Minahasa Tahun 1925: Catatan H.F. Tillema tentang Kesehatan dan Kehidupan Masyarakat
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 117
- comment 0 komentar
- print Cetak

Makam atau Waruga Sahiri Supit di Gereja (sekarang GMIM Eben Haezar Woloan) - Fotografer: Dr. H.F. Tillema - Wereldmuseum
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kira-kira tahun 1925, dokter dan pengamat kesehatan masyarakat H. F. Tillema menerbitkan Zonder Tropen geen Europa!, sebuah karya yang lahir dari perjalanannya mengelilingi berbagai wilayah Indonesia. Dalam daftar perjalanan, Minahasa ditempatkan sebagai bagian dari perjalanannya di Celebes. Tillema tiba di Manado dengan harapan dapat mempelajari persoalan kesehatan dan kehidupan masyarakat secara langsung. Ia mengakui bahwa rencananya menjelajahi Minahasa tidak sepenuhnya berhasil karena hujan deras membatasi perjalanannya. Karena itu, keterangannya mengenai Minahasa merupakan hasil pengamatan terbatas selama beberapa hari, percakapan dengan penduduk dan pejabat, serta informasi yang diterimanya dari orang-orang setempat.¹
Kesan pertama Tillema terhadap Manado justru berkaitan dengan kebersihan kota. Ia menggambarkan kondisi higiene perkotaan sebagai sesuatu yang memprihatinkan. Menurut pengamatannya, persoalan Manado tidak hanya menyangkut satu hal, tetapi mencakup perumahan rakyat, perluasan kota, sanitasi, penyediaan air, dan kebersihan kota. Tillema menilai persoalan tersebut seharusnya dipandang sebagai satu kesatuan dan ditangani berdasarkan perencanaan yang lebih menyeluruh. Ia mengkritik kecenderungan menganggap pembelian sebuah kendaraan penyiram jalan sebagai kemajuan yang cukup, sementara sistem sanitasi kota secara keseluruhan belum tertata. Bagi Tillema, kesehatan kota membutuhkan perencanaan, keahlian, dan keterlibatan masyarakat.²
Pendidikan menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian Tillema. Ia membandingkan beberapa lembaga pendidikan yang dilihatnya di Manado. Sebuah sekolah pemerintah untuk perempuan dinilainya memiliki banyak persoalan, mulai dari bangunan bambu dan lantai tanah hingga kondisi tempat tidur, drainase, dan fasilitas sanitasi. Sebaliknya, ia memberikan kesan jauh lebih positif terhadap sekolah perempuan yang dikelola oleh kelompok keagamaan, yang menurutnya memiliki sekitar 500 murid dan dilengkapi pendidikan taman kanak-kanak serta kursus menjahit dan memotong pakaian. Di sini terlihat bahwa bagi Tillema, pendidikan bukan sekadar persoalan pengetahuan akademis, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan kehidupan rumah tangga dan kesehatan masyarakat.³
Perhatian Tillema terhadap pendidikan perempuan semakin jelas ketika ia mengunjungi Pikat di Minahasa. Lembaga tersebut bertujuan mempersiapkan perempuan Minahasa menjadi ibu rumah tangga. Ada 14 orang gadis, yang sebagian besar tinggal di asrama dan Tillema menganggap tempat itu sederhana tetapi bersih. Namun ia mengkritik ketiadaan kelambu pada tempat tidur, terutama karena rumah tersebut belum bebas dari nyamuk. Baginya, masalah nyamuk tidak boleh dianggap sepele karena malaria merupakan salah satu persoalan kesehatan terbesar yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Ia bahkan menekankan bahwa rumah yang terlindung dari nyamuk dapat dirancang dengan ventilasi yang tetap baik. Dalam pandangannya, kesehatan harus ditempatkan lebih tinggi daripada sekadar keindahan bangunan.⁴
Malaria menjadi salah satu tema terpenting dalam pengamatan Tillema mengenai Minahasa. Ia mencatat bahwa sepanjang perjalanan sejauh sekitar 23.000 kilometer, keluhan mengenai malaria muncul berulang kali. Menurutnya, malaria bukan hanya penyakit yang menyerang tubuh, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan keluarga, kemampuan bekerja, semangat, dan inisiatif. Di Minahasa, seorang dokter setempat mengatakan kepadanya bahwa kelambu yang digunakan masyarakat sering kali telah rusak dan berlubang sehingga kehilangan fungsi perlindungannya. Pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa pada 1920-an persoalan malaria di Minahasa tidak hanya berkaitan dengan keberadaan nyamuk, tetapi juga dengan kondisi rumah dan kebiasaan perlindungan terhadap penyakit.⁵
Dalam soal makanan, Tillema memberikan sejumlah pengamatan yang menarik. Ia mencatat bahwa sebagian anak di Minahasa berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Di Motoling, wilayah Ratahan, ia bahkan memperoleh informasi bahwa sebagian anak baru makan sekitar pukul setengah empat sore. Ia juga mencatat penggunaan saguer yang menurutnya cukup besar. Di wilayah Tomohon, ia melihat sumber protein hewani berasal antara lain dari ikan yang dipelihara dalam kolam buatan, ikan laut asap, dan daging babi. Akan tetapi, terdapat persoalan lain: kolam ikan yang berguna bagi penyediaan makanan juga berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk malaria. Bagi Tillema, kondisi ini menciptakan persoalan kesehatan yang harus dicari jalan keluarnya.⁶
Pengamatan terhadap pertanian dan pangan masyarakat juga membawa Tillema kepada sawah-sawah di sekitar Tondano. Ia merasa heran melihat kelompok pohon sagu tumbuh di tengah sawah. Menurut keterangan yang diterimanya, pohon tersebut dipertahankan karena menghasilkan bahan untuk atap rumah. Ia juga mencatat bahwa penduduk mengonsumsi jagung bersama nasi dengan perbandingan kira-kira dua bagian jagung untuk satu bagian nasi. Secara lahiriah, masyarakat menurutnya tampak cukup makan, tetapi ia mengingatkan bahwa penampilan tubuh yang terlihat berisi tidak selalu menunjukkan kekuatan fisik. Catatan ini memperlihatkan perhatian Tillema terhadap hubungan antara pola pangan, kesehatan, dan kemampuan fisik masyarakat.⁷
Minahasa yang dilihat Tillema juga merupakan masyarakat yang sedang mengalami perubahan ekonomi dan mobilitas. Ia mencatat banyaknya kendaraan bermotor di jalan-jalan Minahasa dan menyebut informasi bahwa sekitar 24 truk setiap hari bergerak antara Tomohon dan Manado. Pasar atau pasar juga dianggap memiliki arti ekonomi penting bagi penduduk. Namun kondisi Pasar Tomohon membuatnya kecewa. Ia melihat pasar tersebut berada dalam keadaan sangat buruk dibandingkan beberapa pasar lain yang telah memiliki fasilitas air, tempat mandi dan mencuci, toilet, serta tempat penjualan daging yang lebih terlindung dari lalat. Dengan demikian, kemajuan transportasi dan perdagangan ternyata berjalan berdampingan dengan persoalan sanitasi yang belum terselesaikan.⁸
Tillema juga masuk ke persoalan rumah dan kehidupan keluarga. Dari beberapa rumah yang dikunjunginya, ia melihat bagian depan rumah sering kali tampak rapi, tetapi kondisi bagian dalam tidak selalu demikian. Ia mencatat bahwa dalam sejumlah rumah tinggal dua, tiga, atau bahkan lebih banyak keluarga. Ia memperkirakan bahwa keadaan tersebut merupakan tahap sementara dalam perkembangan masyarakat dan berharap Minahasa kelak bergerak menuju rumah yang dihuni oleh satu keluarga. Dalam pandangan Tillema, kualitas perumahan bukan persoalan estetika semata. Kepadatan penghuni, kebersihan, ventilasi, air, dan perlindungan dari penyakit merupakan bagian dari persoalan kesehatan masyarakat yang lebih luas.⁹
Mengenai penyakit masyarakat, Tillema mencatat bahwa informasi yang diterimanya menyebut frambusia lebih banyak terdapat di daerah pantai, malaria di daerah pedalaman, sementara tuberkulosis juga dianggap banyak ditemukan. Ia juga menghubungkan meningkatnya lalu lintas manusia dengan penyebaran penyakit menular seksual hingga ke desa-desa. Catatan ini penting karena menunjukkan bagaimana perkembangan transportasi dan mobilitas penduduk pada masa itu dipandang memiliki dua sisi: mempercepat hubungan ekonomi sekaligus memperbesar kemungkinan penyebaran penyakit. Namun Tillema sendiri mengakui bahwa pengetahuan statistik mengenai penyakit dan penduduk masih sangat terbatas, sehingga banyak kesimpulan mengenai keadaan masyarakat belum dapat dibuktikan dengan angka yang memadai.¹⁰
Salah satu bagian paling menarik dari catatan Tillema adalah hubungannya dengan Zending, pendidikan, dan kesehatan. Ia mengunjungi asrama sekolah perempuan di Tomohon dan memberikan penilaian sangat positif terhadap kondisi sanitasinya. Ia juga mencatat kegiatan pelayanan kesehatan Zending di Sonder melalui rumah sakit dan poliklinik. Bangunan poliklinik tersebut, menurutnya, dirancang dan dibangun oleh seorang bekas murid sekolah pertukangan Zending di Kakas-Wasian. Tillema melihat pendidikan, keterampilan, pelayanan kesehatan, dan pembentukan kebiasaan hidup bersih sebagai bagian yang saling berhubungan. Ia menilai kegiatan Zending turut mendorong keteraturan, kebersihan, dan perubahan dalam kehidupan masyarakat Minahasa.¹¹
Pada akhirnya, Tillema melihat Minahasa sebagai wilayah yang sedang bergerak menuju perubahan sosial dan demografis. Ia mencatat bahwa sebagian wilayah Minahasa sudah padat penduduk, sementara bagian lainnya masih sangat jarang dihuni. Resident Tideman memiliki rencana untuk menarik penduduk menuju wilayah yang masih jarang tersebut dan memberikan bantuan pada tahap awal. Yang menarik, sebelum rencana kolonisasi itu dilaksanakan, Tillema mencatat bahwa Tideman bermaksud meminta seorang ahli higiene memeriksa terlebih dahulu wilayah yang akan dijadikan tempat pemukiman. Bagi Tillema, langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan penduduk tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesehatan lingkungan.¹²
Dengan demikian, Zonder Tropen geen Europa! memberikan gambaran Minahasa tahun 1920-an atau awal abad 20 bukan hanya sebagai daerah yang dikenal karena pendidikan dan kemajuannya, tetapi sebagai masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan modernisasi. Manado memiliki masalah sanitasi; sekolah dan pendidikan perempuan sedang berkembang; malaria masih menjadi ancaman; pola makan dan kesehatan anak menjadi perhatian; pasar dan transportasi berkembang; sementara Zending memainkan peran dalam pendidikan serta pelayanan kesehatan. Tillema sendiri menyadari keterbatasan pengamatannya. Ia tidak memiliki cukup data statistik untuk memastikan semua kesimpulannya. Karena itu, catatannya paling tepat dibaca sebagai kesaksian seorang pengamat kesehatan pada zamannya tentang Minahasa, bukan sebagai gambaran statistik yang lengkap mengenai seluruh masyarakat Minahasa pada 1920-an.¹³
Catatan kaki
- H. F. Tillema, Zonder Tropen geen Europa!, 1926, bagian “Door de Minahassa”, hlm. 200.
- Ibid., bagian pengamatan tentang higiene kota Menado, hlm. 200.
- Ibid., pengamatan mengenai lembaga-lembaga pendidikan di Menado, hlm. 200.
- Ibid., “Pikat” dan persoalan kelambu serta malaria, hlm. 201.
- Ibid., pembahasan malaria dan perlindungan terhadap nyamuk, hlm. 201.
- Ibid., pengamatan tentang makanan anak, saguer, ikan, dan kolam ikan di Minahasa, hlm. 202.
- Ibid., pengamatan tentang sawah Tondano, sagu, jagung, dan beras, hlm. 202.
- Ibid., perkembangan kendaraan bermotor dan kondisi pasar di Minahasa, hlm. 203.
- Ibid., pengamatan mengenai rumah dan kepadatan keluarga, hlm. 203–204.
- Ibid., “De geesel der geslachtsziekten”, hlm. 204.
- Ibid., “Mooi Zendingswerk”, hlm. 204–205.
- Ibid., “Kolonisatieplannen”, hlm. 205.
- Ibid., pengakuan Tillema mengenai keterbatasan data statistik Minahasa.
- Penulis: Engel Yong
