Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Sebelum Ada Residen Manado: Jejak Para Pejabat VOC di Tanah Minahasa

Sebelum Ada Residen Manado: Jejak Para Pejabat VOC di Tanah Minahasa

  • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selama tujuh puluh tahun pertamanya, pos Kompeni VOC di Manado tidak pernah dipimpin seorang “residen” dalam pengertian yang kita kenal sekarang.

Yang ada adalah kepala sebuah benteng kecil di bawah Gubernur VOC Ternate, dan gelarnya berganti-ganti mengikuti siapa yang tersedia yaitu sersan, vaandrig, opperhoofd, resident, gezaghebber.

Dari 1656 sampai 1732, sedikitnya dua puluh lima orang memegang pos itu. Hampir separuhnya serdadu berpangkat rendah, dan sedikitnya enam orang wafat ketika masih menjabat.

Kisah mereka bisa disusun kembali dari surat-surat yang dikirim Gubernur dan Dewan Ternate ke Batavia, yang salinannya kini tersimpan di Den Haag.¹ Di samping para kepala pos, Ternate kerap mengirim utusan untuk urusan tertentu. Mereka datang, memeriksa, kadang memberhentikan kepala pos, lalu pulang. Para utusan ini sering dikira residen, sehingga mereka dibahas tersendiri di bagian akhir.

Barikade dan para sersan, 1656–1679

Pos Kompeni pertama di Sulawesi Utara tidak berdiri di Manado sekarang, melainkan di Amoura. Pada November 1656, Gubernur Simon Cos mendirikan sebuah barikade di sana, dilengkapi dua meriam kecil dan delapan orang Belanda di bawah seorang sersan sementara. Nama sersan itu tidak pernah dicatat.²

Setahun kemudian berdiri kubu kayu di sungai Monango Labo. Dari sanalah Kapten Paulus Andriesz menulis suratnya pada 13 November 1657.³ Andriesz adalah anggota dewan Ternate, sehingga kehadirannya hanya sementara. Pada Agustus 1658 garnisun Manado sudah berjumlah dua puluh orang, kembali di bawah seorang sersan.⁴

Ketika Gubernur Cos menyerahkan jabatannya pada Mei 1662, ia menggambarkan pos itu dengan rinci yakni sebuah benteng kayu di tepi sungai Minangh Labo, dijaga seorang sersan, seorang ahli bedah yang merangkap kopral, seorang kopral, delapan serdadu, seorang penembak meriam, seorang guru sekolah, dan seorang mardijker yang bertugas sebagai juru bahasa. Nama sersannya lagi-lagi tidak disebut.⁵

Siapa yang memegang Manado antara 1658 dan 1662 sampai kini belum diketahui. Yang tercatat hanya keadaannya bahwa sejak Cos pergi pada 1662, Manado hanya mengirim satu last padi ke Ternate, karena pater Spanyol dari Siau menghasut orang Tondano melawan Kompeni.

Nama pertama baru muncul pada 1663. Surat Ternate bertanggal 20 Agustus 1663 merujuk “het schryven vande Commandant tot Manado Jan Babtista”, yang melaporkan bahwa raja Tagulandang telah menaklukkan raja-raja kecil di sekitar Kaidipang.

Ternate juga berharap Baptista memberi taksiran berapa banyak padi yang bisa dikumpulkan tahun itu, tetapi taksiran itu tidak datang. Pada Mei 1664 Ternate memuji “ijver vanden Sergeant Jan Baptista”: berkat kerjanya, negeri Manado “nu ‘t eenemael bevredigt”, kini sepenuhnya didamaikan.

Garnisunnya yang semula hanya empat serdadu dan seorang sersan, saat itu sudah dinaikkan menjadi enam belas orang untuk menghadapi tipu daya Spanyol.⁶ Baptista wafat saat masih menjabat, sebelum pertengahan 1668. Ternate kemudian menjual dua budak perempuan dari harta peninggalannya, dan rekeningnya ditutup dengan utang lebih dari 962 rijksdaalder.⁷

Penggantinya, Jochum Sipman, memegang Manado paling lama di abad ke-17. Pada pertengahan 1668 ia masih sersan, dan melaporkan bahwa raja Siau muncul di depan Manado dengan banyak perahu.⁸

Pangkatnya kemudian naik menjadi vaandrig dan akhirnya pemangku letnan. Surat-surat Ternate menyebutnya “Commandeur der Manado”,⁹ dan raja-raja Gorontalo dan Limboto menyuratinya sebagai “luijtenant resident Sipman tot menado”.¹⁰

Masa Sipman berakhir dengan pemeriksaan. Pada Oktober 1675 fiskal Daniel Helmans datang ke Manado bersama predikant Montanus. Para kepala negeri mengadukan Sipman, dan ia diperiksa soal dagang pribadinya. Pada 20 Oktober 1675 barang-barang Kompeni diserahkan kepada vaandrig Harmen Smit, yang diangkat Helmans sebagai pengganti sementara.¹¹

Tak lama kemudian Sipman wafat, demikian pula Helmans sendiri.¹² Smit memegang Manado sampai 1679.

Para opperhoofd dagang, 1679–1696

Kontrak yang dibuat Gubernur Padtbrugge pada 1679 mengubah wajah pos ini. Sejak itu Manado dipegang pegawai dagang, bukan lagi perwira. Dalam rapat dewan di Kasteel Orangie pada 22 Maret 1679, boekhouder Abraham van Meijert dipilih sebagai “opperhooft van manado”.¹³ Ia naik pangkat menjadi ondercoopman pada 1681, lalu wafat saat menjabat sebelum Mei 1683. Pada bulan itu jandanya sudah menikah lagi dengan sersan David Raak.¹⁴

Jabatan yang lowong itu diisi oleh fiskal Andries Oloffsz. Loffsang, yang datang sebagai utusan dan mengangkat boekhouder Anthonij van der Mast sebagai “nieuw aengestelde subalterne Opperhooft”.¹⁵

Van der Mast hanya bertahan setahun. Pada Juli 1684 ia digantikan Joost Gijsbertsz. Anne, sebelumnya juru tulis tersumpah di Ternate.¹⁶ Ondercoopman Mattheus Carelsz. menyusul pada 1687, tetapi wafat di Manado pada 25 November tahun itu juga.

Selama pos kosong, sersan Harmen van Staden memegang pemerintahan sementara. Ia sudah di Manado sejak masih kopral di bawah Van Meijert.¹⁷

Harmen Jansz. Steijnkuijler datang pada Juli 1689 dan bertahan hampir lima tahun.¹⁸ Pada akhir 1691 ia berkeliling ke negeri-negeri di pegunungan dan mencatat perjalanannya dalam sebuah dagregister.¹⁹ Masanya berakhir dengan ricuh.

Awal 1694, Sekretaris Pieter Alsteijn dan vaandrig David Haek datang dari Ternate untuk memberhentikannya. Steijnkuijler membalas dengan protes resmi pada 23 Februari 1694, dan Ternate menduga surat para kepala negeri yang membelanya sebenarnya dikonsep oleh residen itu sendiri.²⁰ Pada 1 Maret 1694 Haek mengambil alih pos.²¹

Setahun kemudian, Maret 1695, Alsteijn datang untuk kedua kalinya, kali ini membawa Stephanus Thierrij sebagai residen baru. Haek menyerahkan “voorsitting en commando” kepadanya.²² Thierrij menjabat sampai September 1696, lalu kembali ke Ternate bersama keluarganya.²³

Sersan kembali memegang pos, 1696–1707

Sepeninggal Thierrij, Manado kembali dipegang serdadu. Sersan Henrij de Chiese dari Amsterdam menggantikannya pada September 1696, dan dua bulan kemudian sudah menandatangani surat sebagai “den manadosen resident”.²⁴ Masa jabatannya dua kali terputus. Pada Agustus 1697 ia dipanggil ke Ternate, dan benteng diserahkan kepada kopral Jacob Jojeus, yang dipilih karena sudah bertahun-tahun bertugas di Tagulandang dan Kaidipang.²⁵ Setahun kemudian De Chiese diperiksa, dan selama ia tidak ada, Hans Hoffman dan Jan Dijkman memegang pos sementara.²⁶

De Chiese kembali menjabat dan disebut “Zergeant Commandant aan de fortresse Amsterdam tot Manado” sampai akhir hayatnya. Surat terakhirnya bertanggal 31 Oktober 1703. Pada 14 Februari 1704, kopral Hans Hofman melaporkan dari Manado bahwa De Chiese telah meninggal, bersama seorang kopral dan seorang penembak meriam.²⁷

Ternate lalu memilih sersan Daniel Jan Piron. Ketika barang-barang Kompeni diserahkan kepadanya, banyak kain, padi, dan kacang ternyata kurang dari catatan almarhum De Chiese.²⁸ Piron tidak betah.

Masa dinasnya sudah lama habis, dan menurut Ternate “de penne niet genoeg tot zijn wil heeft”: ia tidak cukup pandai menulis untuk membuat laporan yang diminta. Atas permintaannya sendiri ia diberhentikan. Pada 24 Februari 1706 sersan Cornelis van Wercken, sebelumnya komandan di Bacan, berangkat ke Manado untuk menggantikannya. Van Wercken dipilih karena “de malleijdse taal ervaren”, fasih berbahasa Melayu.²⁹

Para ondercoopman residen, 1707–1732

Sejak 1707 Manado kembali dipegang ondercoopman, dan gelar resident menjadi lazim. Hampir semua dari mereka meninggalkan jabatan dalam keadaan tidak baik.

Bartran Bichon, sebelumnya pengelola gudang perbekalan di Ternate, menjadi residen sekitar Agustus 1707. Surat-suratnya pada Agustus 1708 melaporkan pergolakan baru orang Tondano.³⁰ Sekitar 1710 ia pindah ke Ternate sebagai fiskal.³¹

Penggantinya Hendrik van der Burg, menandatangani surat-surat Melayu dari “Cota Amsterdam”.³² Ia lalai menjalankan perintah Batavia untuk menyelidiki suksesi di Attingola, dan tidak memegang buku dagang. Ia pun dipanggil ke Ternate namun tiba dalam keadaan sangat lemah pada 28 Oktober 1714, dan wafat di sana pada 26 Januari 1715.³³

Jacob van Gijn, sebelumnya pemegang buku garnisun menggantikannya dan pada Juni 1715 berangkat sendiri ke Attingola.³⁴ Pada Juli 1719 komisi Kapitein Casper Voges dan ondercoopman Frans Reaal datang ke Manado. Para hukum mayor Soepit, Paat, dan Lonto bersama kepala-kepala negeri Bantik, Klabat, dan Negeri Baru, mengadukan Van Gijn.³⁵ Ia diganti ondercoopman Adriaan van Leene.³⁶ Masa Van Leene diwarnai kebakaran loji pada 1720, teguran Ternate atas keserakahannya, dan keluhan raja-raja setempat.³⁷ Pada 28 Januari 1726 ia menyerahkan pos kepada Jan Swigtman dalam keadaan sakit, dan wafat di Manado tak lama kemudian.³⁸

Swigtman pun tidak lama. Lewat dua resolusi pada Desember 1727, ia memberhentikan empat hukum Negeri Kristen Baru dan mengangkat orang lain. Salah satunya Kapitein Hendrik Polij, yang beberapa bulan sebelumnya justru diskors Ternate atas pengaduan Swigtman sendiri. Pada 28 April 1728 dewan Ternate dengan suara bulat memberhentikannya, dan sesudah 10 September 1728 ondercoopman Thomas Heijmans berangkat ke Manado untuk menerima komando.³⁹ Heijmans menjabat sampai 1732, lalu menyerahkan pos kepada Jan Nebbens, sebelumnya residen Gorontalo.⁴⁰

Mereka yang bukan kepala pos

Banyak nama lain muncul bersama kata “Manado” dalam surat-surat ini, tetapi mereka tidak pernah memegang pos. Fiskal Daniel Helmans (1675), fiskal Andries Oloffsz. Loffsang (1683), Jacob Claasz. dan Jan Walraven de la Fontaine (1692), Jacob Claasz. dan Coenraet van Otteren (1693), Sekretaris Pieter Alsteijn (1694 dan 1695), serta Casper Voges dan Frans Reaal (1719) adalah utusan Ternate yang datang untuk memeriksa atau melantik, lalu kembali. Luitenant Jodocus Cromhuijsen, yang hadir dalam dewan perang di Manado pada Oktober 1677, sebenarnya mengiringi Gubernur Padtbrugge. Kapten Cornelis Sweeris disebut dalam rapat yang mengangkat Van Meijert, tetapi ia memimpin ekspedisi ke Sangihe dan terbunuh di sana.⁴¹

Beberapa sersan yang sempat dikira bertugas di Manado ternyata ditempatkan di tempat lain yaitu Abraham Baert (Barck) di Nagapatnam dan Tranquebar, dan Doede Hobbema di Malaka.⁴² Nama “Vandersteel” yang muncul di catatan pinggir sebuah surat tahun 1715 juga harus dicoret, karena teks utama di sebelahnya menyebut Van der Burg untuk peristiwa yang sama.⁴³

Daftar ringkas

Masa Nama Gelar Akhir jabatan
Nov 1656 (tidak dicatat) sersan sementara, Amoura —
1657 Paulus Andriesz kapten kembali ke Ternate
1658–1662 (belum diketahui) sersan —
≤Agt 1663–1668 Jan Baptista sersan wafat
1668–Okt 1675 Jochum Sipman sersan, vaandrig, commandeur diperiksa, wafat
Okt 1675–Mar 1679 Harmen Smit vaandrig, substituut opperhoofd diganti
Mar 1679–1683 Abraham van Meijert boekhouder, opperhoofd wafat
Mei 1683–Jul 1684 Anthonij van der Mast subaltern opperhoofd diganti
Jul 1684–1687 Joost Gijsbertsz. Anne subaltern opperhoofd diganti
1687 Mattheus Carelsz. ondercoopman, opperhoofd wafat
1687–1689 Harmen van Staden sersan, pemegang sementara diganti
Jul 1689–Mar 1694 Harmen Jansz. Steijnkuijler resident diberhentikan
Mar 1694–Mar 1695 David Haek vaandrig, pemegang sementara diganti
Mar 1695–Sep 1696 Stephanus Thierrij ondercoopman, resident kembali ke Ternate
Sep 1696–1704 Henrij de Chiese sersan commandant wafat
1704 Hans Hofman kopral, pemegang sementara diganti
1704–Feb 1706 Daniel Jan Piron sersan commandant berhenti
Feb 1706–1707 Cornelis van Wercken sersan commandant diganti
1707–1710 Bartran Bichon ondercoopman, resident menjadi fiskal
1711–Okt 1714 Hendrik van der Burg resident, gezaghebber dipanggil, wafat
1714–Jul 1719 Jacob van Gijn p.t. opperhoofd, resident diadukan
Jul 1719–Jan 1726 Adriaan van Leene ondercoopman, resident diganti, wafat
Jan 1726–1728 Jan Swigtman ondercoopman, resident diberhentikan
1728–1732 Thomas Heijmans ondercoopman, subaltern hoofd diganti
1732–dst Jan Nebbens ondercoopman, resident —

Kopral Jacob Jojeus (1697) serta Hans Hoffman dan Jan Dijkman (1698–1699) juga sempat memegang pos sementara ketika De Chiese tidak ada.

Daftar para pejabat Kompeni di Manado ini memperlihatkan bahwa sejarah kekuasaan VOC di Sulawesi Utara tidak hanya dibentuk oleh gubernur dan perjanjian besar, tetapi juga oleh orang-orang yang silih berganti memegang benteng, mengatur perdagangan, dan berhadapan langsung dengan para pemimpin negeri setempat.

Namun, daftar ini baru merupakan satu bagian dari cerita yang lebih luas. Peran para utusan Ternate, hubungan mereka dengan hukum mayor dan kepala negeri, serta berbagai perselisihan yang mewarnai pemerintahan Kompeni di Manado dan pegunungan akan dibahas lebih mendalam dalam artikel tersendiri dengan menelusuri kembali surat-surat dan arsip sezaman yang merekam peristiwa-peristiwa tersebut.

Catatan

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Foto ini diambil oleh Pangeran Leopold dari Belgia dan terdokumentasi dalam koleksi Tropisch Nederland (1938)

    Sejarah Nama “KEMA” di Minahasa Utara: Dari Kaburukan hingga Pintu Interaksi Dunia Luar

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Nama awal dari KEMA adalah “KABURUKAN”, yang kemudian menjadi salah satu pintu gerbang awal peradaban Minahasa berinteraksi dengan dunia luar. Untuk pembahasan mengenai Kaburukan, akan ditulis dalam topik tersendiri. Adalah Johan Gerhard Frederich Riedel (J.G.F. Riedel), anak tertua dari penginjil J.F. Riedel yang datang ke Tanah Minahasa bersama J.G. Schwarz pada tahun 1831. Ia lahir […]

  • Desa Kapataran di Minahasa 1904 (Arsip Utrecht 1904)

    Jejak Historis Desa Kapataran: Dari Tradisi Tumani hingga Administrasi Kolonial di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Di wilayah timur Minahasa, tepatnya di Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa, terdapat sebuah desa yang menyimpan jejak panjang sejarah pembentukan masyarakat Minahasa dari masa pra-kolonial hingga era pemerintahan Hindia Belanda. Desa itu adalah Kapataran, sebuah nama yang lahir dari lanskap alam, tetapi kemudian berkembang menjadi bagian dari sistem birokrasi kolonial di tanah Minahasa. Seperti banyak […]

  • Kisah Pasukan PG-500 Pimpinan Kapten Jongkhy R. Kumontoy di Belantara Irian Barat

    Kisah Pasukan PG-500 Pimpinan Kapten Jongkhy R. Kumontoy di Belantara Irian Barat

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2024
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Operasi Trikora adalah operasi militer yang diluncurkan Indonesia untuk menggabungkan Irian Barat (Papua Barat) dengan Indonesia. Setelah kegagalan diplomasi dengan Belanda, yang tetap mengklaim Irian Barat, Pemerintah Indonesia mengambil langkah militer. Pada 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora dan membentuk Komando Mandala yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto untuk merencanakan dan melaksanakan operasi militer. […]

  • Marten Lelivelt 1744 (Ilustrasi Ai)

    Di Ambang Batas Poigar: Ketegangan Minahasa dan Raja Salomon Manoppo dalam Catatan VOC (1744)

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Dalam historiografi Sulawesi Utara abad ke-18, hubungan antara Konfederasi Minahasa dan kerajaan di selatan, Bolaang Mongondow, bergerak di antara aliansi dan persaingan. Dinamika ini tercermin dalam dokumen kolonial Memorie van Overgave yang ditulis Gubernur Ternate Marten Lelivelt pada 1744, sebuah laporan administratif yang mencatat persoalan yang dianggap belum terselesaikan selama masa jabatannya. Dokumen tersebut mengungkap […]

  • Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2024
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Dua orang wanita muda asal Minahasa berpose dalam sebuah acara kepemudaan di Australia, 10 Maret 1962 Misses Triena and Isla Sorongan, daughters of Andrew Sorongan from Minahassa , sheltered from the rain under an Indonesian “pajong” at the garden party held at the Wingham International Friendship Centre, March 10, 1962. Source Getty Image Colored by […]

  • Pembentukan Jaton: Jembatan Kekerabatan antara Eksil Jawa dan Masyarakat Minahasa

    Pembentukan Jaton: Jembatan Kekerabatan antara Eksil Jawa dan Masyarakat Minahasa

    • calendar_month Jumat, 31 Jan 2025
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Dalam historiografi Minahasa abad ke-19, terbentuknya komunitas Jawa Tondano yang kemudian dikenal sebagai Jaton merupakan salah satu contoh paling menarik tentang pertemuan budaya di Nusantara. Komunitas ini lahir dari perjumpaan yang tidak direncanakan antara para eksil politik dari Jawa setelah Perang Jawa dan masyarakat lokal Minahasa yang telah lebih dahulu terintegrasi dalam struktur administrasi kolonial […]

expand_less