Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Dari Dapur Goa ke Pantai Manado: Perjalanan Diogo de Magalhães pada 1563

Dari Dapur Goa ke Pantai Manado: Perjalanan Diogo de Magalhães pada 1563

  • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
  • visibility 80
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Namanya muncul hampir di setiap tulisan tentang awal sejarah Kristen di Sulawesi Utara. Ia disebut sebagai orang yang membaptis raja Manado dan raja Siau pada 1563, dan tahun itu dipakai sebagai titik mula dalam banyak kronologi lokal. Tetapi tentang orangnya sendiri, kapan lahir, dari mana, mengapa justru ia yang dikirim, dan bagaimana akhirnya nyaris tidak ada yang pernah ditulis.

Padahal riwayatnya ada, dan dapat diperiksa. Yang berikut disusun dari laporan yang ia tulis sendiri pada 28 Juli 1563 dan dari daftar biografis para misionaris Jesuit Maluku yang disusun penyunting Documenta Malucensia.

Dari dapur kolese Goa

Ia orang Portugis dan agaknya masuk Serikat Yesus di Goa. Yang tercatat tentang dirinya di kolese itu pada November 1559 adalah pekerjaannya: juru masak. Penyunting menambahkan bahwa ia tentu pernah menempuh sedikit pendidikan, sebab ia diharapkan menjadi koajutor rohani yang baik.[^1]

Pada Desember 1560 ia ditempatkan di Pulau Divar dekat Goa. Ia tiba di Ambon pada Februari 1562, tinggal bersama Francisco Vieira/Rodrigues, dan merayakan misa pertamanya di Hatiwi pada 29 Juni.[^2]

Jadi ketika ia berdiri di pantai Manado setahun kemudian, ia baru setahun menjadi imam.

Sebuah Perlombaan Dengan Armada Ternate

Alasan ia dikirim ke Manado bukan perluasan misi yang direncanakan dari jauh. Pada 1563 Raja Hairun menyiapkan sebuah ekspedisi untuk mengislamkan dengan paksa penduduk Sulawesi utara, di antaranya, menurut sumber yang dipakai penyunting, sudah ada beberapa orang Kristen. Para Jesuit berencana tiba lebih dulu daripada ekspedisi itu, dan Magalhães dipanggil dari Ambon lalu dikirim ke Manado.[^3]

Keterangan ini menjelaskan banyak hal yang dalam suratnya sendiri hanya tampak sebagai kejadian lepas.

Ia menjelaskan mengapa keberangkatan itu dipaksakan. Cuaca sangat keras, dan orang-orang kora-kora mengatakan mereka akan binasa kalau berlayar pada waktu itu. Kapten benteng Ternate memerintahkan mereka berangkat juga, apa pun risikonya, dengan ancaman: kalau tidak segera berlayar, para kapten akan dimasukkan ke pasung dengan belenggu besi.[^4]

Ia juga menjelaskan mengapa penduduk yang ditemuinya begitu mendesak. Di Bolaang, rajanya — anak raja Manado — menceritakan bahwa Kaicil Guzarate, saudara tiri Hairun dari pihak ibu sekaligus panglima armadanya, telah menjadikannya Muslim dengan paksa. Di Kaidipang, orang datang berulang kali “mostrando-se mui escandalizados dos tarnates“. Di pesisir Toli-Toli, tulisnya, seluruh pantai sangat membenci orang Muslim dan mengatakan mereka tidak akan menjadi Muslim dengan cara apa pun, melainkan Kristen.[^5]

Pembaptisan 1563 karena itu tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa keagamaan. Ia satu babak dalam perebutan Sulawesi utara antara dua kekuatan yang sama-sama datang dari Maluku.

Lima Belas Hari Di Manado

Mereka berangkat, dan sampai di Manado — yang menurut Mascarenhas berjarak dua hari dua malam perjalanan dari Ternate.[^6]

Raja meminta kepadanya, bersama orang banyak, agar mereka dijadikan Kristen. Selama lima belas hari ia tinggal dan mengajarkan doa kepada mereka, membicarakan perkara iman bersama mereka. Sesudah itu: “Fiz christão a el-rey com até mil e quinhentas almas” — ia menjadikan raja Kristen bersama sampai seribu lima ratus jiwa.[^7]

Angka 1.500 yang selama ini beredar lewat kutipan tak langsung karena itu ada dalam kalimat pelakunya sendiri.

Ia tidak berhenti pada upacara. Ia mendirikan sebuah salib di pantai, dan menyerahkan sehelai panji Raja Portugal kepada mereka, serta sehelai lagi kepada raja Siau.[^8] Baptisan itu sekaligus penandaan wilayah, persis yang diperlukan dalam sebuah perlombaan.

Satu kalimatnya tentang penduduk layak dikutip utuh karena jarang sekali muncul dalam sumber setua ini: orang Manado adalah yang paling ditakuti dan paling gagah dalam persenjataan di seluruh negeri itu.[^9]

Raja Siau, Yang Kebetulan Sedang Berada Di Situ

Raja Siau ia jumpai di Manado, bukan di Siau, dan ia baptis karena raja itu sangat memintanya. Penyunting menegaskan hal ini secara khusus, mengoreksi Guzmán dan beberapa penulis sesudahnya; nama baptisnya Jerónimo, nama aslinya Pasuma, dan bentuk “João” pada Marta adalah kekeliruan.[^10]

Penilaian Magalhães atas orangnya singkat: seorang lelaki yang sangat menjaga keadilan di negerinya. Negerinya punya enam ribu orang yang sanggup berperang; di pulau itu barangkali ada dua puluh sampai dua puluh lima ribu jiwa; sangat berlimpah bahan makanan dan berair sangat baik.[^11]

Bolaang, Kaidipang, Toli-Toli

Sesudah pembaptisan itu rombongan menyusuri pesisir Celebes.

Raja Bolaang meminta dijadikan Kristen bersama seluruh rakyatnya, berjanji memelihara adat Kristen dan membuang adatnya yang lama. Magalhães menangguhkannya justru karena orang itu sudah pernah menjadi Muslim, dan berjanji mengurusnya sepulang dari Toli-Toli. Negeri itu punya tujuh atau delapan tempat dengan taksiran dua belas sampai lima belas ribu jiwa.[^12]

Penangguhan itu tidak pernah dicabut; penyunting mencatat bahwa Magalhães tidak pernah kembali kepada perkara Bolaang, dan rajanya tidak pernah dibaptis.[^13]

Di Kaidipang, sebuah pantai yang di sepanjang kira-kira setengah legua berdiri enam tempat, penduduk turun ke pantai membawa bekal dan meminta dibaptis. Tiga kali mereka datang, sekitar tiga ribu orang, dan tidak melepaskannya.[^14]

Magalhães hanya membaptis para kepala utama, dan menyimpan sisanya untuk perjalanan pulang.

Toli-Toli, lima hari perjalanan dari Kaidipang, adalah tujuan resmi pelayaran itu dan pelayaran itu gagal. Orang Portugis tidak menemukan apa yang mereka cari, sebab meriam yang hendak dijemput sudah dibawa Kaicil Guzarate.[^15]

Dalam perjalanan pulang ia menepati janjinya di Kaidipang. Orang memintanya masuk ke negeri untuk membaptis istri dan anak mereka. Ia mendatangi dua tempat, mendirikan salib di masing-masing, dan memperkirakan telah membuat kira-kira dua ribu orang Kristen, untuk itu ia menghabiskan delapan hari.[^16] Angka dua ribu itu milik Kaidipang, bukan Manado.

Mengajar dulu, membaptis kemudian

Di sinilah profilnya menyimpang dari citra yang biasa dilekatkan kepadanya.

Sesudah kembali ke Manado ia menulis bahwa ia tinggal di situ untuk mengajar mereka, “porque esta hé a principal cabeça de todo o Celebe” — karena inilah kepala utama seluruh Celebes.[^17]

Tentang Siau: dua hari perjalanan dari Manado, penduduknya kabarnya orang baik-baik, “e eu não os vou aguora fazer christãos” — dan ia tidak akan pergi menjadikan mereka Kristen sekarang, sebab ia mau lebih dulu mengajarkan doa kepada mereka yang sudah ia baptis. Rencananya: pergi ke Siau kemudian, tinggal tiga atau empat bulan, dan mengajar lebih dulu sebelum membaptis.[^18]

Sikap yang sama muncul lebih tajam terhadap Batachina — nama yang di sini, menurut penyunting, dipakai untuk lengan utara Sulawesi. Daerah itu seluruhnya berpenduduk, dengan banyak tempat besar berisi empat, lima, dan enam ribu jiwa, dan semuanya ingin menjadi Kristen. Terhadap tawaran sebesar itu ia menjawab bahwa ia tidak akan melakukannya lagi sampai ia melihat ada orang yang mengajar dan mendidik mereka, “porque me parece que é milhor poucos bem doutrinados que muitos mal doutrina[do]s“.[^19]

Perlu dicatat betapa ganjil sikap itu di tengah sebuah perlombaan. Ia sedang mendahului armada pengislaman, dan justru menolak menambah jumlah.

Kalimat terakhir laporannya bukan urusan administrasi: orang Celebes ini sangat gemar menyanyikan doa, sampai-sampai mereka menyanyikannya terus-menerus, di perahu maupun di darat, “assi os grandes como pequenos”.[^20]

Seorang Diri

Bagian yang paling pribadi biasanya terlewat.

Kepada raja Manado ia menyerahkan sehelai baju kiriman kapten benteng. Ia memutuskan menunggu di Manado sampai kapal datang — dengan satu harapan tertentu: kalau ada imam lain datang dengannya, ia bisa pergi mengaku dosa. Lalu ia menulis bahwa atasannya tahu betapa besar kepedihan berada seorang diri tanpa ada tempat mengaku dosa, dan memohon demi Tuhan agar dikirimkan seorang teman. Ia menutup: diberkatilah Tuhan, hati nuraninya tenang.[^21]

Menurut catatan penyunting, rencana mengirim imam kedua ke Celebes memang ada — dan tidak pernah terlaksana.[^22]

Permintaannya yang lain berbunyi seperti anggaran: diperlukan dua imam dan seorang bruder, satu untuk Siau, satu untuk Manado, satu untuk Kaidipang. Dan kalau memang tidak bisa lebih dari dua orang, sebaiknya keduanya imam — demi pengakuan dosa.[^23]

Penerjemah, Dan Dua Bulan Di Siau

Bagian §13, yang ditulis Mascarenhas, menambahkan keterangan yang tidak ada dalam laporan Magalhães sendiri. Sesudah kembali dari Toli-Toli, ia memilih tinggal di Manado, dan bersamanya tinggal seorang Kristen setempat sebagai penerjemah.[^24]

Nama orang itu tidak dicatat, dan tidak ada kalimat mana pun yang menyatakan Magalhães menguasai bahasa penduduk. Kesimpulan yang wajar — meskipun tetap kesimpulan, bukan pernyataan dokumen — adalah bahwa pengajaran yang ia laporkan berjalan melalui mulut seorang perantara pribumi yang tidak berwajah dalam arsip.

Sementara itu rombongan Portugis meneruskan ke Siau menemani raja yang baru dibaptis, dan tinggal dua bulan menunggu musim angin barat laut. Menurut cerita mereka kepada Mascarenhas, raja Siau menyambut dengan kasih seperti kepada sahabat lama atau saudara. Selama dua bulan ia memberi makan mereka dan seluruh orang yang mereka bawa — sekurang-kurangnya lebih dari seratus orang — datang tidur di kora-kora mereka, dan mengatakan bahwa kalau sang Padre mau datang ke negerinya, ia tidak akan kekurangan apa pun; raja akan segera mendirikan rumah baginya.[^25]

Ia Tidak Pernah Kembali

Pada Oktober atau November 1563 Magalhães kembali ke Ternate, dan tak lama kemudian ditugaskan ke misi Moro “sampai bulan Mei, yakni waktu musim yang baik untuk Celebes”. Penyunting membaca kata-kata itu sebagai tanda bahwa ia semestinya berlayar lagi ke Manado — tetapi tidak ada dokumen yang membuktikan ia benar-benar pergi.[^26]

Rencana tinggal tiga sampai empat bulan di Siau, undangan raja Siau, janji kepada raja Bolaang, dan seluruh Batachina yang menunggu pengajar: tidak satu pun ada bukti terlaksana.

Ia agaknya tetap terikat pada kawasan Moro sampai akhir 1568, ketika cedera pada kaki memaksanya kembali ke Ternate. Ia masih di sana pada Juni 1570. Pada 1572 ia meninggalkan Maluku menuju Goa, dan di sanalah ia wafat pada paruh kedua September 1573.[^27]

Sepuluh tahun sesudah lima belas hari di Manado, ia mati di kota tempat ia dulu bekerja di dapur.

Yang Tersisa Dari Karyanya

Penyunting Documenta Malucensia menyebutnya “pendiri Gereja-gereja Kristen Manado dan Siau”.[^28] Penilaian itu perlu diletakkan berdampingan dengan apa yang terjadi kemudian.

Lima puluh empat tahun sesudah 1563, dua Jesuit yang dikirim ke Manado mendapati orang-orang yang pernah dibaptis sudah kembali kepada agama lama atau dipaksa memeluk Islam. Laporan 1619 mencatat perjumpaan dengan dua lelaki tua yang masih menyimpan ingatan misi lama: satu di antaranya masih menyanyikan doa tanda salib dan menirukan cara katekismus dulu diajarkan.[^29]

Ada satu rincian yang pahit di situ. Penduduk mengaitkan ingatan pembaptisan lama bukan dengan nama Magalhães, melainkan dengan nama Mascarenhas — orang yang meneruskan suratnya, dan yang baru datang lima tahun kemudian.[^30]

Yang bertahan justru di Siau. Marta pada 1588 mencatat bahwa raja Siau dibaptis bersama seorang putranya yang berumur dua tahun, dan anak itulah yang pada 1588 menjadi raja Siau dengan nama D. João.[^31]

Anak itu dibesarkan di rumah Jesuit di Ternate dan pada 1576 masih tercatat di sana, sudah bisa membaca.[^32] Dari dua “gereja” yang menurut penyunting ia dirikan, yang hidup adalah yang ia sendiri tunda pengerjaannya.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Personel Tainan Kokutai di bandara Langoan, ini adalah satuan elite penerbang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang berperan penting dalam merebut dominasi udara selama invasi ke Hindia Belanda pada awal Perang Pasifik. (1942, pacificeagles, ijnafphotos, dan Australian War Memorial - Engel Yong)

    11 Januari 1942: Hari ketika Langit Minahasa Dipenuhi Api dan Parasut

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Pagi Minggu, 11 Januari 1942, menjadi salah satu hari paling menentukan dalam sejarah Perang Pasifik di Minahasa. Sejak fajar menyingsing, kawasan Kema, Airmadidi, Kalawiran, hingga pegunungan Lembean berubah menjadi panggung pertempuran besar yang mempertemukan pasukan Jepang, KNIL, dan Sekutu. Di darat, laut, dan udara, peperangan berlangsung hampir bersamaan, sementara warga sipil hanya bisa menyaksikan kedahsyatan […]

  • Desa Kali 1642: Kisah Fray Lorenzo Garralda dan Jejak Awal Fransiskan di Minahasa

    Desa Kali 1642: Kisah Fray Lorenzo Garralda dan Jejak Awal Fransiskan di Minahasa

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Pada pertengahan abad ketujuh belas, seorang imam Fransiskan dari Navarra dibunuh di pedalaman Minahasa, namanya Lorenzo Garralda. Kisahnya sampai kepada kita terutama lewat laporan atasannya yang selamat dari peristiwa yang sama. Laporan itu ternyata lebih bisa dipercaya daripada banyak cerita yang kemudian beredar tentang Garralda, meskipun tidak dalam segala hal. Dari Navarra ke Manila Garralda […]

  • Tollelieuw dan Mackatoppa, berjalan bersama di tengah ketegangan politik Minahasa dan Bolaang Mongondow pada 1695.(ilustrasi)

    Nama-Nama Pemimpin Minahasa dalam Catatan VOC Tahun 1695

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Pada April 1695 seorang pejabat Kompeni VOC berkeliling ke negeri-negeri Minahasa. Ia mencatat nama setiap bobato, yaitu para pemimpin negeri dari hukum sampai marinyo, serta jumlah lelaki bersenjata, perempuan, dan anak di tiap negeri. Daftarnya masih tersimpan di Nationaal Archief, Den Haag, sebagai lampiran surat dari Ternate bertanggal 1 Oktober 1695. [1] Daftar itu memuat […]

  • Majoor Abraham Donatius Wakkary: Pahlawan Militer Minahasa di KNIL

    Majoor Abraham Donatius Wakkary: Pahlawan Militer Minahasa di KNIL

    • calendar_month Selasa, 24 Des 2024
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Abraham Donatius Wakkary adalah salah satu tokoh besar Minahasa yang mencatatkan namanya dalam sejarah militer Hindia-Belanda. Bersama Tololiu Dotulong, ia menjadi Groot Majoor, perwira tertinggi di pasukan yang menjadi embrio KNIL, dengan keistimewaan berasal dari kesatuan kavaleri (pasukan berkuda). Lahir di Manado pada 15 Juni 1796, Wakkary berasal dari Negeri Baru, sebuah balak Minahasa yang […]

  • Sang “Raja Kecil” dari Sonder: Sisi Lain Groot-Majoor Dotulong yang Membuat Misionaris Pusing

    Sang “Raja Kecil” dari Sonder: Sisi Lain Groot-Majoor Dotulong yang Membuat Misionaris Pusing

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Dalam lembar sejarah Minahasa, nama Hermanus Willem Dotulong (1795–1888) kerap ditulis dengan tinta emas sebagai perwira Minahasa yang mencapai pangkat Groot-Majoor dalam dinas kolonial Belanda. Ia dikenal sebagai komandan Pasukan Tulungan dan salah satu figur kunci dalam pengamanan yang berujung pada operasi penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang pada akhir Perang Jawa (1825–1830). Namun, di balik seragam […]

  • Top 3 Saham Kontraktor Tambang yang Bisa Dikoleksi di Makmur, Aplikasi Saham Berlisensi OJK

    Top 3 Saham Kontraktor Tambang yang Bisa Dikoleksi di Makmur, Aplikasi Saham Berlisensi OJK

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Jika Anda tertarik mengoleksi saham di sektor tambang, ada tiga saham kontraktor tambang yang menarik untuk dipertimbangkan, khususnya lewat platform aplikasi saham Makmur aman dan Terbaik. Ulasan ini akan membahas tiga saham kontraktor tambang yang layak dikoleksi di Makmur, yaitu PTRO, DEWA, dan ABMM, dengan melihat nilai kapitalisasi, valuasi, dan potensi pertumbuhan laba sebagai pertimbangan utama. […]

expand_less