Jejak Pingkan-Matindas dan Tewasnya Raja Bolaang Mongondow
- calendar_month Senin, 1 Jun 2026
- visibility 209
- comment 0 komentar
- print Cetak

Waruga Pinkan Magogunoy di Desa Kema III
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di balik kabut historiografi Sulawesi Utara abad ke-16, tersimpan sebuah kisah yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Minahasa: legenda Pingkan dan Matindas.
Selama berabad-abad, cerita ini diwariskan dari generasi ke generasi sebagai roman tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Namun ketika tradisi lisan dibaca berdampingan dengan silsilah keluarga, genealogi kerajaan, toponimi lokal, dan catatan etnografi kolonial, muncul gambaran yang jauh lebih luas.
Kisah Pingkan Magogunoy dan Makawere’ Matindas bukan sekadar cerita percintaan. Ia juga merekam jejak konflik politik, ekspedisi militer, strategi pelarian, hingga perjuangan mempertahankan kehormatan di tengah tekanan kekuasaan yang datang dari luar wilayah Minahasa.
Jejak Keluarga di Tanah Tombulu
Tradisi lisan Minahasa menyebut bahwa Pingkan bernama lengkap Pingkan Magogunoy (Mogogunoij, Mogogunoi Lumeno), putri dari Ankol dan Resina. Ia berasal dari wilayah Mandolang, kawasan pesisir Tombulu yang berada di sekitar muara Sungai Rano Wangko atau Tanawangko sekarang.
Sejak masa lampau, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu jalur penting perhubungan pesisir Minahasa yang menghubungkan komunitas-komunitas pedalaman dengan jalur perdagangan laut.[^1]
Dalam berbagai cerita rakyat, Pingkan digambarkan sebagai perempuan bangsawan yang memiliki kecantikan dan kehormatan tinggi. Nama dan pesonanya disebut menyebar hingga ke wilayah-wilayah di luar Minahasa.
Pendampingnya adalah Makawere’ Matindas, seorang ksatria yang dalam tradisi Minahasa dikenal sebagai teterusan atau pelindung masyarakat. Berdasarkan keterangan yang dihimpun sejarawan Minahasa Bode Talumewo, Makawere’ Matindas merupakan putra dari Rumambi dan Matinempung.[^10]
Nama Matindas sendiri masih bertahan dalam berbagai tradisi tutur Tombulu dan Tonsea sebagai simbol keberanian, kecerdikan, dan kesetiaan terhadap tanah leluhur.
Di kawasan Tanawangko hingga kini masih dikenal sebuah mata air tua bernama Parigi Pingkan Matindas. Toponimi tersebut menjadi salah satu penanda kuat yang menunjukkan bagaimana memori mengenai pasangan ini terus hidup dalam ingatan masyarakat setempat.[^2]
Bayang-Bayang Kekuasaan Bolaang Mongondow
Peristiwa yang kemudian menyeret Pingkan dan Makawere’ Matindas ke dalam pusaran sejarah terjadi pada masa pemerintahan Raja Mokodompit dari Kerajaan Bolaang Mongondow, sekitar tahun 1565–1600.[^3]
Masa itu merupakan periode penting dalam sejarah Sulawesi Utara. Jalur perdagangan laut mulai diperebutkan oleh berbagai kekuatan lokal yang berusaha memperluas pengaruh politik dan ekonomi mereka di kawasan pesisir.
Tradisi sejarah Bolaang Mongondow mencatat bahwa Raja Mokodompit melakukan pelayaran ke Kepulauan Siau. Dalam perjalanan tersebut ia terbunuh, sehingga terjadi kekosongan kekuasaan yang mendadak di pusat kerajaan.[^4]
Dalam situasi tersebut, putranya, Dodi Mokoagow, mengambil alih kendali pemerintahan sebagai penjabat raja.
Catatan etnografer Belanda Johann Gerard Frederik Riedel menyebut bahwa Dodi Mokoagow memimpin sebuah ekspedisi ke wilayah Minahasa dengan membawa pasukan dan panglima perang melakukan pengejaran kepada Pinkan Magogunoy.[^5]
Keterangan tersebut memberikan dimensi baru terhadap kisah Pingkan dan Matindas. Pengejaran terhadap Pingkan tidak lagi dapat dibaca semata sebagai konflik pribadi atau perebutan cinta. Di baliknya terdapat kepentingan politik yang berkaitan dengan ekspansi pengaruh Kerajaan Bolaang Mongondow ke wilayah-wilayah Minahasa.
Menyingkir ke Maadon
Menghadapi ancaman pasukan yang lebih besar dan terorganisasi, Makawere’ Matindas tidak memilih bertahan di wilayah asalnya.
Tradisi lisan menyebut bahwa ia membawa Pingkan meninggalkan Mandolang dan bergerak ke kawasan timur Minahasa yang pada masa itu dikenal sebagai Maadon, wilayah yang mencakup kawasan pesisir Makalisung hingga Kema.
Pilihan tersebut menunjukkan pemahaman yang matang terhadap medan geografis.
Pada abad ke-16, kawasan pesisir Tonsea masih didominasi hutan lebat, rawa, dan jalur-jalur sempit yang sulit dilalui pasukan besar.[^6]
Dengan berpindah ke wilayah tersebut, Matindas memaksa pasukan pengejar memasuki daerah yang tidak mereka kuasai.
Strategi ini memungkinkan mereka mengulur waktu, memecah konsentrasi lawan, dan menyusun rencana yang lebih besar di wilayah pelarian.
Jebakan di Pesisir Timur Minahasa
Bagian paling terkenal dalam kisah ini berasal dari tradisi tutur yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Minahasa.
Setelah pengejaran berlangsung cukup lama, Pingkan disebut mengirim pesan kepada Dodi Mokoagow bahwa dirinya telah lelah melarikan diri dan bersedia menyerahkan diri di sebuah rumah persinggahan yang baru dibangun di pesisir timur Minahasa.
Rumah tersebut ternyata telah dipersiapkan sebagai jebakan.
Menurut cerita rakyat, Makawere’ Matindas merancang lantai kayu dengan sistem pasak yang dapat dilepas dari luar. Di bawah lantai tersebut telah dipasang bambu-bambu runcing yang mengarah ke atas.
Ketika Dodi Mokoagow memasuki rumah itu pada malam yang telah ditentukan, pasak lantai dilepaskan sehingga sang penjabat raja terjatuh ke dalam lubang dan tewas akibat bambu runcing yang telah dipasang sebelumnya.[^7]
Meskipun detail peristiwa tersebut berasal dari tradisi lisan, terdapat kesesuaian menarik dengan silsilah Kerajaan Bolaang Mongondow yang mencatat bahwa Dodi Mokoagow memang wafat di wilayah Minahasa.[^8]
Keselarasan antara memori kolektif Minahasa dan data genealogi Bolaang Mongondow inilah yang membuat kisah tersebut terus dipandang memiliki dasar historis yang kuat.
Keturunan Pingkan dan Matindas
Setelah peristiwa itu, tradisi masyarakat menyebut bahwa Pingkan dan Makawere’ Matindas tidak pernah kembali ke Mandolang.
Keduanya memilih menetap di pesisir timur Minahasa hingga akhir hayat mereka.
Menurut data genealogis yang dihimpun oleh sejarawan Minahasa Bode Talumewo, Pingkan Magogunoy dan Makawere’ Matindas memiliki sejumlah anak yang kemudian menjadi leluhur berbagai garis keluarga di Minahasa.
Nama-nama yang diwariskan dalam tradisi keluarga tersebut adalah Karundeng, Mira, Tumiwan, Ololakei, Tangkaley, Lepa, Singal, Linensunan, dan Tangkalakey.[^10]
Dari keturunan inilah kemudian lahir berbagai rumpun keluarga yang menyebar ke sejumlah wilayah Minahasa. Dalam tradisi genealogis lokal, garis keturunan Pingkan dan Matindas masih sering disebut dalam penuturan keluarga-keluarga tua yang berada di wilayah pedalaman maupun pesisir.
Sebaran keturunan mereka terutama ditemukan di wilayah Tonsea, Tondano, dan Tombulu, yang hingga kini masih mempertahankan berbagai versi cerita mengenai asal-usul leluhur mereka.
Keberadaan silsilah tersebut menjadi salah satu unsur penting yang membuat kisah Pingkan dan Matindas tidak hanya bertahan sebagai legenda, tetapi juga hidup sebagai memori keluarga yang diwariskan lintas generasi.
Waruga di Kema III dan Memori Kolektif
Jejak paling nyata yang hingga kini dikaitkan dengan Pingkan Magogunoy berada di Desa Kema III, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara.
Di desa tersebut terdapat sebuah waruga atau makam tua yang oleh masyarakat setempat secara turun-temurun dipercaya sebagai makam Pingkan Magogunoy.
Waruga tersebut masih berada dalam kondisi utuh dan mempertahankan bentuk aslinya sebagai salah satu peninggalan megalitik khas Minahasa. Keberadaannya terus dijaga oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan sejarah dan identitas budaya lokal.[^9]
Secara akademis, belum terdapat penelitian arkeologis yang dapat memastikan bahwa waruga tersebut benar-benar merupakan makam Pingkan. Karena itu, para peneliti menempatkannya sebagai bagian dari lieux de mémoire atau ruang memori kolektif, yaitu tempat di mana sejarah, tradisi lisan, dan identitas masyarakat bertemu dalam satu lanskap budaya.
Penting untuk dibedakan bahwa dalam tradisi lokal, Makalisung dipahami sebagai kawasan pelarian dan lokasi konflik yang berkaitan dengan pengejaran Dodi Mokoagow, sedangkan Desa Kema III merupakan lokasi waruga yang diwariskan masyarakat sebagai makam Pingkan Magogunoy.
Pembedaan ini memperlihatkan bahwa memori sejarah masyarakat tidak selalu terpusat pada satu titik geografis, melainkan tersebar dalam lanskap budaya yang saling terhubung.
Dari Legenda ke Historiografi
Dalam perkembangan historiografi modern, kisah Pingkan Magogunoy dan Makawere’ Matindas tidak lagi dipahami semata sebagai legenda percintaan.
Konsistensi antara tradisi lisan, toponimi lokal, silsilah keluarga, genealogi kerajaan, dan catatan etnografi kolonial menunjukkan bahwa di balik cerita tersebut terdapat jejak konflik politik yang nyata pada abad ke-16.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Minahasa menghadapi ancaman ekspansi kekuasaan dari luar wilayah mereka. Ia juga menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu bertahan dalam bentuk arsip resmi, melainkan sering hidup dalam nama tempat, mata air tua, waruga, dan cerita yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di pesisir timur Minahasa, ingatan itu masih bertahan hingga hari ini.
Bukan hanya sebagai kisah cinta. Melainkan sebagai kisah tentang keberanian, kesetiaan, dan pilihan untuk mempertahankan kehormatan di tengah tekanan kekuasaan yang datang dari luar tanah leluhur.
Catatan Kaki
[^1]: Nicolaas Graafland, De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand, Jilid I (Batavia: G. Kolff & Co., 1898), hlm. 15–28.
[^2]: Tradisi lisan masyarakat Tanawangko mengenai situs Parigi Pingkan Matindas yang masih dikenal hingga kini.
[^3]: Kronologi dan silsilah resmi Kerajaan Bolaang Mongondow yang menempatkan masa pemerintahan Raja Mokodompit sekitar 1565–1600.
[^4]: Tradisi sejarah Bolaang Mongondow mengenai pelayaran Raja Mokodompit ke Kepulauan Siau dan kematiannya dalam perjalanan tersebut.
[^5]: Johann Gerard Frederik Riedel, catatan etnografis mengenai hubungan Bolaang Mongondow dan Minahasa yang kemudian menjadi rujukan penting dalam historiografi Sulawesi Utara.
[^6]: E.C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Weltevreden: Landsdrukkerij, 1928), hlm. 1–12.
[^7]: Tradisi tutur Minahasa yang merekam penggunaan jebakan lantai kayu berpasak dan bambu runcing dalam kisah kematian Dodi Mokoagow di wilayah Maadon.
[^8]: Genealogi Kerajaan Bolaang Mongondow yang mencatat wafatnya Dodi Mokoagow di wilayah Minahasa.
[^9]: Observasi lapangan dan tradisi masyarakat Desa Kema III, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, yang secara turun-temurun mengidentifikasikan waruga tersebut sebagai makam Pingkan Magogunoy. Waruga masih berada dalam kondisi utuh dan mempertahankan bentuk aslinya sebagai peninggalan megalitik Minahasa, meskipun identifikasi makam tersebut belum dibuktikan melalui penelitian arkeologi ilmiah.
[^10]: Keterangan genealogis keluarga Pingkan Magogunoy dan Makawere’ Matindas, termasuk identitas orang tua, anak-anak mereka dirujuk dari kompilasi sejarah keluarga dan penuturan yang dihimpun oleh sejarawan Minahasa Bode Talumewo.
- Penulis: Moderator Malesung
