Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Desa Kali 1642: Kisah Fray Lorenzo Garralda dan Jejak Awal Fransiskan di Minahasa

Desa Kali 1642: Kisah Fray Lorenzo Garralda dan Jejak Awal Fransiskan di Minahasa

  • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
  • visibility 105
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada pertengahan abad ketujuh belas, seorang imam Fransiskan dari Navarra dibunuh di pedalaman Minahasa, namanya Lorenzo Garralda.

Kisahnya sampai kepada kita terutama lewat laporan atasannya yang selamat dari peristiwa yang sama. Laporan itu ternyata lebih bisa dipercaya daripada banyak cerita yang kemudian beredar tentang Garralda, meskipun tidak dalam segala hal.

Dari Navarra ke Manila

Garralda berasal dari sebuah desa kecil di Navarra, Spanyol utara. Akta profesinya menulis nama desa itu Nagone, sedangkan katalog ordonya menulis Nagore.

Nama awamnya Sancho de Garralda dan mengapa ia berangkat ke Filipina tidak ditulis dalam arsip. Pada 4 Februari 1632 ia menerima jubah Fransiskan di Manila. Tepat setahun kemudian pada 4 Februari 1633, ia mengucapkan kaulnya di biara Nuestra Señora de los Ángeles dengan nama Fr. Lorenzo Garralda.[^1] Sekitar 1638 ia dikirim ke Maluku dan tinggal beberapa waktu di biara Fransiskan di Ternate.[^2]

Misi di Tanah Manado

Misi Fransiskan di tanah Manado waktu itu dipimpin Fr. Juan Yranzo. Menurut laporannya sendiri, penduduk pedalaman semula menolak para padri.

Para pemuka dari tiga “provinsi”, yaitu tiga kelompok negeri, baru mau menerima mereka sesudah berunding lima belas hari. Syaratnya adalah tidak ada yang dipaksa menjadi Kristen dengan senjata, adat tidak diusik dan tarian serta kurban kepada dewa-dewa tidak dilarang. Yranzo lalu menetap di dua kampung besar, satu untuk dirinya dan satu untuk seorang rekan.[^3]

Rekannya itu jatuh sakit dan harus ditarik, lalu Garralda datang menggantikannya. Yranzo menahannya setahun di dekatnya untuk belajar bahasa penduduk, “karena tanpa itu tidak ada yang bisa dikerjakan”.[^4]

Sesudah itu Garralda bekerja empat tahun. Menurut buku baptis, dari 740 anak dan orang dewasa “dari kalangan paling terkemuka” yang dibaptis di sana, dua pertiganya dibaptis olehnya. Para pemuka negeri Kale (Kali), kepala salah satu dari tiga provinsi itu, memintanya tinggal di negeri mereka. Ia pun ditempatkan di sana sebagai Presidente untuk melayani sakramen.[^5]

Kale sudah punya gereja sejak 1619. Gereja itu sempat ditinggalkan, lalu dipulihkan Yranzo dan Garralda pada 1639.[^6]

Benih Pemberontakan

Menurut Yranzo, pemberontakan yang kemudian pecah tidak dipicu oleh ajaran para padri tetapi oleh perlakuan orang Spanyol terhadap penduduk.

Di pesisir ada seorang mulato yang bertugas mengangkut perbekalan dan memungut upeti untuk raja Spanyol, di sebuah kampung yang dilayani para Jesuit. Para Fransiskan menghalangi perampasan yang ia lakukan terhadap penduduk.

Ia lalu bersekutu dengan P. Juan Rodríguez SJ, yang juga memusuhi para Fransiskan, antara lain karena mereka menuntut kembali enam belas budak Raja Kalonga.

Menurut Yranzo, budak-budak itu diambil sang Jesuit secara tidak sah. Banyak saksi menghadap Gubernur Pedro del Río, tetapi Rodríguez hanya mengembalikan satu orang yang belum sempat ia jual.

Ia kemudian mengadukan para Fransiskan ke Ternate. Gubernur yang menurut Yranzo berpihak kepada para Jesuit, tiga kali mengirim dua puluh lima serdadu untuk menangkap mereka. Setiap kali para serdadu menolak, karena melihat tuduhan itu palsu. Rodríguez akhirnya pergi ke India tanpa membayar budak-budak tersebut.[^7]

Sesudah itu seorang serdadu melukai pemuka utama negeri Tomun (Tomohon), tempat Yranzo berkedudukan. Kerabatnya mengangkat senjata. Yranzo sempat mendamaikan mereka, tetapi suatu malam anak-anak orang yang dilukai itu memanggil ketiga provinsi untuk membunuh orang Spanyol, dengan syarat para padri dibiarkan hidup.

Para imam setempat (dukun alifuru) membalikkan syarat itu. Mereka berkata bahwa para religius itulah yang membuat dewa-dewa murka, karena orang Kristen dilarang mempersembahkan kurban. Penderitaan penduduk kata mereka, tidak akan berakhir selama para padri masih hidup.[^8]

Malam Itu

Garralda mendengar rencana pembunuhan para padri itu dari dua pemuka yang bersahabat dengannya. Tengah malam ia mengirim kabar kepada Yranzo agar mereka berdua mundur ke pantai. Namun ia tidak tahu kapan serangan akan datang dan jalan-jalan sudah dijaga.

Yranzo dua kali menyuruh Garralda mundur ke posnya sendiri, yang letaknya dekat laut. Yranzo sendiri sudah memutuskan tidak akan lari walau dibunuh. Jawaban Garralda dicatat oleh atasannya bahwa ia tidak akan mundur tanpa Prelatnya (atasan rohaninya), ia sudah siap mati bagi Allah dan menantikan kematian setiap saat, dan ia meminta Yranzo datang ke kampungnya.[^9]

Pada hari itu 10 Agustus, lebih dari sepuluh ribu orang bangkit. Dua puluh dua orang ditawan dan sembilan belas dibunuh.[^10]

Kematian Garralda

Garralda menyingkir ke gunung. Ia tidak lari karena takut, tetapi karena dikabari bahwa Yranzo sudah dibunuh bersama semua orangnya.

Yranzo kemudian mengirim seorang sahabat dan beberapa orang Kristen untuk mencari Garralda, tetapi mereka tidak berani lewat karena jalan sudah dua hari dijaga orang bersenjata. Seorang kawan dari kampung Garralda juga mencarinya dan tidak menemukannya di biara.[^11]

Tiga hari kemudian, empat orang dari golongan paling rendah di kampung itu menemukannya. Begitu melihat mereka, Garralda berlutut dengan tangan terkatup dan meminta dijadikan budak. Mereka menertawakannya dan menikamnya, tetapi tidak sampai membunuhnya.

Salah seorang berkata bahwa orang seperti ini tukang sihir yang menyimpan jimat di pakaiannya. Mereka menyingkapkan jubahnya, menombaknya sampai tembus, lalu memenggal kepalanya dan membawanya ke kampung dengan nyanyian dan perayaan.[^12]

Kepala itu dipancang pada sebatang kayu di tengah alun-alun bersama jubah dan kaputnya. Selama setahun penuh orang menari mengelilinginya. Laki-laki berhias bunga, sementara perempuan menari dengan senjata tajam di tangan, yang oleh Yranzo disebut crises y puñales, disertai perjamuan dan kurban.[^13]

Yranzo Keluar dari Manado

Yranzo sendiri diselamatkan dua pemuka yang bersahabat dengannya. Bersama beberapa orang Spanyol yang tersisa, ia bertahan delapan bulan dalam benteng kecil yang dibuat dari kayu biara, terkepung dan hidup dari makanan yang dibawa sahabat-sahabatnya.[^14]

Dari pihak lawan ia mendengar dua informasi, yang ia catat sebagai kabar.

Yang pertama, dua orang yang menghancurkan salib dan patung Maria milik Garralda mati pada hari kedua tanpa sakit.

Yang kedua, tujuh hari kemudian tubuh Garralda ditemukan masih berlutut, tanpa bau dan tak disentuh burung.[^15] Sebuah relasi Fransiskan tahun 1649 menambahkan bahwa penduduk menyembunyikan jenazah itu dan tidak mau menyerahkannya.[^16]

Akhirnya Yranzo menyeberang ke utara dengan perahu yang hanya muat empat orang. Ia hampir tenggelam di tengah laut, lalu dijemput Raja Kalonga di Sangihe. Dari sana ia ke Ternate dan melapor kepada Maese de Campo Lorenzo de Olaso, kemudian ke Manila.

Di sana Gubernur Diego Fajardo berjanji akan mengirim pasukan untuk menghukum pemberontak.[^17] Janji itu tidak pernah terlaksana. Sampai Juni 1645, Gubernur Kompeni di Ternate mencatat bahwa orang Spanyol “belum berbuat apa-apa terhadap Manado selain ancaman”.[^18]

Pada 4 Agustus 1645, di Manila, Yranzo menulis pertanggungjawabannya, Relación de lo sucedido en Manados. Laporan inilah sumber utama kisah di atas.

Kapan?

Yranzo menulis bahwa pemberontakan pecah pada 10 Agustus 1644. Angka tahun itu bermasalah.

Pada 21 April 1644, empat bulan sebelum tanggal tersebut, Gubernur Kompeni di Ternate bernama Wouter Seroijen sudah melaporkan ke Batavia bahwa pada bulan Februari datang sebuah perahu kecil dari Manado.

Utusan di perahu itu meminta perlindungan, karena dua atau tiga bulan sebelumnya mereka telah membunuh sekitar empat puluh orang Spanyol beserta pengikutnya. Alasannya, orang Spanyol “hidup cabul” dan menimpakan “beban berat” kepada penduduk. Kabar itu kemudian dibenarkan oleh para pembelot.[^19]

Jumlah korbannya hampir sama dengan hitungan Yranzo dan sebabnya pun sama. Besar kemungkinan keduanya menggambarkan peristiwa yang sama, yang terjadi pada 1643.

Angka 1644 itu sudah tercantum dalam salinan relasi Yranzo yang dipakai Huerta pada 1865,[^20] jadi kekeliruannya ada pada sumber itu sendiri, bukan pada terbitan modernnya.

Meski begitu, surat Kompeni tidak menyebut seorang padri pun, sehingga kemungkinan bahwa keduanya peristiwa yang berbeda belum bisa dibuang sama sekali.

Tarikh-tarikh lain yang beredar lebih mudah disingkirkan adalah sebagai berikut:
– Februari 1632, yang dipegang kronikus Puga, Gascueña, dan Juan de S. Antonio, mustahil. Pada bulan itu Garralda baru menerima jubah dan kaulnya baru diucapkan setahun kemudian. Menurut Pérez, Puga sebenarnya mengenal relasi Yranzo, tetapi tidak menyebutnya.[^21]
– 13 Februari 1642, dari katalog Huerta, bertentangan dengan Yranzo, yang menyebut Garralda bekerja empat tahun di Manado.[^22]
– “Tahun empat puluh tiga dan empat puluh empat”, dari relasi anonim 1649, justru paling dekat dengan surat Kompeni.[^23]

Rumusan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah Garralda mati beberapa hari sesudah pecahnya pemberontakan yang menurut Yranzo terjadi pada 10 Agustus dan pemberontakan itu hampir pasti terjadi pada 1643.

Kisah Jenazah yang Dibawa ke Manila

Puga, Gascueña dan Huerta sama-sama menulis bahwa tujuh atau delapan hari sesudah kematiannya, jenazah Garralda ditebus orang Spanyol dan dibawa ke Manila. Di sana menurut mereka, jenazah itu dimakamkan di dekat altar utama gereja San Francisco dalam keadaan utuh dan lentur.[^22]

Dua sumber sezaman membantah cerita itu. Yranzo menulis bahwa ketika ia meninggalkan Manado delapan bulan kemudian, jenazah itu masih berada di tempat Garralda dibunuh. Ia hanya menitipkan kepada seorang kapten, sesama sekampung Garralda, agar menebusnya bila ada kesempatan.[^24]

Catatan relasi 1649, yang ditulis sekitar lima tahun sesudah peristiwa, juga menyatakan bahwa jenazah itu masih disembunyikan penduduk.[^16]

Di Mana jenazahnya?

Yranzo tidak menyebut nama tempat Garralda dibunuh. Namun tiga sumber yang tidak saling bergantung menunjuk ke tempat yang sama:
– Yranzo menulis bahwa Garralda ditempatkan di Kale, dan bahwa malam itu ia berada di kampungnya sendiri, yang memiliki biara.[^5]
– Huerta menulis bahwa Garralda berkhotbah dan dibunuh di negeri Cale.[^22]
– Sebuah surat Batavia dari awal 1654 menyebut “een plaets, genaamt Caly, die seer veel rijs uijtlevert”, sebuah tempat bernama Caly yang menghasilkan beras sangat banyak, tempat “beberapa tahun lalu salah seorang padri mereka dibunuh”.[^25]

Pada masa itu tidak ada padri lain yang tercatat dibunuh di tanah Manado. Karena itu kematian Garralda di Cale/Caly dapat dipegang.

Yranzo juga menyebut pos Garralda “dekat laut”. Kalau pos itu memang Kale (Kali), negeri itu terletak ke arah pesisir, bukan di tepi Danau Tonsawang seperti ditulis Godée Molsbergen tanpa menyebut sumber.[^9][^25] Namun Yranzo tidak menyatakan bahwa pos itu dan Kale satu tempat.

Yang belum tertutup adalah langkah berikutnya, apakah Cale abad ketujuh belas sama dengan Desa Kali di Kecamatan Pineleng, tempat kini berdiri tugu bagi “Lorenzo Garralda OFM”. Pada 1925 Van Aernsbergen mencatat kabar bahwa di Negeri Kali “masih ada sebuah batu kubur, yang di bawahnya konon salah seorang padri dimakamkan”, dan bahwa dahulu jalan besar ke dataran tinggi melewati desa itu. Ia tidak menyebut nama padri itu, ordonya, atau pembunuhan, dan sama sekali tidak menyebut Garralda.[^26]

Nama yang mudah terlintas, Fr. Diego de Rojas, juga tidak cocok. Huerta menulis bahwa Rojas wafat pada 1624 dan dimakamkan di alun-alun Banta, kediaman raja Manado, sementara Yranzo justru menulis bahwa Rojas hanya diterima di Kale.[^27]

Jadi tradisi tentang makam seorang padri di Kali sudah ada pada 1925, tetapi belum dikaitkan dengan Garralda. Kapan kaitan itu muncul belum diketahui.

Yang Masih Terbuka

Empat hal belum selesai.

Pertama, sebagian besar kisah ini berasal dari satu pihak. Relación Yranzo ditulis seorang Fransiskan yang sedang bersengketa dengan para Jesuit dan gubernur Spanyol, untuk menjelaskan mengapa misinya ditinggalkan.

Sebagai saksi urutan peristiwa ia sangat kuat. Sebagai penilai pihak-pihak yang ia salahkan ia lemah dan sumber Jesuit dari tahun-tahun yang sama belum diperiksa.

Kedua, soal tahun. Surat Kompeni menunjuk ke 1643, tetapi tidak menyebut Garralda.

Ketiga, menurut relasi 1649, Provinsial Fr. Vicente Argente pernah memeriksa perkara ini dengan memanggil saksi-saksi. Gascueña juga menyebut adanya *informaciones* tentang kemartirannya, dan dua penulis yang menentangnya.[^28] Berkas itu, bila masih ada, tersimpan di arsip Fransiskan di Spanyol.

Keempat, apakah Cale sama dengan Desa Kali sekarang, dan dari mana asal tradisi tugu di sana.

Yang tersisa sesudah semua itu sederhana, dan tidak memerlukan keajaiban untuk merunut kronologinya.

Seorang imam dari Navarra menghabiskan setahun mempelajari bahasa Minahasa sebelum mulai bekerja. Penduduk sebuah negeri memintanya tinggal di tengah mereka. Ketika disuruh menyelamatkan diri, ia menjawab bahwa ia tidak akan pergi tanpa atasannya. Ia dibunuh dalam pemberontakan yang dipicu pemerasan serdadu dan pemungut upeti, bukan karena ajarannya.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Marten Lelivelt 1744 (Ilustrasi Ai)

    Di Ambang Batas Poigar: Ketegangan Minahasa dan Raja Salomon Manoppo dalam Catatan VOC (1744)

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Dalam historiografi Sulawesi Utara abad ke-18, hubungan antara Konfederasi Minahasa dan kerajaan di selatan, Bolaang Mongondow, bergerak di antara aliansi dan persaingan. Dinamika ini tercermin dalam dokumen kolonial Memorie van Overgave yang ditulis Gubernur Ternate Marten Lelivelt pada 1744, sebuah laporan administratif yang mencatat persoalan yang dianggap belum terselesaikan selama masa jabatannya. Dokumen tersebut mengungkap […]

  • Sejarah Berdirinya Desa Wiau Lapi Minahasa

    Sejarah Berdirinya Desa Wiau Lapi Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Desa Wiau Lapi, yang terletak di Kecamatan Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, memiliki sejarah panjang yang berakar pada dua pemukiman awal, yaitu Wiau dan Lapi.   Nama desa ini diambil dari kedua pemukiman tersebut, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah lokal. Desa ini kini terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Wiau Lapi […]

  • Menelusuri Jejak Minahasa Abad ke-17: Dari Migrasi Utara hingga Awal Pengaruh Eropa

    Menelusuri Jejak Minahasa Abad ke-17: Dari Migrasi Utara hingga Awal Pengaruh Eropa

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Sejarah Minahasa pada abad ke-17 memperlihatkan sebuah wilayah yang dinamis, menjadi titik temu antara tradisi lokal, migrasi antarpulau, dan masuknya pengaruh Eropa. Dalam kajian sejarah yang disusun sejarawan Jouke S. Wigboldus, Minahasa digambarkan sebagai kawasan dengan kepadatan penduduk relatif tinggi dan struktur sosial yang berkembang sebelum kontrol kolonial menguat di Sulawesi Utara.¹ Minahasa secara geografis […]

  • Jung Tiongkok adalah jenis kapal layar tradisional Tiongkok kuno yang terkenal tangguh dan memiliki lambung datar. (ilustrasi)

    Jung Tiongkok ke Maluku: Sangihe dan Siau Tercatat, Mengapa Minahasa Tidak?

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Adakah Minahasa dalam catatan Tiongkok? Pertanyaan ini wajar diajukan. Jung-jung dari Fujian sudah berlayar ke Maluku sejak lama dan Maluku adalah tetangga dekat jazirah utara Sulawesi. Jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan sejauh ini adalah tidak. Sumber Tiongkok yang dapat diperiksa tidak menyebut Minahasa maupun Manado. Tetapi sumber yang sama menyebut tetangga terdekatnya di utara yaitu Sangihe […]

  • Sejarah Minahasa –  A.H. Verkuyl (1938)

    Sejarah Minahasa – A.H. Verkuyl (1938)

    • calendar_month Senin, 8 Mei 2023
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Dokumen tentang sejarah Minahasa oleh A.H. Verkuyl. Beliau adalah guru sekolah ibuku di Minahasa ketika masih muda, dan ia juga pencipta lagu “Aan de Minahasa”. Ini adalah sebuah artikel tentang sejarah Minahasa yg saya telah menerjemahkan dari bahasa Belanda. DOWNLOAD – GDRIVE – PDF – 10MB Diupload oleh Roderick C. Wahr

  • Waruga Pinkan Magogunoy di Desa Kema III

    Jejak Pingkan-Matindas dan Tewasnya Raja Bolaang Mongondow

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Di balik kabut historiografi Sulawesi Utara abad ke-16, tersimpan sebuah kisah yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Minahasa: legenda Pingkan dan Matindas. Selama berabad-abad, cerita ini diwariskan dari generasi ke generasi sebagai roman tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Namun ketika tradisi lisan dibaca berdampingan dengan silsilah keluarga, genealogi kerajaan, toponimi lokal, dan catatan etnografi kolonial, […]

expand_less