Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Rumah Sakit dan Sekolah di Minahasa dalam Catatan A. C. N. Bouvy

Rumah Sakit dan Sekolah di Minahasa dalam Catatan A. C. N. Bouvy

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 74
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

A. C. N. Bouvy adalah seorang dokter yang bertugas di Minahasa dan pada 1920-an menerbitkan tulisan De Minahassa en de Geneeskunst dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Dalam pendahuluannya, Bouvy menyebut bahwa ia telah bekerja selama empat tahun sebagai dokter di Minahasa. Dari pengalaman tersebut, ia berusaha menggambarkan keadaan kesehatan penduduk serta apa yang menurutnya telah dilakukan dan masih perlu dilakukan dalam bidang kedokteran. Karena itu, catatannya tidak hanya berbicara mengenai penyakit, tetapi juga mengenai rumah sakit, tenaga medis, kebersihan, vaksinasi, dan hubungan antara kesehatan dengan perkembangan masyarakat Minahasa. [1]

Dalam pandangan Bouvy, persoalan kesehatan tidak memperoleh perhatian yang sebanding dengan bidang pendidikan. Ia melihat Minahasa sebagai wilayah yang memiliki perkembangan pendidikan yang sangat luas. Ia menyebut adanya banyak sekolah rendah, sebuah sekolah MULO, sekolah pertanian, serta banyak guru, pengajar, pendeta, dan zendeling. Menurut pengamatannya, perhatian terhadap pendidikan telah menghasilkan pengeluaran yang besar untuk gedung sekolah dan gaji tenaga pengajar. Namun, ketika membandingkan keadaan tersebut dengan pelayanan kesehatan, Bouvy menilai bahwa tubuh manusia yang menjadi tempat berkembangnya “pikiran yang dididik” justru kurang memperoleh perhatian. [2]

Kritik tersebut muncul dari pengalaman Bouvy ketika melihat langsung keadaan pelayanan medis di Manado. Ia mencatat bahwa secara resmi terdapat seorang dokter Eropa, dua Gouvernements Indisch Artsen, serta sebuah rumah sakit pribumi di Manado. Namun, menurut kesaksiannya, fasilitas yang tersedia jauh dari apa yang ia harapkan.

Bouvy menggambarkan rumah sakit tersebut sebagai bangunan dengan ruang-ruang yang suram, tempat tidur kayu untuk dua orang yang menurutnya dipenuhi berbagai macam hama, serta tenaga perawatan yang belum memiliki pendidikan keperawatan. Hanya seorang ziekenvader dan beberapa tenaga lain yang menurutnya berusaha menjalankan tugas perawatan. [3]

Kondisi pelayanan rawat jalan juga menjadi perhatian Bouvy. Ia menyebut bahwa untuk menangani sekitar 100 pasien setiap hari, ia hanya memiliki dua hospitaalsoldaten yang tidak berdiploma dan dua pekerja paksa. Ruang pemeriksaannya hanya terdiri atas dua ruangan di dalam benteng, dengan lantai batu kasar, sebuah meja pemeriksaan, lemari berisi sedikit instrumen, meja dan kursi. Bahkan, menurut Bouvy, fasilitas dasar seperti air bersih untuk mencuci tangan tidak tersedia dengan baik.

Ia menggambarkan keterbatasan tersebut sebagai keadaan yang membuat dokter harus menggunakan peralatannya sendiri dan berusaha memperbaiki fasilitas yang ada dengan kemampuan pribadi. [4]

Bagi Bouvy, persoalan tersebut bukan sekedar masalah kenyamanan dokter, melainkan menyangkut cara sebuah pelayanan kesehatan seharusnya dibangun. Ia membayangkan sebuah rumah sakit yang memiliki tenaga perawat terlatih, termasuk perawat pribumi yang bekerja di bawah bimbingan perawat Eropa. Ia juga mengusulkan poliklinik yang lebih luas dan terang, dilengkapi ruang pemeriksaan bagi laki-laki dan perempuan, kamar mandi, ruang pemeriksaan mata, fasilitas bedah sederhana, laboratorium kecil untuk pemeriksaan urine dan tinja, serta ruang perawatan luka. Dengan demikian, rumah sakit yang dibayangkan Bouvy bukan hanya tempat menampung orang sakit, tetapi pusat pelayanan medis yang memiliki berbagai fasilitas pendukung. [5]

Bouvy bahkan membayangkan rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan bagi seluruh Minahasa. Menurut rencananya, dari rumah sakit tersebut dapat dilakukan pelayanan keperawatan dan kunjungan ke rumah pasien. Ia memperkirakan kebutuhan tenaga sedikitnya tiga perawat Eropa dan seorang perempuan untuk mengurus rumah tangga asrama perawat, disertai sekitar 18 perawat dan perawat laki-laki pribumi. Dengan konsep tersebut, rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan bagi pasien yang datang, tetapi juga sebagai pusat yang memungkinkan pelayanan kesehatan menjangkau masyarakat di luar rumah sakit. [6]

Pada titik inilah kritik Bouvy terhadap hubungan antara sekolah dan rumah sakit menjadi semakin jelas. Ia mempertanyakan mengapa dalam apa yang disebut sebagai “pekerjaan peradaban”, pelayanan kesehatan justru datang belakangan. Menurut Bouvy, perhatian terhadap perawatan tubuh seharusnya dilakukan sebelum atau setidaknya bersamaan dengan pembinaan pendidikan dan kehidupan keagamaan. Ia bahkan menyatakan bahwa perbaikan kondisi higienis dan perawatan tubuh yang sakit seharusnya menjadi bagian dari proses pembangunan masyarakat. Bagi Bouvy, masyarakat yang menghadapi berbagai penyakit akan lebih sulit memperoleh manfaat dari pendidikan apabila kesehatan tubuhnya sendiri tidak diperhatikan. [7]

Namun, catatan Bouvy juga menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata ketiadaan tenaga medis. Ia mencatat adanya tenaga kesehatan yang sudah bekerja, termasuk para vaccinateurs yang menurutnya telah memberikan hasil baik dalam pemberantasan cacar. Para petugas vaksinasi mempunyai wilayah kerja masing-masing, melakukan perjalanan keliling, mencatat nama orang yang divaksinasi dalam buku harian, dan berada di bawah pengawasan Officier van Gezondheid. Bagi Bouvy, sistem tersebut menunjukkan bahwa ketika pelayanan kesehatan diatur secara terencana dan diawasi, hasilnya dapat terlihat secara nyata. [8]

Karena itu, kritik Bouvy terhadap sekolah tidak dapat dipahami sebagai penolakan terhadap pendidikan. Yang dipersoalkannya adalah ketidakseimbangan antara perkembangan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Dalam catatannya, ia melihat sekolah, guru, dan lembaga pendidikan telah mendapatkan perhatian besar, sedangkan rumah sakit dan tenaga kesehatan masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Ia bahkan memperkirakan pembangunan sistem kesehatan yang lebih baik tidak harus menghabiskan biaya sebesar pembangunan sebuah sekolah. Dengan perbandingan tersebut, Bouvy ingin menunjukkan bahwa persoalan kesehatan menurutnya lebih membutuhkan prioritas daripada yang selama itu diberikan kepadanya. [9]

Catatan Bouvy akhirnya memperlihatkan gambaran Minahasa pada awal abad ke-20 dari sudut pandang seorang dokter kolonial: pendidikan berkembang luas, tetapi pelayanan kesehatan belum menurutnya berkembang seimbang. Sekolah-sekolah, guru dan lembaga pendidikan tampak menonjol dalam kehidupan masyarakat, sementara rumah sakit di Manado digambarkan menghadapi kekurangan fasilitas, tenaga terlatih dan sarana medis. Bouvy kemudian menawarkan rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan yang lebih modern, lengkap dengan perawat, poliklinik, laboratorium, dan pelayanan kunjungan rumah. Dalam kerangka pikirnya, kesehatan tubuh tidak seharusnya menjadi urusan yang datang setelah pendidikan, melainkan harus berjalan bersamaan dengannya. Catatan tersebut menjadikan De Minahassa en de Geneeskunst sebagai sumber penting untuk melihat sejarah pelayanan kesehatan dan pendidikan Minahasa dari pengalaman langsung seorang dokter pada 1920-an. [10]

Catatan Kaki: 

[1] A. C. N. Bouvy, “Uit en over de Minahasa. I. De Minahassa en de Geneeskunst,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 80 (1924), hlm. 364–365

[2] Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” hlm. 369–370

[3] Ibid., hlm. 369–370

[4] Ibid., hlm. 370

[5] Ibid., hlm. 370

[6] Ibid., hlm. 372–373

[7] Ibid., hlm. 372–373

[8] Ibid., hlm. 373–374

[9] Ibid., hlm. 372–373

[10] Ibid., hlm. 369–373

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Tarumetor (Ilustrasi Ai)

    Tengkorak Raja yang Disimpan: Serangan Malam Tarumetor dan Trofi Kemenangan Toun Kaakas

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Sejarah konflik antara komunitas Minahasa dan Bolaang Mongondow menyimpan banyak kisah dramatis yang mencerminkan kerasnya dinamika politik dan perang antarkelompok di masa lampau. Salah satu episode yang paling mencolok adalah cerita tentang pemenggalan kepala seorang raja Bolaang Mongondow oleh pasukan Toun Kaakas sebuah peristiwa yang kemudian diabadikan sebagai simbol kemenangan. Kisah ini dicatat oleh J.G.F. […]

  • Gunung Ambang

    Gunung Ambang, Surga Pendakian dan Ekowisata

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Eksplorasi Gunung Ambang: Permata Alam yang Menanti Dijelajahi   Sulawesi Utara tidak hanya dikenal dengan keindahan pantainya, tetapi juga memiliki kekayaan alam pegunungan yang luar biasa. Salah satu destinasi yang kini mulai menarik perhatian para petualang adalah Gunung Ambang. Terletak di perbatasan Bolaang Mongondow Timur dan Bolaang Mongondow Selatan, gunung ini menyajikan panorama hutan tropis, […]

  • Fred Bolang: Dari Prajurit KNIL Hingga Pejuang Republik

    Fred Bolang: Dari Prajurit KNIL Hingga Pejuang Republik

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Latar Belakang Dan Awal Karir Militer Frederik Bolang adalah sosok prajurit legendaris dari Minahasa yang mengukir jejak dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia memulai karier militernya sebagai prajurit di Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dan lulus dari Sekolah Bintara KNIL di Gombong pada tahun 1939. Dalam satu angkatan tersebut, ia sejajar dengan tokoh besar lainnya, seperti […]

  • Rekonsiliasi Kertanegara Dan Kryptonite Politik Dalam Pusaran Pilpres 2024

    Rekonsiliasi Kertanegara Dan Kryptonite Politik Dalam Pusaran Pilpres 2024

    • calendar_month Sabtu, 28 Okt 2023
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Rekonsiliasi Kertanegara sempat memantik “kehebohan politik” secara nasional, mengapa demikian? Pada momen tersebut, ibarat “minyak” dan “air” secara politik bisa saling bersanding dalam rekonsiliasi. Padahal di era rezim orde baru, antara kubu pro reformasi dan kubu rezim orde baru saling baku hantam. Budiman Sudjatmiko (BS) yang merupakan salah satu tokoh gerakan reformasi 1998 memberanikan diri […]

  • Letusan Soputan 1833 atau 1838? Misteri Letusan Besar yang Diperdebatkan Ilmuwan Eropa

    Letusan Soputan 1833 atau 1838? Misteri Letusan Besar yang Diperdebatkan Ilmuwan Eropa

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Arthur Wichmann adalah seorang ahli geologi Jerman yang pada awal abad ke-20 memberikan perhatian khusus terhadap geologi dan gunung api di kawasan Hindia Belanda. Pada 2 September 1910, dari Utrecht, ia menulis sebuah kajian berjudul Über den Vulkan Soputan in der Minahassa atau Tentang Gunung Api Soputan di Minahasa. Tulisan tersebut diterbitkan sebagai cetak ulang […]

  • Pinabetengan: Dari Batu Musyawarah Leluhur hingga Desa Bersejarah di Jantung Minahasa

    Pinabetengan: Dari Batu Musyawarah Leluhur hingga Desa Bersejarah di Jantung Minahasa

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Di dataran tinggi Tompaso, Kabupaten Minahasa, berdiri sebuah situs batu besar yang hingga kini terus mengundang perhatian para sejarawan, antropolog, hingga peziarah budaya. Batu itu dikenal sebagai Watu Pinawetengan, sebuah monumen megalitik yang dalam ingatan kolektif masyarakat Minahasa dipercaya sebagai tempat pembagian wilayah dan permufakatan leluhur berbagai sub-etnis Minahasa. Situs ini secara administratif berada di […]

expand_less