Sejarah Pendidikan Minahasa 1826–1869
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sekolah Pemerintahan di Pangau Ratahan 1910an - Repro Een kijkje in de Minahasa 1916 - M. Hamerster
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pekerjaan Nederlandsch Zendelinggenootschap di Minahasa mengalami perkembangan sejak kedatangan zendeling Hellendoorn. Craandijk mencatat bahwa pada 1826 Hellendoorn datang ke Minahasa. Ia berkeliling dari satu distrik ke distrik lain dan dari satu negeri ke negeri lain, bahkan perjalanan kerjanya mencapai Kep. Sangihe dan Gorontalo. Karena melihat kemungkinan perkembangan pekerjaan zending di Minahasa, Hellendoorn terus mendesak agar lebih banyak penyebar Injil dikirimkan. Di tempat-tempat yang memungkinkan, ia juga mendirikan sekolah dengan harapan pengaruhnya terhadap anak-anak akan baik, ketika dari kalangan orang dewasa belum banyak yang dapat diharapkan.[1]
Salah satu keterangan Craandijk mengenai pengaruh sekolah terdapat dalam catatan tentang Likupang. Ia menulis bahwa Linemann menemukan pengetahuan yang mengejutkan pada sejumlah orang dewasa di daerah tersebut. Linemann kemudian bertanya kepada mereka, “maar menschen, hoe weet gij dat?” yang artinya “tetapi, orang-orang, bagaimana kalian mengetahui hal itu?” Jawaban yang diberikan adalah: “wij hebben het van onze kinderen geleerd”, yang berarti “kami telah mempelajarinya dari anak-anak kami”. Craandijk mencantumkan bahwa keterangan tersebut bersumber dari laporan tahunan tahun 1858 dan Mededelingen, jilid III, halaman 108.[2]
Tahun 1830 di Hindia Belanda, Hellendoorn memperoleh bantuan dua zendeling yang kemudian namanya sangat terkait dengan sejarah zending di Minahasa, yakni Riedel dan Schwarz. Craandijk menulis bahwa keduanya pada awalnya ditujukan untuk Timor, tetapi atas nasihat Hellendoorn dan desakan pihak lain mereka dikirim ke Minahasa (mereka berdua tiba di Minahasa tahun 1831). Resident Manado, Pietermaat, berkeliling bersama mereka untuk mencari tempat yang paling sesuai bagi penempatan. Riedel kemudian ditempatkan di Tondano dan Schwarz di Langowan. Setelah itu, Kekristenan di Minahasa secara bertahap meluas; ketika keadaan memungkinkan, pos-pos baru didirikan dan lingkungan kerja mandiri dibentuk di bawah pengawasan seorang zendeling.[3]
Dalam pekerjaan tersebut, Craandijk juga menjelaskan cara para zendeling berhubungan dengan penduduk. Sebagian besar penduduk menghabiskan hari di ladang, kebun, hutan, dan jalan-jalan pegunungan, bahkan seluruh keluarga dapat berada di tempat-tempat tersebut selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Karena itu, kunjungan dan pemberitaan di rumah dianggap tidak memadai. Para zendeling yang lebih tua kemudian menggunakan apa yang disebut wachthuizen, bangunan yang didirikan di sepanjang jalan dan menjadi tempat berkumpulnya penduduk laki-laki dari berbagai negeri. Di sana mereka berbicara, bertanya, memberikan nasihat, membangkitkan minat dan keingintahuan, serta memenuhi keinginan untuk belajar. Sebagian dari apa yang didengar dibawa pulang ke rumah sebagai awal pengetahuan dan kepercayaan.[4]
Craandijk selanjutnya mencatat bahwa Riedel dan Schwarz segera dapat menerima beberapa pemuda yang dianggap memiliki kemampuan baik ke rumah mereka. Para pemuda tersebut dididik untuk menjadi guru dan pemimpin jemaat. Ia menegaskan dalam catatan kaki bahwa yang dimaksud bukan hanya pendidikan sekolah dalam arti tertentu, melainkan pembentukan yang seluas mungkin. Ketika penduduk sebuah negeri mulai menginginkan adanya sekolah dan mereka sendiri menyediakan bangunan untuk sekolah tersebut, seorang guru ditempatkan di sana. Dengan demikian, menurut uraian Craandijk, sekolah menjadi jalan baru yang menjangkau orang tua maupun anak-anak.[5]
Sekolah juga berkaitan dengan pekerjaan para zendeling di berbagai negeri. Craandijk mencatat bahwa para zendeling memberikan nasihat dan penerangan, mengajarkan berbagai pekerjaan tangan, serta memberikan bantuan pengobatan. Istri para zendeling terutama memperhatikan anak-anak perempuan. Ia juga menyatakan bahwa pengaruh para Moerids, baik mereka kemudian diangkat sebagai guru maupun tidak, semakin meluas di Minahasa. Dalam catatan kakinya, Craandijk menyebut bahwa pada umumnya sekolah sekaligus digunakan sebagai gereja dan berupa bangunan kayu sederhana. Ia juga menulis bahwa Nederlandsch Zendelinggenootschap memberikan banyak perhatian kepada sekolah-sekolah di Minahasa dan bahwa opvoeding atau pendidikan/pembinaan disebut sebagai tujuan utama pengajaran.[6]
Pada 1865, menurut catatan Craandijk, di Minahasa terdapat 141 jemaat dan 155 sekolah. Dari jumlah sekolah tersebut, 121 didirikan dan dipelihara oleh Nederlandsch Zendelinggenootschap, 12 oleh pemerintah, dan 22 oleh negeri-negeri. Pada tahun yang sama tercatat 12.783 anak, dengan 7.000 di antaranya bersekolah. Craandijk juga mencatat bahwa penduduk Minahasa mengeluarkan lebih dari 3.500 gulden setiap tahun untuk keperluan sekolah, selain pengeluaran untuk Alkitab dan bacaan lainnya. Ia menambahkan bahwa dalam pembangunan gereja dan sekolah, penduduk memberikan tenaga dan waktu mereka.[7]
Pendidikan guru juga mendapat perhatian. Sejak 1854 telah terdapat sebuah kweekschool di Tanawangko di bawah pimpinan Graafland. Di sana para Moerids (murid) yang menunjukkan kecakapan untuk menjadi guru memperoleh pendidikan. Craandijk mencatat bahwa sebelumnya pernah dilakukan percobaan di Sonder, tetapi percobaan tersebut tidak berhasil karena penyakit yang dialami para peserta pertama dan rasa takut yang timbul karenanya. Pendidikan para guru ini berkaitan dengan kebutuhan sekolah-sekolah di berbagai jemaat, karena pengajaran biasa maupun pengajaran agama di daerah-daerah tersebut berada di tangan para guru yang juga membantu dan mewakili para zendeling.[8]
Pada 1868, didirikan pula kweekschool untuk inlandsche hulpzendelingen atau pembantu zendeling pribumi di Tomohon, di bawah pimpinan Wilken dan Louwerier. Craandijk menjelaskan bahwa pendirian sekolah tersebut berkaitan dengan keinginan menyediakan guru-guru yang sesuai dari kalangan masyarakat Kristen sendiri dan mempersiapkan waktu ketika Nederlandsch Zendelinggenootschap dapat meninggalkan Minahasa. Pada tahun yang sama, sebuah mesin cetak mulai bekerja. Mesin tersebut akan digunakan untuk menghasilkan bacaan bagi masyarakat, termasuk sebuah majalah dalam bahasa Melayu. Craandijk mencatat bahwa pada awalnya bahan bacaan itu masih harus disediakan oleh para zendeling, tetapi diharapkan kemudian orang Minahasa sendiri yang menyediakannya bagi sesama mereka.[9]
Namun catatan tahun 1869 mengenai afdeling Amorang menunjukkan bahwa keberadaan sekolah tidak berarti seluruh penduduk telah dapat membaca dan menulis. Dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie tahun 1870, sebuah tulisan berjudul “De vruchten van het onderwijs in de afdeeling Amurang” menggunakan tanda tangan dalam akta perkawinan sebagai salah satu ukuran hasil pendidikan. Pada 1869 terdapat 323 pasangan yang menikah di afdeling Amurang, atau 646 orang. Dari jumlah tersebut, hanya 165 orang yang dapat menulis, sedangkan 481 orang masih menggunakan tanda silang. Penulis menyebut bahwa hampir tiga perempat dari mereka belum menguasai tulisan, dan hasil tersebut dianggap tidak memuaskan karena sekolah-sekolah telah ada di Minahasa selama hampir 30 tahun.[10]
Hasilnya juga berbeda antara satu distrik dan distrik lainnya. Di Sonder terdapat 49 orang yang dapat menulis dan 110 yang tidak dapat menulis. Dari 110 orang yang tidak dapat menulis itu, 46 orang berusia lebih dari 30 tahun dan menurut penulis tidak pernah memperoleh pendidikan. Di Matani dan Tangkunei, jumlah orang yang dapat menulis bahkan lebih banyak daripada yang tidak dapat menulis.[11] Di Kawangkoan, keadaan sekolah sebelumnya disebut mengalami kemunduran. Pada Oktober 1868 seorang guru baru diangkat. Penulis mencatat bahwa ia melihat guru tersebut pandai bergaul dengan anak-anak dan setelah pelajaran sekolah mengajak mereka bermain permainan yang tidak berbahaya. Sejak saat itu, kehadiran anak-anak di sekolah meningkat.[12]
Di Tompaso, hasil yang dicatat bahkan lebih rendah. Penulis menyebut distrik tersebut memberikan perbandingan yang paling tidak menguntungkan, karena hanya sebagian kecil dari para pengantin laki-laki dan perempuan yang dapat menulis. Ia menghubungkan keadaan tersebut dengan masih sedikitnya pekerjaan pendidikan dan keadaan sekolah yang dianggap tertinggal. Di negeri utama Tompasso, hanya dua perempuan yang tercatat dapat menulis.[13] Dengan demikian, catatan pendidikan tahun 1869 tidak hanya memuat keberadaan sekolah, tetapi juga mencatat perbedaan hasil pendidikan menurut tempat dan kelompok umur.[14]
Di dalam catatan Craandijk, sekolah karena itu tampil sebagai salah satu bagian penting dari pekerjaan zending di Minahasa. Hellendoorn mendirikan sekolah di tempat yang memungkinkan dan berharap pengaruhnya terhadap anak-anak; Riedel dan Schwarz mendidik pemuda untuk menjadi guru dan pemimpin jemaat; negeri-negeri yang menginginkan sekolah menyediakan bangunan; dan pada 1854 serta 1868 didirikan lembaga pendidikan untuk mempersiapkan tenaga pengajar dan pembantu zendeling. Di Likupang, pengaruh sekolah bahkan dicatat melalui jawaban orang-orang dewasa kepada Linemann: wij hebben het van onze kinderen geleerd (dlm terjemahan bhs Indonesia: kami ‘orang-orang dewasa’ telah mempelajarinya dari anak-anak kami) [15]
Note: Hellendoorn yaitu Gerrit Jan Hellendoorn tokoh Zendeling yang disebut sebagai ‘Peletak dasar misi Protestan dan Pendidikan’ di Minahassa (Grondlegger van de Zending in Minahasa).
Catatan kaki:
[1] J. Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, Rotterdam, 1869, hlm. 204.
[2] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 204, catatan kaki. Sumber yang dirujuk Craandijk: Jaarverslag 1858 dan Mededelingen, jilid III, hlm. 108.
[3] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 205.
[4] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 210.
[5] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 210–211.
[6] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 211.
[7] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 208.
[8] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 214–215.
[9] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 215–216.
[10] “De vruchten van het onderwijs in de afdeeling Amoerang,” Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1870, hlm. 90–91.
[11] “De vruchten van het onderwijs in de afdeeling Amoerang,” 1870, hlm. 91–92.
[12] “De vruchten van het onderwijs in de afdeeling Amoerang,” 1870, hlm. 92–93.
[13] “De vruchten van het onderwijs in de afdeeling Amoerang,” 1870, hlm. 93.
[14] “De vruchten van het onderwijs in de afdeeling Amoerang,” 1870, tabel pendidikan afdeling Amoerang.
[15] Craandijk, Het Nederlandsch Zendelinggenootschap in zijn willen en werken, hlm. 204, 210–211.
- Penulis: Engel Yong
