Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Rumah-Rumah di Minahasa Tidak Perlu Ditutup Tahun 1864

Rumah-Rumah di Minahasa Tidak Perlu Ditutup Tahun 1864

  • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
  • visibility 106
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tahun 1864, Verslag van den staat en de werkzaamheden van het Nederlandsche Zendelinggenootschap memberikan gambaran mengenai keamanan yang dialami para zendeling di Minahasa. Laporan tersebut menyatakan bahwa tidak ada bahaya terhadap nyawa. Seorang zendeling dapat bepergian sendirian dengan menunggang kuda pada malam hari dengan perasaan aman seperti orang yang berjalan pada siang hari di kota-kota dan desa-desa Belanda. Harta benda juga disebut begitu aman sehingga rumah-rumah tidak perlu ditutup.

Redaksi Belanda yang digunakan dalam laporan itu adalah het sluiten der huizen niet noodig is, yang berarti bahwa menutup rumah tidak diperlukan. Sumber tersebut tidak secara khusus menyebut kunci, anak kunci, bentuk pintu, maupun sistem pengamanan rumah. Keterangan mengenai keamanan muncul ketika laporan membahas hubungan antara zendeling dan penduduk. Para zendeling disebut hidup di tengah masyarakat dan bergaul dengan penduduk sejauh kesopanan serta kehati-hatian mengizinkannya. Laporan menjelaskan bahwa kehati-hatian itu berkaitan dengan menghindari keakraban tertentu yang akhirnya dapat menjadi merepotkan dan tidak menyenangkan.

Laporan tahun 1864 juga membahas keadaan Tondano. Daerah itu dipakai sebagai contoh salah satu jemaat yang telah berdiri kukuh dan berkembang. Menurut laporan tersebut, orang Tondano dahulu dikenal karena pencurian. Jumlah pencuri kemudian disebut berkurang dengan nyata dan mereka tidak ditemukan di antara orang-orang yang menjadi inti jemaat. Rasa saling percaya meningkat, sedangkan perdagangan dan kegiatan usaha bertambah. Laporan itu menyebut bahwa orang semakin mempelajari bahwa bekerja menghasilkan buah yang lebih baik daripada mencuri.

Catatan tersebut tidak diterapkan dengan keadaan yang sama kepada seluruh Minahasa. Laporan membedakan jemaat Tondano dan beberapa jemaat yang dinilai sebanding dengannya dari jemaat-jemaat yang masih terbentuk atau berada di tengah penduduk yang belum memeluk agama Kristen. Beberapa daerah disebut belum menerima kekristenan, baru memulainya, telah lama menjadi tempat bekerja tanpa hasil yang terlihat, atau menerima agama itu dengan cepat karena berbagai keadaan. Karena itu, laporan tersebut sendiri menggambarkan keadaan yang berbeda-beda di antara wilayah dan jemaat.

Tiga tahun kemudian, N. Graafland menerbitkan laporan yang lebih panjang mengenai pencurian di Minahasa. Ia menulis bahwa orang Minahasa tidak mempunyai kecenderungan besar terhadap pencurian. Namun, Graafland segera mencatat adanya pengambilan barang dalam jumlah kecil yang terjadi setiap hari. Menurut keterangannya, hal itu dilakukan ketika seseorang merasa membutuhkan sesuatu atau melihat benda yang menarik perhatiannya. Ia menyebut jarang menemukan alasan lain bagi tindakan tersebut.

Graafland tidak menyatakan bahwa pencurian sama sekali tidak terjadi. Ia menulis bahwa mengatakan orang Minahasa tidak pernah mencuri atau bahwa pencurian besar tidak pernah terjadi merupakan pernyataan yang tidak benar. Ia juga menolak cerita mengenai suatu masa keemasan ketika pencurian belum dikenal. Alasannya, legenda-legenda Minahasa menyebut pencurian, bahasanya mempunyai kata-kata bagi berbagai jenis pencurian, dan orang-orang tua pernah memberikan keterangan berbeda mengenai keadaan masa lalu.

Dalam uraian Graafland, Tondano disebut sejak masa sebelumnya mempunyai nama buruk dalam perkara pencurian. Ia bahkan mencatat pencurian anak untuk dijadikan budak. Graafland kemudian membahas anggapan bahwa pencurian telah bertambah, terutama di Tondano. Menurutnya, lebih banyak perkara yang diketahui di bawah pemerintahan yang lebih teliti tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa jumlah pencurian meningkat. Ia menyatakan bahwa pengelolaan yang lebih baik membawa kejahatan yang sebelumnya tersembunyi menjadi lebih terlihat.

Graafland juga menolak anggapan bahwa masuknya kekristenan menyebabkan pertambahan pencurian. Ia menyatakan bahwa untuk membuktikan perubahan tersebut diperlukan statistik yang dikerjakan dengan baik. Menurut keterangannya, pencurian di Tondano, yang hampir seluruhnya telah menerima kekristenan, tidak lebih banyak daripada sebelumnya. Meskipun demikian, ia tetap menegaskan bahwa pencurian masih terjadi. Dengan demikian, laporannya tidak menyatakan bahwa masyarakat Tondano ataupun Minahasa sepenuhnya terbebas dari pencurian.

Selain pencurian barang, Graafland menyebut suatu tindakan yang dinamakannya dagdieverij, atau pencurian waktu kerja. Menurutnya, tindakan tersebut cukup umum, tetapi pelakunya tidak memandangnya sebagai pencurian. Graafland menghubungkannya dengan kemalasan dan menjelaskan bahwa orang yang ditegur mengenai hal itu memandang teguran tersebut dengan heran. Bagian ini membahas waktu serta kewajiban kerja dan bukan pengambilan barang dari rumah.

Graafland juga memberikan sebuah contoh mengenai barang milik tamu yang hilang di rumah seorang kepala distrik. Tamu tersebut menceritakan kehilangan itu sambil tertawa. Orang-orang menduga seorang perempuan budak telah mengambilnya. Kepala distrik tidak bersedia menerima anggapan itu. Untuk menjaga kehormatan rumahnya, ia kemudian mengirimkan kepada tamu tersebut barang senilai benda yang hilang. Kisah itu ditempatkan Graafland dalam pembahasannya mengenai kehormatan, pemulihan kehormatan, dan pencurian.

Dengan demikian, dua sumber memberikan keterangan yang harus dipertahankan sesuai batas redaksinya. Laporan NZG tahun 1864 menyatakan bahwa harta benda sangat aman sehingga menutup rumah tidak diperlukan dan perjalanan malam tidak menimbulkan bahaya bagi zendeling. Graafland pada 1867 menyebut kecenderungan mencuri relatif kecil, tetapi mencatat pengambilan barang kecil, pencurian besar, cerita pencurian dalam legenda, kosakata mengenai pencurian, serta pencurian yang masih berlangsung di Tondano.

Pada April 1891, A. Bierens de Haan melakukan perjalanan melintasi Minahasa, sebagian besar dengan berjalan kaki atau menunggang kuda bersama penduduk setempat. Berdasarkan pengalamannya, ia memperoleh kesan tentang ketenangan, kedamaian, dan keamanan. Ia bahkan menyebut Minahasa sebagai tempat orang dapat beristirahat tanpa takut terhadap pencuri dan pembongkar rumah serta tanpa perlu menutup pintu ataupun jendela. Keterangan tersebut disampaikan sebagai kesan pribadinya selama melakukan perjalanan.

Pengalaman yang lebih khusus dicatat ketika Bierens de Haan meninggalkan Kombi dan pergi menuju Toliang Kecil (sekarang namanya Toliang Oki), sebuah negeri yang terletak di atas bukit dekat Danau Tondano. Di sana, ia bersama zendeling Hessel Rooker menginap di rumah seorang guru Genootschap. Guru tersebut baru menyelesaikan dan menempati rumahnya setelah pembangunan yang berlangsung selama beberapa tahun. Kamar-kamarnya menghadap ke beranda depan yang kecil, tetapi tidak satu pun pintunya dilengkapi kunci.

Bierens de Haan menulis bahwa masyarakat Minahasa dengan mengecualikan kota-kota utama — bahkan tidak memikirkan kemungkinan barang mereka dicuri. Ia kemudian menceritakan pengalamannya sendiri. Ketika harus berangkat pagi-pagi sekali, Bierens de Haan telah meletakkan barang bawaannya di jalan depan rumah sejak malam sebelumnya. Hal itu dilakukan agar para kuli yang akan berangkat mendahuluinya sebelum fajar tidak perlu membangunkannya dan mengganggu waktu tidurnya. Bierens de Haan tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai barang tersebut, tetapi cerita itu ditempatkannya sesudah pernyataan bahwa masyarakat di luar kota-kota utama tidak memikirkan kemungkinan mengalami pencurian.

Lalu de Haan mencatat kesaksian von Strachwitz, administrator perkebunan kopi Boyong di sebelah selatan Amurang. Selama delapan tahun bekerja di sana, von Strachwitz disebut mempunyai kesempatan mengenal penduduk. Para pekerjanya sebagian besar merupakan pemuda yang belum menikah dan berasal dari negeri-negeri jauh, termasuk dari Distrik Sonder. Von Strachwitz sangat memuji kejujuran mereka. Von Strachwitz pernah menguji mereka dengan sengaja meninggalkan sejumlah uang kecil seolah-olah karena kelalaian. Uang itu diletakkan di suatu tempat yang dilewati semua pekerja setiap hari. Setelah beberapa hari, ia menemukan uang tersebut masih berada di tempatnya dan tidak disentuh. Bierens de Haan juga menceritakan seorang pekerja yang meminjam uang muka, kemudian tidak kembali karena mendaftarkan diri sebagai tentara. Setelah waktu yang lama, pekerja itu mengirimkan surat dan mengembalikan uang pinjamannya sebelum meninggalkan tanah kelahirannya.

Laporan NZG tahun 1864 menyatakan bahwa harta benda di Minahasa begitu aman sehingga rumah tidak perlu ditutup. Graafland pada 1867 mencatat bahwa kecenderungan terhadap pencurian tidak besar, tetapi ia tetap mengakui adanya pengambilan barang kecil maupun pencurian besar. Dan dalam catatan perjalanan yang terbit pada 1892, A Bierens de Haan memberikan contoh yang lebih khusus: pintu rumah seorang guru di Toliang Kecil tidak dilengkapi kunci, barang bawaannya diletakkan di jalan sejak malam, dan uang yang sengaja ditinggalkan di lingkungan perkebunan Boyong tetap tidak disentuh.

Referensi: 

Graafland, N. De Minahassa, haar verleden en haar tegenwoordige toestand. Jilid I. Rotterdam: M. Wijt & Zonen, (1867)

Nederlandsche Zendelinggenootschap. Verslag van den staat en de werkzaamheden van het Nederlandsche Zendelinggenootschap in 1864. Rotterdam: M. Wijt & Zonen, (1864)

A. Bierens de Haan, “De Minahasa,” Nederlandsch Zendingstijdschrift  (1892)

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Penjara tua Kema kini jadi Cagar budaya (Eldio Rambi, 2025)

    Kema: Pelabuhan, Benteng, dan Penjara di Pesisir Timur Minahasa

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Kema terletak di pesisir timur lengan utara Sulawesi, menghadap Laut Maluku. Letak itulah yang menjelaskan hampir seluruh riwayatnya. Manado menghadap ke barat dan menjadi berombak pada musim muson barat; Kema menghadap ke timur, ke jalur yang menghubungkan Sulawesi Utara dengan Maluku dan kepulauan di utara. Siapa yang menguasai keduanya menguasai kedua sisi lengan utara Sulawesi. […]

  • Sistem Tanda Bunyi Manguni dalam Tradisi Minahasa

    Sistem Tanda Bunyi Manguni dalam Tradisi Minahasa

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Dalam lanskap kosmologi Minahasa pra-kolonial, interaksi antara manusia dan alam tidak bersifat simbolik semata, melainkan operasional. Alam diperlakukan sebagai sistem tanda (semiotic system) yang dapat dibaca dan ditafsirkan. Salah satu elemen kunci dalam sistem ini adalah burung Manguni (secara biologis sering diidentifikasi sebagai Otus manadensis), yang berfungsi sebagai medium komunikasi antara manusia, leluhur, dan kekuatan […]

  • Sersan J. Kowel (repro foto Van Gent, L. F. 1923)

    Sersan J. Kowel: Prajurit Minahasa di Tengah Kepungan Berdarah Jambi 1916

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Nama Sersan J. Kowel mungkin tidak banyak dikenal dalam historiografi Indonesia. Namun, dalam catatan militer kolonial awal abad ke-20, namanya tercatat sebagai prajurit yang memiliki kemampuan taktis dan keberanian menonjol. Jejak Kowel membawa kita dari kepulauan Mentawai ke pedalaman Jambi. Di sana, pada 1916, ia terlibat dalam salah satu episode perlawanan bersenjata yang mengguncang kekuasaan […]

  • J.L. Seydelman, Residen Manado 1750 (ilustrasi)

    Perselisihan Malalayang: Saat VOC Menghadapi Ambiguitas Politik Orang Bantik

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Di tengah upaya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) memperkuat cengkeramannya atas jazirah utara Celebes pada pertengahan abad ke-18 era 1750-an, sebuah kawasan pesisir di selatan Manado justru berubah menjadi sumber kegelisahan politik kolonial. Kawasan itu bernama Maleleian, kini dikenal sebagai Malalayang. Dalam arsip kolonial yang dihimpun Dr. E.C. Godée Molsbergen melalui karya Geschiedenis van de Minahassa […]

  • Diplomasi “Walak” Abad ke-17: Kecerdasan Politik Leluhur Minahasa di Panggung Internasional

    Diplomasi “Walak” Abad ke-17: Kecerdasan Politik Leluhur Minahasa di Panggung Internasional

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Sejarah populer kerap menempatkan 10 Januari 1679 sebagai tonggak diplomasi Minahasa melalui perjanjian dengan Belanda (VOC). Namun, jejak kecerdasan politik leluhur Minahasa sesungguhnya telah terpatri jauh sebelumnya. Arsip Spanyol abad ke-17 mengungkap bahwa masyarakat pesisir Manado dan para pemimpin Walak, federasi suku Minahasa sudah memainkan strategi geopolitik tingkat tinggi dengan kekuatan global lain: Kekaisaran Spanyol. […]

  • Sebelum Permesta ‘Letnan Kolonel Warouw di Jawa Timur’

    Sebelum Permesta ‘Letnan Kolonel Warouw di Jawa Timur’

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Pada akhir 1949, nama Letnan Kolonel J.F. Warouw muncul dalam laporan intelijen, berita kantor pers Aneta, dan korespondensi pejabat Belanda. Dokumen-dokumen tersebut membicarakan kegiatan Brigade XVI di Jawa Timur, ketegangan dengan kesatuan TNI lain, serta sebuah perintah yang dilaporkan ditemukan di Minahasa. Rangkaian sumber itu tersimpan di Nationaal Archief, Den Haag, dalam arsip Algemene Secretarie, […]

expand_less