Pilihan
light_mode
Trending Tags
Beranda » Profil » Dari Minahasa ke Meksiko, Jejak Legi Pasla Rumokoi di UNESCO 1947

Dari Minahasa ke Meksiko, Jejak Legi Pasla Rumokoi di UNESCO 1947

  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • visibility 80
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Legi Pasla Rumokoi dari Tintjep muncul dalam sejumlah pemberitaan surat kabar Belanda pada 1947 sebagai salah satu tokoh pendidikan dari Minahasa. Amigoe di Curaçao, 15 Desember 1947, menyebutnya sebagai “Directeur der Normaalschool voor opleiding van onderwijzers in Oost Indonesië te Tomohon Minahassa, Celebes”, atau Direktur Sekolah Normal untuk pendidikan guru di Indonesia Timur yang berkedudukan di Tomohon, Minahasa. Keterangan ini menunjukkan bahwa pada masa awal setelah berakhirnya Perang Dunia II, Rumokoi telah memiliki posisi penting dalam dunia pendidikan guru di kawasan Indonesia Timur.

Perannya bahkan membawanya ke panggung internasional. Pada akhir 1947, Rumokoi menjadi bagian dari delegasi Nederlands-Indische/Indonesia ke Konferensi UNESCO di Meksiko, bersama Dr. E.A. Kreiken, P. Koeze, dan Abdoel Malik. Amigoe di Curaçao memberitakan bahwa delegasi tersebut akan mengunjungi Aruba untuk bertemu dengan para guru serta pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap pendidikan. Mereka juga dijadwalkan memberikan kesempatan untuk bertukar pikiran mengenai perkembangan pendidikan.

Perjalanan delegasi itu juga diberitakan oleh surat kabar Amigoe di Curaçao edisi 10 Desember 1947. Legi Pasla Rumokoi, bersama Dr. Kreiken, P. Koeze dan Abdoel Malik, disebut sebagai anggota delegasi yang menghadiri konferensi UNESCO di Meksiko. Setelah dari Curaçao, mereka melanjutkan perjalanan ke Suriname sebelum kembali melalui wilayah Karibia dan kemudian menuju Aruba. Surat kabar De West dari Suriname juga mencatat kedatangan Rumokoi bersama anggota delegasi lainnya. Dengan demikian, keberadaan Rumokoi dalam perjalanan tersebut tidak hanya muncul dalam satu pemberitaan, tetapi terlacak dalam beberapa surat kabar yang terbit di wilayah Karibia dan Suriname.

Pemberitaan Nieuws Utrechtsch Dagblad, 20 Januari 1948, memberikan gambaran lebih luas mengenai arti keikutsertaan Rumokoi. Dalam laporan mengenai Konferensi UNESCO di Meksiko, Prof. Dr. H.R. Kruyt menyebut bahwa delegasi dari Indonesia memiliki tiga wakil yang berkaitan dengan pendidikan di berbagai wilayah, yaitu Abdoel Malik dari Sumatra, seorang wakil dari Jawa, dan Rumokoi dari Minahasa.

Pembahasan UNESCO ketika itu antara lain menyentuh persoalan “fundamental education”, pemberantasan buta huruf, pembangunan kembali lembaga pendidikan setelah perang, serta pertukaran pelajar dan tenaga ilmiah. Rumokoi dengan demikian hadir sebagai representasi dari pengalaman pendidikan di Indonesia, khususnya dari Minahasa.

Jejak Rumokoi ternyata sudah dapat ditemukan sebelum perjalanan UNESCO tersebut. De Indische Courant edisi 16 Agustus 1941 mencatat Rumokol sebagai bendahara Hoogere Kweekscholieren Bond (H.K.S.B.), sebuah organisasi yang berkaitan dengan siswa sekolah pendidikan guru.

Dalam buku Sejarah Pendidikan Daerah Sulawesi Utara 1980/1981, posisi Rumokoi dalam sejarah pendidikan guru Tomohon juga dicatat. Rumokoi disebut sebagai pemimpin Sekolah Pendidikan Guru Negeri Tomohon pada 1953–1961.

Sekolah tersebut sebelumnya bernama Staats Kweek School pada 1947–1949, kemudian Sekolah Guru Negara pada 1949–1950, Sekolah Guru Atas pada 1950–1965, dan akhirnya menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) sejak 1965.

Buku yang sama juga mencatat Rumokoi sebagai pimpinan Christelijke Normaal School Tomohon pada periode pascaperang, sebelum sekolah tersebut berkembang menjadi Sekolah Guru Negara (SGN) pada 1949, Sekolah Guru Atas (SGA) pada 1950, dan kemudian Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada 1965.

Dari rangkaian sumber tersebut, Rumokoi tampak sebagai salah satu figur penting dalam sejarah pendidikan guru di Tomohon. Ia bukan hanya bekerja dalam lembaga pendidikan lokal, tetapi juga pernah tampil dalam forum pendidikan internasional UNESCO pada 1947.

Jejak perjalanan dari Tomohon menuju Meksiko itu memperlihatkan bahwa sejarah pendidikan Minahasa tidak berhenti di ruang kelas. Pada masa ketika Indonesia sedang berada dalam pergulatan politik dan perubahan besar setelah Perang Dunia II, seorang pendidik dari Minahasa turut hadir dalam perbincangan internasional mengenai masa depan pendidikan.(Engel Yong)

Sumber: Amigoe di Curaçao, 10 dan 15 Desember 1947; Nieuws Utrechtsch Dagblad, 20 Januari 1948; De Indische Courant, 16 Agustus 1941; Sejarah Pendidikan Daerah Sulawesi Utara, 1980/1981.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Sejarah Singkat Musik Bambu di Minahasa

    Sejarah Singkat Musik Bambu di Minahasa

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2024
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Musik bambu adalah seni tradisional khas Minahasa yang berakar pada perpaduan budaya lokal dan pengaruh pendidikan Zending Protestan di abad ke-19. Diperkirakan, musik bambu mulai berkembang sekitar tahun 1850-an melalui pengajaran suling bambu di sekolah-sekolah zending.   Instrumen ini diajarkan oleh para nyora (istri guru jemaat) sebagai bagian dari kurikulum yang bertujuan menggantikan Kolintang Gong, […]

  • Manguni AI: Terobosan Digital Tim Malesung.com untuk Menghidupkan Sejarah dan Budaya Minahasa

    Manguni AI: Terobosan Digital Tim Malesung.com untuk Menghidupkan Sejarah dan Budaya Minahasa

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Tim redaksi Malesung.com tengah mengembangkan sebuah inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Manguni AI, sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan mempopulerkan sejarah serta budaya Minahasa di era teknologi. Nama Manguni diambil dari burung hantu khas Minahasa yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai simbol pengetahuan, pertanda, dan kebijaksanaan. Filosofi ini menjadi dasar […]

  • De Minahassa uit de literatuur – A.H. Verkuyl (1937)

    De Minahassa uit de literatuur – A.H. Verkuyl (1937)

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Minahassa dari sastra – A.H. Verkuyl – 1937 Bahasa: Belanda (ada dalam daftar saya untuk diterjemahkan, tetapi itu akan memakan waktu lama), 78 halaman. Beberapa peta dan foto. Saya sendiri tertarik dengan buku ini, terutama karena Adolf Herman Verkuyl dulunya adalah guru ibu saya ketika dia bersekolah di sekolah Hoofdenschool di Tomohon. A.H. Verkuyl juga […]

  • Laskar Tombariri melawan pasukan kolonial Spanyol terjadi pada kisaran tahun 1643 hingga 1644 dipesisir Tanawangko (ilustrasi)

    Tanawangko dan Transformasi Tombariri: Politik, Zending, dan Modernisasi di Minahasa

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Dalam historiografi Minahasa, wilayah Tombariri menempati posisi penting sebagai salah satu walak yang mengalami transformasi paling signifikan sejak era pra-kolonial hingga masa administrasi Hindia Belanda. Arsip Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), laporan topografis abad ke-19, hingga catatan zending Protestan memperlihatkan bahwa Tombariri bukan sekadar entitas adat lokal, melainkan kawasan strategis yang memainkan peranan dalam pertahanan militer, […]

  • Sejarah Desa Pinamorongan: Jejak Leluhur Tountemboan dan Perlawanan Heroik Minahasa

    Sejarah Desa Pinamorongan: Jejak Leluhur Tountemboan dan Perlawanan Heroik Minahasa

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Desa Pinamorongan di Minahasa bukan sekadar sebuah wilayah administratif. Di balik bentang alamnya yang bergunung dan subur, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan leluhur, perjanjian adat, bencana, dan perang besar yang ikut membentuk identitas masyarakat hingga hari ini. Sejarah Pinamorongan berakar pada peristiwa besar yang dikenal sebagai pembagian wilayah Minahasa di Pinawetengan pada tahun 1428. Peristiwa […]

  • wisata

    Wisata Edukasi di Taman Nasional Tangkoko Batuangus

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Kalau kamu lagi cari tempat wisata yang bukan cuma seru tapi juga bikin kamu makin cinta lingkungan, kamu wajib banget mampir ke Taman Nasional Tangkoko Batuangus! Lokasinya ada di Bitung, Sulawesi Utara, sekitar 2 jam perjalanan dari Manado. Tapi percayalah, semua rasa capek di jalan bakal langsung hilang begitu kamu sampai di sini.     […]

expand_less