Raja Loloda dan Kompeni VOC: Perpecahan Manado 1666–1667
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kapal dagang Belanda jenis fluit berlayar di perairan Teluk Amurang pada abad ke-17.(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada 3 Desember 1666 fluit kecil Zandloper meninggalkan Manado menuju Ternate dengan muatan 43 last padi. Kapal itu membawa kabar bahwa keadaan di sana masih tercatat “redelijk”, cukup baik.¹
Beberapa minggu kemudian, raja Manado bersama sebagian besar rakyatnya meninggalkan benteng Kompeni dan bertahan di Amoura (Amurang). Kepada orang Belanda ia berseru bahwa ia tidak mau lagi melihat mereka, apalagi berbicara dengan mereka.²
Sepuluh tahun sebelumnya raja inilah yang mengundang Kompeni VOC datang ke Manado. Hubungan itu masih hangat pada tahun-tahun berikutnya. Pada awal 1663 raja, yang dalam surat Kompeni disebut “den koninck van Amora”, raja Amoura, mengirim seorang budak perempuan dari Manado sebagai hadiah untuk Kompeni VOC.
Setahun kemudian, ketika Kompeni memaksa orang Tondano pindah dari atas danau ke daratan, mereka juga diwajibkan menyerahkan semua senapan mereka “aenden Koningh van Amouro”, kepada Raja Amoura. Kompeni memperlakukan raja Manado ini sebagai penguasa yang bertanggung jawab atas Tondano.³
Artikel ini menelusuri bagaimana persekutuan itu retak dalam waktu kurang dari setahun, dari surat-surat Ternate kepada Batavia yang ditulis pada masa itu.
Tahun yang Baik, 1666
Awal 1666 menjanjikan bagi Kompeni VOC di Manado. Per 5 Januari, sersan yang memimpin pos sudah mengumpulkan lebih dari 70 last padi, belum termasuk yang masih harus ditakar dari berbagai negeri. Komandan VOC di Ternate, Anthonij van Voorst, menulis bahwa Manado bisa menghasilkan lebih banyak setiap tahun kalau penduduknya tetap rajin.
Ia juga memuji raja Manado, “die smallen doch vrundt houwenden kooningh”, raja yang kecil tetapi tetap bersahabat, yang banyak membantu.⁴ Sepanjang tahun itu Ternate menerima 107 last padi dari Manado.⁵
Tetapi tahun itu juga penuh ketakutan. Sejak November 1665 pemimpin pos Manado mencatat dalam buku hariannya bahwa kesultanan Makassar sedang bersiap perang. Menurut kabar yang sampai ke Ternate, armada Makassar akan dibagi dua, yakni satu lewat Sula, satu lagi menyusuri pantai barat Sulawesi “over Manado” menuju Ternate.⁶ Manado dianggap pintu masuk serangan.
Dalam suasana itulah Ternate mengambil keputusan. Pada 3 April 1666 dikirim perintah ke Manado agar benteng kayu yang berdiri di sana diganti dengan redoute batu.⁷ Pada hari yang sama jacht Nieuwendam berangkat ke Manado untuk mengambil padi, membawa juga Pendeta Simon de Buck yang akan membaptis anak-anak dan memeriksa sekolah di Manado dan Tagulandang.⁸
Kabar dari Manado tetap baik. Ketika Zandloper kembali ke Ternate pada 28 Mei 1666, nakhodanya melaporkan bahwa penduduk Manado dan negeri-negeri di bawahnya “hun de novo tot de E: Comp=e verplicht ende trouw belofften aenden sergiant gepresteert hadden”. Mereka sekali lagi mengikatkan diri kepada Kompeni dan bersumpah setia di hadapan sersan. Panen baru juga tampak berlimpah dan akan dipetik dalam dua bulan.⁹
Janji Batu dan Kapur
Kapal berikutnya meninggalkan Manado pada 8 Juli 1666. Surat Ternate bulan Agustus melukiskan suasana yang hampir meriah.
Para alifuru, bersama sersan, bertekad melawan armada Makassar kalau armada itu datang. Benteng diperkuat dengan sebuah baterai (panggung tembak tempat meriam dipasang), dan mereka berencana membangun rumah-rumah di bawah benteng untuk istri dan anak-anak mereka. Bagi sersan, rencana ini bukti kesetiaan mereka.¹⁰
Lalu datang janji yang kelak menjadi pokok masalah. Menurut surat itu, mereka “toesegginge gedaen”, telah berjanji: begitu padi dari ladang sudah dibawa pulang dan diserahkan, mereka akan mengumpulkan batu dan membakar kapur untuk membangun redoute baru.¹¹ Pekerjaan itu berat. Batu harus dikumpulkan dan diangkut, kapur harus dibakar, dan semuanya dikerjakan oleh orang Manado sendiri, bukan oleh serdadu Kompeni.
Pos Kompeni di Manado saat itu berisi 31 orang, terdiri dari sersan, seorang juru tembak, seorang penabuh genderang, dan serdadu.¹² Pos sekecil ini bergantung sepenuhnya pada kerja sama dengan orang Manado.
Ketika krisis pecah, Ternate justru menambah jumlahnya. Dalam pembagian garnisun Maluku pada April 1667, Manado mendapat 42 orang, lebih banyak daripada Bacan, Makian, atau Tidore.¹²
Dalam surat yang sama, Ternate menulis harapan yang kelak terdengar ironis. Panen Manado akan terus meningkat, tulisnya, “wanneer die lantvolckeren civielick en geensints forcelijck geregeert”, kalau penduduknya diperintah dengan cara yang beradab, sama sekali bukan dengan paksaan.¹³
Raja Meninggalkan Benteng
Panen selesai menjelang akhir 1666. Inilah saatnya janji batu dan kapur ditepati. Sampai kapal Zandloper berlayar pulang pada awal Desember, semuanya masih tampak “in redeluke doene”, dalam keadaan yang cukup baik, walaupun sersan merasa raja dalam banyak hal sudah lebih enggan dibanding sebelumnya.¹⁴
Sesudah itu raja Manado bertindak. Surat Ternate kepada Gubernur Ambon tertanggal 19 Februari 1667 menulis bahwa “den koning van Amoera, Loloda genaemt, Comp=s bondgenoot”, raja Amoura yang bernama Loloda, sekutu Kompeni, meninggalkan Kompeni dan memutuskan hubungan, lalu “met het meeste volck”, bersama sebagian besar rakyatnya, pindah dari sekitar benteng ke kedudukannya sendiri di Amoura dan membangun pertahanan di sana.¹⁵ Dalam surat inilah raja Manado untuk pertama kali tercatat dengan namanya dalam arsip Kompeni yang kami periksa, yaitu Loloda.
Laporan sersan bertanggal 26 Februari 1667 menyebut peristiwa itu “de revolutie aldaer”, pemberontakan di sana. Hampir semua orang yang sebelumnya tunduk kepada Kompeni ikut pergi. Yang tetap tinggal di sekitar benteng hanya segelintir, dan sersan mengirim daftar nama mereka, yaitu jogugu Manado, Kapitan Louw dan putranya, sang hukum, Kapitan Bancko, Amaering, Doegaegoe, Kip. Lamert, dan beberapa lainnya.¹⁶
Menelusuri Sebab
Sersan yang memimpin pos itu adalah Jan Baptista. Ia sudah bertugas di Manado sejak sekitar 1663, dan dewan VOC Ternate pernah memujinya karena dianggap telah menenangkan negeri itu.¹⁷
Kini ia punya penjelasan sendiri. Raja memang memberi alasan tidak mau mengganti benteng kayu dengan batu, tetapi menurut Baptista itu hanya “een kleed om te bedecken zijn eygen boos naturel”, kedok untuk menutupi watak jahatnya, yang diperburuk oleh hasutan “macassarse creaturen”, kaki tangan Makassar.
Raja harus dihukum. Baptista segera memanggil bantuan sekutu Kompeni VOC dari Tagulandang dan bermaksud menyerang Amoura dengan sebagian besar garnisun VOC.¹⁸
Namun dewan VOC di Ternate ragu. Dari beberapa burger di Ternate mereka mendengar cerita lain, bahwa yang menyebabkan perpecahan ini bukan keengganan mengganti benteng, juga bukan watak raja, melainkan “een te groote hardigheijd”, kekerasan yang berlebihan, dari sersan itu sendiri.¹⁹
Superintendent Cornelis Speelman, yang saat itu berada di Ternate, memberi penilaian serupa. Dalam suratnya ke Ambon pada 27 Maret 1667 ia menulis bahwa orang Kompeni yang bertugas di sana “met wat te veel hardigheijt heeft geprocedeert”, telah bertindak agak terlalu keras, dan pembangunan redoute batu ternyata tidak lagi sungguh-sungguh mereka inginkan seperti sebelumnya.
Ia juga menduga hasutan Makassar ikut menyebabkan perpecahan ini, dan berharap raja akan berubah sikap setelah mendengar kekalahan Makassar.²⁰
Keputusan diambil pada April 1667, ketika Speelman masih berada di Ternate dalam perjalanannya memimpin perang melawan Makassar. Baptista dipanggil ke Ternate untuk memberi laporan lisan.
Sebagai penggantinya sementara dikirim Jochem Sipman, kopral yang sedang memimpin pos Makian. Ia pernah bertugas lima tahun berturut-turut di Manado, mengenal negeri itu dengan baik, dan pandai bergaul dengan penduduk.²¹
Baptista tiba di Ternate dengan fregat de Crab pada 28 April 1667. Ia membawa dua orang, yaitu kapitan Manado, pemimpin segelintir orang Manado yang tidak ikut raja, dan kepala negeri alifuru Toumon yang tetap setia. Keduanya meminta agar Baptista dibiarkan tetap di Manado, karena mereka sudah terbiasa dengannya. Ternate mencatat dengan curiga bahwa permintaan itu mungkin diatur oleh sersan sendiri. Ketika ditanya mengapa raja pergi, keduanya menjawab tidak tahu.²²
Hendrick Cors di Amoura
Sipman baru saja tiba di Manado dan belum sempat menyelidiki keadaan. Karena itu, pada 8 Mei 1667 Ternate mengirim juru bahasa Hendrick Cors dengan fregat de Crab. Cors disukai orang Manado dan menguasai bahasa mereka.
Tugasnya mencari jalan untuk berunding dengan raja Manado dan para alifuru. Kedua utusan Manado juga dipulangkan dengan hadiah kain senilai 12 real dan diminta berusaha membujuk raja untuk kembali.²³
Usaha itu hampir sia-sia. Pada 10 Juni 1667 Cors kembali dengan laporan bahwa raja “die sich tot Amoura onthoudt”, yang bertahan di Amoura, tetap keras kepala.
Fregat de Crab berlabuh di depan Amoura, dan dari darat raja Manado menyuruh orangnya berseru bahwa ia tidak mau lagi melihat orang Belanda, apalagi berbicara dengan mereka. Hanya Hendrick Cors saja yang boleh datang, dan raja berjanji akan mendengarkannya. Cors takut raja berniat buruk terhadapnya, sehingga ia tidak berani naik ke darat. Perundingan tidak pernah terjadi.²⁴
Pertemuan dengan para alifuru sedikit lebih baik keadaannya. Beberapa orang sudah kembali ke pihak Kompeni dan tampaknya akan disusul yang lain. Tetapi banyak yang masih menahan diri karena takut kepada raja. Kalau kelak raja berdamai dengan Kompeni, kata mereka, raja Manado akan selalu berusaha menindas orang-orang yang dulu meninggalkannya.²⁵
Penutup
Dalam satu tahun, Manado berubah dari pos yang paling menjanjikan bagi Kompeni di utara Sulawesi menjadi negeri yang terbelah. Pada Mei 1666 penduduknya bersumpah setia. Pada Juli mereka berjanji menyediakan batu dan kapur. Pada akhir tahun raja dan sebagian besar rakyatnya pergi ke Amoura.
Surat-surat Ternate menunjuk tiga sebab yang saling terkait, yakni tuntutan redoute batu yang membebani orang Manado, kekerasan sersan Jan Baptista, dan kabar armada Makassar yang membuat raja Manado ragu pada pelindungnya.
Dewan VOC Ternate sendiri condong menyalahkan sersannya. Suara raja sendiri baru terdengar setahun kemudian, ketika ia akhirnya bersedia bertemu presiden Ternate di atas air di depan Amoura.
Bagi orang Manado hari ini, arsip-arsip itu bukan sekadar catatan tentang Kompeni, benteng, dan perjanjian yang dibuat berabad-abad lalu. Di dalamnya tersimpan kisah tentang bagaimana leluhur mereka berunding, menghadapi tekanan, mempertimbangkan keselamatan negeri, dan mengambil keputusan di tengah persaingan kekuatan besar.
Membaca arsip ini berarti melihat sejarah Manado dari sudut pandang yang lebih luas yakni bukan hanya sebagai tempat yang didatangi bangsa Eropa, melainkan sebagai negeri yang penduduknya memiliki kepentingan, pertimbangan, dan pilihan sendiri. Namun suara mereka tidak selalu sampai kepada kita secara langsung.
Karena itu, setiap surat VOC perlu dibaca dengan kritis: siapa yang menulisnya, untuk kepentingan siapa, dan suara siapa yang tidak tercatat. Dari situlah orang Manado dapat mendekati masa lalunya bukan dengan mengulang cerita Kompeni, melainkan dengan menelusuri kembali pengalaman masyarakatnya sendiri.
Catatan kaki
Member Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo
