Letusan Soputan 1833 atau 1838? Misteri Letusan Besar yang Diperdebatkan Ilmuwan Eropa
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 74
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gunung berapi mati Soputan (kiri belakang) dan Soputan yang aktif di Minahasa - Di kanan bawah tiga pendaki gunung Eropa, salah satunya C.B. Bakker. 1930 - KILTV
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Arthur Wichmann adalah seorang ahli geologi Jerman yang pada awal abad ke-20 memberikan perhatian khusus terhadap geologi dan gunung api di kawasan Hindia Belanda. Pada 2 September 1910, dari Utrecht, ia menulis sebuah kajian berjudul Über den Vulkan Soputan in der Minahassa atau Tentang Gunung Api Soputan di Minahasa. Tulisan tersebut diterbitkan sebagai cetak ulang dari Monatsberichten der Deutschen Geologischen Gesellschaft, Band 62, tahun 1910. Dalam kajiannya, Wichmann tidak sekadar menggambarkan Soputan, tetapi melakukan pemeriksaan kritis terhadap keterangan mengenai sejarah letusannya, terutama informasi yang sebelumnya disampaikan oleh J. Ahlburg.
Perdebatan tentang letusan besar Soputan
Persoalan utama yang menarik perhatian Wichmann adalah keterangan mengenai sebuah letusan besar Soputan pada abad ke-19. Ahlburg menggambarkan bahwa pada tahun 1828 seluruh puncak Soputan yang sebelumnya berbentuk runcing seolah-olah terlempar ke udara akibat ledakan. Setelah itu, menurut keterangan tersebut, terbentuk sebuah kawah yang sangat dalam, yang kemudian secara perlahan terisi oleh runtuhan batuan dari dinding kawah. Bagi Wichmann, cerita ini bermasalah karena sumber-sumber yang lebih awal tidak mendukung gambaran tersebut.
Wichmann mengingatkan bahwa C. G. C. Reinwardt telah mendaki Soputan pada 1821, sehingga keberadaan kawah yang dalam dapat diketahui sebelum letusan yang dipersoalkan. Karena itu, tidak masuk akal jika kawah tersebut baru terbentuk akibat letusan yang disebut terjadi kemudian. Wichmann juga menegaskan bahwa tidak ditemukan keterangan dalam sumber-sumber yang diperiksanya mengenai Soputan yang dahulu memiliki puncak runcing, kemudian seluruh puncaknya “terbang ke udara”. Dengan demikian, gambaran dramatis tentang perubahan bentuk gunung tersebut menurutnya tidak memiliki dasar sumber yang kuat.
Tahun 1833, 1832, 1831 atau 1838?
Persoalan kemudian menjadi lebih rumit ketika Wichmann memeriksa tanggal letusan. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Jünghuhn menyebut letusan terjadi pada 1838. Laporan tersebut menggambarkan letusan yang berlangsung selama dua hari. Abu vulkanik yang dikeluarkan begitu banyak sehingga matahari disebut menjadi gelap. Di Amurang, lapisan abu mencapai ketebalan tertentu, sementara bau belerang menyebar ke berbagai tempat. Letusan juga disertai suara dari bawah tanah yang terdengar seperti dentuman guntur.
Namun, Wichmann menemukan bahwa tahun 1838 tidak berdiri sendiri. S. H. de Lange menyebut 1831, sedangkan N. Graafland dan seorang penulis anonim menyebut 1832. Penulis anonim lainnya memberikan angka 1833. Perbedaan tersebut menjadi masalah penting karena masing-masing sumber memberikan tanggal yang berbeda untuk peristiwa yang tampaknya sama. Wichmann kemudian mempertimbangkan kredibilitas masing-masing keterangan, bukan sekadar memilih angka yang paling sering disebut.
Ada alasan lain yang membuat Wichmann meragukan tahun 1838. C. W. M. van de Velde, yang mengunjungi Danau Tondano pada 1839, membuat gambar yang memperlihatkan Soputan di latar belakang. Dalam gambar tersebut tidak terlihat tanda aktivitas luar biasa pada gunung tersebut, dan teks yang menyertainya juga tidak membicarakan aktivitas semacam itu. Bagi Wichmann, hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting ketika menilai apakah letusan besar benar-benar terjadi pada 1838.
Keterangan lain datang dari C. T. Hermann, yang sejak 17 Desember 1836 bertugas sebagai misionaris di Amurang. Wichmann menyatakan bahwa Hermann tidak memberikan keterangan mengenai letusan tersebut dalam surat-surat maupun tulisan-tulisannya. Jika sebuah letusan besar benar-benar terjadi ketika ia sudah berada di Amurang, absennya keterangan tersebut menjadi sesuatu yang menurut Wichmann patut dipertanyakan. Demikian pula A. F. van Spreeuwenberg, yang mendaki Soputan pada 1842, tidak menyebut letusan tersebut, meskipun peristiwa itu seharusnya masih relatif dekat dalam ingatan.
Mengapa Wichmann memilih tahun 1833?
Setelah membandingkan berbagai keterangan, Wichmann akhirnya menyatakan bahwa ia lebih memilih tahun 1833. Alasannya bukan semata-mata karena angka tersebut muncul dalam salah satu sumber, tetapi karena ia menilai sumber yang memberikan tahun 1833 memiliki prioritas dan berasal dari seorang pelapor yang berpendidikan ilmiah serta secara umum dianggap dapat dipercaya. Wichmann juga tidak menutup kemungkinan bahwa angka 1838 yang terdapat dalam karya Jünghuhn merupakan kesalahan penulisan atau pencetakan.
Yang lebih penting, Wichmann menemukan bahwa kawah dalam Soputan sudah ada sebelum 1821 dan tidak mengalami perubahan besar sejak masa Reinwardt. Ia menyimpulkan bahwa bahkan letusan yang ditempatkannya pada 1833 tidak menyebabkan perubahan mendasar terhadap kawah tersebut. Erosi dan aktivitas solfatara memang dapat menyebabkan perubahan kecil secara terus-menerus, tetapi perubahan tersebut tidak cukup untuk menghapus gambaran mengenai kondisi Soputan yang telah diketahui sejak 1821.
Letusan atau aktivitas solfatara?
Di sinilah kajian Wichmann menjadi semakin menarik. Ia tidak hanya mempertanyakan kapan Soputan meletus, tetapi juga apa sebenarnya yang meletus. Dalam laporan mengenai peristiwa pada abad ke-19 disebutkan adanya suara bawah tanah, bau belerang, abu, dan material yang terlontar. Wichmann melihat kemungkinan bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan solfatara di kaki utara Soputan, bukan semata-mata letusan dari kawah utama.
Pemikiran tersebut diperkuat oleh peristiwa yang terjadi jauh kemudian. Pada 2 Februari 1901, gempa-gempa kuat mengguncang wilayah Tondano dan kemudian muncul laporan mengenai peningkatan aktivitas Soputan. Tetapi ketika wilayah tersebut diperiksa oleh insinyur pertambangan M. Koperberg, fenomenanya ternyata berupa letusan lumpur dari sebuah solfatara di daerah hulu Sungai Pentu. Lumpur mendidih dilaporkan menyembur beberapa meter ke udara, sedangkan dinding lembah tertutup lumpur dan batu.
Peristiwa serupa kembali muncul pada 17 Juni 1906, ketika hujan lumpur dan abu terjadi bersamaan dengan gempa yang mengguncang Minahasa. Beberapa hari kemudian ditemukan sebuah “kawah” baru. Dari lokasi tersebut terlihat pasir yang disebut “bercahaya” atau panas dan batu-batu terlontar, tetapi tidak ditemukan lava. Pada 1907 aktivitas kembali terlihat dalam bentuk kepulan asap yang muncul setelah gempa.
Sejarah Soputan sebagai persoalan kritik sumber
Karena itu, tulisan Wichmann tahun 1910 bukan sekadar catatan mengenai gunung api. Ia memperlihatkan bagaimana sejarah sebuah letusan harus diuji melalui perbandingan berbagai kesaksian. Tahun 1831, 1832, 1833, dan 1838 muncul dalam sumber-sumber berbeda, sementara kesaksian beberapa orang yang berada di Minahasa pada periode tersebut justru tidak mendukung gambaran tentang sebuah perubahan besar pada tubuh Soputan. Wichmann akhirnya memilih 1833, tetapi tetap menunjukkan alasan dan keraguan yang menyertai pilihannya.
Dengan demikian, “Letusan Soputan 1833 atau 1838?” bukan hanya pertanyaan tentang sebuah angka dalam sejarah. Di balik perdebatan tersebut terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana ilmuwan Eropa pada awal abad ke-20 mencoba merekonstruksi bencana alam yang terjadi puluhan tahun sebelumnya melalui laporan perjalanan, kesaksian, tulisan misionaris, catatan ilmiah, dan pengamatan lapangan. Bagi Wichmann, sejarah Soputan tidak dapat ditentukan hanya dari satu laporan. Setiap tanggal, gambaran kawah, dan cerita tentang letusan harus dibandingkan dengan bukti lain sebelum diterima sebagai fakta.
Jadi, menurut kajian Arthur Wichmann tahun 1910, 1833 adalah tahun yang ia pilih sebagai waktu letusan penting Soputan pada abad ke-19, sedangkan angka 1838 yang sebelumnya digunakan dalam tradisi laporan tersebut dipandangnya meragukan dan mungkin merupakan kesalahan tulis atau cetak. Yang juga penting, Wichmann meragukan bahwa letusan tersebut menyebabkan puncak Soputan “terbang ke udara” dan membentuk kawah baru. Justru keberadaan kawah dalam sebelum 1821 menjadi salah satu bukti terpenting dalam argumennya.
Referensi:
Wichmann, C. E. A. (1910). “Über den Vulkan Soputan in der Minahassa.” Zeitschrift der Deutschen Geologischen Gesellschaft, Monatsberichte, Band 62, 1910, hlm. 589–595; Wichmann pada 1911, “Über die Ausbrüche des Soputan in der Minahassa”, Monatsberichte 62, hlm. 589–595.
- Penulis: Engel Yong
