Pendidikan Mengubah Minahasa: Kekristenan dan Tumbuhnya Budaya Membaca
- calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
- visibility 82
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kweekschool di Woloan - 𝘖.𝘓. 𝘝𝘳𝘰𝘶𝘸 𝘷𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘵 𝘏. 𝘏𝘢𝘳𝘵 1921
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Perubahan masyarakat Minahasa pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, dalam pengamatan Dr. H. Kraemer, tidak dapat dipisahkan dari masuknya Kekristenan dan berkembangnya pendidikan. Kraemer menggambarkan bahwa dalam waktu kurang dari satu abad, masyarakat Minahasa yang sebelumnya hidup dalam tatanan kepercayaan yang sangat berbeda telah berubah menjadi masyarakat Kristen yang berada di bawah pemerintahan modern, memperoleh pendidikan secara luas, dan terhubung melalui jaringan jalan. Bagi Kraemer, perubahan tersebut begitu besar sehingga ia menyebutnya sebagai suatu “psychische aardbeving”, atau “gempa psikologis”, dalam kehidupan batin masyarakat Minahasa.¹
“Binnen die spanne tyds is het afgesloten levende, op en top heidensche Minahassische volk een christelyk volk geworden, een volk onder intensieve moderne Bestuursvoering, met een overvloedige onderwysvoorziening opgenomen in het groote verkeer door een net van wegen.”¹ yang artinya “Dalam rentang waktu tersebut, bangsa Minahasa yang tadinya terisolasi dan sepenuhnya penganut pagan telah menjadi bangsa Kristen, sebuah bangsa di bawah sistem pemerintahan modern yang intensif, dengan fasilitas pendidikan yang berlimpah serta terhubung ke dalam jaringan komunikasi yang luas melalui jaringan jalan raya.”
Menurut Kraemer, perubahan itu tidak sekadar pergantian agama. Ia melihat adanya perubahan menyeluruh dalam struktur kehidupan masyarakat. Pendidikan yang meluas menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Karena itu, ketika membahas kehidupan rohani Minahasa, Kraemer tidak hanya berbicara mengenai gereja dan penginjilan, tetapi juga mengenai pendidikan, buku, surat kabar, dan bahan bacaan yang semakin memasuki kehidupan masyarakat.¹
Pendidikan dan lahirnya budaya membaca
Dalam bagian laporannya mengenai “Christelijke lectuur in Inheemsche talen”—bacaan Kristen dalam bahasa-bahasa pribumi—Kraemer secara khusus mencatat hubungan antara pendidikan dan kebiasaan membaca. Ia menyatakan bahwa banyaknya pendidikan sekolah membuat Minahasa berada di posisi teratas dalam hal “leeslust”, atau minat membaca, menurut laporan terakhir Volkslectuur.²
Kraemer menulis secara langsung: “Door het vele schoolonderwijs staan de Minahassa wat leeslust betreft bovenaan, volgens het laatste Verslag der Volkslectuur.”² yang artinya “Berkat banyaknya pendidikan sekolah, Minahasa berada di peringkat teratas dalam hal minat baca, menurut Laporan Volkslectuur terakhir.”
Catatan tersebut penting karena Kraemer secara eksplisit menghubungkan “vele schoolonderwijs” banyaknya pendidikan sekolah — dengan “leeslust” atau kegemaran membaca. Jadi, dalam catatan Kraemer, pendidikan bukan hanya menghasilkan orang yang dapat membaca, tetapi juga menciptakan masyarakat yang memiliki permintaan terhadap bahan bacaan.²
Minahasa termasuk wilayah dengan minat membaca tinggi
Kraemer kemudian memberikan angka dari statistik Volksbibliotheken. Ia mencatat bahwa Minahasa tercatat 9.43 pembaca per 1.000 penduduk. Ia juga menyatakan bahwa statistik perbandingan menunjukkan bahwa minat membaca sedang meningkat.²
Namun Kraemer segera memberikan catatan penting terhadap angka tersebut. Menurutnya, jumlah pembaca yang tercatat secara individual tidak sepenuhnya menggambarkan jumlah orang yang sebenarnya menikmati bacaan. Dalam masyarakat pribumi, terdapat banyak “meelezers”, yakni orang-orang yang turut mendengarkan ketika sebuah bacaan dibacakan oleh orang lain. Dengan demikian, satu orang yang tercatat sebagai pembaca dapat berarti lebih banyak orang yang sebenarnya ikut mendengar isi bacaan tersebut.²
Hal ini memperlihatkan bahwa budaya membaca yang dicatat Kraemer tidak semata-mata berarti aktivitas membaca secara individual. Buku dan bacaan juga dapat beredar melalui pembacaan bersama. Karena itu, angka statistik pembaca, menurut Kraemer, tidak sepenuhnya mencerminkan luasnya konsumsi bacaan di tengah masyarakat.²
Dari Alkitab hingga buku sekolah
Kraemer menunjukkan bahwa perkembangan bahan bacaan di lingkungan Kristen sebenarnya mempunyai sejarah panjang. Ia mencatat bahwa penerjemahan Alkitab atau bagian-bagiannya ke dalam bahasa Melayu membutuhkan tenaga dan pengabdian banyak orang serta biaya yang besar. Selain Alkitab, perhatian juga diberikan kepada penerjemahan bahan untuk pendidikan agama, pendidikan umum, dan pembangunan jemaat.³
Ia kemudian mencatat berbagai jenis bacaan yang pernah diterbitkan: mazmur, katekismus, buku pertanyaan, kumpulan khotbah, buku sekolah, buku nyanyian, bacaan rohani, sejarah Alkitab, dan karya-karya lainnya. Para zendeling, menurut Kraemer, aktif dalam menerjemahkan, menulis, dan mencetak bahan-bahan tersebut.³
Dalam konteks Minahasa, Kraemer mencatat bahwa zendeling Mattern bahkan telah memperoleh sebuah percetakan sendiri sejak 1838. Kemudian, percetakan milik Nederlandsch Zendelinggenootschap di Minahasa menjadi bagian dari perkembangan penerbitan bahan bacaan Kristen. Percetakan tersebut juga kemudian menghasilkan Tjahaja Siang, surat kabar yang menurut Kraemer diprakarsai oleh Graafland, serta sebuah almanak Alkitab setiap tahun.³
Sekolah membuat masyarakat semakin membutuhkan bacaan
Kraemer melihat bahwa pendidikan sekolah dan perkembangan bacaan berjalan beriringan. Masyarakat yang semakin banyak memperoleh pendidikan tidak hanya menjadi masyarakat yang mampu membaca, tetapi juga menjadi masyarakat yang semakin membutuhkan bahan bacaan.
Dalam pertemuan di Tomohon, Kraemer mencatat bahwa seorang Minahasser (orang Minahasa) bernama Mangowal meminta adanya penerangan dan bimbingan agar orang-orang Kristen yang lebih terdidik dapat memperoleh pandangan hidup Kristen yang lebih matang. Mangowal juga mengkritik bacaan umum yang secara resmi bersifat netral, tetapi menurutnya membawa atmosfer tertentu yang tidak selalu sesuai dengan kehidupan orang Kristen.²
Kraemer menulis bahwa Mangowal meminta: “voorlichting en leiding, opdat de meer ontwikkelde Christenen een doordachte Christelijke levensvisie kunnen krijgen.” ² yang artinya “Penerangan dan bimbingan, agar umat Kristen yang lebih terdidik dapat memperoleh pandangan hidup Kristen yang matang.”
Dengan demikian, perkembangan pendidikan melahirkan kelompok masyarakat yang bukan hanya mampu membaca, tetapi juga mulai mencari bacaan yang sesuai dengan pengalaman, pemikiran, dan kehidupan mereka sendiri. Hal ini menjelaskan mengapa persoalan lectuur atau bahan bacaan mendapat perhatian besar dalam perjalanan Kraemer ke Minahasa.²
Minahasa membutuhkan bacaan yang sesuai dengan zamannya
Catatan Kraemer juga memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap bacaan di Minahasa bukan hanya kebutuhan terhadap Alkitab. Dalam pertemuan yang ia ikuti, muncul berbagai permintaan terhadap buku dan bahan bacaan yang lebih sederhana serta berhubungan dengan kehidupan masyarakat.
Di Minahasa, Mangowal meminta sebuah buku harian rohani seperti “Geen dag zonder God” untuk memperkuat kehidupan batin. Ada pula permintaan untuk bahan yang dapat digunakan di sekolah Minggu dan sekolah rakyat, serta bahan khotbah berbahasa Melayu. Kraemer mencatat bahwa penerbitan khotbah oleh hulpprediker van Mulligen di Minahasa tampaknya memenuhi suatu kebutuhan yang nyata.⁴
Bahkan, Kraemer mencatat adanya permintaan terhadap sebuah sketsa sederhana mengenai pokok-pokok utama sejarah Gereja untuk sekolah-sekolah di Minahasa. Ini menunjukkan bahwa buku dan bahan bacaan tidak hanya ditempatkan dalam lingkungan gereja, tetapi juga dipandang sebagai bagian dari pendidikan sekolah.⁴
Surat kabar, buku, dan masuknya gagasan baru
Bagi Kraemer, masyarakat yang semakin terdidik juga semakin terbuka terhadap arus informasi. Ia mencatat bahwa wilayah-wilayah di luar Jawa semakin terlibat dalam hubungan antarpulau. Melalui tulisan, surat kabar, dan percakapan, kepala dan pikiran masyarakat dipenuhi berbagai gagasan baru.⁵
Kraemer menulis: “Door geschriften, kranten en gesprekken worden de hoofden gevuld met vele nieuwe gedachten, meestal zonder die te vatten of te verwerken.”⁵ yang artinya “Melalui tulisan, surat kabar, dan percakapan, pikiran orang-orang dipenuhi dengan banyak pemikiran baru, biasanya tanpa dipahami atau dicerna.”
Karena itu, menurut Kraemer, persoalannya bukan lagi apakah masyarakat akan berhadapan dengan bacaan atau tidak. Bacaan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang sedang berubah. Persoalannya adalah bacaan seperti apa yang akan membentuk pikiran, perasaan, dan kehendak masyarakat tersebut. Ia bahkan menegaskan bahwa tidak semestinya pembentukan kehidupan batin orang Kristen pribumi diserahkan begitu saja kepada penerbit bacaan umum.⁵
“Minahasa” yang berubah dalam waktu kurang dari satu abad
Jika seluruh catatan Kraemer dibaca bersama, terlihat bahwa ia memandang perubahan Minahasa sebagai proses yang sangat besar. Dalam waktu kurang dari satu abad sejak penginjilan sistematis dimulai, masyarakat Minahasa berubah menjadi masyarakat Kristen, memperoleh pendidikan dalam jumlah besar, masuk ke dalam jaringan pemerintahan modern, dan terhubung melalui jalan-jalan.¹
Perubahan itu kemudian mempunyai konsekuensi lain: masyarakat semakin membutuhkan tulisan dan bacaan. Pendidikan menciptakan kemampuan membaca; kemampuan membaca memperluas kebutuhan terhadap buku, surat kabar, almanak, bahan sekolah, bahan keagamaan, dan berbagai bentuk literatur lainnya. Kraemer secara eksplisit mencatat bahwa banyaknya pendidikan sekolah berkaitan dengan tingginya leeslust di Minahasa.²
Dengan demikian, berdasarkan catatan Kraemer, perkembangan pendidikan Minahasa tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari perubahan sosial dan keagamaan yang lebih luas. Kekristenan membawa kebutuhan akan Alkitab dan bacaan keagamaan; sekolah memperluas kemampuan membaca; kemudian muncul permintaan terhadap berbagai bentuk literatur yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sedang berubah.³
Catatan Dr. H. Kraemer tahun 1926 memperlihatkan sebuah Minahasa yang telah mengalami perubahan besar. Ia melihat masyarakat yang dalam waktu kurang dari satu abad berubah dari masyarakat yang ia gambarkan sebagai “op en top heidensche” menjadi masyarakat Kristen yang memperoleh pendidikan secara luas dan terhubung dengan dunia modern.¹
Yang menarik, dalam laporan yang sama, Kraemer secara jelas menghubungkan pendidikan sekolah dengan meningkatnya minat membaca. Kalimatnya sangat tegas: “Door het vele schoolonderwijs staan de Minahassa wat leeslust betreft bovenaan (terj. bhs Indonesia: Berkat banyaknya pendidikan sekolah, Minahasa berada di peringkat teratas dalam hal minat baca).” Dengan kata lain, dalam pengamatan Kraemer, pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang menjelaskan mengapa Minahasa memiliki tingkat leeslust yang tinggi.²
Jadi, bila kita mengikuti catatan Kraemer secara ketat, budaya membaca Minahasa tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kekristenan dan perkembangan pendidikan. Sekolah menciptakan masyarakat pembaca; gereja dan zending menyediakan berbagai bahan bacaan; percetakan menghasilkan buku, almanak, dan surat kabar; sementara masyarakat yang semakin terdidik mulai meminta bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan perubahan zaman mereka.³
Catatan kaki
1. H. Kraemer, Verslag van de reis van Dr. H. Kraemer naar Ambon en de Minahassa van 2 September–8 November 1926, bagian “Het kerkelijk probleem, speciaal in de Minahassa”, hlm. 16. Kraemer menjelaskan perubahan Minahasa dari masyarakat yang sebelumnya “op en top heidensche” menjadi masyarakat Kristen dengan “een overvloedige onderwysvoorziening”.
2. Ibid., bagian “Christelijke lectuur in Inheemsche talen”, hlm. 14. Kraemer mencatat hubungan langsung antara banyaknya pendidikan sekolah dan “leeslust” di Minahasa; ia mencatat statistik 9.43 per 1.000 di Minahasa.
3. Ibid., hlm. 12–14. Kraemer membahas sejarah penerjemahan Alkitab, bahan pendidikan agama dan umum, buku sekolah, buku nyanyian, bacaan rohani, percetakan Mattern di Minahasa sejak 1838, serta Tjahaja Siang dan almanak Alkitab.
4. Ibid., hlm. 16 dan bagian “Christelijke lectuur in Inheemsche talen”. Kraemer mencatat permintaan Mangowal terhadap buku “Geen dag zonder God”, kebutuhan bahan untuk sekolah Minggu dan Volksscholen, serta permintaan sketsa sejarah Gereja untuk sekolah-sekolah di Minahasa.
5. Ibid., hlm. 14. Kraemer mencatat bahwa tulisan, surat kabar, dan percakapan membawa banyak gagasan baru kepada masyarakat, dan bahwa karena pendidikan sekolah, Minahasa menempati posisi tinggi dalam hal leeslust.
H. Kraemer, Verslag van de reis van Dr. H. Kraemer naar Ambon en de Minahassa van 2 September–8 November 1926, laporan Nederlandsch Bijbelgenootschap, 1926. Dokumen ini tercatat dalam inventaris Nationaal Archief, koleksi Documentatiebureau voor Overzees Recht (2.20.61), sebagai satu jilid laporan perjalanan Kraemer.
- Penulis: Engel Yong
