Orang Sonder ‘Mapalus’ Membangun Rumah Sakit di Minahasa
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 64
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rumah Sakit di Sonder - Het Penningsken 1909 (foto direstorasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pembangunan fasilitas kesehatan di Minahasa tidak hanya berkaitan dengan kehadiran dokter, obat-obatan, atau lembaga zending. Di Sonder, berdirinya sebuah rumah sakit pada 1907 juga memperlihatkan keterlibatan langsung masyarakat setempat. Mereka menyumbangkan tenaga, hasil panen, bahan bangunan, hingga waktu untuk merawat lingkungan rumah sakit. Kisah tersebut tercatat dalam Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa dan diperkuat oleh laporan sezaman dalam Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap yang terbit pada Mei 1909.
Rumah sakit tersebut didirikan di Sonder pada 1907 dan disebut sebagai satu-satunya hulpziekenhuis atau rumah sakit pembantu di Minahasa pada masa itu. Pendirian rumah sakit terjadi setelah masyarakat, atas dorongan hulpprediker dan para guru pribumi, menyatakan kesediaan untuk ikut membantu. Dengan demikian, sejak awal rumah sakit tersebut memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat di sekitarnya.
Rumah yang Harus Dibongkar dan Dipindahkan
Proses pembangunannya ternyata tidak sederhana. Lahan untuk rumah sakit harus diratakan, sementara bangunan yang telah dibeli harus dibongkar dan kemudian didirikan kembali di lokasi lain. Pekerjaan itu berlangsung pada waktu yang kurang menguntungkan karena bertepatan dengan musim panen padi. Bagi masyarakat agraris, masa panen merupakan periode penting yang sulit ditinggalkan. Namun, kebutuhan menyelesaikan pembangunan rumah sakit membuat masyarakat mencari cara agar kedua pekerjaan tersebut dapat berjalan.
Solusinya adalah bekerja setelah matahari terbenam. Sumber menyebut bahwa ketika itu sedang bulan purnama, sehingga cahaya bulan memungkinkan masyarakat melanjutkan pekerjaan pada malam hari. Sebuah mapalus kemudian diumumkan. Dalam sumber, istilah tersebut dijelaskan sebagai panggilan kepada masyarakat agar siapa saja yang mampu datang dan bekerja bersama.
Di sekitar rumah hulpprediker Schoch, suasana pekerjaan menjadi sangat ramai. Masyarakat bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Balok-balok berat diangkut menuju lokasi bangunan baru oleh barisan perempuan dan anak perempuan. Mereka bekerja sambil bercakap-cakap dan bernyanyi. Pekerjaan pembangunan rumah sakit, dengan demikian, berlangsung melalui pengerahan tenaga bersama masyarakat, bahkan pada malam hari.
Tidak semua orang harus melakukan pekerjaan fisik yang sama. Para perempuan tua yang sudah tidak mampu ikut bekerja membantu dengan menyiapkan kopi bagi mereka yang sedang bekerja. Detail kecil ini memperlihatkan bahwa keterlibatan masyarakat berlangsung dalam berbagai bentuk. Ada yang mengangkut bahan bangunan, ada yang mengerjakan pekerjaan lainnya, sementara yang lain menyediakan kebutuhan para pekerja. Setelah seluruh rangkaian pekerjaan selesai, sumber menyimpulkan bahwa rumah sakit tersebut akhirnya berdiri melalui usaha bersama.
Mapalus Tidak Berhenti Setelah Rumah Sakit Berdiri
Dukungan masyarakat terhadap Rumah Sakit Sonder ternyata tidak berhenti setelah bangunan selesai. Laporan tahunan H. de Ruijter dan M. Schoch yang diterbitkan dalam Maandbericht 1909 menyebut bahwa perhatian penduduk terhadap rumah sakit pada 1908 jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Rumah sakit semakin mendapatkan tempat di tengah masyarakat Sonder.
Bentuk dukungan yang diberikan juga sangat beragam. Saat pesta panen, beberapa negerieën atau negeri menyerahkan beras untuk kepentingan rumah sakit. Bahkan satu negeri disebut memberikan beras dengan nilai mencapai 30 gulden. Selain hasil pertanian, rumah sakit juga menerima kapur untuk memutihkan bangunan. Masyarakat Sonder dan Kolongan-atas kemudian datang secara sukarela untuk mengecat rumah sakit, membersihkan halaman, dan merapikan kebun di belakang bangunan.
Laporan tersebut menggambarkan kedatangan anak-anak muda dalam jumlah banyak. Mereka mengerjakan pekerjaan tersebut sambil bernyanyi. Bagi para zuster, kegiatan itu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi pasien sekaligus hiburan selama menjalani perawatan. Dengan demikian, hubungan antara rumah sakit dan masyarakat tidak hanya berlangsung dalam bentuk pasien datang untuk berobat, tetapi juga melalui kegiatan sosial dan kerja bersama.
Rumah Sakit yang Semakin Dipercaya
Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dan pemeliharaan rumah sakit berjalan seiring dengan meningkatnya penggunaan fasilitas tersebut. Laporan tahun 1908 mencatat bahwa poliklinik menerima 9.475 pasien dan memberikan pertolongan sebanyak 16.393 kali, atau rata-rata sekitar 53 pasien setiap hari. Rumah sakit sendiri menerima 144 pasien rawat inap, dibandingkan 90 pasien pada tahun sebelumnya. Laporan menyebut peningkatan tersebut sebagai tanda meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.
Pelayanan bahkan menjangkau masyarakat di luar lingkungan terdekat rumah sakit. Pada 1908 tercatat 563 kunjungan rumah, meningkat dari 528 pada 1907. Para zuster juga memberikan pertolongan dalam 12 kasus persalinan, termasuk kepada penduduk dari negeri-negeri yang lebih jauh.
Namun, Rumah Sakit Sonder masih menghadapi berbagai keterbatasan. Minahasa belum memiliki dokter zending, sedangkan dokter Eropa yang berada di Manado hanya dapat datang ke daerah pegunungan dengan jarang. Persediaan obat juga menjadi persoalan. Dalam laporan 1908, permintaan obat kepada pemerintah yang dikirim pada 15 Januari baru diterima pada 18 September, sehingga pihak rumah sakit terpaksa meminjam obat di berbagai tempat.
Kondisi tersebut membuat dukungan masyarakat menjadi semakin penting. Rumah sakit bukan sekadar bangunan tempat pasien dirawat, tetapi sebuah institusi yang membutuhkan tenaga, bahan, dana, dan dukungan sosial secara terus-menerus.
Kisah Rumah Sakit Sonder memperlihatkan sisi lain dari sejarah kesehatan di Minahasa. Sering kali sejarah rumah sakit hanya diceritakan melalui nama dokter, perawat, lembaga pendiri, atau jumlah pasien. Namun, sumber ini memperlihatkan bahwa masyarakat lokal memiliki peranan nyata dalam keberlangsungan sebuah fasilitas kesehatan.
Mereka membantu ketika bangunan harus dipindahkan. Mereka bekerja pada malam hari dengan memanfaatkan terang bulan. Perempuan dan anak perempuan ikut mengangkut balok. Perempuan tua menyiapkan kopi. Setelah rumah sakit berdiri, masyarakat kembali datang membawa beras, kapur, serta tenaga untuk mengecat, membersihkan halaman, dan mengurus kebun.
Memang, kedua sumber tersebut ditulis dari lingkungan Nederlandsche Zendelinggenootschap dan mencerminkan sudut pandang zending pada zamannya. Karena itu, istilah dan penilaian yang digunakan perlu dibaca dalam konteks sejarah tersebut. Namun, kesaksian mengenai keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dan pemeliharaan Rumah Sakit Sonder cukup jelas.
Pada akhirnya, sejarah rumah sakit ini bukan hanya sejarah masuknya pelayanan kesehatan modern ke Sonder. Ia juga merupakan sejarah tentang kerja bersama masyarakat. Di tengah musim panen, ketika pekerjaan pertanian tidak dapat begitu saja ditinggalkan, masyarakat menemukan cara untuk tetap membantu. Di bawah terang bulan, mereka membangun sebuah fasilitas yang kelak melayani ribuan pasien.
Referensi: Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa dan Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, Mei 1909, No. 5
- Penulis: Engel Yong
