Pengetahuan Petani Minahasa ‘Bibit Kelapa yang Digantung’
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Repro foto: Pembibitan kelapa dengan buah yang digantung berjajar pada bambu di Minahasa. Foto berketerangan “Kweekerij”, dimuat dalam laporan Afdeeling Landbouw tahun 1925
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Buah kelapa digantung berjajar pada bambu di tempat teduh, tidak langsung dibenamkan di tanah. Cara pembibitan ini dicatat dan ditampilkan dalam foto berjudul “Kweekerij” dalam Een en ander over de volksklappercultuur in de Minahassa. Laporan Afdeeling Landbouw yang terbit pada 1925 tersebut menjelaskan cara petani memilih buah, menumbuhkan tunas, dan memindahkan bibit ke kebun. Pembibitan gantung disebut sebagai cara yang paling umum di antara dua cara pembibitan yang dibahas.
Sebelum buah disiapkan sebagai bibit, petani memilih pohon asalnya. Menurut laporan, pengalaman membuat mereka mengenali pohon yang baik dalam jumlah buah maupun hasil kopra. Ketika hendak membuka kebun, buah dikumpulkan dari pohon pilihan tersebut. Pohon yang sedang berbuah terlampau banyak tidak selalu diutamakan. Sebagian petani memilih pohon lain yang juga dinilai baik, tetapi saat itu berbuah lebih sedikit dengan perkembangan buah yang lebih sempurna.
Kelapa yang paling banyak ditanam disebut klapa biasa. Batangnya digambarkan kuat, tajuknya besar, dan buahnya relatif besar serta agak bulat. Warna buah dapat hijau tua, hijau muda, jingga kekuningan, atau kuning muda. Penduduk mengenalnya pula sebagai klapa idjoe dan klapa merah. Warna-warna itu biasanya bercampur dalam satu kebun. Menurut laporan, pertimbangan hasil kopra lebih menentukan pemilihan bibit daripada kesukaan khusus terhadap warna hijau atau kuning.
Laporan mencatat pula kelapa dengan kegunaan berbeda. Klapa kanari mempunyai daging yang rasanya mengingatkan pada buah kenari. Pemeriksaan awal yang disebut penulis mengarah pada dugaan bahwa buah bernama demikian merupakan penyimpangan dari klapa biasa, bukan kelompok tersendiri. Dagingnya dinilai tidak cocok untuk kopra karena mudah hancur ketika dikeringkan. Sementara itu, klapa boelan digambarkan berbatang lebih ramping, berdaun kekuningan, berbuah bulat kuning muda, dan lebih cepat menghasilkan.
Klapa babi mempunyai buah hijau atau jingga, berbentuk memanjang dan relatif kecil. Pohonnya digambarkan cepat serta banyak berbuah, tetapi dagingnya mengandung sedikit minyak. Daging muda dan airnya dinilai lebih manis daripada kelapa lain. Adapun klapa kapal mempunyai buah relatif kecil dan agak bulat, dengan warna hijau maupun kuning. Kelapa ini terutama ditanam karena rasa manis daging mudanya dan disebut sudah banyak berbuah pada usia tiga tahun.
Menurut laporan, klapa boelan, klapa babi, dan klapa kapal memberikan hasil kopra per buah lebih sedikit daripada klapa biasa. Penduduk menilai banyaknya buah belum menutup biaya pengolahan yang lebih besar, sedangkan umur tanaman yang lebih pendek dianggap kurang menguntungkan. Ketiganya terutama ditanam di pekarangan untuk kebutuhan rumah tangga atau kesenangan pemilik. Apabila ada kelebihan buah matang, buah-buah itu juga dapat digunakan untuk membuat kopra.
Untuk pembibitan gantung, petani memilih tempat terlindung, misalnya di bawah pohon dekat rumah. Sebagian kecil sabut yang disebut gonofoe dikupas secara dangkal, lalu buah digantung pada bambu. Beberapa buah mulai berkecambah sesudah sekitar sebulan. Pemindahan biasanya masih ditunda beberapa bulan sampai sebagian besar buah bertunas dengan baik. Foto dalam laporan memperlihatkan deretan buah yang digantung pada palang bambu di tempat pembibitan.
Akar bibit gantung berkembang di dalam serat sabut. Menurut penulis laporan, keadaan ini memudahkan pemindahan karena akar tidak perlu dicabut dari tanah dan risiko patah berkurang. Pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat serta tanpa banyak biaya. Bibit demikian juga dinilai lebih kecil kemungkinannya mengering ketika dipindahkan dibandingkan bibit dari bedeng. Penilaian tersebut disampaikan sebagai kelebihan cara yang digunakan petani, bukan sebagai hasil percobaan dengan angka keberhasilan tertentu.
Cara kedua ialah membesarkan bibit di bedeng. Pada cara ini, akar telah masuk ke tanah sehingga pemindahannya membutuhkan perhatian lebih. Sebagian akar terlebih dahulu dipotong, kemudian petani menunggu munculnya akar baru sebelum memotong bagian lainnya. Sesudah beberapa minggu, bibit dipindahkan. Laporan menilai pertumbuhannya dapat tetap baik apabila tersedia hujan yang cukup. Jadi, kedua cara tersebut sama-sama digunakan, dengan perbedaan pekerjaan terutama pada penanganan akar.
Pembukaan kebun kelapa dimulai dengan ladang yang ditanami padi, jagung, atau tanaman lain yang cepat menghasilkan. Bibit kelapa kemudian ditanam di antara tanaman tersebut. Sebagian petani membuat lubang secukupnya dan menutup buah hanya dengan lapisan tanah tipis. Sekitar dua tahun kemudian, ketika tanaman sela mulai dihentikan, dilakukan pekerjaan yang disebut kebiri: mengambil sisa buah yang belum sepenuhnya membusuk dari pangkal tanaman.
Menurut laporan, kebiri dimaksudkan untuk membantu akar berkembang ke segala arah dan mengurangi gangguan babi liar yang mengorek tanah. Petani lain memilih menanam lebih dalam, menggunakan lubang sekitar 40–50 sentimeter yang ditimbun bertahap. Pada cara ini, buah akhirnya terletak lebih dalam dan kebiri tidak dianggap diperlukan untuk perakaran yang baik. Gangguan babi juga disebut lebih kecil. Kedua cara penanaman itu dicatat sebagai praktik yang berbeda di kebun-kebun penduduk.
Jarak tanam turut berubah. Laporan menyebut jarak lama biasanya tidak melebihi tujuh atau delapan meter, sedangkan kebun baru semakin sering menggunakan jarak sekitar sembilan kali sembilan meter. Jarak yang terakhir pernah ditetapkan pemerintah. Namun, penulis belum menganggap jarak paling menguntungkan pada berbagai tanah telah diketahui. Ia menyatakan penelitian sistematis mengenai persoalan itu belum dilakukan, sehingga jarak yang dianjurkan tidak diperlakukan sebagai jawaban akhir untuk setiap keadaan.
Selama dua atau tiga tahun pertama, tanaman sela ikut menentukan pemeliharaan kebun. Selain jagung dan kacang tanah, ubi kayu serta ubi jalar ditanam di wilayah yang mengalami gangguan babi. Menurut laporan, tanaman tersebut juga dimaksudkan untuk mengalihkan babi dari bibit kelapa muda. Pisang, cengkih, dan pala digunakan pula sebagai tanaman sela. Kebun yang terus digunakan untuk tanaman lain memperoleh pemeliharaan berbeda dari kebun yang tanaman selanya telah dihentikan.
Alang-alang menjadi salah satu persoalan kebun muda. Sebagian petani menanam saroepapa, tumbuhan merambat cepat yang oleh laporan dikelompokkan sebagai Phaseolus dan daun mudanya dimakan sebagai sayur. Tanaman ini digunakan untuk menekan alang-alang. Akan tetapi, pagar yang kurang terpelihara memungkinkan ternak masuk dan merusaknya. Di kebun dengan kondisi lain, ternak justru dimanfaatkan untuk membatasi pertumbuhan tumbuhan bawah sehingga pekerjaan membersihkan kebun menjadi lebih ringan.
Di samping praktik petani, kegiatan pendidikan dan penerangan pertanian berkembang pada awal abad kedua puluh. Effendi Wahyono menyebut sekolah pertanian di Tondano pada 1914 serta layanan penerangan pertanian pada 1923. Keterangan tersebut melengkapi konteks laporan 1925, yang mencatat pembibitan gantung bersama pemilihan pohon induk, pembibitan bedeng, dan beberapa cara penanaman. Laporan itu tidak menyebut siapa yang pertama memperkenalkan cara menggantung bibit ataupun kapan praktik tersebut mulai digunakan di Minahasa.
Referensi
Afdeeling Landbouw, Departement van Landbouw, Nijverheid en Handel. Een en ander over de volksklappercultuur in de Minahassa. Weltevreden: Landsdrukkerij, 1925.
Wahyono, Effendi. “Minahasa dalam Jaringan Perdagangan Kopra di Hindia Belanda 1900–1941.” Dalam Djoko Marihandono (peny.), Titik Balik Historiografi di Indonesia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008.
- Penulis: Engel Yong
