Humor di Tengah Kekalahan: Kisah Para Tokoh PRRI-Permesta dalam Tahanan
- calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
- visibility 97
- comment 0 komentar
- print Cetak

Para pentolan pimpinan PRRI - Permesta saat dirumah tahanan militer (ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sejarah pergolakan PRRI dan Permesta umumnya dikenang sebagai babak penuh ketegangan dalam perjalanan Republik. Perseteruan politik, operasi militer, hingga pertarungan gagasan antara pemerintah pusat dan para pemimpin daerah menjadi narasi yang paling sering muncul.
Namun, di balik kisah konflik itu, tersimpan sisi lain yang jarang mendapat perhatian: kemampuan para tokohnya mempertahankan tawa ketika segala cita-cita politik telah runtuh.
Ironi itu pernah disinggung Abdullah Nazir, wartawan harian Abadi yang dekat dengan kalangan Partai Masyumi. Kepada Ganis Harsono, ia mengisahkan kontras yang menurutnya nyaris menggelikan.
Ketika para pemimpin Masyumi seperti Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara menjalani kehidupan sederhana di pedalaman Sumatra, tekun beribadah dan memohon pertolongan Tuhan bagi perjuangan mereka, sebagian tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) justru masih bergerak di luar negeri, dari Jenewa hingga Beirut, dengan kehidupan yang jauh lebih nyaman.
Kisah itu kemudian dicatat Ganis Harsono dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno.
Pada penghujung dekade 1950-an, kepentingan politik Masyumi dan PSI bertemu dengan aspirasi sejumlah panglima daerah yang menilai hubungan pusat dan daerah semakin timpang.
Pertemuan kepentingan tersebut melahirkan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra dan Perjuangan Semesta (Permesta) di Sulawesi pada 1958.
Di luar negeri, bahkan dibentuk Republik Persatuan Indonesia (RPI) sebagai wadah koordinasi gerakan, dengan Sjafruddin Prawiranegara dipercaya memegang jabatan presiden sekaligus perdana menteri.
Namun, perlawanan itu tidak bertahan lama. Operasi militer pemerintah yang dipimpin Jenderal A.H. Nasution berhasil mematahkan kekuatan PRRI-Permesta.
Satu per satu para pemimpinnya menyerah atau ditangkap. Mereka yang sebelumnya berada di garis depan perlawanan akhirnya dipertemukan dalam satu tempat yang sama: rumah tahanan.
Dalam memoarnya, Letkol Ventje H.N. Sumual mengenang bagaimana para tokoh dari berbagai latar belakang berkumpul di Rumah Tahanan Cipayung. Di sana telah lebih dahulu berada Zulkifli Lubis, Nun Pantouw, Tan Goan Po, Herling Laoh, serta sejumlah tokoh lainnya.
Belakangan menyusul Ahmad Husein, Sahala Hutabarat, Willy Pesik, Boy Junus, Anwar Muin, dan banyak nama lain yang sebelumnya berdiri di medan perjuangan berbeda.
Sementara Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Maludin Simbolon, Duski Samad, dan Assaat sempat ditempatkan di lokasi tahanan lain sebelum akhirnya sebagian dipertemukan kembali.
Ironisnya, orang-orang yang dahulu memimpin perlawanan terhadap pemerintah kini harus menjalani hari-hari sebagai sesama tahanan.
Kehidupan di balik jeruji ternyata tidak selalu diwarnai kesedihan. Di sela rutinitas yang membosankan, humor menjadi cara sederhana untuk menjaga semangat.
Salah satu kisah yang dikenang Ventje terjadi ketika Sjafruddin Prawiranegara terlihat berbincang serius dengan Dr. Chris Soumokil, Presiden Republik Maluku Selatan (RMS).
Melihat pemandangan itu, Nun Pantouw berseru kepada rekan-rekan tahanan, “Lihat, dua presiden sedang berunding. Presiden RPI dan Presiden RMS.”
Ucapan spontan itu langsung memancing gelak tawa. Bukan hanya karena isi candanya, tetapi juga karena kedua tokoh tersebut memang tampak serius seolah sedang membahas persoalan kenegaraan.
Humor kembali muncul ketika Sutan Sjahrir mengalami serangan stroke di Rumah Tahanan Militer Jalan Budi Utomo, Jakarta, pada 1963.
Para tahanan segera berkerumun memberikan pertolongan. Mohammad Natsir dan Burhanuddin Harahap ikut memijat tangan Sjahrir, sementara yang lain berusaha memanggil petugas medis.
Di tengah suasana yang penuh kecemasan, seseorang tiba-tiba berkelakar, “Lihat, Masyumi akhirnya berkoalisi dengan PSI.”
Kalimat singkat itu sontak mencairkan ketegangan. Di balik perbedaan ideologi dan rivalitas politik yang pernah mewarnai masa lalu, mereka kini hanya sekumpulan orang yang sama-sama menghadapi penderitaan.
Candaan tidak selalu berkaitan dengan politik. Mochtar Lubis, pemimpin redaksi Indonesia Raya yang juga ditahan tanpa proses pengadilan selama bertahun-tahun, kerap menjadi sumber hiburan.
Suatu hari ia menggoda Burhanuddin Harahap yang akrab dipanggil “BH”.
Menurut Mochtar, singkatan itu kurang pantas karena identik dengan pakaian dalam perempuan. Candaan tersebut langsung disambut Mohammad Natsir yang menimpali Nun Pantouw.
“Nun sudah beristri dan punya anak, tapi tetap dipanggil Nun. Seperti nama biarawati.”
Tak ingin kalah, Maludin Simbolon menambahkan lelucon kepada Mayor Boyke Nainggolan.
“Kalau Boy, selamanya tetap anak kecil.”
Ruang tahanan pun kembali dipenuhi tawa. Sesaat mereka melupakan kenyataan bahwa masa depan politik mereka telah berubah drastis.
Simbolon sendiri dikenal sebagai sosok yang kreatif sekaligus usil. Karena tidak puas dengan makanan tahanan, ia merancang kompor sederhana dari lilin yang dilelehkan dan diberi beberapa sumbu. Kompor darurat itu digunakan untuk menghangatkan makanan kiriman keluarga.
Ketika petugas menyita temuannya, Simbolon tidak menyerah. Ia meminta setiap keluarga yang datang membesuk membawa lilin sedikit demi sedikit.
Dari bahan-bahan sederhana itu, kompor baru kembali dibuat. Bagi Simbolon, akal sehat dan kreativitas menjadi bentuk perlawanan kecil di balik dinding penjara.
Masa penahanan para tokoh PRRI-Permesta berakhir setelah perubahan politik menyusul runtuhnya kekuasaan Presiden Sukarno. Pada 1966, pemerintahan baru di bawah Soeharto membebaskan mereka.
Menariknya, hubungan persahabatan yang terjalin selama masa tahanan tidak ikut berakhir. Ventje Sumual, Maludin Simbolon, dan Ahmad Husein bahkan kembali bekerja sama mendirikan PT Konsultasi Pembangunan.
Mereka yang dahulu dipersatukan oleh pergolakan, lalu oleh ruang tahanan, akhirnya dipertemukan kembali dalam dunia usaha.
Kisah-kisah kecil itu menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh pertempuran, pidato politik, atau keputusan negara. Di balik nama-nama besar yang tercatat dalam buku sejarah, ada manusia yang tetap mampu bercanda, saling menggoda, dan tertawa di tengah masa paling sulit dalam hidupnya.
Barangkali justru dari tawa-tawa sederhana itulah sisi paling manusiawi dari pergolakan PRRI dan Permesta dapat dipahami.
Referensi
- Harsono, Ganis. Cakrawala Politik Era Sukarno. Jakarta: Gunung Agung, 1986.
- Lubis, Mochtar. Catatan Subversif. Jakarta: Grafiti Press, 1980.
- Mrázek, Rudolf. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996. (Terjemahan dari Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia).
- Parengkuan, F.E.W. Ventje H.N. Sumual: Menatap Hanya ke Depan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998.
- Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto (Ed.). Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, berbagai edisi.
- Kahin, Audrey R., dan George McT. Kahin. Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia. New York: The New Press, 1995.
- Feith, Herbert. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1962.
- Lev, Daniel S. The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957–1959. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1966.
- Anwar, Rosihan. Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia. Jakarta: Kompas, berbagai jilid.
- Natsir, Mohammad. Capita Selecta. Jakarta: Bulan Bintang, berbagai edisi.
Sumber pendukung
- Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), koleksi dokumen mengenai PRRI–Permesta.
- Arsip Harian Abadi, Indonesia Raya, dan Pedoman.
- Wawancara serta sejarah lisan para pelaku PRRI–Permesta yang dihimpun dalam berbagai publikasi sejarah Indonesia.
* Catatan: Beberapa anekdot populer seperti celetukan “dua presiden sedang berunding”, candaan “Masyumi berkoalisi dengan PSI”, maupun kisah kompor lilin buatan Maludin Simbolon berasal dari memoar dan kesaksian para pelaku (terutama memoar Ventje Sumual dan catatan Mochtar Lubis). Sebagai sumber sejarah, kisah-kisah tersebut tergolong memoar atau sejarah lisan (oral history) sehingga mencerminkan pengalaman dan ingatan para pelaku, bukan catatan resmi pemerintah.
- Penulis: Moderator Malesung
