Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Menjaga Warisan Leluhur: Festival Wale Ma’zani Kembali Menghidupkan Budaya Minahasa

Menjaga Warisan Leluhur: Festival Wale Ma’zani Kembali Menghidupkan Budaya Minahasa

  • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
  • visibility 53
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah perbukitan sejuk Kota Tomohon, tempat tradisi Minahasa masih hidup dalam bahasa, musik, dan ritual adat, sebuah upaya pelestarian budaya kembali digelar.

 

 

Rumah Budaya Nusantara (RBN) Wale Ma’zani tahun ini kembali menyelenggarakan Festival Wale Ma’zani (FESWAMA) 2026, sebuah perhelatan budaya yang tidak hanya menampilkan kesenian tradisional, tetapi juga berupaya menjawab tantangan besar yang dihadapi kebudayaan lokal di era modern.

Di banyak daerah Indonesia, perubahan sosial yang cepat telah membuat sejumlah tradisi perlahan menjauh dari kehidupan generasi muda.

Bahasa daerah semakin jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, sementara pengetahuan tradisional yang selama berabad-abad diwariskan secara lisan mulai menghadapi ancaman kehilangan.

Dalam konteks itulah Festival Wale Ma’zani hadir. Didukung melalui Dana Abadi Kebudayaan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara pelaku budaya, masyarakat adat, akademisi, seniman, dan generasi muda untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan warisan budaya Minahasa.

Bagi Joudy Aray, pendiri RBN Wale Ma’zani, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui seremoni atau pertunjukan semata.

Budaya, menurutnya, harus tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan diwariskan secara aktif kepada generasi berikutnya.

“Festival ini bukan hanya perayaan budaya. Ini adalah ruang belajar, ruang berkarya, dan ruang kolaborasi agar kebudayaan Minahasa tetap hidup dan terus berkembang,” kata Joudy.

Rangkaian kegiatan festival telah dimulai dengan Lokakarya Bahan Ajar Bahasa Lokal Tombulu pada 4 hingga 5 Juni 2026. Pilihan untuk memulai festival dengan bahasa bukan tanpa alasan.

Di berbagai belahan dunia, bahasa dipandang sebagai salah satu elemen paling penting dalam menjaga identitas suatu komunitas. Ketika sebuah bahasa hilang, sebagian cara pandang, nilai, dan ingatan kolektif masyarakat ikut terancam lenyap.

Setelah lokakarya tersebut, festival akan berlanjut dengan Podcast Budaya pada 11 Juni, Sosialisasi Bahan Ajar Bahasa Lokal Tombulu pada 18 Juni, serta Pelatihan Teknologi Tradisional pada 19 Juni.

Seluruh kegiatan dirancang untuk menghubungkan kembali pengetahuan tradisional dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Musik tradisional juga menjadi bagian penting dalam festival ini melalui penyelenggaraan Kolintang Grand Prix pada 18 hingga 19 Juni.

Bagi masyarakat Minahasa, kolintang bukan sekadar alat musik. Ia merupakan simbol identitas budaya yang telah melintasi batas daerah dan dikenal di berbagai negara.

Melalui kompetisi tersebut, para pegiat seni diharapkan tidak hanya mempertahankan tradisi yang ada, tetapi juga melahirkan inovasi baru yang membuat kolintang tetap relevan bagi generasi muda.

 

 

Puncak Festival Wale Ma’zani 2026 akan digelar pada 20 Juni melalui Konser Dentang Ma’zani dan Malam Anugerah.

Acara tersebut menjadi bentuk penghargaan kepada individu dan komunitas yang selama ini berperan menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kebudayaan Minahasa kepada masyarakat yang lebih luas.

Namun bagi penyelenggara, tujuan festival ini melampaui pertunjukan dan penghargaan.

Mereka melihat kebudayaan sebagai sumber daya yang dapat mendorong perkembangan pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

 

 

Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat, identitas budaya yang kuat dinilai menjadi salah satu modal penting bagi Sulawesi Utara untuk menarik perhatian dunia.

Dengan dukungan Persatuan Insan Kolintang (PINKAN) Indonesia dan Ikatan Pelatih Kolintang Indonesia (IPKOLINDO), Festival Wale Ma’zani 2026 menjadi bagian dari upaya yang lebih besar: memastikan bahwa warisan budaya Minahasa tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang, dan menemukan maknanya di masa depan.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Daan Kaligis 1891 - 1977 (Repro Ai)

    Dari Motoling ke Aceh: Jejak Ksatria KNIL Daan Kaligis

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Di dalam sejarah panjang militer Hindia Belanda, nama-nama prajurit dari Minahasa menempati posisi yang khas. Sejak abad ke-19, wilayah ini dikenal sebagai salah satu sumber rekrutmen utama Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), terutama bagi kesatuan elite yang beroperasi di medan paling berat Nusantara. Di antara mereka, kisah Sersan Klas 2 Daan Kaligis berdiri sebagai fragmen sejarah […]

  • Timbe’e Walukow: Upacara Pengorbanan Mammpo’ di Kolongan Atas, Minahasa

    Timbe’e Walukow: Upacara Pengorbanan Mammpo’ di Kolongan Atas, Minahasa

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2024
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Timbe’e Walukow merupakan sebuah upacara tradisional yang dilaksanakan oleh Walian (pemimpin spiritual) di Kolongan Atas, Minahasa, pada musim panen. Upacara ini melibatkan ritual pengorbanan yang disebut Mammpo’, dan biasanya berlangsung di alun-alun kampung, di sekitar batu Tomotowa, yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Menurut catatan dalam *Archives Internationales D’Etnographie*, upacara ini dimulai pada pukul 3 […]

  • Majoor Benjamin Thomas Sigar (rekonstruksi gambar L.F. van Gent, Nederland-Menado 1896–1921)

    Benjamin Thomas Sigar: Dari Medan Perang Jawa hingga Kepemimpinan Langowan

    • calendar_month Sabtu, 14 Des 2024
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Di tengah perubahan besar yang melanda Minahasa pada abad ke-19, muncul seorang pemimpin lokal yang namanya masih dikenang hingga kini: Benjamin Thomas Sigar. Dalam tradisi adat ia juga dikenal sebagai Tawalijn Sigar (nama sebelum baptis Kristen), sementara dalam arsip kolonial namanya kerap ditulis sebagai B.Th. Sigar atau Majoor Langowan. Ia bukan sekadar kepala wilayah, melainkan […]

  • Grup Musik Bia asal Desa Batu (RRI, 2010)

    Dari Walak ke Birokrasi Belanda: Kisah Negeri Batu dalam Lembaran Sejarah Minahasa

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Sejarah desa-desa di Minahasa tidak hanya tersimpan dalam tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga terekam dalam lembaran-lembaran arsip pemerintahan Hindia Belanda. Melalui dokumen administratif kolonial, jejak perkembangan sebuah desa dapat ditelusuri secara lebih sistematis, terutama terkait struktur pemerintahan, pendataan penduduk, hingga kewajiban ekonomi yang dibebankan kepada masyarakat. Salah satu wilayah yang muncul dalam […]

  • Para murid sekolah untuk putra-putra kepala suku setempat dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya sedang bekerja di kebun (Wereld Museum, 1900-1930)

    Sekolah “Raja” di Tondano: Jejak Lahirnya Elite Birokrat Minahasa

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Di tengah perkembangan pendidikan modern di Minahasa pada abad ke-19, perhatian publik sering kali tertuju pada sekolah-sekolah zending yang dikelola oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Lembaga-lembaga tersebut memang memainkan peranan penting dalam memperluas kemampuan baca tulis masyarakat Minahasa. Namun, di balik perkembangan itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda juga membangun sebuah institusi pendidikan yang jauh lebih […]

  • bukit tetetana

    Bukit Tetetana View, Nikmati Pesona Alam Pegunungan!

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • visibility 33
    • 0Komentar

      🌄 Bukit Tetetana View: Tempat Nongkrong Asyik dengan View Alam Pegunungan Hai, Sobat Traveler! 👋 Kamu lagi cari tempat buat healing sambil menikmati pemandangan alam yang segar dan adem? Yuk, kenalan sama Bukit Tetetana View, salah satu destinasi wisata alam yang lagi hits banget di Sulawesi Utara!   Tempat ini cocok banget buat kamu […]

expand_less