Raja Manado yang Takut Naik Kapal: Perundingan Damai Amoura 1668
- calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pertemuan Raja Manado dan Presiden VOC Maximiliaen de Jongh di atas kapal di perairan Amoura pada 1668.(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada pertengahan tahun 1668, di depan muara sungai Amoura (Amurang), seorang raja melangkah ke pantai. Ia terus berjalan ke arah laut sampai air setinggi leher, lalu dibantu naik ke perahu.
Di tengah air, antara pantai yang dijaga ratusan orang bersenjata dan kapal Kompeni yang berlabuh, ia akan bertemu Presiden VOC dari Ternate bernama Maximiliaen de Jongh. Ini pertemuan pertama mereka sejak raja ini meninggalkan benteng Kompeni VOC di Manado, setengah tahun sebelumnya.¹
Artikel ini menceritakan bagaimana pertemuan itu terjadi, apa yang dibicarakan, dan mengapa perdamaian yang dihasilkannya tidak pernah menjadi kontrak.
Semua keterangan diambil dari surat-surat Ternate kepada Batavia tahun 1668. Setiap kutipan bahasa Belanda disertai terjemahannya.
Kunjungan Pertama: Benteng Kayu, Bukan Batu
Maximiliaen de Jongh diangkat menjadi Presiden Ternate oleh Superintendent Cornelis Speelman pada Maret 1667.²
Ketika tiba di Maluku ia mendapati laporan “het lant van manado in verwerringe”, negeri Manado dalam kekacauan. Pada Oktober 1667 ia berlayar ke Manado untuk menghapus perselisihan dan mendamaikan raja Manado dengan Kompeni VOC. Raja tidak datang menemuinya, sehingga tidak ada pertemuan yang terjadi.³
Kunjungan itu tetap menghasilkan satu hal. Orang Manado yang tetap setia kepada Kompeni VOC memperbaiki benteng kayu di Manado yang sudah sangat tua dan hampir roboh, sesuai janji mereka kepada presiden. Menurut Ternate, benteng itu kini bisa bertahan lebih lama lagi.⁴
Tetapi mereka menolak satu permintaan. Presiden sebenarnya ingin mereka membangun redoute batu, “twelc beleeffdelijck affsloegen”, yang mereka tolak dengan sopan. Alasannya adalah “datse geen metselaers, ende ooc swack van volc waren”, mereka tidak punya tukang batu dan jumlah mereka hanya sedikit.
Benteng kayu yang lama kata mereka, akan mereka perbarui kapan saja diperlukan. Ternate mencatat dengan ragu: “oft nu met dese nieuwe reconsiliatie de alfoerese tot het bouwen van geseijde steene redout sullen cunnen werden gepersuadeert, connen als nog qualijk geloven”. Artinya, apakah dengan perdamaian baru ini para alifuru bisa dibujuk membangun redoute batu itu, mereka masih sulit percaya.⁴
Redoute batu, tuntutan yang dua tahun sebelumnya ikut memicu perpecahan, kini ditolak bahkan oleh orang-orang yang tetap setia.
Surat yang sama mencatat urusan sersan Jan Baptista yang sebelumnya menjabat kepala pos Manado. Ia ternyata berutang ƒ 1.608 kepada Kompeni dari pembukuannya di Manado. Gajinya yang tersisa, ƒ 232, dipotong untuk menutup sebagian dan sisanya masih diupayakan untuk ditagih.⁵
Surat Raja dan Tiga Hari Menunggu
Beberapa waktu kemudian raja sendiri mengambil langkah. Ia mengirim surat kepada presiden dan meminta “bij d’ E Comp wederom in genade aengenomen ende in syn vorige heerlijckheyt herstelt te mogen werden”, diterima kembali dengan murah hati oleh Kompeni dan dipulihkan dalam kedudukannya yang dulu. Presiden pun berlayar ke Manado untuk kedua kalinya.⁶
Awalnya tampak seakan perundingan akan gagal lagi. De Jongh menunggu raja Manado selama tiga hari di Manado. Lalu juru bahasa bernama Hendrick Cors kembali dari Amoura dengan kabar buruk bahwa raja tidak mau datang ke Manado.
Hendrick Cors sudah berusaha membujuknya dengan segala alasan, tetapi raja Manado tetap menolak, “om de grote vrese die in hem was dat men hem mogt laten bij den cop vatten en ombrengen”, karena ia sangat takut akan ditangkap dan dibunuh, dan juga karena kebenciannya kepada orang Manado yang tetap setia kepada Kompeni. Raja ini meminta presidenlah yang datang ke Amoura.⁷
Dewan VOC Ternate menulis bahwa sebenarnya tidak patut menuruti raja dan “syn rebellige hoop”, gerombolannya yang memberontak. Tetapi De Jongh memutuskan pergi juga, supaya raja tidak punya alasan lagi untuk menolak dan perundingan ini akhirnya akan selesai.⁷
Di Depan Sungai Amoura
Kapal presiden berlabuh di depan muara sungai Amoura. Kompeni VOC saat itu sudah tidak lagi punya pos di sana. Satu-satunya pos mereka di daerah itu adalah benteng kayu di Manado. Karena itu Hendrick Cors dan sersan Jochem Sipman pengganti Baptista, diutus naik ke darat untuk mengabarkan kedatangan presiden kepada raja. Raja tinggal di negerinya, kira-kira setengah mil ke hulu sungai Amoura.⁸
Sekitar tiga jam kemudian raja muncul di pantai, “gevolgt van wel 400 gewapende mannen”, diikuti kira-kira 400 orang bersenjata. Dari kapal dikirim sekoci dan sebuah orambai, sebuah perahu dayung besar, untuk menjemputnya.
Raja menolak naik ke kapal, walaupun nakhoda perahu de Cauw dan sersan Sipman ditawarkan sebagai sandera. Sebaliknya ia meminta presiden yang turun ke darat.⁸
Presiden pun menolak. Menurut surat Ternate, kalau raja takut atau enggan naik ke kapal walaupun sudah dijamin keselamatannya, maka bagi presiden lebih berbahaya lagi turun “op so lossen gront onder so vele gewapende brutale alfoeresen”, di tanah yang tidak aman di tengah begitu banyak alifuru bersenjata yang garang. Satu jam lagi berlalu tanpa hasil.⁹
Akhirnya De Jongh mengusulkan jalan tengah, mereka bertemu di atas air, di antara kapal dan pantai, masing-masing hanya membawa pendayung. Raja Manado setuju.
Presiden pun turun ke orambai. Raja berlama-lama sebentar, lalu ketika orambai sudah cukup dekat ke darat sehingga mereka bisa saling berbicara, raja “met eenen tot den hals toe doort water aen syn prau quam gelopen”, langsung berjalan menembus air setinggi leher menuju perahunya dan dibantu naik.¹⁰
Bicara di Atas Kapal
Di atas air, presiden mengajak raja ikut ke kapal dengan jaminan akan diterima dengan baik, karena di pantai suara mereka akan tenggelam oleh desakan orang banyak.
Raja Manado akhirnya setuju, tetapi lebih dulu kembali ke darat untuk berbicara dengan rombongannya. Setengah jam kemudian ia naik ke kapal bersama kira-kira 30 orang. Ia membawa sirih pinang untuk presiden dan seorang budak perempuan tua.¹¹
Setelah semua duduk dan suasana tenang, presiden membuka pembicaraan. Ia mengingatkan kunjungannya pada Oktober tahun sebelumnya, ketika raja tidak datang.
Sekarang, karena raja sendiri sudah menyatakan keinginannya lewat surat, ia datang untuk kedua kalinya. Ia tidak meragukan raja akan bersikap pantas. Tetapi karena ia sendiri belum tahu sebab perselisihan itu, ia meminta raja menjelaskannya.¹²
Jawaban raja patut dicatat. Apa pun yang ia katakan, ujarnya, “soude meer voor syn ontschuldinge als waerheyt connen aengenomen werden”, akan dianggap lebih sebagai pembelaan diri daripada kebenaran. Kalau ingin tahu yang sebenarnya, para pemimpin seluruh negeri harus dikumpulkan dan masing-masing didengar.¹²
Presiden menilai cara itu akan terlalu lama, dan perselisihan yang dibiarkan berlarut justru makin menjauhkan kedua pihak. Ia mengusulkan agar tidak usah dicari siapa yang bersalah, “maer het gepasseerde varen liet ende in vergetelheyt stelde”, melainkan yang sudah lewat dilepaskan dan dilupakan, lalu dicari cara memulihkan ketenangan di Manado. Raja sangat senang dengan usul itu dan menyatakan bersedia membuat kontrak dengan Kompeni.¹²
Tetapi raja mengajukan satu syarat dan syarat inilah yang membuka sebab perpecahan dua tahun sebelumnya.
Ia sudah cukup merasakan “der alphoresen ongestadigheyt”, sifat para alifuru yang tidak tetap pendirian. Karena itu ia ingin lebih dulu mengumpulkan mereka dari semua negeri bawahannya dan membicarakannya bersama mereka. Kalau tidak, mereka kelak akan berkata bahwa ia memutuskan sesuatu dengan Kompeni tanpa sepengetahuan mereka, “gelyc laest (over dat een stene reduyt te maken aengenomen had) gedaen hebben”, seperti yang mereka lakukan terakhir kali, ketika ia sudah menyetujui pembangunan redoute batu.¹³
Dengan kalimat itu, raja menceritakan sisi lain dari kisah 1666. Ia memang menyetujui redoute batu, tetapi para alifuru menolaknya dan menganggap raja telah memutuskan sepihak tanpa mereka.
Damai Tanpa Kontrak
Mengumpulkan para alifuru dari semua negeri akan memakan waktu lama, sedangkan presiden tidak bisa terlalu lama meninggalkan Ternate. Karena itu hanya dua hal yang disepakati.
Mulai saat itu berlaku “stilstant van wapenen”, gencatan senjata dan setiap orang boleh mengurus kebunnya dengan tenang. Sesudah berunding dengan para alifuru, raja akan datang ke Ternate untuk membuat “een onverbreeckelijk contract”, kontrak yang tidak dapat dibatalkan.¹⁴
Dewan VOC di Ternate meragukan janji itu, karena raja sudah mulai mencari alasan. Ia tidak bisa datang ke Ternate, katanya karena belum lama ini saudara tirinya dibunuh. Raja menghukum mati si pembunuh dan sekarang kerabat si pembunuh yang berkuasa, menentangnya.¹⁵
Presiden dan Dewan Ternate lalu mengusulkan dua jalan kepada Batavia. Keadaan di Manado bisa dibiarkan di bawah gencatan senjata sementara. Atau Batavia memutuskan “dat lantschap door de wapenen te vermeesteren ende volcomentlijk in possessie te nemen”, menaklukkan negeri itu dengan senjata dan menguasainya sepenuhnya.
Menurut mereka, sekarang hal itu jauh lebih mudah daripada dulu, karena empat negeri alifuru penghasil padi terbanyak, yaitu Tumon, Seronson, Cascassen, dan Tambaring, sudah berpihak kepada Kompeni.¹⁶
Alasan yang mereka berikan memperlihatkan cara Kompeni memandang Manado. Selama “dese onredelijcke menschen”, orang-orang yang tidak dapat diajak berpikir ini, hanya menjadi sekutu dan belum menjadi bawahan, Kompeni tidak akan pernah mendapat hasil yang diharapkan dari sana.
Kompeni VOC harus menanggung garnisun yang besar dengan biaya tinggi dan sering harus mengambil padi yang sedikit itu dari pedalaman dengan pengawalan serdadu Belanda, karena para alifuru selalu bertikai satu sama lain. Untuk sementara Ternate memutuskan menjaga keadaan tetap damai tanpa membuat kontrak final dengan raja, sampai ada perintah dari Batavia.¹⁶
Penutup
Surat yang sama mencatat kabar terakhir tentang Jan Baptista. Ia meninggal di Ternate dalam wabah penyakit tahun 1668, “die wegens het te cortcomen op syn manadese administratie een goede somme aen d’E Compe. schuldig blyven sal”, dan karena kekurangan dalam pembukuannya di Manado, ia akan meninggalkan utang yang cukup besar kepada Kompeni.¹⁷
Pertemuan di atas air tahun 1668 tidak mengembalikan keadaan seperti sebelum 1666. Raja Manado masih tinggal di Amoura, dan sebagian negeri alifuru sudah berpihak langsung kepada Kompeni.
Bagi raja Manado, kesepakatan dengan Kompeni ternyata tidak bisa dibuat tanpa persetujuan para alifuru. Bagi Kompeni, persekutuan dengan raja tidak lagi cukup. Kontrak tertulis dengan raja dan para kepala Manado baru dibuat sebelas tahun kemudian, pada 10 Januari 1679.¹⁸
Catatan kaki
Member Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo
