Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Tiga Salib di Tepi Danau Tondano Tahun 1617

Tiga Salib di Tepi Danau Tondano Tahun 1617

  • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
  • visibility 104
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada suatu hari di tahun 1617, sebuah rombongan mendaki dari pesisir Manado ke pedalaman. Di dalamnya ada seorang pastor Jesuit, seorang cabo (kapten sebuah galai Spanyol) dan anak buah mereka. Di sebuah negeri besar di dekat sebuah danau, sang pastor mengenakan sobrepelis dan stola lalu sementara sebuah salib ditegakkan mereka menyanyikan Vexilla Regis prodeunt.

Dua salib lagi didirikan sesudahnya, orang-orang dari sebuah negeri lain mendengar kabar itu lalu meminta agar sebuah salib didirikan juga di tempat mereka dan berjanji akan menjadi Kristen lalu menjamu seluruh rombongan dengan perjamuan menurut cara mereka sendiri.

Tidak seorang pun dibaptis, beberapa bulan kemudian misi itu bubar karena penyakit. Tiga tahun kemudian seluruh orang Spanyol dan padrinya ditarik dari Manado.

Ini catatan tertulis paling awal yang saya ketahui tentang kehadiran Katolik di pedalaman Minahasa dan sekaligus contoh terbaik tentang betapa tipisnya kehadiran itu.

Dokumennya

Kisah ini terekam dalam laporan tahunan Jesuit dari Cochin, bertarikh 20 November 1619, yang menyalin laporan sang misionaris sendiri.[^1] Penulisnya menuturkan dalam kata ganti orang pertama, ia bercerita tentang pembangunan gereja dan rumah, tentang pembaptisan sang raja, lalu tentang penyakit yang memaksa ia dan rekannya meninggalkan Manado.

Dari kesesuaiannya dengan surat Andrea Simi dari Ternate, 12 Mei 1618 yang menyatakan bahwa tahun sebelumnya ia diutus bersama seorang rekan ke kerajaan Manados bahwa mereka menjadikan sang raja Kristen dan bahwa keduanya jatuh sakit dan terpaksa kembali ke Ternate — penutur bagian ini hampir pasti Andrea Simi, dengan rekan bernama Cosme Pinto.[^2]

Keduanya tiba di Manado sebagai bagian dari satu rombongan yang sama dengan sepuluh serdadu Spanyol ketika Gubernur Lucas de Vergara Gabiria membangun benteng di sana antara Mei dan September 1617.[^3] Padri dan garnisun berangkat bersama, itu bukan kebetulan melainkan pola yang berulang di seluruh korpus ini.

Di Pesisir, Sisa Ingatan Setengah Abad

Sebelum naik ke pedalaman, laporan itu melukiskan keadaan di pesisir dan bagian ini penting untuk memahami kontrasnya.

Penduduk Manado, tulisnya, menurut keterangan yang diterimanya sudah Kristen dibaptis oleh Pero Mascarenhas. Buktinya dua orang, seorang tua yang namanya sendiri Mascarenhas dan seorang lain yang cukup berumur yang masih dapat menyanyikan Pollo sinal da santa cruz dengan gembira, serta memperagakan bagaimana pada zamannya doktrin diajarkan dan mereka yang tidak menghafalnya dihukum. Sesudah orang Muslim menguasai negeri itu, katanya mereka dipaksa memeluk hukum Muhammad.[^4]

Tiga catatan harus dibubuhkan di sini. Pertama, adegannya sendiri tidak seragam antar-naskah. Naskah yang dicetak sebagai teks utama menyatakan orang tua itu menyanyikan Pollo sinal da santa cruz dan penyuntingnya menduga itu himne gereja Portugis kuno untuk Salib Suci. Tetapi naskah B dan C memberi gagasan yang cukup berbeda, di sana orang tua itu membentuk tanda salib dengan sangat baik di depan mata mereka.[^4]

 

Documenta Malucensia, kumpulan dokumen sejarah penting berbentuk seri buku korpus sumber historis yang disunting dan dianotasi oleh Hubert Jacobs, S.J.

Documenta Malucensia, kumpulan dokumen sejarah penting berbentuk seri buku korpus sumber historis yang disunting dan dianotasi oleh Hubert Jacobs, S.J.

 

Selisih itu mengubah adegannya. Dalam satu bacaan, seorang tua menyanyikan lagu yang dihafalnya lima puluh tahun sebelumnya. Dalam bacaan lain, ia memperagakan cara membuat tanda salib. Yang bertahan di kedua bacaan hanya satu hal, dan justru hal itulah yang penting yakni yang tersisa dari pengajaran 1568 adalah gerak dan hafalan. Bukan doktrin, bukan jemaat, bukan seorang pun yang mengajar.

Kedua, atribusinya keliru. Surat Mascarenhas sendiri dari Ternate 6 Maret 1569 menyatakan bahwa yang membaptis orang Manado adalah Diogo de Magalhães, sekitar 1563, Mascarenhas baru datang pada Agustus 1568.[^5]

Jadi ingatan yang bertahan lima puluh tahun di Manado sudah menempelkan nama yang salah dan yang menempelkannya adalah orang-orang Manado sendiri, bukan penulis Eropa. Ini contoh bagus tentang seberapa cepat sebuah nama bergeser di dalam tradisi lisan, bahkan ketika peristiwanya nyata dan pelakunya bernama.

Ketiga dan itulah kesimpulannya yang bertahan di pesisir adalah sisa seorang tua bernama Mascarenhas dan seorang lain yang tubuhnya masih ingat sesuatu, itu saja.

“Afora a gente dos Manados“: kaum yang lain

Kalimat berikutnya membuat pembedaan yang layak dikutip utuh dalam sejarah Minahasa selain orang Manados, di sini ada kaum lain yang disebut Alefures (alifuru) yang karena seluruhnya masih gentia (orang-orang non-Kristen) justru diharapkan memberi buah lebih besar. Jumlah mereka banyak, tersebar di berbagai negeri, terutama satu negeri di dekat sebuah danau tertentu yang berisi ribuan jiwa.[^6]

Tiga hal yang terkandung di dalamnya:

Pemisahan pesisir dan pedalaman dinyatakan oleh sumbernya sendiri bukan disimpulkan belakangan. Bagi misionaris 1617, “orang Manados” dan “Alefures” adalah dua kaum berbeda dan kaum kedua tinggal di pedalaman pegunungan.

Ukurannya besar, sebuah negeri berisi ribuan jiwa di tepi danau, pada saat seluruh kerajaan Manado ditaksir sembilan sampai sepuluh ribu jiwa beberapa tahun sebelumnya. Pedalaman bukan pinggiran, ia justru pusat penduduk.

Danaunya tidak dinamai. Dokumen menulis “sebuah danau tertentu”. Nama Tondano berasal dari catatan kaki penyunting edisi kritis yang menduga negeri itu kemungkinan besar Tondano di tepi Danau Tondano.[^7]

Dugaan itu masuk akal karena tidak ada danau lain di lengan utara yang cocok dengan gambarannya dan Tondano muncul sebagai negeri besar dalam laporan Belanda 1675 serta di antara negeri-negeri yang hadir pada perjanjian 1679.[^8]

Dugaan tetap dugaan dan judul tulisan ini memakai nama itu untuk memudahkan pencarian bukan karena dokumennya menyebutnya.

Upacaranya

Karena harapan panen yang lebih besar, tulisnya, ia menyeberang kepada orang Alfur dan mendirikan tiga salib.

Yang pertama dengan perayaan besar. Untuk keperluan itu ia membawa serta sang cabo dan kapten galai beserta orang-orangnya. Ia mengenakan sobrepelis dan stola, dan pada saat salib ditegakkan mereka menyanyikan himne Vexilla Regis prodeunt.

Orang Alfur dari negeri lain yang mendengar hal itu meminta agar didirikan satu lagi bagi mereka, berjanji akan menjadi Kristen, dan menjamu seluruh rombongan dengan perjamuan menurut cara mereka.[^9]

Satu pengamatan yang perlu saya nyatakan sebagai pengamatan saya sendiri, bukan sebagai keterangan dokumen. Vexilla Regis prodeunt adalah himne Venantius Fortunatus untuk salib yang dalam liturgi Latin dinyanyikan pada Jumat Agung.[^10]

Baris pembukanya berarti “panji-panji Sang Raja maju ke depan”. Sebuah himne yang membayangkan salib sebagai panji militer, dinyanyikan di hadapan seorang kapten galai dan anak buahnya di sebuah negeri yang baru saja dijanjikan kepada mahkota Spanyol. Kesesuaiannya mungkin kebetulan bahwa himne itu memang lazim untuk pendirian salib tetapi kesesuaian itu ada.

Yang Tidak Terjadi

Bagian ini sama pentingnya dengan yang terjadi dan biasanya hilang ketika kisah semacam ini diceritakan ulang. Tidak ada pembaptisan, tidak ada gereja. Tidak ada padri yang ditinggalkan. Yang ada tiga salib dan sebuah janji.

Perbedaannya bukan soal remeh. Dalam korpus yang sama ketika pembaptisan benar-benar terjadi jumlahnya dicatat yakni seribu lima ratus jiwa di Manado 1563, dua ribu di Kaidipang dalam delapan hari. Ketika seorang padri menolak membaptis karena tak ada yang bisa ditinggalkan untuk mengajar, itu pun dicatat.[^11] Di sini penulisnya mencatat salib, prosesi, dan janji cukup berhenti di situ.

Yang terdokumentasi pada 1617 adalah sebuah perjumpaan, bukan sebuah perpindahan agama.

Mengapa Berhenti

Alasannya sederhana dan tidak heroik karena penyakit. Ketika mereka baru sampai pada permulaan itu dan sesudah sang raja dijadikan Kristen, Cosme Pinto jatuh sakit begitu berat dan tanpa harapan sembuh sehingga ia terpaksa pergi berobat ke Ternate.

Penulisnya sendiri sudah sakit pula dan sesudah kepergian rekannya ia jatuh sakit sepenuhnya. Kapten Spanyol membujuk sang raja agar melepaskannya untuk berobat sebab selain berada dalam bahaya maut ia sudah tak dapat melayani siapa pun. Ia tiba di Ternate hampir mati, lalu mulai pulih berkat perawatan para padri dan pergantian udara.[^12]

Perhatikan siapa yang bernegosiasi dengan raja soal kepergian sang padri itu seorang kapten Spanyol, bukan atasan ordonya. Pada titik itu misi dan garnisun sudah satu perkara bahkan dalam urusan seorang pastor yang sakit.

Tiga Tahun Kemudian

Apa yang terjadi pada tiga salib itu tidak pernah dicatat lagi. Pada paruh kedua 1620, Visitador Manuel de Azevedo menulis dari Ternate berdasarkan laporan Pero Gomez yang pernah berada di sana dan André Simi yang saat itu ada di sana bahwa mula-mula lima puluh atau enam puluh orang, laki-laki dan anak-anak, menjadi Kristen karena takut kepada orang Spanyol dan karena hadiah. Bahwa yang dibaptis tidak lebih dari lima puluh dan bahwa mereka Kristen hanya pada namanya. Orang Spanyol tinggal tujuh atau delapan orang, terus-menerus sakit. Scalamonti wafat di Manado. Gubernur Luis de Bracamonte bertekad menarik seluruh orang Spanyol beserta padrinya, dan penarikan itu benar-benar dilaksanakan.[^13]

Azevedo menulis dengan sadar sebagai koreksi atas laporan-laporan sebelumnya yang menurutnya penuh keajaiban. Ia mungkin terlalu keras, laporan Simi dari lapangan berlawanan dengannya dalam beberapa hal.[^14] Tetapi arah peristiwanya tidak diperdebatkan ketika serdadu ditarik, padri ikut ditarik, dan tidak ada yang kembali ke pedalaman.

Tiga salib itu berdiri di sebuah negeri yang tak seorang pun datangi lagi selama beberapa dekade.

Gema, 1663

Ada satu jejak yang membuat kisah ini tidak berhenti sebagai jalan buntu. Pada 1663, ketika Belanda berusaha memperkuat kedudukannya di kawasan Manado, seorang Jesuit bernama Padre Miedes tercatat mengunjungi orang-orang Kristen Tondano dan mendukung rencana Spanyol membangun benteng di Kema dan di Pulau Siau. Yang mencatatnya bukan sumber Jesuit melainkan laporan Belanda, ia mengunjungi gubernur Belanda di Manado lagi pada Juli 1665 untuk membela hak-hak penduduk Katolik di Sulawesi Utara.[^15]

Empat puluh enam tahun sesudah tiga salib itu didirikan, ada “orang Kristen Tondano” yang cukup nyata untuk dikunjungi seorang pastor dan cukup diperhatikan untuk masuk catatan harian Belanda.

Apakah mereka keturunan langsung dari peristiwa 1617 atau hasil kontak lain yang tidak terdokumentasi di antara kedua tarikh itu, tidak dapat dijawab dari bahan yang ada. Pertanyaan itu saya biarkan terbuka, dan menurut saya ia pertanyaan yang layak dikejar.

Catatan Atas Sumber

Beberapa hal sengaja dibiarkan longgar. Nama danaunya tidak ada dalam dokumen. “Tondano” berasal dari catatan kaki penyunting 1984. Identifikasi itu kuat tetapi bukan bacaan atas teks, dan setiap kali tulisan ini menyebut Tondano untuk peristiwa 1617 yang dimaksud adalah dugaan penyunting tersebut. Untuk judul adalah dari kesimpulan saya sendiri yang menulis artikel ini.

Nama penuturnya adalah simpulan. Ketiga paragraf yang dipakai di sini adalah pembangunan gereja, pendirian salib, dan penyakit yang mengakhirinya lalu berjalan sebagai satu tuturan orang pertama yang tak terputus pada halaman yang sama, tanpa pergantian pengutipan. Bahwa penuturnya Andrea Simi disimpulkan dari kesesuaian urutan peristiwanya dengan surat Simi sendiri tahun 1618, bukan dari kepala dokumen. Itu satu-satunya lapis dugaan yang tersisa pada bagian ini.

Bulannya tidak diketahui, yang dapat dipatok hanya tahunnya 1617, dari pernyataan Simi bahwa perutusan itu terjadi “tahun lalu” ketika ia menulis pada Mei 1618.

Jumlah dan letak negeri kedua tidak disebut. Dokumen hanya menyatakan “negeri lain”.

Sebuah petunjuk yang belum dapat dipakai. Beredar keterangan bahwa pada 1619 tiga Fransiskan berulang kali masuk ke pedalaman Manado dan mengunjungi Tomohon, Sarongsong, Tombariri, Tondano, dan Kema.

Keterangan itu berasal dari terbitan internal tanpa satu pun catatan kaki sehingga tidak saya jadikan rujukan. Bila tarikh dan nama-nama itu dapat ditemukan dalam kepustakaan Fransiskan yang beralamat Lorenzo Pérez atau Meersman, maka gambaran perjumpaan dengan pedalaman pada 1617-1619 akan berubah cukup besar, dan tulisan ini perlu ditulis ulang.

Sumber

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Jesajas Pongoh 1878 - 1934 (Repro Ai)

    Jesajas Pongoh, Sersan Marsose Minahasa Penerima Militaire Willems-Orde di Tiga Palagan

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Dalam sejarah militer Hindia Belanda, nama-nama serdadu bumiputra kerap tenggelam di balik bayang-bayang para perwira Eropa. Mereka hadir sebagai angka dalam laporan operasi atau sekadar statistik korban dalam arsip kolonial. Namun, sesekali muncul sosok yang melampaui batas rasial dan hierarki itu figur yang reputasinya bahkan diakui oleh para jenderal Belanda sendiri. Salah satu di antaranya […]

  • Jerónimo (Pasuma) Raja Siau 1563 (ilustrasi)

    Raja Jerónimo: Dibaptis di Manado, Digulingkan di Siau

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Pada 6 Maret 1569 seorang Jesuit muda di Ternate menyelesaikan sepucuk surat panjang untuk saudara-saudaranya di India. Di bagian penutup ia menulis catatan peredaran: surat ini hendaknya dibaca lebih dulu di Malaka, baru diteruskan ke India.[^1] Penulisnya, Pero Mascarenhas, baru saja kembali dari pelayaran enam bulan menyusuri Siau, Sangihe, Manado, Bolaang, dan Kaidipang. Di dalamnya […]

  • Duel Tonaas Lengkong Paat dan Wenas Sumual (Ilustrasi)

    Perang Tombulu vs Tondano di Woloan: Kisah Lengkong Paat Melawan Wenas Sumual

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Dalam struktur sosial tradisional Malesung (Minahasa), masyarakat terbagi dalam satuan politik adat yang disebut walak. Setiap walak memiliki wilayah, pemimpin (Tonaas), serta sistem hukum adat yang mengatur kehidupan kolektif. Salah satu prinsip utama dalam sistem ini adalah kehormatan (dignitas kolektif) yang harus dijaga, bahkan dengan konsekuensi konflik terbuka. Catatan etnograf J.G.F. Riedel pada abad ke-19 […]

  • Pantai Tanjung SIlar

    Pantai Tanjung Silar, Surga Tersembunyi di Bolaang Mongondow Timur

    • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Pantai Tanjung Silar, Surga yang Mulai Terangkat   Pantai Tanjung Silar berada di Desa Jiko, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. Letaknya sekitar 4–5 jam perjalanan dari Manado, lalu dilanjutkan dengan naik perahu nelayan dari Desa Jiko selama 10 menit. Berada di area perbukitan, pantai ini menawarkan panorama pasir putih yang bersih dan […]

  • Pulau

    Pulau Gangga, Surga Tersembunyi di Sulawesi Utara

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Halo, Sobat Traveler! Udah Pernah Dengar Tentang Pulau Gangga? Kalau belum, kamu harus banget baca artikel ini sampai selesai. Pulau Gangga itu ibarat harta karun tersembunyi di ujung utara Sulawesi. Mungkin nggak banyak yang tahu, tapi justru itu yang bikin dia spesial banget. Sepi, damai, tapi kaya banget akan pesona alamnya. Lokasinya di Mana Sih? […]

  • Kopral J. Rorong 

    Kopral J. Rorong 

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2024
    • visibility 38
    • 0Komentar

    🗓️ 5 Oktober 1949 📍 Tanjung Karang, Sumatera Selatan 📷 Dienst voor Legercontacten ©️ Nationaal Militair Museum   *** Deskripsi foto: Pada tanggal 5 Oktober 1949 di Tanjung Karang (Sumatera Selatan). Kopral Menado atas nama J. Rorong, yang ditugaskan ke peleton Scout Cars KNIL di Lampung, dianugerahi Bronzen Kruis. Diberikan oleh Mayor KNIL atas nama […]

expand_less