REKONSILIASI KERTANEGARA DAN KRYPTONITE POLITIK DALAM PUSARAN PILPRES 2024

Opini356 Dilihat

 

Rekonsiliasi Kertanegara sempat memantik “kehebohan politik” secara nasional, mengapa demikian? Pada momen tersebut, ibarat “minyak” dan “air” secara politik bisa saling bersanding dalam rekonsiliasi. Padahal di era rezim orde baru, antara kubu pro reformasi dan kubu rezim orde baru saling baku hantam. Budiman Sudjatmiko (BS) yang merupakan salah satu tokoh gerakan reformasi 1998 memberanikan diri meniti jembatan rekonsiliasi dengan Prabowo Subianto (PS) yang adalah salah satu tokoh sentral yang lahir dari rezim orde baru.

BS bersikap mengambil jalan rekonsiliasi dengan mengusung panji “persatuan nasional”. Dasar pemikiran seorang BS di picu karena melihat segregasi nasional yang kian menggumpal melalui sentimen politik identitas. Krusialnya pilpres 2024 di yakini oleh seorang BS perlu rekonsiliasi sehingga para kaum dan tokoh nasionalis bisa berada dalam satu visi bagi masa depan indonesia. BS mewakili kegelisahan hati nuraninya sebagai anak bangsa, memberanikan diri menemui Prabowo Subianto (PS) yang juga adalah capres dalam pilpres 2024. Dari rekonsiliasi ini, saat ini telah lahir basis relawan PRABU (Prabowo-Budiman Bersatu) yang konsisten mengusung tema juang persatuan nasional, sekaligus menjadi basis militan mendukung PS membidik suksesi pilpres 2024.

Dalam momen rekonsiliasi Kertanegara, BS dan PS berada dalam satu meja memikirkan dan merumuskan “roadmap” bagi masa depan Indonesia. Sebuah roadmap strategis yang berani menembus sekat segregasi politik nasional demi masa depan Indonesia. Kondisi global secara aktual yang penuh gejolak geopolitik dan perang ekonomi mengharuskan indonesia memiliki sosok pemimpin yang tak hanya populis, akademis tapi mutlak strategis. Bukan hanya sosok yang bisa “bernyanyi” dalam populisme dan retorika, tapi membutuhkan pemimpin “bernyali” yang sanggup menjaga kedaulatan negara di tengah gejolak global.

Dari proses kontemplasi politik secara personal seorang BS, kategori pemimpin strategis yang diyakani bisa menavigasi biduk Indonesia dalam amuk badai global adalah Prabowo Subianto (PS). Sayangnya, PS adalah sosok capres yang sudah berkali-kali tumbang dalam kontestasi pilpres sebelumnya. Dan, peluru politik yang paling vital melumpuhkan PS pada pilpres sebelumnya adalah isu tragedi 1998. PS di framing menjadi sosok yang “cacat politik” dari jejak kelam masa lalu.

Percaya atau tidak, isu tragedi 1998 di setiap kali pilpres selalu menjadi orkestrasi yang sengaja di goreng renyah. Menjadi batu loncatan bagi “segelintir” demi visi dan misi opurtunisme politik. Bukan hanya itu, isu tragedi 1998 sudah seperti “kutukan keris empu Gandring” dalam kisah Ken Arok. Provokasi nasionalisme yang manipulatif di tambah bumbu sentimen politik membuat kesumat politik mengakar di basis akar rumput. Tujuan utamanya hanyalah untuk instrumen polarisasi dengan isu nasionalisme demi basis elektoral lima tahunan.

Tak banyak yang sadar, bahwa kesumat politik di atas bisa jadi sekam.yang bisa di tiup dengan bara api. Dan bukan tak mungkin akan mengancam masa depan dari “lumbung raksasa” bernama Indonesia. Pada tahun 2024, selain Indonesia, pilpres Amerika dan pilpres Rusia akan berlangsung. Kondisi ini akan sangat besar kemungkinan membuat papan catur geopolitik global menjadi sangat dinamis.

Hari ini, dunia di landa krisis pangan dan energi. Efek domino dari krisis pandemi Covid 19 yang berangkaian dengan konsekuensi perang Rusia/Ukraina memicu negara-negara Barat dan Eropa nyungsep dalam stagflasi. Stagflasi adalah kondisi ekonomi yang tersendat dan berbarengan dengan inflasi harga pangan dan energi. Secara otomatis, negara-negara Barat dan Eropa yang terlanda staglfasi harus mencari lumbung alternatif untuk pasokan pangan dan energi mereka. Dan, salah satu negara kepulauan (archipelago state) di kawasan Pasifik yang paling sentral menjawab itu adalah Indonesia.

Di sisi lainnya, dominasi Tiongkok di kawasan Pasifik melalui mega proyek “ONE BELT ONE ROAD” (OBOR) kian dominan. Amerika dan sekutunya dari Eropa akan berhadapan dengan konflik hegemoni dengan Tiongkok. Bukan tak mungkin jika Indonesia akan menjadi “battle ground” dari “proxy war” antara poros Amerika VS poros Tiongkok dan sekutunya masing-masing. Pilpres 2024 akan menjadi sangat krusial karena akan menentukan pergerakan bidak-bidak dalam papan catur geopolitik di kawasan Asia Pasifik dan global.

Secara domestik, masih begitu banyak hal yang harus di benahi oleh kepala negara yang terpilih dari pilpres 2024. Penguatan persatuan nasional, kualitas pendidikan nasional yang rendah, kasus korupsi yang masih beranak pinak, kondisi stunting nasional, urgensi untuk keluar dari “middle income trap”, hilirisasi sumber daya alam yang konsekuen untuk kepentingan nasional dan masih banyak lagi PR besar yang wajib di tuntaskan dari masalah kompleks negara ini. Perlu di pahami, bahwa Indonesia berada pada posisi genting bukan hanya secara “inward looking” tapi juga secara “outward looking”.

Dari rangkaian narasi di atas, seorang BS melihat yang bisa menjawab peran navigasi akan masa depan Indonesia adalah sosok pemimpin strategis, dan itu adalah dalam diri seorang Prabowo Subianto (PS). Demi terbangunnya persatuan nasional, dan juga urgensi masa depan menuju Indonesia emas 2045, BS mewakafkan dirinya menjadi “jembatan rekonsiliasi” demi panji persatuan nasional berkibar di Bumi Nusantara. Konsekuensi di pecat sebagai kader PDIP bahkan caci maki politik tak membuat seorang BS goyah dari sikap politiknya.

Radiasi dari isu rekonsiliasi Kertanegara menyebar ke seluruh pelosok membuat konstalasi politik menjelang pilpres 2024 berubah. Anis Mata (ketum Partai Gelora) pernah menyebut bahwa PS saat ini telah menjadi “Man of Momentum”. Kondisi global dan persepsi nasional mengerucut ke PS sebagai sosok pemimpin strategis. Usianya yang kian senja tak membuat preferensi publik hilang simpati politik terhadap PS. Jika saya umpamakan PS sebagai sosok Superman dalam film Super Hero DC Comics, maka ada titik kelemahan paling fatal yang membuat Superman tak berdaya yaitu “kryptonite”.

Kryptonite adalah batuan luar angkasa dari planet Krypton yang bisa membuat “kekuatan super” dari seorang Superman lenyap. Secara politik, batu “kryptonite” yang selalu melumpuhkan kekuatan politik PS di setiap kali pencalonannya adalah “isu tragedi 1998”. Isu tragedi 1998 terbukti ampuh melumpuhkan PS pada pilpres sebelumnya. Dalam serial film DC Comics, Batman berhasil melumpuhkan Superman dengan bom asap yang di olah dari batu kryptonite. Superman lunglai tak berdaya di hadapan Batman yang menggenggam tombak kryptonyte.

Dalam keadaan kritis tersebut, seorang Reporter Daily Planet bernama Lois menyingkitkan asap dan batu kryptonite dari Superman. Kekuatan Superman kembali pulih dan bergegas menyelamatkan umat manusia yang terancam dari monster Kryptone bernama “Dooms Day”. Superman mengorbankan dirinya agar Dooms Days di kalahkan dan umat manusia di selamatkan. Bahkan, Batman yang awalnya berseteru karena dendam menjadi rekan yang bertempur bersama Superman.

Narasi di atas hanya cuplikan fiksi dari film DC Comic. Dalam konteks analogi politik, BS memberanikan diri melakukan rekonsiliasi Kertanegara, kondisinya sama seperti peran Lois yang menyingkirkan “kryptonite”. Tak heran, pasca rekonsiliasi Surakarta, arus dukungan politik dari kaum progresif menyeberang ke kubu PS. Apakah kekuatan politik PS akan pulih seperti Superman? Kita masih akan menyimak ke depan dan berharap demikian. Jika Superman mengorbankan dirinya mengalahkan monster Kryptone, maka kita berharap semoga PS dan Gibran Rakabuming Raka (GBR) bisa mengalahkan monster-monster yang membuat bangsa ini terhalang untuk berdaulat sepenuhnya.

Di sisi lainnya, kita tak bisa anggap enteng kubu PDIP dan parpol lainnya yang mendukung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD (GP/MMD). Sejak rezim orde baru, PDIP di kenal sebagai parpol dengan kekuatan survival politik yang tinggi. Berapa kali mengalami keroyokan politik tapi masih bisa muncul meraih suksesi politik. Pilpres 2024 masih akan berdinamika hingga tahun depan. Volatilitas politik masih bisa memicu terjadinya probabilitas politik di luar prediksi.

Saya hanya anak bangsa yang punya kegelisahan yang sama dengan BS. Saat ini, usia saya menginjak 39 tahun dan saat pilpres 2024 berlangsung akan berusia 40 tahun. Momentum 1 abad pasca kemerdekaan Indonesia adalah pada tahun 2045. Tahun 2045 di bidik sebagai momentum Indonesia emas di mana Indonesia menikmati dividen demografi. Dividen demografi adalah kualitas demografi Indonesia yang di dominasi oleh usia produktif. Melalui proyeksi ini, di yakini bahwa Indonesia akan bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar di panggung dunia.

Apakah hal itu bisa terjadi? Saya pikir apa yang terjadi di hari ini adalah dampak dari apa yang kita bangun dari masa lalu. Dan apa yang kita bangun hari ini akan menentukan masa depan kita kelak. Pada tahun 2045, jika Tuhan masih memberi saya kesehatan dan kekuatan, maka usia saya akan menginjak 61 tahun. Tergolong usia menjelang senja yang tak lama lagi akan terbenam. Betapa Indahnya jika sebelum menutup mata berkalang debu dari bumi Indonesia, saya masih bisa melihat Indonesia bangkit sebagai negara makmur dan sejahtera bagi setiap penduduknya.

Mengutip kembali film DC Comics, Batman dan Superman bertarung sabung nyawa karena dendam. Tapi akhir cerita, keduanya menjadi karib yang saling melindungi dalam misi menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Apakah GP/MMD dan PS/GBR akan berujung manis seperti Batman dan Superman? Kayaknya, masih sulit menjawabnya karena episode film ini baru akan di mulai. Tapi, kita berharap kedua kubu yang “bertanding” hari ini bisa “bersanding” kelak. Dan yang menyatukan mereka bukanlah jatah-jatah kekuasaan tapi visi masa depan Indonesia yang berdaulat secara politik, ekonomi dan budaya.

Tinggalkan Balasan