Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Orang Sakit Diasapi: Pengobatan Tradisional dan Kepercayaan di Minahasa

Orang Sakit Diasapi: Pengobatan Tradisional dan Kepercayaan di Minahasa

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 83
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Awal abad ke-20, pengobatan di Minahasa berada dalam masa perjumpaan antara cara-cara pengobatan yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya dan pelayanan medis yang dibawa melalui rumah sakit serta poliklinik. Di Sonder, perjumpaan tersebut terlihat jelas dalam laporan pelayanan kesehatan tahun 1908. Rumah sakit yang baru berdiri itu semakin banyak didatangi masyarakat, tetapi para pengelolanya mencatat bahwa sebagian penduduk masih sangat bergantung pada obat Minahasa, yaitu obat-obatan yang telah digunakan turun-temurun.¹

Keberadaan kepercayaan lama tersebut menjadi salah satu latar penting untuk memahami mengapa pelayanan kesehatan di Sonder tidak semata-mata berhadapan dengan penyakit secara medis. Para zendeling-diakones H. de Ruijter dan M.

Schoch menulis bahwa masyarakat di wilayah Sonder yang berjumlah lebih dari 19.000 jiwa belum seluruhnya meninggalkan obat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka menilai perubahan menuju penggunaan obat-obatan Eropa membutuhkan waktu karena masyarakat baru mengenal pelayanan medis tersebut dalam waktu yang relatif singkat.²

Rumah sakit Sonder sendiri muncul dari kebutuhan masyarakat. Dr. Schoch, yang merupakan hulpprediker, bersama istrinya memiliki pengetahuan mengenai kedokteran dan perawatan. Banyak orang sakit datang meminta bantuan kepadanya hingga pekerjaan itu semakin berat. Masyarakat kemudian mengusulkan pembangunan sebuah rumah sakit kecil. Sebuah rumah dibeli, dibongkar, lalu bagian-bagiannya dipindahkan dan dibangun kembali dengan bantuan masyarakat. Setelah rumah sakit berdiri, Suster de Ruijter dan kemudian Suster Schoch datang dari Belanda untuk menjalankan pelayanan keperawatan.³

Namun, kehadiran rumah sakit tidak serta-merta menghapus cara pandang lama terhadap penyakit. Justru dalam laporan mengenai pelayanan kesehatan tersebut terdapat kisah yang memperlihatkan betapa kuatnya keyakinan tradisional dalam memahami sakit. Para pengelola rumah sakit mencatat bahwa kepercayaan lama sangat terlihat dalam cara masyarakat merawat orang sakit. Salah satu contoh yang mereka sebut secara khusus adalah praktik berooken der zieken, atau mengasapi orang sakit.⁴

Bagaimana praktik itu dilakukan? Menurut laporan tersebut, orang yang sakit dibaringkan di atas sebuah bangku dan tubuhnya dibungkus rapat dengan tikar. Di bawah bangku kemudian dibuat api yang menghasilkan banyak asap. Asap tersebut dimaksudkan untuk mengusir apa yang oleh sumber Belanda disebut sebagai booze geesten, atau roh-roh jahat. Dengan demikian, sakit tidak semata-mata dipahami sebagai gangguan fisik yang harus diobati dengan obat, tetapi juga dapat dikaitkan dengan keberadaan kekuatan atau roh yang dianggap membawa penyakit.⁵

Bagi penulis laporan, cara tersebut justru berbahaya. Mereka menyatakan bahwa dalam beberapa keadaan “obat” tersebut malah lebih buruk daripada penyakitnya, karena asap yang sangat banyak dapat membahayakan pasien.

Di sini terlihat adanya perbedaan mendasar antara pendekatan rumah sakit dan praktik pengobatan yang mereka temui di masyarakat. Rumah sakit berusaha menangani pasien melalui perawatan dan obat-obatan, sedangkan praktik pengasapan didasarkan pada keyakinan bahwa penyakit berkaitan dengan gangguan dari kekuatan yang tidak terlihat.⁶

Contoh lainnya ditemukan ketika hulpprediker Schoch mengunjungi seorang guru pribumi yang sedang sakit parah. Pintu rumah orang tersebut ditutup dan bahkan diberi penghalang berupa sapu serta duri.

Menurut laporan, tindakan itu dimaksudkan untuk mencegah masuknya ziektegeest, atau roh penyakit, yang oleh penulis kemudian disamakan dengan apa yang mereka sebut sebagai “malaikat kematian”. Kisah ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap orang sakit juga dapat dilakukan dengan cara menghalangi secara simbolis sesuatu yang dianggap membawa kematian.⁷

Laporan tersebut juga mencatat keyakinan mengenai levenskracht, atau kekuatan hidup. Dalam contoh yang diberikan, seorang ibu sangat mengkhawatirkan bayinya yang belum berkembang sebagaimana diharapkan enam minggu setelah kelahiran. Karena meyakini bahwa kekuatan hidup terutama berada pada rambut dan kuku yang tumbuh, ia berusaha menyimpan kekuatan hidupnya demi sang anak. Akibatnya, ia tidak menyisir rambut, tidak memotong kuku, bahkan tidak mandi selama waktu tersebut.⁸

Bagi pembaca masa kini, kisah seperti ini mudah dilihat sebagai pertentangan antara “pengobatan modern” dan “pengobatan tradisional”. Namun, ketiga sumber yang digunakan dalam artikel ini terutama memperlihatkan cara pandang para pengelola dan penerbit kolonial-zending terhadap praktik tersebut, bukan suara langsung dari masyarakat yang menjalankannya. Karena itu, istilah seperti “bijgeloof” atau takhayul sebaiknya dipahami sebagai istilah yang digunakan oleh sumber pada zamannya, bukan sebagai penilaian historis yang harus diterima begitu saja.⁹

Menariknya, kepercayaan tersebut juga tidak selalu membuat masyarakat menolak rumah sakit. Justru pada 1908 terjadi peningkatan kepercayaan terhadap pelayanan medis. Poliklinik Sonder menerima 9.475 pasien dan memberikan pertolongan sebanyak 16.393 kali. Sebanyak 144 orang juga dirawat di rumah sakit, meningkat dibandingkan 90 pasien pada tahun sebelumnya. Para suster melihat peningkatan itu sebagai bukti bahwa masyarakat semakin mempercayai rumah sakit.¹⁰

Perubahan tersebut berlangsung secara bertahap. Dalam laporan kunjungan rumah, para suster mencatat bahwa sebagian masyarakat sebelumnya baru meminta pertolongan ketika penyakit telah sangat parah. Mereka masih mencoba menggunakan obat-obatan Minahasa terlebih dahulu.

Namun, semakin banyak orang mulai memanggil tenaga kesehatan sejak awal penyakit. Bahkan dari negeri-negeri yang lebih jauh, masyarakat mulai datang meminta bantuan untuk persalinan yang sulit. Pada 1908, para suster memberikan pertolongan dalam 12 kasus persalinan berat.¹¹

Rumah sakit dengan demikian menjadi ruang pertemuan antara dua cara memahami sakit. Di satu sisi terdapat pengetahuan medis yang dibawa oleh para suster, penggunaan obat-obatan Eropa, perawatan pasien, serta pelayanan poliklinik. Di sisi lain masih hidup pengetahuan dan keyakinan yang diwariskan dalam masyarakat, termasuk penggunaan obat Minahasa dan berbagai tindakan untuk menghadapi apa yang dipercaya sebagai penyebab penyakit. Ketegangan antara keduanya tidak langsung hilang hanya karena sebuah rumah sakit telah berdiri.¹²

Perubahan itu bahkan berlangsung melalui pengalaman pasien sendiri. Laporan menyebut bahwa ada orang-orang yang sebelumnya menganggap keluarnya darah sebagai pertanda kematian, tetapi setelah melihat pasien lain dirawat dan kemudian kembali menjalani kehidupan sehari-hari, mereka mulai berani meminta obat atau meminta dirawat. Dengan kata lain, kepercayaan terhadap rumah sakit tumbuh bukan hanya melalui nasihat para suster, tetapi juga melalui pengalaman melihat hasil perawatan pada orang lain.¹³

Pada akhirnya, kisah orang sakit yang diasapi memperlihatkan bahwa sejarah kesehatan di Minahasa bukan sekadar cerita tentang masuknya rumah sakit dan obat-obatan Eropa. Ia juga merupakan sejarah perubahan cara masyarakat memahami penyakit, tubuh, keselamatan, dan kekuatan hidup. Di Sonder, perubahan itu berlangsung perlahan: praktik lama masih bertahan, sementara rumah sakit semakin memperoleh kepercayaan. Para suster bahkan menganggap perawatan di rumah sakit sebagai bagian dari upaya mengubah cara berpikir masyarakat melalui ajaran Kristen.¹⁴

Karena itu, angka-angka pelayanan tahun 1908 menjadi lebih bermakna ketika ditempatkan berdampingan dengan kisah pengasapan pasien, penghalangan roh penyakit, dan keyakinan mengenai kekuatan hidup. 9.475 pasien yang datang ke poliklinik bukan berarti 9.475 orang telah meninggalkan seluruh pengobatan tradisional. Sebaliknya, angka tersebut menunjukkan bahwa dua dunia pengobatan sedang bertemu dan bernegosiasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sonder. Rumah sakit tidak hadir ke ruang yang kosong; ia hadir di tengah masyarakat yang telah memiliki cara sendiri untuk memahami dan menghadapi sakit.¹⁵

Catatan kaki

¹ Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, Mei 1909, laporan H. de Ruijter dan M. Schoch mengenai pelayanan di Sonder tahun 1908. Sumber menyebut masyarakat masih sangat mempercayai Minahassische obat yang digunakan turun-temurun.

² Ibid., mengenai kondisi masyarakat Sonder dan keberadaan obat Minahasa di tengah perkembangan pelayanan medis Eropa.

³ Het Penningske, Juli 1909, mengenai asal-usul rumah sakit Sonder, Dr. Schoch, pembangunan rumah sakit dengan bantuan masyarakat, serta kedatangan Suster de Ruijter dan Suster Schoch.

⁴ Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa, bagian mengenai pemberantasan bijgeloof dan praktik perawatan orang sakit.

⁵ Sumber menjelaskan praktik berooken der zieken: pasien dibungkus dengan tikar, api dibuat di bawah bangku, dan asap dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat.

⁶ Maandbericht juga mencatat bahwa pasien yang menderita demam tinggi dapat dipindahkan dari satu rumah ke rumah lain dan mengalami berbagai metode pengobatan pribumi; menurut laporan, cara tersebut terkadang justru memperburuk keadaan.

⁷ Mengenai rumah seorang guru pribumi yang pintunya dihalangi sapu dan duri untuk mencegah masuknya ziektegeest.

⁸ Mengenai keyakinan levenskracht yang dianggap berada terutama pada rambut dan kuku serta kisah ibu yang menahan diri dari menyisir, memotong kuku, dan mandi demi bayinya.

⁹ Sumber secara eksplisit menggunakan istilah bijgeloof ketika membahas praktik-praktik tersebut. Karena itu, artikel mempertahankan istilah tersebut sebagai bagian dari bahasa sumber, bukan sebagai penilaian penulis masa kini.

¹⁰ Laporan 1908 mencatat 9.475 pasien poliklinik, 16.393 kali pertolongan, serta 144 pasien rumah sakit dibandingkan 90 pada tahun sebelumnya.

¹¹ Mengenai 563 kunjungan rumah pada 1908, peningkatan permintaan pertolongan sejak awal penyakit, dan 12 kasus persalinan berat yang dibantu.

¹² Sumber khusus rumah sakit menyebut bahwa pelayanan medis di Minahasa masih terbatas dan para suster memikul tugas berat karena belum terdapat zendeling-arts di wilayah tersebut.

¹³ Laporan mencatat bahwa setelah beberapa pasien yang mengeluarkan darah dapat kembali menjalani kehidupan sosial dan melakukan pekerjaan ringan, semakin banyak orang datang meminta obat atau perawatan.

¹⁴ Mengenai pengaruh hulpprediker, para suster, dan perawatan di rumah sakit dalam upaya mengubah kepercayaan yang oleh sumber disebut bijgeloof.

¹⁵ Kesimpulan berdasarkan keseluruhan tiga sumber: Het Penningske, Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, dan Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa. Ketiganya memperlihatkan hubungan antara pendirian rumah sakit, pelayanan kesehatan, masyarakat Sonder, dan perubahan cara menghadapi penyakit.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Taman

    Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Surga Tersembunyi

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Halo, Sobat Traveler! 🌿 Udah pernah denger soal Taman Nasional Bogani Nani Wartabone? Kalau belum, yuk duduk manis, kita ngobrolin salah satu surga tersembunyi di Pulau Sulawesi yang bakal bikin kamu jatuh cinta sama alam Indonesia! Apa Itu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone? Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (sering disingkat TNBNW) adalah kawasan konservasi alam […]

  • Pulau Bentenan Kabupaten Minahasa Tenggara

    Pulau Bentenan: Gerbang Awal Migrasi Leluhur Pasan dan Ratahan

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Di antara beragam komunitas yang membentuk mozaik kebudayaan Minahasa, Pasan dan Ratahan menempati posisi yang istimewa. Keduanya memang telah lama menjadi bagian dari Tanah Malesung, tetapi jejak asal-usulnya memperlihatkan kisah yang berbeda dibandingkan kelompok-kelompok Minahasa lainnya. Jika sebagian besar subetnis Minahasa mengaitkan identitas leluhurnya dengan tradisi Watu Pinawetengan sebagai simbol pembagian wilayah dan kekerabatan, masyarakat […]

  • Dari Minahasa ke Meksiko, Jejak Legi Pasla Rumokoi di UNESCO 1947

    Dari Minahasa ke Meksiko, Jejak Legi Pasla Rumokoi di UNESCO 1947

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Legi Pasla Rumokoi dari Tintjep muncul dalam sejumlah pemberitaan surat kabar Belanda pada 1947 sebagai salah satu tokoh pendidikan dari Minahasa. Amigoe di Curaçao, 15 Desember 1947, menyebutnya sebagai “Directeur der Normaalschool voor opleiding van onderwijzers in Oost Indonesië te Tomohon Minahassa, Celebes”, atau Direktur Sekolah Normal untuk pendidikan guru di Indonesia Timur yang berkedudukan […]

  • Minahasaraad: Babak Baru Pemerintahan Lokal di Minahasa, 1919–1930

    Minahasaraad: Babak Baru Pemerintahan Lokal di Minahasa, 1919–1930

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Pada tahun 1919, Minahasa memasuki babak baru dalam sejarah pemerintahan lokal. Melalui penerapan kebijakan desentralisasi, pemerintah Hindia Belanda membentuk “plaatselijken raad van de Minahasa”, yang kemudian dikenal sebagai Minahasaraad, bersamaan dengan pembentukan Gemeenteraad van Manado. Pertemuan pertama Minahasaraad berlangsung pada Oktober 1919. Dalam pidato pembukaannya, ketua dewan saat itu bahkan menyampaikan harapan agar Oktober 1919 […]

  • Wenang Sebelum Manado: Membaca Ulang Sejarah Awal Sulawesi Utara

    Wenang Sebelum Manado: Membaca Ulang Sejarah Awal Sulawesi Utara

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Sejarah awal Kota Manado kerap dipenuhi tafsir yang saling bertabrakan. Di satu sisi terdapat pembacaan literal atas arsip kolonial Eropa, sementara di sisi lain hidup memori kolektif masyarakat Minahasa yang diwariskan melalui sastra lisan, ritual adat, hingga bahasa sehari-hari. Dari pertemuan dua sumber inilah muncul satu pertanyaan penting: di mana sebenarnya pusat awal Kerajaan Manado […]

  • Lukas Montong: Penginjil Minahasa di Kalimantan (1835)

    Lukas Montong: Penginjil Minahasa di Kalimantan (1835)

    • calendar_month Sabtu, 21 Des 2024
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Lukas Montong, seorang pemuda Kristen asal Manado, menjadi bagian penting dalam sejarah penyebaran Injil di Kalimantan pada abad ke-19. Dalam beberapa referensi, namanya juga disebut sebagai “Lukas Monton,” meskipun kemungkinan besar maksudnya adalah Montong. Informasi ini berasal dari catatan Pdt. Dr. Marko Mahin, seorang antropolog Kalimantan Tengah, yang pernah menulis tentang Lukas dalam sebuah unggahan […]

expand_less