Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Benteng Utrecht: Riwayat Pendek Sebuah Benteng Kompeni di Kema

Benteng Utrecht: Riwayat Pendek Sebuah Benteng Kompeni di Kema

  • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
  • visibility 173
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kema adalah tempat yang berkali-kali dianggap layak dibentengi, tetapi jarang lama dipertahankan. Pada 1770-an Kompeni VOC akhirnya benar-benar mendirikan benteng di sana, memberinya nama dan menetapkan garnisunnya lewat surat resmi. Beberapa tahun kemudian benteng itu dibongkar sendiri.

Riwayatnya pendek, dan justru karena itu jarang diceritakan dengan benar. Angka-angka yang beredar di literatur populer tentang benteng ini sudah bergeser dari sumbernya, dan tulisan ini juga hendak meluruskannya.

Sebelum Utrecht

Gagasan membentengi Kema jauh lebih tua daripada bentengnya.

Pada 22 Juli 1664 Dagh-Register Batavia mencatat rencana Spanyol mendirikan sterkte “noch een op Celebes, aen Quema, niet verre van Manado“, dan bahwa mereka sudah memilih tempatnya.[^1]

Rencana itu tidak terwujud. Pada pertengahan 1660-an seorang imam Jesuit juga tercatat mendukung rencana Spanyol mendirikan benteng di Kema, di Minahasa, dan di Siau, pada saat Belanda sedang memperkuat kedudukannya di Manado.[^2]

Yang menjelaskan mengapa tempat ini terus disebut adalah letaknya. Kema berada di pesisir timur, menghadap jalur yang menghubungkan Sulawesi Utara dengan Maluku dan kepulauan di utara, sementara Manado menghadap ke barat. Siapa yang menguasai keduanya menguasai kedua sisi lengan utara Sulawesi.

Perlu dicatat satu kehati-hatian yang sudah lama menyertai berkas Kema: bentuk nama tempat ini tidak seragam dalam sumber-sumber lama, dan sebagian penyebutan awal berbunyi Kima, bukan Kema. Tidak setiap penyebutan tua otomatis merujuk Kema di Minahasa Utara.[^3]

Kema Sebelum Bentengnya

Kema bukan tempat kosong yang kemudian diisi Kompeni. Ia sudah menjadi pusat orang Tonsea.

Dalam sebuah surat kepada gubernur VOC di Ternate bertanggal 3 Februari 1770, Xaverius Dotulong menerangkan bahwa ayahnya, I Runtukahu Lumanauw, tinggal di Kema dan merintis perkembangannya.[^4]

Surat itu enam tahun lebih tua daripada penetapan garnisun benteng Utrecht. Artinya benteng Kompeni dibangun di dalam sebuah permukiman yang sudah ada, dengan kepemimpinan Tonsea sendiri dan itulah yang menjelaskan mengapa pada 1782 keputusan pembongkaran benteng dibicarakan bersama para kepala Tonsea, bukan hanya di antara pejabat Kompeni.

Benteng Yang Dibangun Tiga Tahun

Keterangan yang paling rinci datang dari laporan seorang gubernur Maluku, sebagaimana disalin Godée Molsbergen.

Menurut laporan itu, di Kema sudah tiga tahun dikerjakan sebuah benteng kecil: dimulai untuk bagian yang tidak seberapa oleh Residen Hemmekam, lalu dirancang dan diselesaikan sepenuhnya oleh Sersan dan Posthouder Rudolf Holliger, yang disebut dengan pujian sebagai orang yang cakap. Atas permintaan sang gubernur sendiri, pemerintah tertinggi berkenan menamainya Utregt — Utrecht.[^5]

Lewat surat umum tertanggal 14 Desember 1776, ditetapkan pula bahwa garnisun tempat itu untuk selanjutnya terdiri atas seorang sersan, dua kopral, dua belas serdadu biasa, dan seorang juru meriam. Enam belas orang.

Angka itu baru punya arti bila disandingkan dengan pos lain pada masa yang sama. Di Fort Amsterdam Manado ada seorang sersan, empat kopral, dua puluh enam serdadu, dan lima juru meriam, ditambah tiga puluh lima awak kapal yang selamat dari bark de Ida yang dirampas orang Mindanao. Di Amurang hanya ada seorang kopral, enam serdadu, dan seorang juru meriam.[^6]

Jadi Kema ditetapkan sebagai pos terkuat kedua di Minahasa, dua kali lipat Amurang. Sebuah keputusan yang tampak serius.

Dan Dibongkar

Keseriusan itu tidak bertahan lama. Godée Molsbergen meringkasnya dalam satu kalimat: Kema segera ditinggalkan kembali.

Sebelum masuk ke alasannya, satu hal perlu diletakkan lebih dulu supaya keputusan 1782 tidak terbaca sebagai peristiwa ganjil. Pos Kompeni di Manado sendiri berkali-kali nyaris dicabut sepanjang abad ke-17 pada 1661, pada 1663, dan lagi pada 1664 dan setiap kali yang menahannya adalah perhitungan hasil beras. Riwayat itu dibahas tersendiri; yang perlu dicatat di sini hanyalah bahwa membongkar sebuah pos adalah tindakan biasa dalam tata kerja Kompeni, bukan kegagalan luar biasa.[^13]

Alasan pembongkaran Kema terbaca dalam surat tahun 1782. Kema pada masa genting itu, tulisnya mengutip pendapat yang disampaikan dari Manado, hanya patut dianggap sebagai lastpost — pos yang membebani.

Sebab bila musuh datang, penduduk kampung akan segera meninggalkan tempat itu “na oude voorbeelden“, menurut contoh-contoh lama, sehingga garnisun pun terpaksa meninggalkan bentengnya. Karena itu disetujui usul agar sesudah benteng dibongkar dan barang-barang Kompeni diangkut ke Manado, para kepala Tonsea pindah kembali ke negeri Tonsea mereka yang lama.[^7]

Tiga hal dalam kalimat penutup itu patut diperhatikan.

Pertama, yang dibubarkan bukan hanya bangunan melainkan permukiman yang tumbuh di sekelilingnya. Yang tinggal di Kema pada masa itu adalah orang Tonsea, dengan kepala-kepala mereka sendiri.

Kedua, kepindahan itu disebut sebagai kembali ke “negeri Tonsea mereka yang lama”. Ada, jadi, sebuah negeri Tonsea yang lebih tua yang masih dikenali pada 1782 — keterangan yang berguna bagi siapa pun yang menelusuri asal-usul nama Tonsea Lama, meskipun letaknya tidak disebut dan nama itu sendiri tidak muncul.

Ketiga, alasannya bukan kekalahan melainkan perhitungan: penduduk akan lari, dan “menurut contoh-contoh lama” hal itu sudah pernah terjadi. Pengalaman setempat dijadikan dasar keputusan militer.

Latar zamannya perlu ditambahkan dengan hati-hati. Surat itu bertarikh 1782, ketika Republik Belanda sedang berperang melawan Inggris. Dokumen yang dikutip hanya menyebut “masa genting” tanpa menerangkan apa, jadi hubungan itu masuk akal tetapi tidak dinyatakan sumbernya sendiri.

Bagaimana Angka-angkanya Berubah Di Jalan

Benteng Utrecht sesekali muncul dalam tulisan ilmiah mutakhir, tetapi bentuknya sudah bergeser. Contoh yang paling mudah diperiksa ada dalam kajian arkeologi Kema terbitan 2018, yang menulis bahwa pada 1778 terdapat benteng kecil bernama Utrecht yang dibangun pemerintah Belanda, dengan kekuatan 16 orang terdiri atas seorang sersan, dua kopral, dan 16 serdadu dengan satu meriam dan penembak. Rujukannya diberikan ke Godée Molsbergen 1928 halaman 134, dikutip lewat Palar 2009 dan Sigarlaki 1977.[^8]

Bila halaman 134 itu dibuka sendiri, empat hal tampak bergeser.

Tahunnya. Yang tercantum di sana adalah surat umum 14 Desember 1776 yang menetapkan garnisun, bukan tahun 1778. Dari halaman itu saja, angka 1778 tidak dapat diterangkan.

Susunan garnisunnya. Yang tercetak adalah seorang sersan, dua kopral, dua belas serdadu biasa, dan seorang juru meriam. Rincian yang beredar menyebut enam belas serdadu, sehingga jumlahnya menjadi dua puluh dan bertentangan dengan total enam belas yang disebut pada kalimat yang sama.

Juru meriamnya. Busschieter adalah sebutan untuk orang yang melayani meriam, bukan meriamnya. Dalam kutipan yang beredar ia berubah menjadi “satu meriam dan penembak”, jadi satu jabatan menjadi dua hal.

Dan yang hilang. Nama Residen Hemmekam dan Sersan Rudolf Holliger tidak ikut terbawa, begitu pula keterangan bahwa benteng itu diusulkan dibongkar pada 1782 dan penduduknya dipindahkan. Yang tersisa hanya satu kalimat statis tentang sebuah benteng yang seolah berdiri terus.

Ini sebenarnya contoh biasa tentang apa yang terjadi pada sebuah keterangan arsip ketika ia dikutip berlapis: satu angka bergeser, satu kata berubah jenis, dan dua nama menguap. Karena itu rujukan berantai sebaiknya selalu dikembalikan ke halaman aslinya.

Apa yang tersisa

Sesudah 1782, kehadiran militer di Kema tidak lenyap sama sekali, tetapi bentuknya berubah.

Menurut Algemeen Verslag tahun 1851, jumlah pasukan di Kema mencapai 171 orang: seorang letnan, seorang sersan mayor, enam sersan, seorang kurir, dua belas kopral, dua penabuh tambur, dan seratus empat puluh delapan anggota schutterij.[^9]

Perlu dibaca dengan cermat: yang membengkak adalah schutterij, kesatuan bersenjata warga, bukan serdadu tetap. Jadi angka besar itu menandai perubahan jenis kehadiran, bukan kembalinya sebuah benteng.

Bangunan yang sampai hari ini masih berdiri di Kema justru bukan bentengnya melainkan sebuah penjara di Desa Kema Dua, sekitar lima ratus meter dari pantai, berukuran 9,20 x 7,50 meter dengan tinggi 7,25 meter, terdaftar sebagai cagar budaya.[^10]

Jarak waktu antara benteng 1770-an dan bangunan abad ke-19 itu lebih dari lima puluh tahun, dan yang pertama justru diusulkan dibongkar, keduanya tidak dapat disatukan tanpa bukti.

Bentengnya sendiri tidak jelas lagi letaknya. Survei awal Balai Arkeologi Sulawesi Utara pada 2017 menemukan struktur dinding memanjang berbahan batu yang diduga bekas struktur benteng, sementara keterangan seorang tetua Kema menyebut bahwa pada 1970-an masih banyak sisa dinding di tengah permukiman yang kini sudah tidak ada — sebagian dibongkar, sebagian menyatu dengan bangunan baru.[^11]

Ada pula sebuah foto koleksi KITLV berjudul Fort te Kema, dan kajian yang sama menyatakan terus terang bahwa belum diketahui apakah benteng dalam foto itu kelanjutan bangunan Portugis, Spanyol, benteng Utrecht, atau benteng lain di lokasi berbeda.[^12]

Kejujuran itu patut ditiru. Selama identifikasinya belum dikerjakan, tidak ada dasar untuk menyebut sisa dinding mana pun di Kema sebagai “Benteng Utrecht”.

Catatan

[^1]: Dagh-Register gehouden int Casteel Batavia tahun 1664, ed. J. A. van der Chijs (Batavia: Landsdrukkerij; ‘s-Hage: M. Nijhoff, 1893), hlm. 290, entri 22 Juli.

[^2]: Documenta Malucensia jilid III, hlm. 37, pada bagian biografis. Imam yang sama tercatat menemui gubernur Belanda di Manado pada Juli 1665.

[^3]: Dagh-Register 1663 menulis “Kima”, Dagh-Register 1664 menulis “Quema”, indeks Documenta Malucensia jilid III mencantumkan bentuk “Las Quemas”, sedangkan A. J. van Aernsbergen pada 1925 menormalkan bacaannya menjadi “Kema” dengan pengakuannya sendiri bahwa ejaannya ia alihkan ke bentuk lazim. Laporan Jacobus Montanus 1675 juga membahas nama “Kime” dan “Kema” sekaligus, dalam François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, ed. S. Keijzer, jilid I, hlm. 566.

[^4]: Dikutip dalam Irfanuddin Wahid Marzuki, “Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data”, Kapata Arkeologi 14 (1) 2018, hlm. 89, merujuk Widya Nayati, Mengenal Sulawesi Utara dari Sejarah dan Temuan Arkeologis (Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012), hlm. 9. Surat aslinya belum diperiksa.

[^5]: E. C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Weltevreden: Landsdrukkerij, 1928), hlm. 134.

[^6]: Godée Molsbergen, hlm. 134. Jabatan Letnan dan Vaandrig bagi Christen Burgerij Manado, yang berjumlah sekitar enam puluh orang, disebut mulai diadakan pada 1758.

[^7]: Godée Molsbergen, hlm. 134, mengutip L. A. Bat., Afg. Ind. Br. 1782, bl. 710. Pada halaman yang sama disebutkan bahwa Residen di Manado berturut-turut adalah Koene Koenes dan Johannes Booth, yang pada kematiannya meninggalkan segala tanda administrasi yang serampangan.

[^8]: Marzuki, Kapata Arkeologi 14 (1) 2018, hlm. 93, merujuk H. B. Palar, Wajah Lama Minahasa (Bogor: Yayasan Gibon, 2009), hlm. 166, dan D. Sigarlaki, Sejarah Daerah Sulawesi Utara (Jakarta: PPSDB Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977), hlm. 64.

[^9]: Marzuki, hlm. 93, merujuk Algemeen Verslag tahun 1851, koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia. Berkas aslinya belum diperiksa.

[^10]: Marzuki, hlm. 94. Nomor register yang disebutkan adalah BPCB.GTO/71/06.01/0180/2014.

[^11]: Marzuki, hlm. 93, merujuk laporan penelitian Balai Arkeologi Sulawesi Utara tahun 2017 dan wawancara dengan H. Ismed Jailani.

[^12]: Marzuki, hlm. 93, dengan gambar foto Fort te Kema dari koleksi KITLV.

[^13]: Rangkaian pertimbangan itu tercatat dalam Dagh-Register tahun 1661 hlm. 57 dan 160, tahun 1663 hlm. 396 dan 535, serta tahun 1664 hlm. 15, 20, dan 289, semuanya ed. J. A. van der Chijs. Uraian selengkapnya beserta kutipannya ada pada tulisan terpisah tentang beras Minahasa dalam perhitungan Kompeni, 1661–1671.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Jejak Petualangan di Tanah Minahasa: Berburu Anoa dan Menyelami Kehidupan Sulawesi pada 1921

    Jejak Petualangan di Tanah Minahasa: Berburu Anoa dan Menyelami Kehidupan Sulawesi pada 1921

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Tulisan ini menceritakan pengalaman perjalanan John Talbot Clifton dan istrinya, Violet Clifton, ke Minahasa, Sulawesi Utara, pada tahun 1921.   Dalam perjalanan ini, mereka berkunjung ke berbagai tempat di Minahasa, termasuk Tondano, Rurukan, dan Pulau Lembeh. Tujuan utama mereka adalah berburu Anoa, hewan khas Sulawesi, yang kemudian dijelaskan dalam bukunya *Islands of Queen Wilhelmina*.   […]

  • Sebuah jalan di Passo, dengan gereja terlihat di latar belakang (foto Komunitas Zending, 1900/1901)

    Passo dan Rahasia Peradaban Tua Minahasa di Pinggir Danau Tondano

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Desa Passo merupakan salah satu desa tua di tepian Danau Tondano yang berada di wilayah Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Di balik ketenangannya sebagai desa wisata air panas, Passo menyimpan lapisan sejarah panjang yang membentang sejak ribuan tahun silam. Kawasan ini bukan hanya penting dalam sejarah lokal Minahasa, tetapi juga memiliki arti […]

  • Jiko Boltim

    Pantai Jiko Boltim, Surga Tersembunyi di Ujung Timur Sulut

    • calendar_month Kamis, 24 Jul 2025
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Menyapa Surga Tersembunyi di Boltim: Pantai Jiko Halo, Sobat Traveler! 👋 Lagi cari pantai yang belum terlalu ramai tapi punya pesona luar biasa? Yuk, kenalan sama Pantai Jiko, salah satu destinasi wisata alam yang tersembunyi di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara. Lokasinya memang agak jauh dari keramaian, tapi justru itu yang bikin suasana […]

  • Tiga Serangkai Penguasa Minahasa: Pacat Supit, Lontoh Tuunan, Dan Paat Kolano

    Tiga Serangkai Penguasa Minahasa: Pacat Supit, Lontoh Tuunan, Dan Paat Kolano

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Dari tiga serangkai penguasa Minahasa, Lontoh Tuunan adalah yang pertama meninggal pada 1719. Ia disusul Paat Kolano pada 1725, kemudian Pacat Supit Sahiri Macex pada Maret 1738. Sepeninggal Lontoh Tuunan, putranya, Rondonuwu (Lontoh), menggantikannya sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Sarongsong. Paat Kolano digantikan putranya, Manengkeimuri, sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Tomohon. Sementara itu, setelah Pacat […]

  • Kolonel Jacob Frederik Warouw (Joop Warouw): Tokoh Militer Minahasa dalam Revolusi dan Pergolakan Permesta

    Kolonel Jacob Frederik Warouw (Joop Warouw): Tokoh Militer Minahasa dalam Revolusi dan Pergolakan Permesta

    • calendar_month Kamis, 28 Mar 2024
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Kolonel (Inf) TNI Jacob Frederick Warouw, yang lebih dikenal dengan sebutan Joop Warouw, lahir di Jakarta pada 8 September 1917 dan meninggal pada 15 Oktober 1960 dalam usia 43 tahun. Kedua orang tuanya berasal dari Minahasa; ayahnya sendiri pernah menjadi anggota KNIL. Warouw adalah perwira militer yang terlibat langsung dalam Perang Kemerdekaan Indonesia dan kelak […]

  • Alfred Russel Wallace pernah menginap di Airmadidi tahun 1859 (Wikipedia)

    Airmadidi dalam Lanskap Kolonial: Dari Jantung Tonsea hingga Simpul Logistik Minahasa

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Di pesisir utara Pulau Sulawesi, nama Airmadidi tidak sekadar merujuk pada wilayah administratif modern. Dalam lintasan sejarah, kawasan ini tampil sebagai simpul penting yang menghubungkan peradaban lokal Minahasa khususnya sub-etnis Tonsea dengan dinamika kolonial yang membentuk ulang struktur ruang, ekonomi, dan kekuasaan di kawasan tersebut. Jauh sebelum kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan administrasi Hindia […]

expand_less