Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Dana Kesehatan 25 Sen: Gagasan Ziekenfonds untuk Tonsea

Dana Kesehatan 25 Sen: Gagasan Ziekenfonds untuk Tonsea

  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • visibility 50
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam tulisan De Minahassa en de Geneeskunst yang terbit tahun 1924, A.C.N. Bouvy membahas perkembangan dan keadaan pelayanan kesehatan di Minahasa. Bouvy menulis berdasarkan pengalamannya selama empat tahun bekerja sebagai dokter di daerah tersebut. Menurut keterangannya, dokter pertama yang datang ke Minahasa kemungkinan adalah seorang perwira kesehatan yang bertugas bersama permukiman militer di Benteng Manado. Pelayanan kesehatan baru diberikan dalam jangkauan yang lebih luas selama paruh kedua abad ke-19. Sesudah lembaga pendidikan Dokter Djawa dibentuk, para dokter hasil pendidikan tersebut juga mulai bekerja di Minahasa. Fasilitas perawatan sipil di Manado kemudian didirikan tahun 1902.

Awal abad ke-20, terdapat 12 Dokter Djawa yang bekerja di Minahasa. Pelayanan vaksinasi saat itu masih dilakukan dengan memindahkan bahan vaksin dari manusia kepada manusia. Tahun 1908, vaksin hewani mulai digunakan dan pekerjaan para vaksinator diatur dengan lebih sistematis. Bouvy mencatat bahwa sebelum 1908, wabah cacar muncul hampir setiap tahun dengan jumlah sekitar 20 hingga 200 kasus atau lebih. Sesudah vaksinasi sistematis dijalankan, keadaan tersebut berubah. Tahun 1911 tidak tercatat satu pun kasus cacar, dan keadaan itu berlanjut hingga muncul sebuah wabah kecil yang terbatas di satu kampung tahun 1916.

Ketika wabah terbatas itu terjadi, sekitar 10.000 orang divaksinasi dalam beberapa hari. Bouvy menggambarkan tindakan tersebut sebagai pembentukan sebuah “dinding” orang-orang yang baru divaksinasi di sekeliling pusat wabah. Hanya satu kasus yang ditemukan di luar lingkaran itu, yaitu seorang laki-laki yang belum pernah divaksinasi. Berdasarkan laporan kesehatan yang diperiksanya, Bouvy menyatakan bahwa ribuan jiwa di Minahasa telah diselamatkan sesudah 1910. Dalam puluhan ribu vaksinasi yang pernah dilakukannya, ia mengaku tidak pernah menemukan kematian yang dapat dikaitkan dengan vaksinasi, meskipun sesekali melihat reaksi keras atau ruam.

Dalam pembahasan mengenai pelayanan kesehatan sipil, Bouvy mencatat keberadaan seorang dokter Eropa di Manado yang sekaligus merupakan perwira kesehatan. Dokter tersebut biasanya bertugas sekitar tiga tahun sebelum dipindahkan. Selain melayani poliklinik setiap hari dari pukul 10.00 hingga 13.00 dan menangani sekitar 100 pasien, ia juga harus memeriksa sekitar 50 pasien di rumah sakit pribumi serta mengunjungi orang sakit di rumah. Dokter yang sama menjalankan tugas sebagai dokter pelabuhan dan karantina, pengawas vaksinasi, serta menangani narapidana, pegawai yang berhak memperoleh perawatan, tentara, calon tentara, polisi bersenjata, beserta istri dan anak mereka.

Bouvy menghitung bahwa pekerjaan tersebut mencapai sekitar 30.000 konsultasi setahun. Untuk seluruh pekerjaan yang termasuk dalam Pelayanan Kesehatan Sipil, perwira kesehatan menerima tambahan 50 gulden sebulan. Ia juga mencatat beberapa hambatan dalam perbaikan pelayanan kesehatan, yaitu kekurangan waktu, kekurangan tenaga, pembayaran yang tidak memadai, serta lambatnya penyelesaian usulan melalui berbagai tingkatan pemerintahan. Ketika menggambarkan tenaga resmi yang tersedia, Bouvy menyebut seorang dokter Eropa, dua dokter Hindia Pemerintah, dan sebuah rumah sakit pribumi di Manado.

Rumah sakit tersebut mempunyai empat bangsal gelap yang dilengkapi jeruji. Di dalamnya terdapat ranjang kayu untuk dua orang yang, menurut Bouvy, dipenuhi kutu dan hama. Perawatan dilakukan oleh seorang ziekenvader atau pengurus pasien, dua pemuda, dan dua pelayan perempuan. Tidak seorang pun dari mereka memiliki ijazah perawatan. Untuk menangani sekitar 100 pasien poliklinik sehari, tersedia dua tentara rumah sakit tanpa ijazah dan dua pekerja paksa. Mereka bekerja dalam dua ruangan di Benteng Manado, masing-masing berukuran sekitar tiga kali empat meter. Di tempat itu bahkan tidak tersedia air bersih untuk mencuci tangan.

Selama empat tahun bekerja di Manado, Bouvy mengajukan berbagai perbaikan. Ia melatih enam perempuan pribumi menjadi perawat dan mengusahakan penempatan seorang perawat perempuan Eropa yang berijazah. Rumah sakit diperluas, bentuknya yang menyerupai penjara diubah, dan ranjang kayu diganti dengan ranjang besi. Makanan pasien diperbaiki, sedangkan ruang bersalin, bangsal anak, dan kamar tersendiri bagi penderita penyakit berat ditambahkan. Para perawat yang telah dilatih kemudian ditempatkan di rumah perawat dan bekerja di bawah pimpinan perawat Eropa.

Bouvy juga menyusun rencana rumah sakit pusat bagi Keresidenan Manado. Rencana itu mencakup rumah sakit modern berkapasitas 150 pasien dan tempat perawatan untuk 24 orang dengan gangguan jiwa. Rumah sakit tersebut direncanakan memiliki gedung poliklinik, sekurang-kurangnya tiga perawat perempuan Eropa, seorang pengurus rumah tangga, serta 18 perawat laki-laki dan perempuan pribumi. Sebuah kendaraan pengangkut pasien juga diperlukan agar orang sakit dari berbagai bagian Minahasa dapat dibawa ke rumah sakit dalam beberapa jam. Untuk menjalankannya, hubungan telepon dianggap perlu.

Di luar Manado, fasilitas kesehatan pembantu telah beroperasi di Sonder dan Tomohon. Di Sonder, dua perawat berijazah membuka poliklinik dan menerima pasien rawat inap. Mereka dibantu perempuan dan pemuda pribumi yang dilatih sendiri. Fasilitas serupa juga terdapat di Tomohon. Menurut Bouvy, berbagai luka kaki, penyakit kulit, dan kasus sederhana dapat ditangani di tempat tersebut. Ia mengusulkan agar fasilitas di pegunungan itu membatasi pekerjaan pada pelayanan poliklinik sesuai kemampuan tenaga yang tersedia serta merawat orang yang membutuhkan istirahat atau sedang dalam pemulihan.

Kebutuhan terhadap tenaga medis juga terlihat dalam pembahasan Bouvy tentang penyakit cacing tambang. Dalam pemeriksaan terhadap 200 tentara Menado di Rumah Sakit Militer Cimahi tahun 1915, ia menemukan bahwa 95 persen menjadi inang cacing tambang. Bouvy menyebut anemia, warna pucat, tubuh lesu, pembengkakan pada kaki dan tangan, serta berkurangnya kemampuan bekerja sebagai beberapa akibat penyakit tersebut. Pengobatannya disebut relatif sederhana, tetapi tetap membutuhkan pengawasan medis. Pemeriksaan terhadap kotoran pasien juga diperlukan untuk memastikan cacing dan telurnya telah hilang.

Setelah membahas kekayaan yang dihasilkan perkebunan kelapa dan kemampuan daerah Tonsea, Bouvy mengemukakan gagasan pembentukan ziekenfonds atau dana kesehatan. Penduduk dapat membayar iuran sebesar 25 sen setiap minggu. Menurut perhitungannya, iuran tersebut tidak akan menjadi beban bagi penduduk Tonsea. Apabila 4.000 orang bergabung dalam satu wilayah pelayanan, dana yang terkumpul dapat digunakan untuk membiayai seorang dokter sendiri. Dengan demikian, gagasan Bouvy tidak hanya berisi penambahan fasilitas pemerintah, tetapi secara khusus mengusulkan pembiayaan dokter melalui iuran penduduk.

Dalam bagian yang sama, Bouvy mencatat bahwa tahun 1908 terdapat 12 putra Minahasa yang bekerja sebagai dokter, tetapi ketika tulisannya disusun jumlahnya tinggal tiga orang. Menurut penjelasannya, para dokter tersebut pergi karena masyarakat mereka sendiri membiarkan mereka pergi dan tidak bersedia membayar pelayanan mereka. Bouvy menghubungkan keadaan itu dengan kebiasaan sebelumnya, ketika dokter dalam ekspedisi serta para zendeling memberikan bantuan kesehatan dan obat-obatan secara cuma-cuma, termasuk kepada orang yang mampu membayar.

Bouvy kemudian menyatakan bahwa penduduk yang mampu perlu membayar bantuan medis dan obat-obatan. Jika kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan tambahan memang sungguh-sungguh, penduduk Minahasa yang memiliki kemampuan, menurut Bouvy, perlu ikut membiayainya. Penduduk miskin dapat turut memperoleh manfaat dari pembiayaan tersebut. Gagasan ziekenfonds dengan iuran 25 sen seminggu ditempatkan Bouvy sebagai cara bagi penduduk Tonsea untuk mempertahankan tenaga dokter, memperluas pelayanan medis, dan membantu sesama penduduk yang tidak mampu membayar perawatan sendiri.

Referensi

Bouvy, A.C.N. “De Minahassa en de Geneeskunst.” Dalam Uit en Over de Minahasa, 1924, hlm. 365–396.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Marsha - Ella JKT48 Keturunan Minahasa

    Dua Mutiara Keturunan Minahasa: Marsha dan Ella JKT48, Idola yang Bersinar di Ibu Kota

    • calendar_month Senin, 27 Jan 2025
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Indonesia memang dikenal dengan kekayaan budayanya, termasuk dalam hal talenta di industri hiburan. JKT48, sebagai salah satu grup idola terbesar di tanah air, menjadi wadah bagi gadis-gadis berbakat dari seluruh pelosok Indonesia, tak terkecuali dari tanah Minahasa, Manado. Di antara puluhan membernya, dua sosok yang tengah mencuri perhatian adalah Marsha Lenathea Lapian dan Gabriela Abigail […]

  • Potret prajurit suku Bantik di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, foto sekitar tahun 1900 (KITLV/Ohannes Kurkdjian)

    Dari Pesisir ke Arsip Kolonial: Kisah Suku Bantik di Manado

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • visibility 376
    • 0Komentar

    Dalam peta administrasi Minahasa abad ke-19 ada satu distrik yang wilayahnya tidak menyatu. Ia terpecah menjadi dua kantong yang mengapit pusat kota Manado, dan ia bertahan lebih lama daripada distrik-distrik tetangganya yang satu per satu dilebur. Itulah Distrik Bantik. Sudah Tercatat pada 1675 Penyebutan Eropa yang paling awal atas orang Bantik terdapat dalam laporan visitasi […]

  • Marie Thomas: Pelopor Dokter Wanita dan Spesialis Obstetri-Ginekologi Pertama di Indonesia

    Marie Thomas: Pelopor Dokter Wanita dan Spesialis Obstetri-Ginekologi Pertama di Indonesia

    • calendar_month Senin, 3 Apr 2023
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Marie Thomas adalah sosok wanita luar biasa yang tercatat sebagai dokter wanita pertama di Indonesia sekaligus spesialis obstetri dan ginekologi (obsgin) pertama di negeri ini. Perjalanan hidupnya penuh tantangan, mulai dari melawan diskriminasi gender hingga mengabdi tanpa pamrih bagi masyarakat.   Awal Kehidupan dan Pendidikan   Marie Thomas lahir pada 17 Februari 1896 di Likupang, […]

  • Peristiwa Merah Putih Pecah Sulut Bergolak

    Peristiwa Merah Putih Pecah Sulut Bergolak

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • visibility 79
    • 0Komentar

    PADA 7 Februari 1946 seluruh rencana telah rampung sampai pada tindakan-tindakan darurat serta pengamanan bilamana terjadi sesuatu kemacetan. Rencana ini telah pula diberitahukan kepada BW Lapian dalam suatu rapat rahasia yang diadakan pada hari itu di rumahnya di Singkil, Manado Utara. Juga turut dalam perundingan PM Tangkilisan, juga telah dihubungi No Ticoalu dan dr Tumbelaka. […]

  • Keterangan tentang Nama Lima Suku Bangsa Asli di Minahasa

    Keterangan tentang Nama Lima Suku Bangsa Asli di Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Menurut penelitian Dr. Adriani dan N. Graafland, serta tambahan dari Dr. E.C. Godeé Molsbergen, lima suku asli yang mendiami Minahasa adalah:   1. Suku Toumbulu’ 2. Suku Tounsea 3. Suku Toulour 4. Suku Toumpakewa 5. Suku Tounsawang atau Tounsawah   Selain itu, beberapa daerah seperti Bantik, Ratahan, Pasan, dan Ponosakan memiliki perbedaan bahasa dan adat […]

  • Plancius Membawa Wisatawan ke Minahasa Tahun 1924

    Plancius Membawa Wisatawan ke Minahasa Tahun 1924

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Tanggal 10 Mei 1924, kapal Plancius membawa rombongan wisatawan menuju Minahasa. Peristiwa tersebut dicatat oleh L. H. C. Horsting dalam bukunya Van Leven en Werken in Indië (1928), khususnya dalam bagian “De Plancius-toeristen in de Minahassa (1924)”. Horsting sendiri mengikuti perjalanan rombongan tersebut dan mencatat berbagai kejadian sepanjang kunjungan mereka. Ia menulis bahwa ketika kisah […]

expand_less