasa, pasien, keluarga, dan masyarakat sekitar. [14]
Menariknya, laporan sumber juga menyatakan bahwa angka 9.475 pasien disertai catatan rata-rata 53 pasien per hari. Jika 9.475 dihitung terhadap 365 hari, rata-ratanya secara matematis sekitar 26 pasien per hari. Karena itu, angka “53 pasien per hari” sebaiknya dipertahankan sebagai angka yang dinyatakan oleh sumber, bukan dihitung ulang atau dianggap sebagai angka yang pasti benar. Terlepas dari ketidaksesuaian aritmetika tersebut, keseluruhan laporan dari 1908 tetap memperlihatkan gambaran yang kuat: pelayanan poliklinik Sonder telah memiliki tingkat kunjungan yang sangat tinggi dan semakin dipercaya masyarakat. [15]
Catatan kaki
[1] Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, Mei 1909, laporan tahunan H. de Ruijter dan M. Schoch mengenai pekerjaan di Sonder tahun 1908. Sumber menyatakan bahwa rumah sakit “semakin memenangkan hati penduduk” dan berada di tengah jemaat.
[2] Het Penningske, Juli 1909, bagian “De Minahassa”, mengenai perkembangan Kekristenan, jumlah penduduk, ressort, jemaat, dan guru pribumi di Minahasa.
[3] Het Penningske, Juli 1909, mengenai Dr. Schoch, kedatangan pasien, dan usulan masyarakat untuk membangun rumah sakit.
[4] Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa, mengenai pengerahan masyarakat (mapaloes), pekerjaan malam hari, pengangkutan bahan bangunan, hingga rumah sakit selesai dibangun.
[5] Het Penningske dan Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa, mengenai Suster de Ruijter, Suster Schoch, dan tiga perawat pribumi.
[6] Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, Mei 1909, laporan poliklinik tahun 1908: 9.475 pasien dan 16.393 kali pelayanan.
[7] Laporan yang sama mencatat 144 pasien rawat inap pada 1908 dibandingkan 90 pada tahun sebelumnya dan menghubungkannya dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat.
[8] Maandbericht dan Het Ziekenhuis te Sonder, mengenai 563 kunjungan rumah pada 1908, dibandingkan 528 pada 1907, serta perubahan kebiasaan masyarakat dalam meminta pertolongan.
[9] Laporan tahunan mencatat 12 kali pertolongan dalam persalinan berat dan bantuan bidan pribumi dari Tomohon atau Tondano untuk kasus yang sangat sulit.
[10] Jenis penyakit yang sering ditemukan di Sonder pada 1908 meliputi malaria, demam tifoid, disentri, penyakit mata, cacingan, rabun senja, dan luka; laporan juga mencatat perubahan pandangan masyarakat setelah pasien yang mengeluarkan darah dapat kembali bekerja.
[11] Mengenai kepercayaan terhadap obat Minahasa dan kisah pasien yang meninggalkan rumah sakit karena pertanda burung.
[12] Het Ziekenhuis te Sonder, mengenai tugas para suster serta pengajaran Alkitab kepada pasien.
[13] Mengenai sumbangan beras, kerja sukarela masyarakat, serta hasil kerajinan pasien yang mendapat penghargaan di Kawangkoan.
[14] Kesimpulan berdasarkan keseluruhan tiga sumber yang menggambarkan perkembangan rumah sakit, poliklinik, kunjungan rumah, dan meningkatnya kepercayaan masyarakat.
[15] Angka 9.475 pasien dan 53 pasien per hari sebagaimana tertulis dalam sumber. Perbedaan aritmetika merupakan hasil perbandingan angka yang tercantum dalam sumber, bukan koreksi terhadap sumber sejarah.
- Penulis: Engel Yong
