Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Masa Transisi dan Lahirnya Identitas Sub-etnis di Minahasa

Masa Transisi dan Lahirnya Identitas Sub-etnis di Minahasa

  • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
  • visibility 101
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dari Pembagian Fosoh hingga Era Perang Saudara

Dalam lembaran historiografi tua Minahasa, terdapat satu fase yang menandai perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakatnya. J.G.F. Riedel dalam naskah Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu… (1862) menyebut masa ini sebagai Bahagijan Kaduwa, sebuah babak transisi ketika masyarakat Minahasa mulai membentuk identitas subsuku yang kelak dikenal sebagai pakasa’an.

Namun di balik kelahiran identitas baru itu, tersimpan kisah tentang perpecahan, perubahan tatanan sosial, dan peperangan yang berkepanjangan.

 

Majelis Para Wailan dan Pembagian Fosoh

 

Periode tersebut bermula ketika perselisihan dan huru-hara di antara keturunan Minahasa kian memanas. Ketegangan yang terus meningkat mendorong para pemimpin adat dan penghulu yang disebut Wailan untuk berkumpul dalam sebuah majelis.

Pertemuan para pemuka ini bertujuan mencari jalan keluar atas konflik yang mengancam kehidupan bersama. Dari majelis itu lahir sebuah keputusan penting: aturan adat yang disebut posan atau fosoh dibagi menjadi tiga bagian.

Pembagian itu dimaksudkan agar masyarakat luas, yang disebut Sepahasijouwan telluh, dapat memilih aturan yang mereka kehendaki.

Dengan demikian, setiap kelompok memiliki kesempatan menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus terikat pada satu aturan tunggal.

Keputusan tersebut tidak dibuat secara sembarangan. Penetapan aturan dan bahasa itu disahkan di hadapan keturunan Mandeij dan Muntuuntu, yang pada masa itu dipandang sebagai saksi atas kekuasaan pemerintahan dan agama.

 

Dari Awohan ke Lahirnya Tiga Bangsa

 

Setelah aturan itu disepakati, masyarakat berkumpul di sebuah tempat pembagian yang bernama Awohan (kini batu Pinawetengan). Di sana mereka memilih salah satu dari tiga bagian yang telah ditetapkan.

Setelah pilihan ditentukan, tiap kelompok kembali ke tempat kedudukan atau pemukiman awal mereka. Dari perjalanan pulang inilah, menurut catatan Riedel, lahir identitas tiga kelompok besar bangsa Minahasa.

Kelompok pertama adalah Tounbuluh (Tombulu), yang kembali dan menetap di Meiesuh.

Kelompok kedua adalah Tountewoh (Tonsea), yang pulang ke Nijaranan.

Dalam perkembangan berikutnya, kelompok ini kemudian dikenal sebagai bangsa Tounsea setelah mereka berpindah ke Kembuhan.

Kelompok ketiga adalah Tounkimbut (Tontemboan), yang kembali dan menetap di Tumaratas.

Dari tiga kelompok inilah kelak berkembang berbagai subsuku Minahasa yang dikenal hingga masa-masa berikutnya.

 

Perubahan Tatanan Sosial

 

Namun pembagian wilayah dan aturan tersebut tidak serta-merta membawa ketenteraman.

Justru sebaliknya, menurut Riedel, keputusan itu perlahan menjauhkan hati dan ikatan persaudaraan di antara keturunan Lumimuut dan Toar, tokoh leluhur dalam tradisi Minahasa.

Perubahan paling terasa terjadi pada pola kepemimpinan. Jika sebelumnya kehidupan masyarakat berada dalam naungan kepemimpinan orang tua atau bapak keluarga yang mengayomi, pada masa ini kepemimpinan mulai bergeser kepada orang-orang kuat dan gagah berani yang mengandalkan kekuatan.

Kehidupan komunal yang menekankan persaudaraan perlahan berubah menjadi kehidupan yang lebih individualistis. Setiap orang mulai menuntut hak atas nama dirinya sendiri.

Riedel mencatat sejumlah perubahan sosial yang mencolok pada masa itu.
Kebiasaan hidup yang sebelumnya dikenal baik dan lemah lembut berganti dengan perilaku yang keras dan saling membunuh.

Muncul pula kebiasaan pengiropan darah, yaitu meminum atau mengambil darah musuh. Pada saat yang sama, perkawinan mulai disertai kewajiban pembayaran harta benda sebagai mahar.

Dalam suasana seperti itu, persahabatan pun menjadi rapuh. Teman sendiri dapat dibunuh atau dikhianati demi dijadikan sekutu.

 

Dari Perselisihan Tanah ke Perang Saudara

 

Seiring berjalannya waktu, kedengkian dan perselisihan mengenai kepemilikan tanah semakin bertambah. Konflik yang mula-mula terjadi di antara kelompok besar kemudian berkembang menjadi pertikaian yang lebih kecil namun lebih sering terjadi.

Tiga bangsa besar Minahasa itu akhirnya kembali terpecah menjadi banyak kelompok kecil. Para bapak keluarga memilih berpisah dan mencari tempat tinggal sendiri. Di tempat baru itulah mereka berusaha meneguhkan wilayah kekuasaannya.

Namun upaya memperkuat kedudukan itu sering dilakukan melalui peperangan dengan saudara sebangsanya sendiri. Pertikaian demi pertikaian pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Rangkaian konflik internal tersebut berlangsung cukup lama dalam sejarah Minahasa. Masa penuh kekacauan ini baru memasuki babak berikutnya ketika muncul ancaman peperangan dari luar, yakni dari orang-orang Bolaang, yang kelak membawa dinamika baru dalam perjalanan sejarah wilayah itu.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Geologi serta Tanah Vulkanik Minahasa

    Geologi serta Tanah Vulkanik Minahasa

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Salah satu catatan tentang tanah di Minahasa berasal dari E. V. J. Waersegers, arsitek yang sementara menjalankan tugas sebagai insinyur kelas satu di Manado. Dalam surat 14 Juli 1862, ia menyatakan belum dapat memastikan bahwa Keresidenan Manado tidak mempunyai jenis mergel penting lain atau bahan mineral pengganti yang cocok sebagai pozolan. Setelah melakukan pemeriksaan lanjutan, […]

  • António Galvão's (Tratado - 1731)

    1538: Benarkah Kristen Sudah Masuk Minahasa? Jejak Francisco de Castro

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Di banyak tulisan populer tentang sejarah Sulawesi Utara beredar satu kalimat yang tampak kokoh, pada tahun 1538 seorang nakhoda Portugis bernama Francisco de Castro, yang diutus António Galvão dari benteng Ternate, berlayar menyusuri pantai utara Sulawesi, dan di sanalah pembaptisan pertama berlangsung. Otoritas yang biasanya dilekatkan padanya adalah Documenta Malucensia, himpunan dokumen Jesuit yang memang […]

  • Andre Henri Mantiri (defensie.nl)

    Tragedi dan Pengorbanan: Jejak Kadet KNIL André Mantiri dalam Pusaran Perang Dunia II

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Di tengah pergolakan Perang Dunia II yang mengguncang kawasan Asia Pasifik, Hindia Belanda menjelma menjadi salah satu medan tempur paling menentukan. Serangan militer Jepang yang bergerak cepat sejak akhir 1941 bukan hanya mengakhiri dominasi kolonial Belanda di Nusantara, tetapi juga menyeret ribuan serdadu dan warga sipil ke dalam tragedi kemanusiaan yang panjang. Di antara nama-nama […]

  • Ilustrasi penebangan pohon cengkih oleh prajurit VOC dan penduduk setempat di Kepulauan Utara, 1677.

    Ditanam, Dilarang, Ditebang: Polemik Cengkih di Utara, 1646–1677

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Ada satu klaim yang cukup sering muncul dalam tulisan sejarah Sulawesi Utara: Belanda menebangi pohon cengkih di Manado dan sekitarnya. Klaim itu perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Bahwa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menjalankan kebijakan pemusnahan pohon cengkih terbukti jelas. Pelaksanaannya juga terdokumentasi secara rinci di sejumlah pulau di kawasan utara. Namun, apakah penebangan yang sama […]

  • Malesung: Nama Tua Sebelum Minahasa Ada

    Malesung: Nama Tua Sebelum Minahasa Ada

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Kabut tipis turun di atas dataran Tondano. Dari lereng Mahawu, Lokon, atau Klabat, bentang alam itu tampak seperti cekungan luas yang dikelilingi pegunungan. Di tengahnya, Danau Tondano memantulkan cahaya, sementara sawah dan permukiman mengisi ruang yang sejak berabad-abad lalu menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat Minahasa. Orang-orang kemudian mengenalnya sebagai Minahasa. Tetapi jauh sebelum nama […]

  • Komandan pertahanan laskar KRIS, Letkol Evert Langkay

    Evert Langkay: Loyalis Republik dari Minahasa yang Menggerakkan Laskar KRIS di Medan Revolusi

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Tidak banyak nama pejuang asal Minahasa yang jejaknya tersimpan rapi dalam ingatan publik nasional. Di antara nama-nama yang lebih sering disebut dalam sejarah revolusi Indonesia, sosok Evert Langkay justru berada di balik layar, menjadi penggerak organisasi, pemersatu berbagai kelompok bersenjata, sekaligus salah satu loyalis Republik yang konsisten sejak zaman kolonial hingga Indonesia merdeka. Perjalanan hidup […]

expand_less