Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Manado 1683: Sengketa Budak, Padi Terbakar dan Ambisi VOC

Manado 1683: Sengketa Budak, Padi Terbakar dan Ambisi VOC

  • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
  • visibility 41
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 7 Mei 1683 sebuah kapal Kompeni VOC dari Ternate berlabuh di depan Benteng Amsterdam, Manado.

Di dalamnya ada dua orang utusan Gubernur Maluku, Jacob Lobs.

Yang pertama Oloffsz. Andries Loffsang (Oloffsz. adalah singkatan dari Oloffszoon, “anak Oloff”), yang menandatangani surat-surat rombongan dan menulis jurnal ini. Yang kedua Anthonij van der Mast, yang akan dilantik sebagai opperhoofd (kepala pos) Manado yang baru.[1]

Tugas mereka ada tiga yaitu melantik kepala pos yang baru, mengumumkan kemenangan Kompeni atas Banten, dan mengumpulkan padi untuk gudang Kompeni.

Selama sebulan, sampai 8 Juni 1683, mereka mencatat hampir setiap hari yang mereka lewati. Catatan itu kini tersimpan di Nationaal Archief Den Haag, dalam jilid surat-surat dari Maluku yang tiba di Belanda tahun 1684.[1]

Isinya bukan laporan perang atau kontrak. Isinya rapat, jamuan, perkara budak, tamu dari Bolaang, tawar-menawar soal gereja, dan padi yang menjadi abu. Justru karena itu jurnal ini berharga, ia memperlihatkan para kepala negeri Minahasa empat tahun setelah kontrak Padtbrugge 1679, ketika mereka berbicara, menolak, dan menawar di depan pejabat Kompeni.

Kronologi singkat

Tanggal 1683 Peristiwa
7 Mei Rombongan Loffsang dan Van der Mast tiba di Manado
15 Mei Surat ke pos Siau dan ke Tagulandang
16 Mei (Minggu) Kemenangan atas Banten diumumkan; Van der Mast dilantik; jamuan para kepala
17 Mei Menunggu kepala Ponosakan, Ratahan, dan Tonsawang
18 Mei Pertemuan umum dan daftar kepala negeri (naskah menulis “10”)
19 Mei Dua perkara budak; pangeran Bolaang tiba
20 Mei Kepala Tonsawang menerima perjanjian; pangeran Bolaang datang ke loji
26 Mei Para pangeran Bolaang ditanyai dan meminta guru sekolah
29 Mei Para kepala menolak membangun gereja; Ares, Klabat, dan Bantik akhirnya menyanggupi
4 Juni Surat kepada Raja Siau; kepala Manado datang soal kayu gereja
5 Juni Para pangeran Bolaang berpamitan
6 Juni (Minggu) Permintaan padi; para kepala menyatakan tidak sanggup
8 Juni Sangaji Pelealo datang dari Tomon menyanggupi padi

Tiba di Manado

Surat pertama dalam jurnal, bertarikh 15 Mei, ditujukan kepada pos Kompeni di Siau. Surat itu dibuka dengan kalimat “Onse aenkomste hier tot Manado was den 7e deser” (kami tiba di Manado tanggal 7 bulan ini), dan ditandatangani Andries Oloffsz. Loffsang dan Anthony van der Mast, dengan catatan pinggir “Manado aende Fortresse Amsterdam dese 15e May 1683”.[1]

Isinya urusan sehari-hari pos kecil yakni inventaris barang Kompeni, kabar pembunuhan yang dibiarkan tanpa hukuman, dan minyak lampu, karena “hier aent Comptoir is gants geen lamp-oly” (di kantor ini sama sekali tidak ada minyak lampu). Sehelai kain merah dan kain bafta dikirim untuk ditukar dengan minyak. Surat kedua meminta hal serupa kepada Willem Allart, residen dan guru sekolah di Tagulandang. Surat itu juga membawa salam Gubernur Jacob Lobs, kabar bahwa Banten sudah ditaklukkan, dan rencana merayakannya “op morgen” (besok).[1]

Esoknya 16 Mei, hari Minggu, sesudah kebaktian Melayu, orang-orang dari negeri dekat benteng datang ke depan loji. Jumlahnya “wel ontrent drie hondert man, inde wapenen” (sekitar tiga ratus orang, bersenjata), berpakaian menurut adat negeri. Di hadapan mereka kemenangan atas Banten diumumkan.[1]

Hari itu juga Van der Mast diperkenalkan sebagai opperhoofd, menggantikan Sersan David Haack. Para kepala negeri tidak keberatan, namun dengan satu syarat yakni mereka tidak boleh dibebani kerja baru di luar “‘t verband” (perjanjian) yang mereka buat dengan Gubernur Padtbrugge.[2] Empat tahun setelah 1679, kontrak itu sudah dipakai para kepala-kepala negeri sebagai batas, dan mereka akan memakainya lagi dua minggu kemudian.

Malamnya para kepala negeri datang sebagai tamu. Jamuannya daging seekor sapi jantan tua, yang menurut penulis baru bisa dibunuh sehari sebelumnya “met groote moeijte” (dengan susah payah), ditambah arak dan saguer.[2]

Dalam jamuan itu penulis juga mencatat “de Capt.n Paat van Tomon” (Kapten Paat dari Tomon), yang cukup paham bahasa Melayu. Paat bertanya tentang Banten, lalu menegur “Opper-rigter Manganouton” (hakim kepala Manganouton), yang menurut penulis sudah lama kehilangan kepercayaan.[2]

Hari itu juga, sesudah kebaktian berbahasa Belanda, Sersan Haack yang baru diganti menikah di loji dengan Anna Maria Oge, janda mendiang opperhoofd Manado, Abram van Meijert.[2]

Daftar kepala negeri

Pada 17 Mei rombongan masih menunggu Ponosakan, Ratahan, dan Tonsawang, karena para kepala hendak mengadakan “een algemene samenkomste” (pertemuan umum).[3] Pertemuan itu tercatat pada entri berikutnya, beserta daftar kepala negeri yang datang ke loji.

Daftar itu dibuka dengan “Den 10e s’morgens” (tanggal 10, pagi hari), dan pertemuan yang sama dua kali dirujuk lagi sebagai “den 10e deser”. Tetapi angka itu tidak mungkin benar. Surat bertarikh 15 Mei mengumumkan perayaan “op morgen”, entri 17 Mei masih menunggu para kepala untuk pertemuan umum, dan entri sesudah daftar bertanggal 19. Pertemuan itu karenanya jatuh pada 18 Mei. Kemungkinan besar penyalin jurnal ini membaca angka 8 di naskah asli sebagai 0.[3]

Kelompok pertama memuat negeri-negeri dekat benteng, antara lain Manado, Bantik, Klabat, Ares, Kakaskasen, Saronson, Tomariri, dan Thomon. Tiap negeri mengirim beberapa pejabat bergelar Belanda dan Portugis. Contohnya Thomon:[3]

Gelar Nama
Houcom Maior Mangenantong
Capt.n Maior Benor
Capt.n Pedro Paet
Vaandrig Pioloh

Saronson mengirim tiga pejabat, di antaranya Houcom Fransisco Mendaigi. Dari daftar ini terlihat bahwa Kapten Paat dalam jamuan 16 Mei adalah Pedro Paet dari Thomon. “Pedro” adalah nama baptisnya bukan gelar; polanya sama dengan Fransisco Mendaigi dari Saronson, yaitu nama baptis Iberia di depan nama Minahasa. Tomariri mengirim lima pejabat, di antaranya Kapten Soupit.[3]

Di halaman berikutnya ada entri “van Romon”, dengan pejabat Houcom Bilar dan Kapten Oudangh. Huruf awalnya R, sama dengan R pada “Rambocan”, jadi entri ini bukan Tomohon. Letaknya di antara Toncimbout (Tontemboan) dan Tonpassau (Tompaso), sehingga kemungkinan yang dimaksud adalah Rumoong.[3]

Dalam pertemuan itu Kompeni meminta para kepala membantu membangun gereja di Manado. Para kepala negeri menolak. Jawaban mereka akan dibahas lagi pada 29 Mei.[9]

Dua perkara budak

Pada 19 Mei pagi para kepala negeri kembali berkumpul di loji, dan Kompeni duduk bersama mereka sebagai pendengar dan penengah. Hari itu muncul dua perkara budak.[4]

Penggugat perkara pertama adalah Jacob Idensz., seorang “mixties-borger” (warga mestizo) Manado. Atas nama istrinya yang bernama Potensiana, ia menuntut seorang budak atau gantinya. Beberapa tahun sebelumnya budak itu dijual kepada Potensiana oleh “den Songhadie vant dorp Tomon Pelealo” (sangaji negeri Tomon, bernama Pelealo). Budak itu kemudian lari ke negeri Tomariri dan masih tinggal di sana.[4]

Kapten Soupit dari Tomariri menentang tuntutan itu. Menurutnya orang yang dijual itu bukan budak, sehingga ia berhak membebaskan diri “met de vlugt” (dengan melarikan diri). Penggugat kata Soupit, silakan menagih kepada penjualnya.[4]

Pelealo membela diri. Ia menjual orang itu sebagai budak yang sah bahwa ibunya pernah meminjam “twee à drij maten padij” (dua atau tiga takar padi) dan tidak melunasinya, sehingga anaknya dijadikan budak.

Para saksi kemudian didengar. Kapten mayor negeri Tomon sendiri, bersama beberapa orang lain, menyatakan bahwa padi pinjaman itu sudah lama dilunasi sebelum penjualan. Putusannya adalah orang yang dijual itu tetap bebas dari “onwettige slavernije” (perbudakan yang tidak sah), dan penggugat harus menuntut ganti kepada Pelealo.[4]

Perkara kedua antara Mangenantonge dan “rigter Mandaige” (hakim Mandagi), tentang seorang perempuan yang dulu lari dan kini tinggal di wilayah Mandagi. Mangenantonge tidak bisa membuktikan bahwa ia membeli perempuan itu. Ia malah sudah memperlakukannya sebagai budak lebih dari dua puluh tahun dan mempunyai anak darinya. Perempuan itu pun dinyatakan merdeka.[5]

Perkara kecil ini memperlihatkan banyak hal. Utang dua atau tiga takar padi bisa menjadikan seorang anak budak. Kapten Tomariri melindungi pelarian, dan kapten mayor Tomon sendiri bersaksi melawan sangajinya.

Sesudah dua perkara itu, makin banyak pihak berdatangan membawa sengketa lama dan baru. Penulis menyerah, semua perkara itu tidak akan selesai dalam sebulan, padahal mereka diutus untuk urusan Kompeni yang lain. Maka para pihak disuruh menunggu Gubernur datang.

Para kepala negeri juga diingatkan untuk segera melunasi utang padi, karena pos ini akan kekurangan padi dalam dua bulan, dan padi itu harus bersih dan ditampi seperti yang ditetapkan dalam perjanjian. Para kepala bergumam di antara mereka, lalu bubar.[5]

Tamu dari Bolaang

Orang Bolaang tidak datang bersama rombongan Kompeni. Pada 20 Mei, para kepala Tonsawang dipanggil ke loji. Mereka mengakui bahwa dalam “den jongsten oorlog” (perang terakhir) mereka memihak “de factie des Conings van Boulang” (kubu Raja Bolaang) melawan perjanjian negeri-negeri, sampai akhirnya ditundukkan dengan senjata. Kini mereka menyatakan menerima isi perjanjian itu.[6]

Saat itu masuk dua pangeran Bolaang yang tiba di Manado sehari sebelumnya. Yang pertama “Monoppo, oudste zoon des Conings” (Manoppo, putra sulung raja). Yang kedua “Lalita, zyns Hoogheyts susters zoon” (Lalita, putra saudari raja Bolaang) yang juga memakai nama Kapten Laimot.

Kedatangan mereka memotong sidang. Ketika berpamitan, para kepala Tonsawang memberi hormat istimewa kepada pangeran Bolaang, dan penulis memilih pura-pura tidak melihatnya. Kedua pangeran hanya berbasa-basi, tidak menyebut maksud kedatangan, dan kembali ke penginapan sesudah kira-kira setengah jam.[6]

Baru pada 26 Mei mereka ditanyai secara resmi. Lalita menjawab lebih dulu bahwa Raja Bolaang menyuruhnya menjemput saudari raja, seorang putri yang tinggal di dekat benteng. Putri itu pergi ke Mongondow untuk berkabung atas kematian Pangeran “Maccardompius, off Maccarompius”. Raja juga menitipkan salam: ia ingin datang sendiri, tetapi sedang sakit berat dan lemah.[7]

Manoppo, “een jongman van omtrent dertig jaren” (pemuda sekitar tiga puluh tahun) yang menurut penulis tampak berbudi baik, mengaku datang “ten deele met en ten deele sonder voorweten des Conings” (sebagian dengan, sebagian tanpa sepengetahuan raja): ia ikut dalam perjalanan Lalita atas kemauannya sendiri, semata-mata karena ingin bertemu orang Kompeni.[7]

Maksudnya, raja tahu sebagian tentang perjalanan Manoppo, tetapi tidak sepenuhnya. Kemungkinan raja tahu Lalita berangkat ke Manado untuk menjemput sang putri. Manoppo ikut dalam perjalanan itu atas kemauannya sendiri, tanpa izin khusus dari ayahnya. Ia mengaku datang semata-mata karena ingin bertemu orang Kompeni.
Ini jawaban yang berhati-hati, Manoppo tidak mau terlihat datang sebagai utusan resmi raja, tetapi juga tidak mau terlihat melawan ayahnya.

Raja Bolaang tidak menitipkan urusan apa pun. Kedua pangeran sendiri meminta seorang guru sekolah “in plaetse van den overleden Hendrik Zybrantsz” (pengganti mendiang Hendrik Zybrantsz). Hendrik Sybrantsz adalah guru sekolah Manado yang disebut dalam laporan visitasi ds. Jacobus Montanus tahun 1675.[8]

Lalita menyatakan ingin dibaptis begitu pendeta datang, “gelyk prins Manoppo alrede had gedaen” (seperti yang sudah dilakukan Pangeran Manoppo). Ia menyalahkan raja Bolaang, kekristenan di Bolaang tidak maju karena raja berubah-ubah, sesekali menyuruh anak-anak ke sekolah, lalu melarangnya lagi. Sudah beberapa bulan pula tidak ada guru.[7]

Para pangeran juga punya syarat soal bahasa. Mereka khawatir akan dikirimi guru yang mengajar dalam bahasa ibu Sangir, Siau, dan Tagulandang. Menurut mereka, hal itu akan ditertawakan karena lafal banyak katanya asing dan janggal. Mereka meminta guru yang mengajar “enkelyk in de Malydse tale” (hanya dalam bahasa Melayu), yang lebih mereka sukai.

Penulis menjawab bahwa penempatan guru adalah wewenang pendeta, yang sedang tidak ada, tetapi ia berjanji melaporkannya kepada Gubernur. Para pangeran lalu menyatakan bahwa mereka, bersama semua rakyat Raja Loloda kecuali orang Mongondow, ingin pindah kembali dari Bolaang ke Amurang.[7]

Pada 5 Juni para pangeran berpamitan dan “nogmaels” (sekali lagi) mengulang permintaan guru sekolah itu. Mereka juga memohon ampun bagi Pedro Zegers, marinyo gereja yang sedang berperkara karena tuduhan berzina. Namun penulis tidak bisa memutuskan keduanya. Kepada raja disampaikan salam dan kabar bahwa Gubernur Maluku akan datang sendiri dua bulan lagi. Saat itu, “zyn hoogheyt in ‘t leven blyvende” (bila Sri Baginda masih hidup), urusan peninggalan Pangeran Maccarompius dan pemerintahan negeri-negeri Bolaang akan dirundingkan.[11]

Gereja 54 kaki

Gereja ini bukan prakarsa orang negeri. Pada 29 Mei para kepala negeri sekitar benteng dipanggil lagi, untuk terakhir kalinya ditanya apakah mereka mau membantu membangun gereja. Mereka tetap pada jawaban pertemuan umum, mereka sama sekali tidak mau ikut membangun gereja atau mengerjakan pekerjaan lain yang “int verbond niet en waren begrepen” (tidak termasuk dalam perjanjian), “schoon betalinge voor den arbyts-loon kregen” (sekalipun diberi upah).[9]

Kompeni terpaksa menyerahkan pekerjaan itu kepada orang Kristen saja. Hukum tua Manado, Bartholomeus Rampangang, mengeluhkan usianya yang tua, tenaganya yang lemah, dan sedikitnya jumlah orangnya.

Meski begitu ia berjanji menyumbang semampunya dan lebih dulu mengumpulkan bahan bangunan, supaya pembangunan bisa dimulai saat Gubernur datang, atau lebih cepat.[9]

Penulis menilai jemaat Kristen Manado terlalu kecil dan terlalu miskin untuk membangun gereja yang layak. Karena itu juru bahasa dikirim ke rumah para kepala negeri satu per satu, membawa hadiah kecil berupa sehelai kain linen.

Juru bahasa juga membawa ancaman halus, mulai sekarang orang Manado dan orang Kristen lain akan dibebaskan dari tugas mengantar pesan, sehingga beban itu akan jatuh ke pundak negeri-negeri lain. Kalau mereka menolak, mereka harus menyewa dan membayar orang Manado untuk mengerjakannya.

Sore itu juga datang jawaban dari kepala Ares, Klabat, dan Bantik menyanggupi membantu, sesudah panen atau paling lambat dalam dua bulan.[9]

Pada 4 Juni Loffsang menulis surat kepada Raja Siau. Isinya teguran soal pembunuhan, “heydense duyvelspriesters” (pendeta-pendeta kafir), dan perzinaan yang dibiarkan tanpa hukuman di Siau, serta permintaan papan untuk dudukan meriam di Schans Doornburg.[10]

Hari itu juga beberapa kepala Manado datang ke loji. Mereka hendak pergi “naer d’hier bygelegene eylanden” (ke pulau-pulau di dekat sini) untuk mengambil kayu gereja dan menanyakan ukuran balok yang dibutuhkan.

Penulis ikut bersama mereka meninjau tempat gereja itu, dan menilainya “de bequaemste van ‘t geheele dorp” (tempat paling cocok di seluruh negeri). Sesudah diukur dan dirundingkan, rancangan “de nieuwe op te bouwen kerck” (gereja yang akan dibangun baru) ditetapkan:[10]

  • panjang 54 kaki, lebar 30 kaki;
  • kaki bangunan berupa tembok (metselwerck) setinggi 2 kaki di atas tanah;
  • di atasnya dinding setinggi 6 kaki dari papan atau bilah wokka wokka (woka);
  • di bagian atas ada galeri bilah setinggi 4 kaki di sekelilingnya;
  • tinggi seluruhnya sampai ke bawah atap 12 kaki (2 + 6 + 4).

Menurut penulis, gereja itu akan “groot en aensienlyk genoeg” (cukup besar dan layak) untuk jemaat Manado.[10]

Padi yang menjadi abu

Pada 6 Juni hari Minggu, sesudah kebaktian di loji, Kompeni bertemu lagi dengan para kepala negeri. Surat dari Gubernur di Ternate baru tiba dengan fregat Mallacca, yang datang untuk mengambil padi. Fregat Eendragt, yang masih berlabuh di depan Manado, juga harus diisi.[12]

Gudang Manado hampir kosong. Kompeni meminta para kepala menyerahkan satu muatan padi dalam delapan hari, dan sesudahnya lima atau enam last harus tetap tersedia di gudang. Penulis sempat menegur mereka karena “traegheyt” (kelambanan) dalam bertani dan menyetor. Ia juga menjelaskan mengapa padi kini sangat dibutuhkan bahwa kapal dari Batavia tidak sempat singgah di Jepara karena cuaca buruk, sehingga muatan berasnya tidak terambil.[12]

Para kepala menyatakan sangat bersedia, namun itu “‘t eenemael onmagtigh” (sama sekali tidak sanggup). Alasan pertama adalah “het affbranden van de padij der rypte, dorpen als Tomon Tambariry etc., waerdoor veel van dat graen inde assche geraakt is”. Padi di negeri-negeri seperti Tomon dan tomariri terbakar, sehingga banyak gabah menjadi abu.

Alasan kedua adalah sebagian besar tanaman masih di ladang. Padi muda yang diserahkan sekarang akan menjadi debu di gudang atau di kapal, kecuali dikeringkan dulu di ladang lalu di rumah. Itu butuh dua bulan lebih, jadi penyerahan baru mungkin akhir Juli.[12]

Ketika ditanya berapa padi yang bisa mereka serahkan tahun itu, para kepala negeri tidak bisa memastikan, “ter aensien d’groote sterfte, die onder hun geweest is” (mengingat kematian besar yang terjadi di antara mereka). Akibatnya banyak kebun yang sudah dibersihkan dibiarkan tidak ditanami. Mereka hanya berani menaksir kira-kira dua muatan, asalkan kapalnya tidak besar.[13]

Jurnal tidak menyebut sebab kebakaran itu, dan tidak menyebut penyakit atau bencana di balik “kematian besar”. Yang tercatat hanya akibatnya, tahun 1683 Minahasa kekurangan padi dan kekurangan orang.

Dua hari kemudian pada 8 Juni, datang utusan khusus dari Tomon yakni Sangaji Pelealo, orang yang sama dengan penjual budak pada 19 Mei. Ia membawa kabar bahwa para kepala Tomon sudah sepakat membawa sebanyak mungkin padi dalam beberapa hari. Mereka berharap negeri-negeri lain ikut terdorong. Kompeni memutuskan menunggu beberapa hari lagi.[13] Negeri yang padinya ikut terbakar justru yang pertama menyanggupi.

Yang belum kita ketahui

Jurnal ini ditulis oleh orang Kompeni, untuk atasan Kompeni. Suara para kepala negeri dan para pangeran Bolaang hanya sampai kepada kita lewat ringkasan penulisnya. Beberapa hal masih terbuka:

  • Angka “10”. Pertemuan umum hampir pasti terjadi 18 Mei, tetapi naskah tiga kali menulis 10.
  • Sebab kebakaran padi di Tomon dan Tambariri. Kebakaran ladang, kebakaran kampung, atau perang, tidak disebut.
  • “Kematian besar” 1683. Perang, wabah, kelaparan, atau sebab lain, jurnal tidak menjelaskan. Sumber lain dari tahun yang sama perlu dicari.
  • Letak gereja. Jurnal hanya menyebut “d’plaetse van de kerk” (tempat gereja) sebagai tempat terbaik di negeri Manado. Apakah gereja ini cikal bakal gereja yang sekarang dikenal sebagai GMIM Sentrum belum dapat dipastikan dari sumber ini.
  • Siapa Manoppo ini kelak. Jurnal menyebutnya putra sulung raja, berumur sekitar tiga puluh tahun, dan sudah dibaptis pada 1683. Apakah ia orang yang kemudian menjadi Raja Jacobus Manoppo belum bisa dipastikan dari sumber ini.

Catatan kaki

Semua rujukan menunjuk ke NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1392 (“1684 XXXX. Elfde boek: van Batavia betreffende de Molukken” = buku kesebelas: dari Batavia tentang Maluku), kecuali catatan kaki 8. Angka 1684 adalah tahun jilid diterima di Belanda; peristiwanya terjadi Mei–Juni 1683. Jilid ini berisi salinan yang dikirim ke Belanda, bukan naskah asli jurnal.

  1. Surat bertarikh “Manado aende Fortresse Amsterdam dese 15e May 1683”, ditandatangani Andries Oloffsz. Loffsang dan Anthony van der Mast, kepada pos Siau, berisi salam Gubernur Jacob Lobs dan kabar kemenangan atas Banten; surat kedua kepada Willem Allart, residen dan guru sekolah di Tagulandang, soal minyak lampu; entri 16 Mei: berkas 0462–0463. Tanggal 16 Mei 1683 jatuh pada hari Minggu.
  2. Pelantikan Van der Mast, syarat para kepala soal perjanjian dengan Padtbrugge, jamuan, percakapan dengan Paat, dan pernikahan Sersan Haack: berkas 0464–0465.
  3. Entri “Den 17e”: berkas 0465. Daftar kepala negeri, dibuka “Den 10e s’morgens … ten ynde als voren aengehaeld”: berkas 0466–0468. Entri “van Romon”: berkas 0467. Rujukan balik “den 10e deser”: berkas 0484 (entri 25 Mei) dan 0493 (entri 29 Mei).
  4. Entri “Den 19:”, perkara budak Potensiana, Pelealo, dan Kapten Soupit, beserta putusannya. Nama penggugat tertulis “Jacob Jdensz:”; I dan J ditulis dengan huruf yang sama, jadi bentuk modernnya Idensz. (anak Ide): berkas 0475.
  5. Perkara Mangenantonge dan “rigter Mandaige”, penolakan perkara-perkara lain, dan peringatan soal utang padi: berkas 0476–0477.
  6. Entri “Den 20e”, sidang kepala-kepala Tonsawang dan kedatangan Pangeran Monoppo dan Lalita (“op gisteren hier aengekomen princen van Boulange”): berkas 0477–0478. Nama raja sesudah “oudste zoon des Conings” terbaca mirip “Loloda”.
  7. Entri “Den 26”, keterangan Lalita (Kapten Laimot) dan Manoppo, kematian Pangeran Maccarompius, permintaan guru sekolah berbahasa Melayu, dan rencana pindah ke Amurang bersama rakyat “den Coninge Loloda” (huruf awalnya mirip S dalam tulisan tangan ini): berkas 0485–0486.
  8. Laporan visitasi ds. Jacobus Montanus, Ternate 17 November 1675, dalam F. Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, ed. S. Keijzer, deel I (Amsterdam: Wed. J.C. van Kesteren & Zoon, 1862), hlm. 565–566.
  9. Entri “Den 29”, penolakan para kepala, janji Bartholomeus Rampangang, pengiriman juru bahasa dengan hadiah, dan kesanggupan Ares, Klabat, dan Bantik; sesudahnya pengaduan istri marinyo gereja Pedro Zegers: berkas 0493–0494.
  10. Surat bertarikh “Manado den 4 Juny a° 1683”, ditandatangani Andries Oloffsz. Loffsang, kepada Raja Siau (“d’Heer Coning”), tentang keadaan di “Chiauwse ryk” dan papan untuk Schans Doornburg; sesudahnya entri tentang kepala-kepala Manado yang datang soal kayu gereja, peninjauan tempat gereja, dan rancangannya: berkas 0497–0498.
  11. Entri “Den 5:”, pamitan para pangeran Bolaang: berkas 0498.
  12. Entri “Den 6:”, permintaan padi dan penolakan para kepala: berkas 0498–0499, fol. 96. Tanggal 6 Juni 1683 juga hari Minggu.
  13. Lanjutan entri “Den 6:” (“ter aensien d’groote sterfte”), entri “Den 7:” dan “Den 8:” (utusan Pelealo dari Tomon; di halaman ini namanya tertulis Peldalo, kemungkinan salah tulis untuk Pelealo seperti di berkas 0475; nama ini sejalan dengan marga Pelealu yang banyak di Minahasa): berkas 0500.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Lukisan penangkapan Diponegoro (Wikipedia)

    Menadorezen di Medan Perang: Pasukan Minahasa Memburu Diponegoro

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Ketika rombongan pertama pasukan bantu (hulptroepen) Minahasa tiba di Jawa pada akhir Maret 1829, Jenderal De Kock sudah menentukan tugas mereka. Mereka akan menjaga pos-pos di Bagelen, supaya pasukan yang sudah terlatih bisa dilepas untuk mengejar musuh.¹ Maka dari Magelang mereka diteruskan ke Menoreh, lalu ke Kedongkebo di Bagelen.² Tetapi dalam perang yang tidak punya […]

  • 10 September 1699 di loji Kompeni dekat Benteng Amsterdam, Manado, para pejabat VOC dan para hukum serta capitain Minahasa mengikat sebuah kontrak.(ilustrasi)

    Sembilan Belas Tanda: Kontrak Minahasa dan Kompeni, 10 September 1699

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Pada 10 September 1699, di loji Kompeni VOC di sisi benteng Amsterdam Manado, sebuah kontrak ditutup dan disumpahkan. Di bawah naskah Belanda itu, dibubuhkan cap Kompeni dari lak merah dan dua tanda tangan pejabat VOC. Sedangkan di bawah naskah Melayu dibubuhkan sembilan belas merk — tanda, bukan tanda tangan — milik para hukum dan kapitan […]

  • Petisi A.L. Waworuntu kepada Gubernur Jenderal

    Petisi A.L. Waworuntu kepada Gubernur Jenderal

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Dalam tulisan yang berjudul Myth and Reality in Minahasan History: The Waworuntu-Gallois Confrontation oleh Mieke Schouten membahas petisi yang disampaikan Albert Lasut Waworuntu kepada Gubernur Jenderal C. Pijnacker Hordijk. Waworuntu merupakan Hukum Besar atau Mayor Distrik Sonder. Tahun 1891, ia pergi ke Jawa dan memperoleh kesempatan menghadap Gubernur Jenderal. Dalam pertemuan pada Desember tahun itu, Waworuntu […]

  • Ilustrasi Ai

    Perang Tondano–Tombulu: Sengketa Batas, Diplomasi Adat, dan Ritual “Potong Ayam” di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Jauh sebelum identitas Minahasa terbentuk sebagai kesatuan sosial-politik, wilayah pegunungan Sulawesi Utara dihuni oleh kelompok-kelompok Pakasa’an yang hidup mandiri dan otonom. Masa tersebut dikenal sebagai era fofosohan periode konflik internal atau perang saudara antarkelompok yang kerap dipicu oleh persoalan keseharian. Salah satu konflik yang tercatat dalam sumber klasik kolonial adalah perang antara masyarakat Tondano dan […]

  • Groot-Majoor Dotulong: Arsitek Militer dan Pemimpin Visioner Minahasa Abad ke-19

    Groot-Majoor Dotulong: Arsitek Militer dan Pemimpin Visioner Minahasa Abad ke-19

    • calendar_month Sabtu, 14 Des 2024
    • visibility 1.439
    • 0Komentar

    Sejarah kerap ditulis dari pusat kekuasaan. Namun dalam diri Hermanus Willem Dotulong (1795–1888), kita melihat bagaimana seorang pemimpin dari pinggiran dari tanah Minahasa mampu memberi pengaruh pada dinamika yang lebih luas di Hindia Belanda. Ia bukan tokoh yang dapat dibaca secara sederhana. Dalam dirinya, militer, birokrasi kolonial, dan tradisi lokal bertemu. Ia adalah bagian dari […]

  • Menggali Maengket Tountemboan: Jejak Budaya, Ingatan, dan Dedikasi Seorang Guru

    Menggali Maengket Tountemboan: Jejak Budaya, Ingatan, dan Dedikasi Seorang Guru

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi yang kian deras, warisan budaya sering kali terancam menjadi sekadar fragmen masa lalu, diingat samar, lalu perlahan dilupakan. Namun di Minahasa, Sulawesi Utara, sebuah tarian tradisional bernama Maengket tetap bertahan, bukan hanya sebagai pertunjukan seni, melainkan sebagai rekaman hidup masyarakatnya. Maengket tidak sekadar menghadirkan gerak dan irama. Ia adalah narasi kolektif […]

expand_less