Menabung untuk Hari Depan ‘Perdebatan Spaarbank Minahassa’
- calendar_month 41 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Spaarbank Minahasa, Lembaga Perbankan lokal yang berdiri sejak tahun 1894 di Jl. Suprapto Manado. (KITLV)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada awal 1894, rencana menghimpun uang simpanan menjadi bahan pembicaraan dalam surat kabar Tjahaja Sijang. J. Tampenawas mengajak pembaca membentuk perkumpulan bernama Spaarbank Minahassa. Usulan itu mencakup simpanan bulanan, peminjaman uang, jaminan, dan susunan pengurus. Dalam edisi berikutnya, seorang penulis berinisial G. mempertanyakan keamanan pengelolaannya, sementara J. L. memberikan keterangan tambahan mengenai pembicaraan dengan Tampenawas dan kehendak residen untuk menjalankan gagasan serupa.
Pembicaraan tersebut mempunyai pendahuluan yang dirujuk oleh kedua tulisan. Dalam “Djemputan kapada persakutuan” yang dimuat pada 8 Januari 1894, Tampenawas menyebut tulisannya sebagai sambungan dari nomor 22 tahun sebelumnya. G., ketika menanggapinya, menyebut karangan Tampenawas dalam terbitan 23 November nomor 22. Keterangan mengenai tulisan terdahulu itu muncul sebagai rujukan dalam perdebatan yang diterbitkan pada awal 1894.
Dalam sambungannya pada Januari, Tampenawas menyatakan bahwa gagasan perkumpulan tersebut sudah dibicarakan banyak orang. Beberapa orang telah menyampaikan pendapat, mengirim rancangan aturan, dan menyatakan kesediaan bergabung. Ia kembali mempersilakan pembaca memberikan pikiran atau menyatakan minat. Apabila persiapannya dianggap cukup, aturan dan keputusan yang lebih pasti akan disampaikan kepada mereka yang hendak ikut serta dalam perkumpulan itu.
Rancangan yang dimuat Tampenawas membuka keikutsertaan bagi para pegawai dan siapa saja yang menghendakinya. Mereka akan menghimpun uang melalui simpanan setiap bulan, dengan jumlah menurut kehendak masing-masing, untuk kehidupan pada kemudian hari. Perkumpulan itu diusulkan memakai nama Spaarbank Minahassa. Orang yang hendak menyimpan uang dapat mengirimkannya setiap bulan kepada direksi yang memegang kas perkumpulan tersebut.
Uang yang terkumpul diusulkan untuk dijalankan dengan bunga enam persen setiap tahun. Rancangan itu sekaligus mengatur peminjaman. Orang yang hendak meminjam harus menyediakan jaminan berupa rumah, kebun, atau emas intan miliknya. Sebagai pilihan lain, tiga orang yang berada dapat menjadi penanggung. Jumlah yang boleh dipinjam dibatasi sampai sepertiga dari harga barang yang dijadikan jaminan.
Tampenawas juga mencantumkan ketentuan penarikan simpanan. Pemilik uang tidak dilarang mengambil kembali uangnya. Namun, ia harus lebih dahulu membuat perhitungan dengan direksi untuk memperoleh uang beserta labanya dan menyelesaikan biaya yang menjadi tanggungannya. Ketentuan tersebut ditempatkan sesudah aturan mengenai bunga dan jaminan pinjaman, masih dalam bagian pertama rancangan perkumpulan yang diajukan kepada para pembaca.
Bagian kedua membicarakan direksi. Dalam susunan yang diajukan, seorang presiden sekaligus bendahara akan menjalankan Spaarbank dan memegang kas. Seorang sekretaris mengerjakan urusan tulisan menurut keperluan yang ditentukan presiden. Dua anggota ikut mempertimbangkan urusan perkumpulan bersama kedua pengurus tersebut. Catatan yang menyertai rancangan menyebutkan bahwa direksi akan dibentuk apabila jumlah penyimpan sudah dianggap cukup untuk memulai kegiatan.
Rancangan itu memperhitungkan pula imbalan dan biaya pekerjaan. Para pengurus yang disebut dalam ketentuan mengenai presiden-bendahara dan sekretaris akan memperoleh keuntungan yang dipotong dari bunga tahunan. Biaya penyelenggaraan juga diambil dari bunga uang. Besarnya keuntungan pengurus akan ditetapkan setelah kegiatan berjalan. Sementara itu, hak dan kewajiban direksi akan ditetapkan sebuah komisi, lalu rancangan pengaturannya dimuat dalam Tjahaja Sijang untuk dipertimbangkan.
Tampenawas menegaskan bahwa aturan yang dicetak tersebut masih dapat dipertimbangkan, ditambah, atau dikurangi sebelum diputuskan dan dilaksanakan. Ia mencatat 28 orang yang telah menyatakan minat: seorang mayor, tujuh kepala guru kelas I, tiga belas guru bantu, dua calon guru, seorang kepala gudang, dua saudagar, serta dua penolong Injil. Pembaca lain yang hendak bergabung dipersilakan menyatakan kehendaknya.
Dalam edisi 8 Februari 1894, Tjahaja Sijang memuat “Deri hal Spaarbank Minahassa”, sebuah tanggapan bertanda G. yang ditujukan kepada redaktur. G. membuka suratnya dengan menyatakan kegembiraan setelah membaca ajakan Tampenawas. Ia menyetujui perlunya perkumpulan penyimpanan uang, tetapi kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan tentang orang yang akan dipercaya memegang uang dan cara menjalankan dana yang dihimpun itu.
Menurut penilaian G., orang Minahasa belum terbiasa menyimpan uang dan cenderung menghabiskan penghasilan, baik gajinya besar maupun kecil. Akibat yang dikemukakannya ialah ketiadaan cadangan ketika muncul kesusahan atau kebutuhan tambahan. Ia juga menyoroti persiapan untuk hari tua, ketika seseorang tidak lagi kuat bekerja dan mencari penghidupan. Uraian ini merupakan penilaian G. dalam suratnya mengenai alasan perlunya menabung.
G. menambahkan kritik terhadap orang bergaji besar yang tetap hidup dalam utang. Secara khusus, ia menyebut adanya guru pemerintah yang, menurut penilaiannya, mencari kehormatan melalui besarnya utang. Karena itu, ia memuji Tampenawas yang mengajak pembaca mengubah kebiasaan lama dan mendirikan perkumpulan simpanan. Dalam perbandingannya, G. menyebut Eropa, Amerika, Jawa, dan tempat lain sebagai tempat yang sudah mengenal kebiasaan tersebut.
Persetujuannya atas tujuan menabung disertai keberatan terhadap kesiapan pelaksanaannya. G. mengumpamakan Tampenawas sebagai orang yang hendak mendirikan bangunan besar dan dapat menggambarkan bentuknya, tetapi belum memahami sepenuhnya kekuatan dasarnya. Susunan presiden, komisaris, sekretaris, dan bendahara, dalam pandangannya, belum menjawab pertanyaan mengenai siapa yang dapat dipercaya serta dibiasakan mengurus uang dalam jumlah begitu besar di Minahasa.
Pertanyaan berikutnya menyangkut bunga enam persen. G. menanyakan bagaimana hasil sebesar itu dapat diperoleh dari uang dalam kas perkumpulan. Menurut keterangannya, gagasan semacam ini pernah dipikirkan oleh orang yang mempunyai jabatan dan kepercayaan lebih besar, tetapi belum dapat dijalankan karena belum ditemukan cara yang cukup aman untuk mengusahakan hasil dari dana yang tersedia tersebut.
Untuk menjelaskan keberatannya, G. mengemukakan pengalamannya dalam peminjaman uang. Menurutnya, peminjam dapat menghadapkan tiga teman yang berada sebagai penanggung yang bersedia menjamin utang dengan menerima sedikit pemberian. Akan tetapi, saat pembayaran tiba, uang tidak diperoleh kembali, baik dari peminjam maupun penanggungnya. Ia menyatakan sudah berulang kali merasakan pengalaman pahit demikian. Atas dasar pengalaman yang dituturkannya itu, ia kembali menanyakan tempat yang aman untuk menaruh uang sekaligus memperoleh bunga.
Meskipun demikian, G. menolak anggapan bahwa ia bermaksud menghalangi niat Tampenawas. Ia berharap usaha itu terlaksana dengan bantuan orang yang lebih berkuasa dan dihormati, yang dapat menemukan cara lebih tetap. Ia juga menyinggung kehendak residen mengenai Spaarbank Minahassa. Tampenawas disarankannya terus mengajak masyarakat berpartisipasi dalam perkumpulan yang diharapkan berdiri setelah segala persiapannya selesai.
Sesudah surat G., edisi yang sama memuat tanggapan bertanda J. L., bertanggal 27 Januari 1894. J. L. menyatakan menerima dengan senang hati tulisan Tampenawas dan G. Ia menerangkan bahwa Spaarbank sudah lama dibicarakan. Residen Stakman pernah menghendakinya, sedangkan Residen E. J. Jellesma juga menginginkan hal tersebut dan telah berkumpul dengan beberapa orang untuk membahasnya.
Menurut J. L., Tampenawas baru mendengar pembicaraan mengenai rencana residen itu satu atau dua hari sebelumnya dari seorang penolong Injil di Menado. J. L. menyatakan dirinya juga memperoleh kabar tersebut. Keterangan itu menyertai jawabannya atas surat G., yang sebelumnya mempertanyakan apakah Tampenawas dan para pembaca sudah mengetahui adanya gagasan Spaarbank dalam pikiran dan kehendak residen.
Mengenai bunga, J. L. menyatakan tidak heran Tampenawas menuliskan enam persen. Alasannya, orang yang disebutnya mengambil laba secara tercela di Minahasa dapat memperoleh sampai delapan persen, sehingga Tampenawas tentu menganggap enam persen sebagai jumlah yang lebih kecil. G. sebelumnya mempertanyakan keamanan memperoleh hasil enam persen; J. L. menjelaskan alasan yang diperkirakannya berada di balik angka usulan itu.
J. L. juga menuturkan percakapannya yang baru berlangsung dengan Tampenawas. Dalam penuturannya, Tampenawas menyadari beratnya usaha tersebut sekaligus melihat manfaatnya. Pengelolaannya diharapkan berada pada orang yang bijaksana, adil, terpuji, dan dapat dipercaya. J. L. menyampaikan pula pandangan bahwa orang akan senang mempunyai tempat menyimpan uang, sekalipun tidak langsung memperoleh laba. Tanggapannya berakhir dengan harapan agar Spaarbank menjadi kenyataan yang bermanfaat bagi masyarakat Minahasa.
Dalam percakapan yang dilaporkan J. L., persoalan pengelola juga dibicarakan secara khusus. Ia menuliskan bahwa usaha itu tidak dapat dijalankan oleh orang yang disebutnya “anak-anak tanah”, melainkan oleh orang yang memiliki sifat-sifat kepercayaan tadi. Keterangan ini adalah pandangan yang disampaikan dalam tanggapan J. L. mengenai calon pelaksana, bukan daftar orang yang sudah diangkat menjadi pengurus Spaarbank.
Tulisan-tulisan tersebut memuat rancangan aturan, pernyataan minat, keberatan, dan harapan pelaksanaannya. Tidak ada keterangan dalam bagian yang membicarakan Spaarbank ini mengenai tanggal pembukaan, penerimaan setoran pertama, atau pengangkatan direksi yang sudah dilaksanakan.
Note: “Dalam Tjahaja Sijang edisi 8 Februari 1894, perdebatan mengenai Spaarbank Minahassa melibatkan dua penulis yang menandatangani tulisannya dengan inisial G. dan J. L. Nama lengkap keduanya tidak disebutkan dalam tulisan masing-masing. J. L. kemungkinan merujuk kepada J. Louwerier, yang tercantum sebagai penanggung jawab tulisan tanpa tanda tangan penulis lain dalam edisi tersebut, tetapi hubungan ini belum dapat dipastikan.”
Referensi
Tampenawas, J. “Djemputan kapada persakutuan”. Tjehaja-Sijang, no. 1, 8 Januari 1894
G. “Deri hal Spaarbank Minahassa”. Tjehaja-Sijang, no. 3, 8 Februari 1894
J. L. Tanggapan tanpa judul sesudah “Deri hal Spaarbank Minahassa”, bertanggal 27 Januari 1894. Tjehaja-Sijang, no. 3, 8 Februari 1894
- Penulis: Engel Yong
